E-mail : pasek.trunyan@gmail.com
=

Sila Kramaning Ngaturang Piodalan

2. Ngunggahang Upakara pada setiap Pelinggih

Setelah selesai membersihkan bangunan suci, biasanya pada hari piodalan tersebut, pada dini hari ngunggahang upakara pada setiap pelinggih menurut volume upakara yang akan di persembahkan sesuai dengan nista, Madya Utamaning Yadnya, secara bersamaan juga meletakkan air bersihnya sebagai sarana pengajuman tirthanya.

Kalau pelaksanaan upakara piodalan di Pura, disiapkan sebuah peralatan untuk penampungan tirtha (jeding) diletakkan di depan pelinggih pokok pada suatu Pura, dan telah berisi air bersih yang telah diberi aroma (meukup).

Read More......

Sila Kramaning Ngaturang Piodalan

Pada waktu melaksanakan upacara piodalan memiliki tatanan tertentu sesuai dengan ajaran Etika Agama Hindu, yaitu :

1. Penyucian Bangunan Suci secara Phisik Sebelum menghaturkan upacara Piodalan seharusnya umat Hindu melaksanakan pereresikan (pembersihan) dahulu pada bangunan Suci meliputi :

a. Membersihkan caratan comblong serta diisi air bersih karena caratan comblong tersebut merupakan niyasa bahasa Ethika kehadapan Hyang Widhi untuk memohon kesucian dan kemerthan. Caratan comblong adalah sebagai niyasa berputarnya gunung Mandharagiri di tengah lautan samudra yang di putar oleh para Dewa bersama – sama dengan para raksasa untuk mengeluarkan amertha (Adi Parwa), oleh karena itu meletakkan Caratan Comblong adalah pada posisi bertumpuk.

b. Kemudian memasang wastra lengkap pada semua bangunan suci yang akan dibuatkan upacarannya, karena wastra tersebut adalah sebagai simbul Tejan Bathara yang berstana pada masing – masing bangunan suci, oleh karena itu memasangkan wastrannya sesuaikan dengan fungsi bangunan suci itu dengan penekanan terhadap warna wastra, karena warna tersebut sebagai simbul Tejan Sang Hyang Widhi (manifestasi) dalam pengertian tidak asal memasang.

c. Setelah selesai memasang wastra, kemudian memasang lamak sampian pada masing – masing bangunan suci tersebut karena Lamak adalah merupakan simbul dari permohonan umatnya kehadapan Ida Bhatara, sehingga merupakan pertemuan antara Bhakti kelawan Sweca, hal itulah menjadi simbul dari penyatuan magnetik Bhuana Alit dengan Mega Magnetik yang bersumber dari kekuatan Sang Hyang Widhi.

d. Kemudian memasang uparengga berupa pajeng, umbul – umbul, kober, dll, kalau peralatan seperti itu dimiliki.

Read More......

Bulan Kuning


Ada kone anak luh balu madan Men Bekung. Ia nongos di sisin alase gede. Geginane sai-sai ngalih saang ka alase. Kacritaang ia maan nuduk anak cerik pusuh. sawireh kulitne putih tur muane bunter buka bulane lantas kaadanin Ni Bulan Kuning.

Sedek dina anu Ni Bulan Kuning ajaka bareng ngalih saang ka tengah alase. Di tengah alase Ni Bulan Kuning paling tur palas ngajak memene. Ni Bulan Kuning jejeh pesan atine. mara ia inget dapetange ibane suba saupa teken I Raksasa. I ngetor baan jejehne.

Ia sayanganga pesan baan I Raksasa. I Raksasa ngelah manik sakti telung besik luire : manik api, manik yeh, manik angin. Sawireh ia sayanganga, orahina ia kagunan manike maketetelu ento. Katuju I Raksasa luas, lantas plaibanga manike mekejang teken I Bulan Kuning. Makire I Bulan Kuning bakatanga teken I Raksasa lantas sabata baan manike ento kanti I Raksasa mati.

Ni Bulan Kuning tengkejut ningeh sabta sawireh Ni Bulan Kuning nyupat I Raksasa. Raksasa dadi Betara tur mewali buin ka Suarga. Ni Bulan Kuning kaicen kesaktian saged maubad - ubadan. Jani Ni Bulan Kuning mulih lantas ngalih Memen Bekung.

Read More......

Panca Yama Bratha

Contoh perilaku dalam cerita yang bertentangan dengan perilaku Panca Yama Bratha. Untuk lebih jelasnya mari simak cerita berikut.

