Karya Ayu Ngenteg Linggih
Pelaksanaan upacara Dewa Yadnya di Bali yang dilaksanakan di Pura-Pura Kahyangan Jagat, Pura Panti, Pura Batur, Ibu, dan pada Pemerajan-Pemerajan memiliki puncak upacara yang disebut dengan karya Ngenteg Linggih. Karya ini dilaksanakan setiap 10 tahun sampai 15 tahun sekali, atau setiap pergantian generasi berikutnya, sesuai petunjuk dari Lontar Medang Kemulan, Lontar Dewa Tattwa, Lontar Mpulutuk Banten, Lontar Tapeni Yadnya, Lontar Bhuta Tattwa.
Makna Dan Tujuan Ngenteg Linggih
Upacara Karya Ngenteg Linggih memiliki beberapa tujuan, antara lain :
1. Untuk memohon kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya agar beliau menganugrahkan kekuatan Tapa atau kepagehan (Satyam), terhadap alam semesta beserta segala isinya termasuk semua kekuatan gaib baik bersifat Dewa Bhatara, maupun yang bersifat Asuri Sampad (kekuatan Bhuta, Kala, Durga, Pisaca, Danawa dll). Demikian juga supaya Sang Hyang Widhi tetap menganugrahkan kekuatan kesucianNya terhadap manifestasi serta makhluk ciptaanNya yang ada di alam semesta ini. Disamping itu agar Beliau tetap menganugrahkan keseimbangan serta kesejahtraan (Sundharam) terhadap makhluk ciptaanNya.
2. Memberikan kesempatan kepada umatNya, untuk berkarma yang subhakarma sebagai sarana peleburan dosa.
3. Untuk dapat mengamalkan wahyu Sang Hyang Widhi, melalui tuntunan para Maha Rsi berupa pelaksanaan ajaran Agama.
4. Memberi kesempatan kepada umatNya agar dapat melaksanakan penyupatan terhadap mahkluk diluar kehidupan manusia.
5. Adalah sebagai media pendidikan (education) baik bersifat moral maupun bersifat spiritual terhadap umatNya.
6. Memberi kesempatan kepada umatNya agar bisa melaksanakan ajaran Tri Rnam yaitu membayar hutang terhadap Sang Hyang Widhi, atas diturunkannya wahyuNya berupa ajaran Weda, membayar hutang kehadapan Maha Rsi, karena Beliau telah menulis wahyu tersebut dengan esensi menjadi ajaran Agama. Demikian juga membayar hutang kehadapan leluhur, karena tanpa beliau umat kemungkinan tidak lahir menjadi manusia, itulah karena yadnyanya.
7. Memberikan kesempatan untuk beryadnya secara nyata bagi setiap generasi yang lahir sehingga karya Ngenteg Linggih dapat dilaksanakan setiap 10 sampai 15 tahun sekali.
Read More......
Upacara Piodalan Dalam Kwantitas Madya
Tata cara pelaksanaan upacara piodalan kwantitas madya baik untuk di Pemerajan maupun di Pura, boleh dilaksanakan oleh seorang Welaka atau Pemangku dengan tatanan upakaranya sebagai berikut :
1. Upakara munggah di Sanggah Surya :
a. Banten pejati asoroh
b. Banten Suci Alit asoroh
c. Canang Pesucian
2. Upakara Munggah di Pelinggih :
a. Banten pejati asoroh
b. Banten suci alit asoroh
c. Banten danan dan canang pesucian
3. Upakara ayaban piodalan :
a. Daksina gede sarwa 4
b. Banten ayaban tumpeng 21 bungkul
c. Banten Pengulapan, prayascita dan bayekawonan
d. Banten sesayut / tebasan antara lain :
- Sesayut Pembersihan
- Sesayut Sida Purna
- Sesayut Siwa Sampurna
- Sesayut Amertha Dewa
- Sesayut Puspa Dewa
- Sesayut Cakra Geni
- Sesayut Pageh Urip
- Tebasan Pemiak Kala
- Tebasan Lara Mararadan
e. Banten jerimpen Agung apasang
4. Upakara pecaruan
Pada pelaksanaan upakara piodalan pada tingkat Madya mempergunakan Banten Caru Panca Sata.
