E-mail : pasek.trunyan@gmail.com
=

Hari Suci Berdasarkan Pawukon (Bag. 1)

Pemujaan dan persembahan pada hari raya berdasarkan perhitungan Pawukon, antara lain :

1. Hari Soma Pon, Wuku Sinta disebut Hari Soma Ribek

Hari ini merupakan Payogan Bhatara Sri. Pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara Sri sebagai sakti dari Bhatara Wisnu. Tujuanya adalah memohon panugrahan berupa kemakmuran. Pada hari ini umat Hindu sebaiknya pendalaman tentang ajaran-ajaran kerohanian.

2. Hari Anggara Wage, Wuku Sinta disebut Hari Sabuh Mas

Hari suci ini adalah merupakan hari suci pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara Mahadewa dengan menggunakan sedana berupa emas, manik-manik ataupun kekayaan. Maknanya adalah agar setiap umat senantiasa menampilkan prilaku dan kepribadian baik setiap hari.

3. Hari Budha Kliwon Wuku Sinta disebut Pagerwesi.


Hari ini merupakan payogan Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru. Beliau disertai oleh Dewa yang lainya, menciptakan dan mengembangkan kelestarian kehidupan didunia ini. Para umat hendaknya melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Pramesti Guru, memohon pelestarian kehidupan yang abadi. Pemujaan dituntun oleh Sulinggih atau Pendeta, setelah mengadakan pemujaan umat hendaknya melaksanakan yoga samadhi.

4. Hari Saniscara Kliwon Wuku Landep, disebut Tumpek Landep.

Hari ini adalah merupakan hari pujawali Bhatara Siwa, dan payogan Ida Sang Hyang Pasupati, umat Hindu hendaknya melakukan pemujaan kehadapan Beliau agar berkenan menganugrahkan ketajaman pikiran serta ketangguhan dalam menghadapi perjuangan hidup ini.

5. Hari Redite Umanis Wuku Ukir.

Hari ini merupakan Pujawali Bhatara Guru. Umat sedharma hendaknya melakukan persembahyangan memuja Ida Bhatara Guru, memohon bimbingan agar dianugrahi pencerahan rohani sehingga kehidupan ini tentram.

6. Hari Anggara Kliwon Wuku Kulantri, disebut Anggara Kasih.

Ha
ri ini merupakan Pujawali Bhatara Mahadewa. Umat sedharma hendaknya melaksanakan persembahyangan, memohon kehadapan Bhatara Maha Dewa agar di anugrahi kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini.

7. Hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga.

Hari ini merupakan pujawali Ida Sang Hyang Sangkara. Beliau yang menciptakan dan melestarikan semua tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan yang abadi dunia ini. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan agar semua tumbuh-tumbuhan dapat
hidup dengan subur dan memberi buah serta buah-buahan yang bermutu terhadap kehidupan didunia ini. Umat diharapkan melakukan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Sangkara agar pikiran dapat tumbuh dan berkembang dengan suci, baik dan benar.

8. Hari Wraspati Wuku Sungsang disebut Sugihan Jawa.

Hari ini diyakini oleh umat Hindu sebagai hari turunnya para Dewa dah Roh-Roh pembersihan dan penyucian Bhuana Agung atau Alam Semesta, dilanjutkan dengan mengadakan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Widhi, para Dewa dan Roh Suci memohon keselamatan Alam Semesta. Umat juga diharapkan melaksanakan yoga Samadhi memohon keselamatan menyongsong kemenangan Dharma melawan Adharma.

9. Hari Sukra Kliwon Wuku Sungsang disebut Juga Sugihan Bali.

Hari ini adalah merupakan pembersihan dan penyucian Bhuana Alit ( diri sendiri ), umat Hindu hendaknya melaksanakan persembahyangan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasiNya dan roh suci leluhur untuk memohon kehadapannya kesucian lahir dan batin.

10. Hari Redite Pahing Wuku Dungulan, juga disebut sebagai Panyekeban.

Hari ini diyakini oleh umat Hindu sebagai hari turunya Sang Hyang Kala Tiga Wisesa Yang akan menjadi Bhuta Galungan. Sang Bhuta Galungan adalah kekuatan Alam yang hendak menggoda serta memberikan cobaan umat manusia yang akan merayakan Hari Raya Galungan " Kemengan Dharma ". Oleh karena itu umat hendaknya melakukan persembahyangan, memuja kebesaran Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasiNya.





