Sad Ripu adalah enam jenis sifat yang tidak baik. Sad Ripu berasal dari kata “Sad” yang berarti enam dan “Ripu” yang berarti musuh. Jadi Sad Ripu berarti enam musuh yang ada di dalam diri manusia. Umat Hindu, seyogyanya dapat melenyapkan Sad Ripu yang ada dalam dirinya.
Enam jenis musuh yang harus dibasmi dari dalam diri manusia itu adalah :
1. Kama atau Hawa Nafsu
Setiap orang tentu mempunyai nafsu. Tetapi nafsu itu harus dikendalikan. Umat manusia harus dapat mengendalikan hawa nafsunya agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkendali bukan saja akan merusak dirinya sendiri, tetapi juga dapat pula mesusahkan orang lain. Karena itu agama Hindu mengajarkan agar umatnya selalu mengendalikan panca indrianya, mengendalikan dan mengekang hawa nafsu.
2. Loba atau Rakus
Orang yang rakus selalu ingin memiliki lebih dari apa yang sepantasnya dimiliki. Keinginan untuk memiliki yang berlebihan itu akan dipenuhinya dengan jalan apapun, meski bertentangan dengan ajaran agama. Umat Hindu hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan rakus, karena perbuatan itu bukan saja menyusahkan orang lain, tetapi pada gilirannya dapat menyusahkan dirinya sendiri.
3. Kroda atau Marah
Umat Hindu semestinya dapat mengendalikan diri dan tidak lekas marah. Perbuatan marah dapat menyusahkan atau menimbulkan kekecewaan bagi orang lain. Karena itu manusia perlu mengendalikan diri dan menghindari perbuatan marah itu.
4. Moha atau bingung
Pikiran yang bingung tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Kecendrungan orang yang bingung adalah selalu berbuat yang negative dan menyusahkan orang lain sampai kepada membunuh orang lain atau membunuh dirinya sendiri. Agar tidak terjadi kebingungan, manusia hendaknya selalu mengendalikan dirinya, selalu mentaati ajaran-ajaran agamanya, sehingga dapat hidup tenang dan tenteram.
5. Mada atau Mabuk
Orang yang mabuk akan lupa dengan dirinya sendiri maupun kawan-kawannya. Dalam keadaan demikian orang itu akan cenderung untuk berbuat yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Umat Hindu hendaknya selalu menjauhkan diri dari perbuatan mabuk.
6. Matsarya atau Irihati
seseorang belum tentu senang melihat orang lain hidup berbahagia. Belum tentu senang melihat orang lain hidup berkecukupan. Orang itu mungkin merasa disaingi atau merasa dikalahkan gengsinya, sehingga timbul rasa irihatinya. Akibatnya timbullah rencana jahat untuk mengalahkan saingannya dengan berbagai cara. Perbuatan ini tidak sesuai dengan ajaran agama. Umat hindu hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan semacam itu.
Didamping Sad Ripu termasuk diatas, kita juga mengenal apa yang dinamakan Sad Mitra. Keduanya mempunyai enam unsure yang sama, yaitu Kama, Loba, Kroda, Moha, Mada dan Matsarya, tetapi dengan pengertian yang berlawanan. Kalau Sad Ripu merupakan perilaku buruk (negatif), maka Sad Mitra adalah tata laku yang baik dalam pengertian yang fositif.
Sad Ripu
Narkoba Termasuk Sad Ripu

Mungkin karena termasuk kategori model prilaku manusia modern, penggunaan narkoba (narkotik dan obat-obatan terlarang) kian ngetrend saja. Sebab bagi sebagian orang ada anggapan bahwa untuk bisa disebut sebagai manusia modern salah satu cirinya adalah selalu mengikuti perkembangan zaman. Tak terkecuali perkembangan yang menjerumuskan diri penggunaan narkoba oleh sebagian anak-anak muda. Dan meski sudah diketahui berakibat fatal bahkan bisa menghacurkan fisik dan masa depannya, tetapi tetap saja sebagian generasi harapan bangsa kita tak kuasa untuk menjadi budak dari narkoba. Dalam pandangan Hindu, penggunaan narkoba dapat dimasukkan sebagai bagian dari Sad Ripu yaitu enam musuh dalam diri yang meliputi :
- Karma (hawa nafsu)
- Lobha (tidak pernah puas dengan apa yang ada)
- Krodha (kemarahan)
- Mada (mabuk)
- Moha (kebingungan)
- Matsarya (iri hati/dengki)
Siapappun dia jika telah mengkonsumsi narkoba apalagi sampai berada pada tingkat ketagihan maka yang bersangkutan boleh dikatakan sudah dikuasai oleh Sad Ripu.
Dengan mengkonsumsi narkoba, berarti si pengguna tidak bisa menahan atau mengendalikan hawa nafsu (kama) untuk menjaga batas-batas wajar dan benar tentang apa yang patut dikonsumsi dan apa pula yang tak pantas dinikmati. Dengan kama yang tidak bisa dikendalikan itu membuat dia tidak pernah merasa puas dengan apa yang bisa dan bisa dinikmati (lobha). Makanan dan minuman yang layak dinikmati dianggap belum cukup jika tanpa mencicipi narkoba. Dan apabila tidak dapat dipenuhi kecanduannya terhadap narkoba, ia bisa marah (krodha) sehingga membuatnya berusaha mendapatkan narkoba dengan cara apa saja. Dan jika sudah didapat, dengan perasaan senang tanpa beban ia akan menikmati narkoba itu sampai mabuk (mada) lalu dihanyutkan alam pikiranya ke suasana ilusi, halusinasi dan mimpi-mimpi yang kosong. Akibat berikutnya menjadikan pengguna narkoba mengalami kebingungan (moha).
Pikirannya sudah tidak sehat lagi, fisiknya pun dapat menjadi rapuh. Pelan tetapi pasti para pencandu narkoba sedang menyiapkan liang kubur untuk dirinya sendiri. Dan ketika disadari lingkungan sosial dirinya tidak menghendaki keberadaannya, ia akan bersikap benci ataupun irihati kepada sesamanya. Akhirnya si pecandu narkoba benar-benar telah berada pada pelukan Sad Ripu yang sesungguhnya adalah pintu utama untuk menuju ke neraka. Karena itu, kitab suci Bhagavadgita V. 22 mengingatkan : “kenikmatan yang berasal dari hubungan dengan duniawi (termasuk narkoba) hanya merupakan sumber penderitaan belaka, ada awalnya dan ada akhirnya. Seorang budiman ia tidak akan tertarik pada semua itu”.
Bagi generasi muda Hindu tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan untuk terhindar dari jebakan narkoba selain cara meningkatkan sraddha bhakti dan pandai-pandai memilah dan memilih teman dalam pergaulan sehari-hari. Yang pasti menghindar dari narkoba berarti sudah berhasil mengalahkan sebagian Sad Ripu./span>