Read More......
Sila Kramaning Ngaturang Piodalan
3. Menata Upakara Ayaban yang akan dipersembahkan
Sesudah selesai ngunggahang upakara pada setiap pelinggih langsung menata upakara ayabannya pada Bale piyasan dengan penataan sesuai aturan Tri Angganing Yadnya dan Astra Karananing Yadnya sebagai berikut :
a. Sebuah banten pejati diletakkan paling hulu sebagai simbul kepala.
b. Sebuah banten gebogan diletakkan sejajar dengan pejati sebagai simbul kepala.
c. Banten jerimpen, pulogembal dan banten pengambean, diletakkan pada sor banten pejati pada bagian kiri orang yang menata dengan posisi banten berjejer dari kiri ke kanan sesuai dengan urutan banten diatas, adalah sebagai simbul bayu kiri (dada kiri).
d. Kemudian dibagian kanannya diletakkan banten berjejer dari kiri ke kanan dengan jenis banten soda, peras, bebangkit dan sebuah banten jerimpen, adalah sebagai simbul bayu kanan (dada kanan).
e. Pada sor banten tadi diletakkan banten dapetan, adalah merupakan simbul dari ulu hati (hradaya) menjadi sumber kehidupan bhuwana agung dan bhuwana alit.
f. Banten jerimpen seperti diatas tadi sesungguhnya adalah sebagai simbul kedua tangan, oleh karena itu tidak boleh membuat jerimpen hanya satu, karena memiliki makna sebagai kekuatan Surya Murti dan Chandra Murti (kekuatan akasa dan pertiwi).
g. Kemudian meletakkan banten sesayut dan tebasan di sor dari banten dapetan, merupakan simbul dari perut, yang memiliki makna sebagai kekuatan isin jagat.
h. Meletakkan banten pengulapan, prayascita, dan banten bayekawonan disebelah kanan dari Sang Pemuput / Penganteb.
i. Meletakkan banten pemuput (penuhur taksu) disebelah kiri dari Sang Pemuput / Penganteb.
j. Meletakkan banten caru dibawah ( pada halaman Pemerajan / Pura didepan pelinggih pokok ), merupakan simbul kaki memiliki makna sebagai kekuatan Sapta Ptala.
k. Kalau banten ayabannya berisi banten pulogembal, maka memerlukan banten yang diletakkan pada sanggah Panggungan yang berada pada madnyaning mandala dari Pemerajan / Pura pada pada posisi letaknya tepat didepan Kuri Pemerajan atau kuri pura, adalah merupakan simbul dari kekuatan muladara cakra, yang memiliki makna sebagai kekuatan catur loka yaitu perpaduan dari kekuatan ke empat penjuru alam baik terhadap bhuwana agung maupun terhadap bhuwana alit dengan kekuatannya disebut Sang Hyang Catur Loka Phala yaitu Bhatara Indra, Bhatara Kwera, dan sebagai puncak Maniknya adalah Sang Hyang Giripati.
l. Meletakkan banten penimpug, pada tempat penimpug yang sudah disediakan, dengan posisi tempat penimpugnya adalah kearah selatan, dan orang yang menyulut penimpugnya menghadap kearah selatan, sebagai simbul kearah Brahma Loka dengan Dewa penimpugnya adalah Dewa Utasana, memiliki makna untuk memohon pengesengan kehadapan Sang Hyang Utasana dengan kekuatan Brahmanya.
Demikianlah tatacara penataan upakaranya pada setiap meleksanakan upacara piodalan di pemerajan maupun di Pura dengan kwantitas upakarannya baik dengan ukuran besar maupun dengan ukuran kecil, seiap datang hari piodalannya.
