Disamping tingkah laku dan sifat-sifat baik serta cara-cara pengendalian diri termaksud diatas, manusia hendaknya juga dapat meniru sifat-sifat baik Asta Dewata (Delapan Dewa atau delapan sinar suci kebesaran Tuhan). Meneladani sifat-sifat baik Delapan Dewa ini berarti mengendalikan keinginan. Dengan demikian Asta Brata berarti mencontoh sifat-sifat baik Delapan Dewa dalam rangka usaha untuk mengendalikan diri. Sifat-sifat baik ini bermanfaat sekali bagi mereka yang memegang tampuk kepeminpinan.
Adapun Delapan Dewa yang sifat-sifatnya perlu diteladeni oleh umat Hindu adalah :
1. Dewa Surya atau Dewa Matahari
2. Dewa Candra atau Dewa Bulan
3. Dewa Bayu atau Dewa Angin
4. Dewa Kuwera atau Dewa Kekayaan
5. Dewa Baruna atau Dewa Lautan
6. Dewa Agni atau Dewa Api
7. Dewa Yama atau Dewa Atman
8. Dewa Indra atau Dewa Hujan
Manusia atau setidak-tidaknya para pemimpin hendaknya memiliki delapan sifat baik dari para Dewa tersebuta diatas. Paling tidak mereka harus berusaha untuk memiliki sifat-sifat Delapan Dewa termaksud. Dibawah ini adalah uraian lebh jauh mengenai sifat-sifat baik Delapan Dewa tersebut :
1. Dewa Surya
Sifat-sifat baik Dewa Surya atau Dewa matahari perlu ditiru oleh umat Hindu. Matahari adalah sumber kehidupan. Matahari memberikan sinarnya tanpa pilih kasih. Matahari juga meniadakan kegelapan dan memberi kekuatan kepada alam semesta. Umat Hindu khususnya para pemimpinnya seharusnya dapat meniru sifat-sifat baik Dewa Matahari. Mereka harus memberikan perhatian terhadap sesamanya tanpa pilih kasih. Mereka harus memberikan semangat dan dorongan kepada sesamanya agar dapat bekerja dengan baik. Mereka juga harus mempu memberikan bimbingan dan pendidikan agar manusia terhindar dari kegelapan atau kebodohan tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan pangkat atau kedudukan.
2. Dewa Candra
Dewa Candra atau Dewa Bulan juga perlu diteladeni sifat-sifat baiknya. Bulan memancarkan sinarnya dengan sangat lembut. Bulan memberikan sinar terang dimalam gelap. Umat Hindu setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaknya selalu bersikap lemah lembut, ramah tamah, murah senyum dan tidak mudah marah. Mereka juga harus dapat menciptakan ketenangan dan ketentraman dalam lingkungannya. Disamping itu mereka juga harus dapat membantu sesamanya yang dalam kesusahan atau kegelapan.
3. Dewa Bayu
Dewa Bayu atau Dewa Angin sifat-sifatnya juga perlu diikuti oleh umat manusia. Angin atau udara memberikan kehidupan kapada manusia. Tanpa udara manusia tidak bisa hidup. Tiupan angin juga memberikan kesejukan kepada manusia yang dapat menghidarkannya dari rasa gerah atau kepanasan. Umat Hindu atau setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaklah dapat mendorong seseorang untuk hidup rukun, hidup penuh dengan toleransi atau timbang rasa, sehingga dijauhkan dari silang sengketa yang dapat menimbulkan perkelahian sampai kematian. Mereka juga harus dapat menciptakan suasana sejuk, suasana yang segar, sehingga terjalin suatu kerjasama yang baik.
4. Dewa Kuwera
Sifat-sifat baik Dewa Kuwera atau Dewa Kekayaan adalah menjaga harta benda atau kekayaan dengan sebaik-baiknya demi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Kekayaan atau harta benda yang dimiliki hendaklah dipakai untuk tujuan baik. Janganlah mempergunakan kekayaan sebagai alat untuk menyombongkan diri. Sebaliknya pergunakanlah kekayaan itu untuk membantu orang lain yang serba kekurangan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang sejahtera dan terhindar dari penderitaan. Namun kekayaan hendaknya selalu dijaga dan dipelihara serta dimanfaatkan agar dapat berkembang dan menghasilkan. Kekayaan hendaknya tidak dihambur-hamburkan. Umat Hindu setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaklah dapat menjaga dan memelihara harta benda yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya.
