Sesuai dengan hukum Rta (hukum alam) waktu bergerak memutar roda kehidupan bukanlah istimewa. Justru akan menjadi teramat sangat istimewa jika tiba-tiba sang waktu berhenti berputar. Sebab itu pertanda pralaya tiba. Tetapi kita tak pernah tahu kapan dan dengan cara bagaimana perputaran waktu akan berhenti. Hanya Hyang Widhi Sang Perencana Segalanya.
Begitupun perihal kedatangan era millennium baru yang dimulai tahuun 2000 yang pada minggu pertamanya justru ditandai dengan peringatan sekaligus perayaan hari suci Galungan semuannya berjalan sesuai kehendak semesta alam. Barangkali yang menjadikan Galungan pada saat itu terasa istimewa lantaran terjadi di saat berlangsungnya pergantian abad menuju millennium baru (ketiga) dimana keadaan dunia baik Bhuwana Agung (alam semesta) maupun Bhuwana Alit (manusia) sedang mengalami krisis di berbagai bidang. Mulai dari krisis ekonomi (krismon), krisis kepercayaan, krisis social, krisis politik, krisis budaya, krisis moral, mental dan spiritual. Keadaan krisis berkepanjangan itu menjadikan umat manusia berada pada situasi “gamang” termasuk kegamangan dalam, menterjemahkan nilai luhur ajaran agama ke dalam perilaku keseharian.
Manusia sekarang cenderung menempatkan agama hanya sebatas sebagai suplemen (pelengkap) bukan pondamen (dasar kokoh). Artinya bila keadaan hidupnya normal-normal saja manusia cenderung “melupakan-Nya”. Tetapi tiba-tiba tertimpa sesuatu yang membuatnya berduka, maka sekonyong-konyong nama “Dewa Ratu, Ratu Bhatara, Duh Hyang Widhi” baru akan terucapkan. Padahal menurut Widhi Tattwa dan Atma Tattwa, Hyang Widhi tidak pernah “lepas dan lupa” pada umatnya, sebab Beliau ada dan hadir pada setiap manusia dalam nama Sang Atma/Sang Jati Diri. Hanya lantaran manusia lebih ingat dengan pekerjaan rutin yang menghasilkan uang untuk memenuhi segala keinginan (kama) maka menjadikan manusia serakah (lobha). Keinginan yang dimanjakan untuk menjadi serakah itulah yang membuat manusia lupa pada hakikat dirinya yang sesungguhnya adalah untuk mengabdi kepada-Nya bukan pada benda-benda material. Akibatnya cahaya diri/pancaran sinar suci Sang Atma menjadi terselubung oleh kabut Awidya – kegelapan. Hidup manusia menjadi seolah-olah seperti “tidak hidup” – mati dalam hidup, akibat ketiadaan “sinar” Sang Atma.
Oleh karena itu, dikesempatan Galungan ini, kita patut mengidupkan kembali “Api Sang Atma” agar kehidupan yang penuh dengan tantangan itu bisa di lalui dengan tetap berada pada perlindungan cahaya-Nya. Panji Galungan yang bermakna menegakkan dharma tetap menyala di dalam hati sanubari kita masing-masing. Galungan kali ini memang tidak sekedar rutinitas ritual tetapi membawa pesan untuk kembali berpijak pada dharma dalam menjalani kehidupan yang dominant diwarnai adharma. Satyam eva jayate.
Hari Raya Galungan
Kata Galungan dan Kuningan

Mungkin karena agama Hindu memberi kebebasan umatnya untuk menafsirkan ajaran-ajaran-Nya yang penuh dengan rahasia sekaligus kaya dengan istilah-istilah berkulit, maka sering kali membuat tafsiran yang tidak jarang keliru. Meski ada pula yang terkadang cocok walau belum tentu benar. Dari segi makna Galungan dan Kuningan, bahwa rerainan gumi itu bertujuan untuk memperoleh galang (terang) dan ning (keheningan) adalah cocok. Hanya jika dikatakan istilah Galungan dan Kuningan berasal dari kata “galang” dang “ning” tidaklah benar. Dalam konteks bahasa Bali, penafsiran demikian sering disebut “arti aud-audan” cocok meski tidak tepat.
Sebenarnya kata Galungan itu merupakan istilah tersendiri yang berarti “berperang”. Sedangkan Kuningan, di ambil dari nama wuku. Kalau filosofi Galungan sudah jelas bahwa hari Piodalan Jagat itu merupakan hari kemenangan dharma setelah berperang melawan adharma selama hayat masih dikandung badan. Sedangkan secara ritual, sudah dimulai sejak tiga hari berturut-turut sebelum Galungan. Mulai Redite Pahing Dungulan, Somo Pon Dungulan sampai Anggara Wage Dungulan mulai turun menyerang (menggoda) Sang Kala Tiga : Sang Butha Galungan, Sang Bhyuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat.
Puncak peperangan sekaligus merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma dalam wujud Sanga Kala Tiga itu adalah pada hari Buda Kliwon Wuku Dungulan. Pada hari itu segenap umat Hindu mengahaturkan “mahasuksmaning idep” atas Asung Kertha Waranugraha Hyang Widhi yang telah memberikan bimbingan atau tuntunan guna mencapai kemenangan dharma. Sebuah kemenangan yang sesungguhnya tidak bersifat fisik, melainkan lebih mengarah pada rohani, mental, moral dan spiritual. Dari kehidupan “gelap”nya selama ini kita jalani, dengan penghayatan tinggi terhadap Galungan untuk seterusnya mengikuti jalan lurus dan terang, berdasarkan ajaran dharma. Di dalam lontar Sundarigama disebutkan “Bu, Ka, Galungan, nga, patitis ikangajnana sandi, galang apadang, marya kena sarwa byaparaning idep”. Artinya : Buda Kliwon Galungan adalah yang mengarahkan bersatunya pikiran agar menjadi terang dan berkesadaran tinggi, untuk melenyapkan penyebab kekacauan pikiran.