Read More......

Persembahan dan Pemujaan Kehadapan Para Dewa Berdasarkan Perhitungan Sasih :

1. Hari Purnama dan Tilem

Sasih menurut perhitungan Sastra Agama Hindu "Wariga" ada 12 banyaknya, antara lain: Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kalima, Kaenem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Jyestha, dan Sadha. Setiap sasih terjadi satu kali Purnama dan satu kali Tilem. Pada umumnya sasih memiliki jumlah hari sebanyak tiga puluh hari. Sehari setelah purnama disebut panglong, dan sehari setelah tilem disebut Penanggal.

2. Hari Siwaratri

Hari Siwaratri dirayakan setiap setahun sekali, yaitu pada hari Purwaning Tilem Sasih Kapitu. Hari Siwaratri merupakan hari beryoganya Bhatara Siwa. Umat Hindu hendaknya mengadakan persembahan dan pemujaan atau persembahyangan kehadapan Bhatara Siwa untuk memohon keselamatan, kesucian lahir bathin serta terbebasnya pikiran kita dari kegelapan. Pemujaan hendaknya dilaksanakan ditempat suci seperti Pura dan Sanggah atau Merajan, selain mengadakan persembahyangan, pada hari ini sangat baik bagi umat melaksanakan Tapa, Bratha, Yoga, dan Samadhi, guna memohon pengampunan atas dosa yang dilakukan.

3. Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Caka) dikaksanakan setiap Tahun sekali, yaitu pada pananggal apisan (pertama) sasih ke Dasa. Sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan upacara pengerupukan dan Tawur Agung pada setiap Catur Weda (perempatan) Desa / wilayah. Sebelum upacara Tawur dilaksanakan upacara Mekiis ke Segara (Laut) atau sumber mata air, dengan tujuan untuk menyucikan pralingga Ida Bhatara yang disungsung oleh umat.





Read More......

Syarat-syarat Wiwaha

Upacara Wiwaha (Perkawinan) adalah suatu Samskara dan merupakan lembaga yang tidak terpisah dari hukum Agama (Dharma).

Menurut ajaran agama Hindu, sah atau
tidaknya suatu perkawinan terkait dengan sesuai atau tidak dengan persyaratan yang ada dalam agama. Suatu perkawinan dianggap sah menurut Hindu adalah, sebagai berikut :


1. Perkawinan dikatakan sah apabila dilakukan menurut ketentuan Hukum Hindu.

2. Untuk mengesahkan perkawinan menurut Hukum Hindu harus dilakukan oleh Pendeta/Rohaniawan atau pejabat agama yang memenuhi syarat untuk melakukan perbuatan itu.

3. Suatu perkawinan dikatakan sah apabila kedua calon mempelai telah menganut Agama Hindu.

4. Berdasarkan tradisi yang berlaku di Bali, perkawinan
dikatakan sah setelah melaksanakan upacara Byakala/Biakaonan sebagai rangkaian Upcara Wiwaha.

5. Calon mempelai tidak terikat oleh suatu ikatan perkawinan.

6. Tidak ada kelainan seperti banci, kuming (tidak pernah haid), tidak sakit jiwa atau sehat jasmani dan rohani.

7. Calon mempelai cukup umur, pria berumur 21 tahun dan wanita minimal 18 tahun.

8. Calon mempelai tidak mempunyai darah dekat atau sepinda.

Read More......

Tujuan Wiwaha

Bagi masyarakat Hindu soal perkawinan mempunyai arti dan kedudukan yang khusus dalam dunia kehidupan mereka. Istilah perkawinan sebagaimana terdapat didalam sastra dan kitab hukum Hindu (Smrti), dikenal dengan nama wiwaha. Peraturan-peraturan yang mengatur tata laksana perkawinan pembinaan hukum agama Hindu di bidang perkawinan.


Berdasarkan Kitab Manusmrti, perkawinan bersifat religius dan obligator karena dikaitkan dengan kewajiban seseorang untuk mempunyai keturunan dan untuk menebus dosa-dosa orang tua dengan jalan melahirkan seorang "putra". Kata putra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "ia yang menyebrangkan/menyelamatkan arwah orang tuanya dari neraka".