5. Dewa Baruna
Meneladani sifat-sifat baik Dewa Baruna yeng selalu menjaga ketenangan, menegakkan keadilan dan kebenaran, selalu waspada atas kemungkinan terjadinya gejolak/kejahatan dan selalu menghukum siapa saja yang berbuat jahat adalah baik sekali. Manusia, terutama para pemimpin, hendaknya selalu menghormati peraturan dan ketentuan yang berlaku dan tidak mencoba untuk melanggarnya. Mereka juga harus selalu waspada terhadap kejahatan yang mungkin timbul, serta berani bertindak tegas dalam menghadapinya. Mereka juga harus berani menegakkan kebenaran dengan menghukum orang-orang yang salah. Sebaliknya mereka harus mampu melindungi atau mengayomi orang-orang yang tidak berdosa, terutama orang-orang kecil, khususnya orang-orang yang berada dalam posisi lemah, dalam keadaan susah atau menderita.
6. Dewa Agni
Sifat-sifat Dewa Agni adalah melenyapkan atau “membakar” setiap orang yang berbuat jahat, mampu menguasai ilmu pengetahuan kerohanian, disamping juga mampu bertindak sebagai orang suci, sanggup membantu orang lain secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih, serta berani bertindak sebagai kesatria dalam melawan musuh. Manusia, khususnya para pemimpin, hendaknya berbudi luhur (suci), arif dan bijaksana, mampu melawan musuh, baik yang berada diluar maupun didalam dirinya sendiri, serta sanggup menghadapi dan memecah setiap kesulitan. Mereka juga harus sanggup menimba ilmu pengetahuan dan selanjutnya mengajarkannya kepada orang lain secara tulus ikhlas.
7. Dewa Yama
Meniru sifat-sifat baik Dewa Yama yang selalu memegang teguh keadilan dan kebenaran serta berani menghukum orang-orang yang bersalah adalah bagus. Umat Hindu, khususnya para pemimpinnya, hendaknya selalu berlaku adil, selalu menjaga kebenaran dan berani bertindak tegas untuk menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang berbuat jahat dan salah. Sebaliknya mereka harus berani melindungi, bahkan membela orang-orang yang benar.
8. Dewa Indra
Dewa Hujan atau Dewa Indra sifat-sifat baiknya adalah melindungi orang-orang kecil dan orang-orang yang sangat memerlukan bantuan. Umat Hindu, khususnya para pemimpinnya, hendaklah mampu dan berani memberikan “hujan” perlindungan kepada rakyat kecil, terutama terhadap orang-orang yang berada dalam kesulitan. Perlindungan yang diberikan akan dapat menimbulkan ketenteraman dan kebahagiaan bagi masyarakat kebanyakan. Pada gilirannya rakyat kecil akan memperoleh “hujan” kesejahteraan.
Asta Brata
Astabrata
Partisipasi setiap warga negara dapat diwujudkan melalui pelaksanaan swadharma yakni tugas dan kewajiban masing-masing. Setiap orang bila mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan baik, maka sesungguhnya telah berpartisipasi untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa dan negara tercinta. Tentang tugas dan kewajiban setiap warga negara pada umumnya dan seorang pemimpin pada khususnya, ajaran agama Hindu memberikan petunjuk bagaimana seharusnya seseorang menjadi umat beragama yang baik, sekaligus pula menjadi warga negara yang patuh. Sebab hakekatnya, bila telah patuh dan mentaati ajaran agama yang menjadi keyakinan hidup, maka yang bersangkutan juga akan menjadi warga negara yang patuh dan taat pula untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya kepada bangsa dan negara. Ajaran tentang kepatuhan atau disiplin hidup ini telah terumuskan dalam Dharma Agama dan Dharma Negara. Untuk melaksanakan Dharma Negara sudah semestinya berpijak pada Dharma Agama.