Sila Kramaning Ngaturang Piodalan
Setelah selesai membersihkan bangunan suci, biasanya pada hari piodalan tersebut, pada dini hari ngunggahang upakara pada setiap pelinggih menurut volume upakara yang akan di persembahkan sesuai dengan nista, Madya Utamaning Yadnya, secara bersamaan juga meletakkan air bersihnya sebagai sarana pengajuman tirthanya.
Kalau pelaksanaan upakara piodalan di Pura, disiapkan sebuah peralatan untuk penampungan tirtha (jeding) diletakkan di depan pelinggih pokok pada suatu Pura, dan telah berisi air bersih yang telah diberi aroma (meukup).
Read More......
Sila Kramaning Ngaturang Piodalan
1. Penyucian Bangunan Suci secara Phisik Sebelum menghaturkan upacara Piodalan seharusnya umat Hindu melaksanakan pereresikan (pembersihan) dahulu pada bangunan Suci meliputi :
a. Membersihkan caratan comblong serta diisi air bersih karena caratan comblong tersebut merupakan niyasa bahasa Ethika kehadapan Hyang Widhi untuk memohon kesucian dan kemerthan. Caratan comblong adalah sebagai niyasa berputarnya gunung Mandharagiri di tengah lautan samudra yang di putar oleh para Dewa bersama – sama dengan para raksasa untuk mengeluarkan amertha (Adi Parwa), oleh karena itu meletakkan Caratan Comblong adalah pada posisi bertumpuk.
b. Kemudian memasang wastra lengkap pada semua bangunan suci yang akan dibuatkan upacarannya, karena wastra tersebut adalah sebagai simbul Tejan Bathara yang berstana pada masing – masing bangunan suci, oleh karena itu memasangkan wastrannya sesuaikan dengan fungsi bangunan suci itu dengan penekanan terhadap warna wastra, karena warna tersebut sebagai simbul Tejan Sang Hyang Widhi (manifestasi) dalam pengertian tidak asal memasang.
c. Setelah selesai memasang wastra, kemudian memasang lamak sampian pada masing – masing bangunan suci tersebut karena Lamak adalah merupakan simbul dari permohonan umatnya kehadapan Ida Bhatara, sehingga merupakan pertemuan antara Bhakti kelawan Sweca, hal itulah menjadi simbul dari penyatuan magnetik Bhuana Alit dengan Mega Magnetik yang bersumber dari kekuatan Sang Hyang Widhi.
d. Kemudian memasang uparengga berupa pajeng, umbul – umbul, kober, dll, kalau peralatan seperti itu dimiliki.
Read More......
Bulan Kuning
Ada kone anak luh balu madan Men Bekung. Ia nongos di sisin alase gede. Geginane sai-sai ngalih saang ka alase. Kacritaang ia maan nuduk anak cerik pusuh. sawireh kulitne putih tur muane bunter buka bulane lantas kaadanin Ni Bulan Kuning.
Sedek dina anu Ni Bulan Kuning ajaka bareng ngalih saang ka tengah alase. Di tengah alase Ni Bulan Kuning paling tur palas ngajak memene. Ni Bulan Kuning jejeh pesan atine. mara ia inget dapetange ibane suba saupa teken I Raksasa. I ngetor baan jejehne.
Ia sayanganga pesan baan I Raksasa. I Raksasa ngelah manik sakti telung besik luire : manik api, manik yeh, manik angin. Sawireh ia sayanganga, orahina ia kagunan manike maketetelu ento. Katuju I Raksasa luas, lantas plaibanga manike mekejang teken I Bulan Kuning. Makire I Bulan Kuning bakatanga teken I Raksasa lantas sabata baan manike ento kanti I Raksasa mati.
Ni Bulan Kuning tengkejut ningeh sabta sawireh Ni Bulan Kuning nyupat I Raksasa. Raksasa dadi Betara tur mewali buin ka Suarga. Ni Bulan Kuning kaicen kesaktian saged maubad - ubadan. Jani Ni Bulan Kuning mulih lantas ngalih Memen Bekung.
Read More......
Panca Yama Bratha
Contoh perilaku dalam cerita yang bertentangan dengan perilaku Panca Yama Bratha. Untuk lebih jelasnya mari simak cerita berikut.