Wiwaha dalam agama Hindu dipandang sebagai suatu yang amat mulia. Dalam Manawa Dharmasastra dijelaskan bahwa Wiwaha itu bersifat sakral yang hukumnya bersifat wajib, dalam artian harus dilakukan oleh seseorang yang dialami normal sebagai suatu kewajiban dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami oleh seseorang demikian pula oleh para leluhur akan dapat dikurangi bila memiliki keturunan. Penebusan dosa seseorang akan dapat dilakukan oleh keturunannya seperti dijelaskan dalam ceritera/Itihasa.

Jadi tujuan utama dari wiwaha adalah untuk memperoleh keturunan/sentana terutama yang Suputra. Yaitu anak hormat kepada orang tua. Cinta kasih terhadap sesama, dan berbakti kepada Tuhan. Suputra sebenarnya berarti anak yang mulia yang mampu menyebrangkan orang tuanya dari neraka ke surga. Seorang suputra dengan sikapnya yang mulia mampu mengangkat derajat dan martabat orang tuanya. Mengenai keutamaan suputra dijelaskan dalam kitab Nitisastra berikut :


Orang yang mampu membuat seratus sumur masih kalah keutamaannya dibandingkan dengan orang yang mampu membuat satu waduk, orang yang mampu membuat seratus waduk kalah keutamaanya dibandingkan oleh orang yang mampu membuat satu yadnya secara tulus ikhlas, dan orang yang mampu membuat seratus yadnya masih kalah keutamaanya dibandingkan dengan orang yang mampu melahirkan seorang anak yang saputra. Demikian keutamaan seorang anak yang saputra.


Lebih jauh dijelaskan oleh Manawa Dharmasastra bahwa wiwaha itu disamakan dengan Samskara yang menempatkan kedudukan perkawinan sebagai lembaga yang memiliki keterkaitan yang erat dengan Agama Hindu. Oleh karena itu semua persyaratan yang ditentukan hendaknya dipatuhi oleh umat Hindu.

Dalam upacara Manusia Yadnya, wiwaha Samskara (Upacara Perkawinan) dipandang merupakan puncak dari upacara Manusa Yadnya, yang harus dilakukan oleh seseorang dalam hidupnya. Wiwaha bertujuan untuk membayar hutang kepada orang tua atau Leluhur, maka itu disamakan dengan Dharma.

Wiwaha Samskara diabadikan berdasarkan Weda, karena ia merupakan salah satu sarira samskara atau penyucian diri melalui perkawinan. Sehubungan dengan itu Manawa Dharmasastra menjelaskan bahwa untuk menjadikan bapak dan ibu maka diciptakanlah wanita dan pria oleh Tuhan, dan karena itu Weda akan diabadikan oleh Dharma yang harus dilaksanakan oleh pria dan wanita sebagai suami istri.

Dalam berumah tangga ada beberapa kewajiban yang perlu dilaksanakan yaitu :
1. Melanjutkan keturunan
2. Membina rumah tangga
3. Bermasyarakat
4. Melaksanakan Panca Yadnya

Read More......

Wiwaha

Pengertian Wiwaha

Dalam masyarakat Hindu ada empat jenjang/tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama. Tahap pertama, yaitu tahap belajar/menuntut ilmu yang disebut Brahmacari. Tahap yang kedua adalah Grhasta, yaitu berumah tangga. Tahap ketiga disebut Wanaprastha, yaitu mulai melepaskan diri dari ikatan Duniawi dan tahap keempat adalah Bhiksuka/Sanyasin, yaitu menyebarkan ilmu kerohanian kepada umat, dan dirinya sepenuhnya diabdikan kepada Tuhan, Wiwaha/Perkawinan dalam masyarakat Hindu memiliki arti dan kedudukan khusus dan penting sebagai awal dari masa berumah tangga atau grhastha asrama.


suatu transaksi dianggap sah bila ada saksi, dalam Upacara Wiwaha (Byakala) tersebut sudah terkandung Tri Upasaksi (Tiga Saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusa Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa saksi adalah Saksi Dewa (Ida Sang Widhi Wasa) yang di mohon untuk menyaksikan upacara pawiwahan tersebut, Manusa Saksi adalah Saksi Manusia. Dalam hal ini semua orang yang hadir pada saat dilaksanakan upacara utamanya, seperti Pemangku dan Perangkat Desa (Bendesa Adat, Kelian Dinas dan sebagainya). Bhuta Saksi adalah saksi para Bhuta Kala.