Setiap warga negara termasuk umat Hindu di Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam hukum dan pemerintahan , dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hubungan antara negara dengan warga negara dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Dharma Negara.Artinya “bahwa umat Hindu melalui pendekat Dharma Negara ikut berperan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta memikul tanggung jawab masa depan bangsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45”. Demikian pula pemerintah atau negara hendaknya dapat menegakkan ajaran kepemimpinan, salah satu diantaranya yakni ajaran Astabrata sebagaimana diungkapkan dalam kekawin Ramayana.
Agama Hindu merupakan agama yang mengandung segala aspek kehidupan salah satunya mengajarkan asas kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Hindu, yang diterangkan dalam ajaran Astabrata. Perkataan Astabrata terdiri atas kata “Asta” yang artinya delapan dan “Brata” yang artinya pegangan atau pedoman. Ajaran Astabrata ini terdapat dalam kekawin Ramayana yang diberikan oleh Sang Rama kepada Wibisana di dalam melanjutkan pemerintahan kerajaan Alengka.
Dalam slokanya menyebutkan tentang sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjadikan kekuatan bagi umatnya dan menggambarkan tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh segenap pemimpin.Dalam slokanya disebutkan :
“Hyang Indra Yama Surya Chandranila Kuvera Baruna Agni nahan wwalu,
sira ta maka angga sang bhupati matang nira inisti astabrata”.
Ramayana XXV.52.
Artinya:
Dewa Indra, Yama, Surya, Chandra, Anila/Bayu, Kuwera, Baruna, dan Agni adalah delapan dewata (sifat dan sikapnya patut ditiru oleh seorang pemimpin agar meresap dalam jiwa dan raganya).
ASTABRATA
1) Indrabrata, para pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap dewa Indra, dewa hujan yang merupakan sumber kemakmuran, dengan demikian seorang pemimpin hendaknya berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
2) Yamabrata, para pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap seperti dewa Yama, yakni adil dalam menegakkan hukum dan keadilan.
3) Suryabrata, pemimpin hendaknya mampu memberi penerangan seperti halnya dewa Surya, disamping senantiasa meningkatkan tanggung jawab dan pengabdian seluruh rakyat yang dipimpinnya.
4) Chandrabrata, pemimpin hendaknya mampu memperlihatkan wajah yang tenang, kata-kata yang menyejukan dan mampu menarik simpati seluruh rakyatnya seperti halnya bulan memberikan penerangan dan kesejukan dalam kegelapan.
5) Bayubrata, pemimpin selalu mengetahui dan menyelidiki keadaan ataupun keinginan rakyatnya terutama mereka yang miskin dan menderita dan mampu mendengar jerit hati nurani mereka seperti halnya angin yang memberikan kesegaran.
6) Kuvera atau Danadhabrata, seperti halnya dewa Kuwera yang mampu mengendalikan uang dan kekayaan , demikian hendaknya seorang pemimpin dapat menggunakan uang dan kekayaan negara untuk meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
7) Varunabrata, artinya sifat dan prilaku seperti dewa Varuna (penguasa samudra raya), pemimpin hendaknya mampu membasmi berbagai penderitaan dan penyakit dalam masyarakat.
8) Agnibrata, yakni sifat dan prilaku sebagai dewa api, pemimpin hendaknya memiliki semangat yang berkobar dan berjiwa ksatria yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mensukseskan program kerja serta memiliki kebijaksanaan untuk menatap masa depan rakyatnya.
Secara keseluruhan Astabrata memuat faktor-faktor dalam Human Relation untuk mengarahkan seorang pemimpin dalam memandang yang dipimpinnya sebagai manusia budaya. Memberikan kesenangan spiritual dan material yang adil, yang mempunyai inti sari dari keadilan sosial dan ajaran Tat Twam Asi.
Seorang pemimpin hendaknya selalu bersifat dan bersikap seperti apa yang telah diterangkan dalam ajaran Astabrata sehingga tercapainya tujuan hidup yang berupa keseimbangan jasmani dan rohani.