E-mail : pasek.trunyan@gmail.com
=
Showing posts with label Arca. Show all posts
Showing posts with label Arca. Show all posts

Arca sebagai Media Pemujaan

Ganesa
Seperti pernah disampaikan bahwa nama agama dan kitab suci boleh sama yaitu Hindu dengan kitab Wedanya, tetapi dalam pengamalan ajaran bisa jadi berbeda-beda. Anutan yang dipedomani adalah desa-desa-patra dan dresta. Bagi umat Hindu pengamalan ajaran yang berbeda-beda itu bukanlah suatu kesalahan tetapi merupakan cerminan dari tingkat pemahaman, kemampuan spiritual, derajat bhakti yang berbeda-beda. Yang penting bagi Hindu adalah bukan apa yang nampak berbeda-beda tetapi sejauh mana inti sari agama Hindu telah dilaksanakan.

Apa yang dapat disaksikan melalui tayangang film-film India di mana tergambar secara visual bahwa umat Hindu di India lebih menonjolkan penggunaan arca sebagai media pemujaan tidak lain merupakan gambaran nyata betapa India kehidupan sekta (aliran) begitu dominant. Dan pada setiap sekta yang disebut juga dengan istilah sampradaya selalu memiliki sekaligus akan memuja Dewa yang diingini (Istadewata) sebagai Dewa Utama. Dewa utama yang ingin di puja inilah yang kemudian ditempatkan di mandira (mandir) sejenis pura di Bali atau bagi keluarga akan ditempatkan di kamar-kamar suci pemujaan.

Tercatat beberapa sekta atau sampradaya yang berpengaruh, Saiva (penyembah Siwa), Vaisnawa (penyembah Wisnu), dan Sakta (penyembah Sakti). Saiva Sampradaya juga memiliki beberapa aliran lagi seperti, Linggayat (pemuja Lingga), Ganapatya (pemuja Ganesa), pemuja Skanda atau Subramanya, dll. Terhadap Dewa Utama (Istadewata) yang dipuja ini oleh setiap sekta atau sampradaya akan dibuatkan patung atau arcanya. Artinya jika sekta itu termasuk Saiva Sampradaya maka yang dibuat dan kemudian ditempatkan di mandira atau kamar suci pemujaannya adalah Arca Dewa Siwa, begitu seterusnya.

Jika dibandingkan dengan keadaan di Bali, maka nampak sekali perbedaannya. Dimana umat Hindu di Bali (Indonesia) lebih menonjolkan pembangunan pura dengan berbagai pelinggihnya dari pada membuat arca. Dan bahkan pada kenyataan justru lebih komplit. Artinya pura dibangun dengan bermacam jenis dan bentuk palinggihnya, sementara penggunaan arca juga tidak dikesampingkan. Satu lagi yang membedakannya adalah dari segi sifat sisio-religius yang melatar belakangi konsep bhakti antara orang Hindu di Bali dengan di India. Dimana umat Hindu di Bali bhaktinya bermanfaat berjengjang, mulai dari pemujaan di sanggah sampai ke Kahyangan Jagat. Sedang umat Hindu Indian bhaktinya lebih bersifat langsung pada obyek pemujaan./span>

Read More......

Beda Arca dengan Togog

Arca

Bagi umat Hindu terutama yang masih berada dalam tingkatan Karma dan Bhakti Marga, apa yang namanya simbol-simbol merupakan cara mudah dan alamiah dalam menjembatani alam pikiran sekala (nyata) menuju ke alam pikiran niskala (abstrak). Kewangen misalnya merupakan salah satu contoh simbol Hyang Widhi sebagai Ardhanareswari. Begitu juga gambar Acintya yang sering disebut Sanghyang Licin juga merupakan simbol Hyang Widhi yang tak terpikirkan. Sistem pemujaan dengan simbolisasi ini lazim disebut dengan istilah Murti Puja. Dan yang acapkali digunakan sebagai simbol dalam Murti Puja ini adalah patung.

Dalam wacana Hindu di Bali apa yang disebut patung sebenarnya dapat dibedakan atas beberapa istilah seperti: arca, pratima, togog, bedogol, dan lain-lain. Secara fisik material sesungguhnya benda tersebut memiliki persamaan terutama dilihat dari segi bahan yang digunakan, yaitu umumnya memakai batu, katu dan logam. Kecuali pratima yang bisa juga dibuat dari bahan permata, batu indah, uang kepeng dan lain-lain.

Yang membedakan arca, pratima, togog, dan bedogol itu adalah dari segi proses pembuatan, fungsinya dan lokasi penempatannya. Arca dan pratima kedua-duanya adalah patung perwujudan dari Hyang Widhi (Dewa) atau Bhatara-Bhatari. Dalam pembuatannya, arca dan pratima melalui proses sakralisasi (penyucian) dan pasupati (menjadikan “berjiwa”). Karena arca dan pratima itu akan berfungsi sebagai media penuntun bhakti umat ke hadapan Hyang Widhi, para Dewa dan Bhatara-Bhatari.

Dalm fungsinya begini, di alam pikiran seorang yang bhakti, bukan fisik material dari simbol itu yang dituju melainkan “zat” yang ada dan telah hidup padanya. Karena arca dan pratima merupakan simbol sakral, maka penempatannya pun tidak boleh sembarangan. Arca dan pratima sudah lumrah disthanakan pada tempat suci (pura). Dan pada waktu piodalan biasanya biasanya disthanakan di Bale Pengaruman. Sebutan lain yang memiliki arti dan fungsi tidak jauh berbeda dengan pratima adalah pralingga dan patapakan.

Selanjutnya mengenai togog dan bedogol. Dari segi proses pembuatannya togog umumnya tidak melalui sakralisasi, karena hanya berfungsi sebagai dekorasi semata. Penempatannya pun boleh sesuka hati yang empunya, contohnya: togog pohon kelapa, togog penari janger, dan lain-lainnya. Sedangkan bedogol yang biasanya dibuat dari ukuran agak lebih besar dari togog memiliki fungsi ganda. Bias berfungsi magis (melalui pasupati) dan dapat pula berfungsi dekoratif (hiasan). Penempatannya biasanya di depan candi bentar, pura, palinggih, dan tempat-tempat yang dipandang tenget.

Read More......