Pada saat dilaksanakan Upacara Byakala kita membakar tetimpug (beberapa potongan bambu yang kedua ruasnya masih ada) sehingga timbul suara ledakan. Suara ledakan tersebut merupakan simbul memanggil Bhuta Kala untuk hadir di areal upacara, kemudian diberikan suguhan dengan harapan tidak mengganggu jalanya upacara tersebut.

Setelah selesainya Upacara Wiwaha (Byakala). Maka pasangan pria dan wanita tersebut telah resmi menjadi suami istri (Dampati) dan berkewajiban melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang Grhastin.

Read More......

Arti Panca Sradha

Agama Hindu adalah agama tertua di dunia. Agama Hindu dengan kitab sucinya Weda yang merupakan wahyu-wahyu suci dipakai pedoman dan pandangan hidup bagi umat Hindu.

Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan jasmani. Dalam pustaka suci Weda disebutkan dengan istilah " Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma " yang artinya, agama atau Dharma itu ialah untuk mencapai Moksa (kebahagiaan rohani) dan Jagadhita (kesejahteraan hidup lahariah).


Moksa juga sering disebut Mukti, artinya mencapai kebebasan Jiwatman atau kebahagiaan rohani langgeng. Sedangkan Jagathita sering disebut dengan istilah Bhukti, artinya mencapai kesejahteraan atau kemakmuran masyarakat dan negara yang kita nikmati secara nyata ( kebahagiaan lahiriah ).

Untuk mencapai tujuan tersebut, agama Hindu menjabarkan ajarannya menjadi tiga bagian yang sering disebut Tiga Kerangka agama Hindu, atau Tiga Kerangka Dasar agama Hindu. Adapun ketiga bagian kerangka dasar agama Hindu tersebut ialah :
1. Tattwa = Filsafat
2. Susila = Etika
3. Upacara = Ritual

Yang mana ketiga-tiganya itu merupakan tiga serangkai. Berkaitan yang satu dengan yang lainya tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketiga-tiganya itu tidak berdiri sendri. Namun ketiganya merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan, misalnya jika filsafat agama saja diketahui tanpa melaksanakan ajaran susila dan upacara tidaklah sempurna. Demikian pula sebaliknya, jika hanya melaksanakan upacara saja tanpa filsafat dan etika.

Ketiga kerangka dasar itu ibaratnya seperti sebuah telur.
- Kuningnya adalah filsafat.
- Putihnya adalah susila agama, dan
- Kulitnya adalah upacara agama.

Kuning, putih dan kulitnya harus baik, jika salah satu dari ketiga tersebut yang rusak maka tidak sempurna. Demikian pula dengan ajaran agama Hindu akan dapat dicapai dengan melaksanakan ketiga kerangka dasar tersebut. Adapun Tattwa (filsafat) agama Hindu meliputi lima keyakinan yang disebut "Panca Sradha".

Panca Sradha berasal dari kata Panca dan Sradha. Panca artinya lima dan Sradha artinya kepercayaan. Jadi arti dari Panca Sradha adalah lima kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh agama Hindu.

Read More......

Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati dilaksanakan untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam wujud Dewi Saraswati yaitu Dewanya ilmu pengetahuan. Hari raya Saraswati dilaksanakan pada hari Sabtu Umanis wuku Watugunung (enam bulan atau setiap 210 hari) sekali. Umat Hindu menghaturkan sesaji/banten Saraswati dan melakukan persembahyangan. Buku-buku ditata dengan rapi pada tempatnya kemudian kita haturkan banten Saraswati perlengkapan yang lainya.