Suatu ketika Dewi Gangga akan melanjutkan perjalanan menuju sungai Gangga untuk menjalani kutukan dari Dewa Brahma di Surga. Di tengah perjalanan bertemu dengan Sang Astabasu yang rupanya seperti orang nista dan kurus kering, karena Beliau dikutuk juga oleh Bhagawan Wasista.
Kemudian bertanyalah Dewi Gangga kepada Sanga astabasu, apa yang menyebabkan kamu bersedih?, sampai kurus kering. Sang astabasu menjawab dan menceritakan riwayat penyebab dukannya. Tersebutlah seorang Resi bernama Bhagawan Wasista. Beliau mempunyai seekor lembu bernama Nandini. lembu itulah yang kami curi yang menyebabkan Sang Resi marah dan megutuk kami supaya menjelma menjadi manusia di dunia.
Kemudian Dewi Gangga berkata “ Sang Maha Bima dikutuk oleh Dewa Brahma menjadi manusia sebagai putra Maha Raja Partipa. Beliau yang mengambil saya menjadi istrinya. Aku berharap kau mau menjelma pada diriku, supaya tidak lama menjadi manusia.
Oleh karena itu semua upaya saya, segala tingkah laku tidak boleh dihalangi suami saya. Kalau dihalangi maka saat itu saya akan meninggalkan suami dan saya kembali kesorga. Sebab sudah sampai batas hukuman yang saya jalani dan berputra 8 orang.
Menjawab Sang Astabasu “ kalau demikian saudara-saudara saya yang kedelapan akan menjelma pada dirimu. Usahakan apabila kami lahir, cepatlah buang kami ke sungai Gangga. Apabila sampai penjelmaan kedelapan yakni penjelmaan dari Sang Prabata jangan dibuang. Karena Sang Prabata yang paling besar dosanya diantara saudara kam. Itulah sebabnya dia lebih lama menjadi manusia . akhirnya Dewi Gangga menyanggupi dan melaksanakan perintah Sang Astabasu.
Menurut ajaran agama Hindu perbuatan mencuri sangat dilarang. Agar tidak tergoda oleh nafsu jahat, maka berpuasalah dengan apa yang kita miliki. Tetapi bila ingin meningkatkan derajat kehidupan, berusahalah untuk bekerja keras, serta jujur berdasarkan Dharma. Walaupun sedikit berpendapatan asalkan dicari dengan secara baik, maka pikiran kiita akan tenang, aman, damai, bahagia, dan sejahtera.
Demikianlah ajaran Asteya atau Astenya hendaknya selalu ditaati untuk mencapai kedamaian dan ketentraman hidup jasmani dan rohani.
Awyawahara
Satya
Satya berarti sikap menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran. Dalam sloka satya Hindu disebutkan semboyan “Satyam evam jayate na nrtam” artinya hanya kebenaranlah yang menang bukan kejahatan.
Ada 5 macam sikap Satya yaitu :
a. Satya Wacana Satya wacana adalah setia, jujur dan benar dalam berkata-kata. Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan yang disebut “wak purusya”.
b. Satya Hredaya Satya hredaya adalah setia terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati, berpendirian teguh, dan tidak terombang-ambing .
c. Satya Laksana Satya Laksana adalah sikap setia dan jujur mengakui serta mempertanggungjawabkan kebenaran dari segala perbuatan yang telah dilakukan.
d. Satya Mitra Satya Mitra adalah setia dan jujur kepada teman dalam segala hal, serta berusaha untuk mengarahkan segala tindakan atau perbuatan agar selalu berdasarkan kebenaran sesuai dengan ajaran agama.
e. Satya Samaya Satya Samaya adalah setia dan jujur terhadap janji yang telah diucapkan serta memenuhi segala sesuatuyang ditimbulkan akibat ucapan janji itu.
Kalimat satya itu hendaknya dapat diwujudkan dalam pelaksanaan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Berusaha jangan berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebab hal ini dapat mengakibatkan pikiran gelisah karena merasa bersalah.