Dengan tujuan untuk memohon berkah ilmu pengetahuan. Barang siapa yg mau belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh maka Dewi Saraswati akan menganugerahkan kita kepandaian untuk bekal hidup di dunia ini. Dengan ilmu pengetahuan hidup kita dimudahkan karena pengetahuan itu seperti senjata yang dapat mengalahkan musuh berupa kebodohan, kemiskinan dan kemelaratan.

Ilmu pengetahuan itu dilambangkan dengan wanita cantik bertangan empat dengan memegang seperti :

1. Genitri, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak habis-habisnya dipelajari.

2. Keropak, melambangkan tempat penyimpanan ilmu pengetahuan.

3. Wina, melambangkan seni budaya yang agung.

4. Teratai, melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat suci.

Disamping itu ada juga lambang-lambang yang lain seperti :

5. Wanita cantik, melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat menarik bagi semua orang.

6. Tangan empat, melambangkan Dewi Saraswati itu melebihi dari manusia biasa.

7. Angsa, melambangkan kebijaksanaan.

8. Merak, melambangkan kewibawaan.

9. Air, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu terus mengalir dan terus berkembang.

Pelaksanaan upacara Saraswati dilaksanakan pada pagi hari, karena pada siang hari Dewi Saraswati sudah kembali ke kahyangan .

Sehari setelah hari Saraswati disebut hari Banyupinaruh, pada saat ini umat melakukan penyucian diri dengan cara mandi kelaut, ke sungai atau mandi dengan "air kumkuman" (air dicampur dengam berbagai jenis bunga) setelah menyucikan diri dilanjutkan dengan sembahyang memuja Dewi Saraswati memohon anugrah berupa kaweruhan/kepandaian.

Read More......

Hari Raya Siwalatri

Hari Siwalatri diperingati setiap 1 Tahun sekali, tepatnya sehari sebelum tilem sasih kapitu (purwaning tilem kapitu) untuk memuja manifestasi Sang Hyang Widhi dalam wujud Dewa Siwa. Manusia yang diliputi oleh kegelapan, kebodohan dan ketidaksadaran (awidya) Memohon kepada Dewa Siwa agar dituntun ke jalan yang benar dan terang (widya).


Adapun brata Siwalatri yang patut kita laksanakan yaitu :
- Jagra artinya melek (begadang semalam suntuk)
- Mona artinya tidak boleh berbicara
- Upawasa artinya tidak boleh makan dan minum

Dalam pelaksanaanya boleh kita memilih salah satu brata diatas atau semuanya sekaligus, sangat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan kita masing-masing. Hari raya Siwalatri ini erat kaitannya dengan cerita Lubdaka. Cerita ini dikarang oleh Empu Tanakung. Lubdaka adalah seorang pemburu binatang, pekerjaanya setiap hari membunuh, sehingga hidupnya Lubdaka penuh dengan dosa. Walaupun demikian pada saat meninggal Lubdaka masuk Sorga. Karena dia melaksanakan brata Siwalatri dengan baik.

Read More......

Hari Suci Yang Berdasarkan Pertemuan Sapta Wara Dengan Panca Wara

1. Hari Anggara Kliwon, disebut Anggara kasih.
Hari Anggara kasih adalah merupakan payogan Bhatara Rudra. Beliau beryoga untuk menghilangkan segala kotoran yang menodai Alam Semesta. Para umat Hindu juga diharapkan untuk melaksanakan yoga, dalam usaha untuk menetralisir kekuatan-kekuatan kotor yang mempengaruhi tercemarnya kesucian jasmani dan rohani manusia.


2. Hari Budha Kliwon.
Hari ini adalah merupakan hari penyucian Sang Hyang Bayu. Pemujaan ditunjukan kepada Sang Hyang Nirmala Jati. Tujuannya adalah memohon keselamatan Tri Mandala (Tri Bhuana).

3. Hari Budha Wage, atau disebut juga Buda cemeng.
Hari ini adalah payongan Bhatari Manik Galih. Pemujaan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Ongkara Amrtha dengan tujuan memohon sumber kehidupan di dunia ini.

4. Hari Saniscara Kliwon.
Hari ini adalah merupakan payongan Ida Sang Hyang Maha Wisesa. Hari ini sering disebut Tumpek dan namanya disesuaikan dengan nama wuku. Persembahan ditujukan kepada Sang Hyang Parameswara.

Read More......