Suatu ketika Dewi Gangga akan melanjutkan perjalanan menuju sungai Gangga untuk menjalani kutukan dari Dewa Brahma di Surga. Di tengah perjalanan bertemu dengan Sang Astabasu yang rupanya seperti orang nista dan kurus kering, karena Beliau dikutuk juga oleh Bhagawan Wasista. 
Kemudian bertanyalah Dewi Gangga kepada Sanga astabasu, apa yang menyebabkan kamu bersedih?, sampai kurus kering. Sang astabasu menjawab dan menceritakan riwayat penyebab dukannya. Tersebutlah seorang Resi bernama Bhagawan Wasista. Beliau mempunyai seekor lembu bernama Nandini. lembu itulah yang kami curi yang menyebabkan Sang Resi marah dan megutuk kami supaya menjelma menjadi manusia di dunia.

Kemudian Dewi Gangga berkata “ Sang Maha Bima dikutuk oleh Dewa Brahma menjadi manusia sebagai putra Maha Raja Partipa. Beliau yang mengambil saya menjadi istrinya. Aku berharap kau mau menjelma pada diriku, supaya tidak lama menjadi manusia.

Oleh karena itu semua upaya saya, segala tingkah laku tidak boleh dihalangi suami saya. Kalau dihalangi maka saat itu saya akan meninggalkan suami dan saya kembali kesorga. Sebab sudah sampai batas hukuman yang saya jalani dan berputra 8 orang.

Menjawab Sang Astabasu “ kalau demikian saudara-saudara saya yang kedelapan akan menjelma pada dirimu. Usahakan apabila kami lahir, cepatlah buang kami ke sungai Gangga. Apabila sampai penjelmaan kedelapan yakni penjelmaan dari Sang Prabata jangan dibuang. Karena Sang Prabata yang paling besar dosanya diantara saudara kam. Itulah sebabnya dia lebih lama menjadi manusia . akhirnya Dewi Gangga menyanggupi dan melaksanakan perintah Sang Astabasu.

Menurut ajaran agama Hindu perbuatan mencuri sangat dilarang. Agar tidak tergoda oleh nafsu jahat, maka berpuasalah dengan apa yang kita miliki. Tetapi bila ingin meningkatkan derajat kehidupan, berusahalah untuk bekerja keras, serta jujur berdasarkan Dharma. Walaupun sedikit berpendapatan asalkan dicari dengan secara baik, maka pikiran kiita akan tenang, aman, damai, bahagia, dan sejahtera.

Demikianlah ajaran Asteya atau Astenya hendaknya selalu ditaati untuk mencapai kedamaian dan ketentraman hidup jasmani dan rohani. 

Read More......

Awyawahara

Awyawahara disebut juga Awyawaharika. Awyawahara diurai dari kata Wyawahara yang artinya ikatan terhadap hidup keduniawian, atau berarti juga peraturan hidup (undang-undang) dan “A” artinya tidak, jadi, Awyawahara artinya tidak terikat oleh ketentuan dan ikatan hidup keduniawian, atau melakukan usaha dengan hati yang tulus ikhlas guna menciptakan ketentraman batin. Agama Hindu mengajakan bahwa tujuan agama hindu adalah menuntun umatnya untuk mencapai Moksa dan Jagathita sehingga dapat menciptakan rasa kebahagian lahir batin.

Read More......

Satya



Satya berarti sikap menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran. Dalam sloka satya Hindu disebutkan semboyan “Satyam evam jayate na nrtam” artinya hanya kebenaranlah yang menang bukan kejahatan.

Ada 5 macam sikap Satya yaitu :

a. Satya Wacana Satya wacana adalah setia, jujur dan benar dalam berkata-kata. Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan yang disebut “wak purusya”.

b. Satya Hredaya Satya hredaya adalah setia terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati, berpendirian teguh, dan tidak terombang-ambing .

c. Satya Laksana Satya Laksana adalah sikap setia dan jujur mengakui serta mempertanggungjawabkan kebenaran dari segala perbuatan yang telah dilakukan.

d. Satya Mitra Satya Mitra adalah setia dan jujur kepada teman dalam segala hal, serta berusaha untuk mengarahkan segala tindakan atau perbuatan agar selalu berdasarkan kebenaran sesuai dengan ajaran agama.

e. Satya Samaya Satya Samaya adalah setia dan jujur terhadap janji yang telah diucapkan serta memenuhi segala sesuatuyang ditimbulkan akibat ucapan janji itu.

Kalimat satya itu hendaknya dapat diwujudkan dalam pelaksanaan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Berusaha jangan berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebab hal ini dapat mengakibatkan pikiran gelisah karena merasa bersalah.

Read More......

Hari-Hari dan Bulan Baik


Dalam Agama Hindu kita mengenal hari baik dan bulan baik dalam melaksanakan hari raya suci. Hari baik dan bulan baik biasanya dihitung berdasarkan datangnya, wewaran, wuku, dan sasih (bulan). Dasar inilah yang dipakai pedoman untuk melaksanakan kegiatan agar kegiatan tersebut berhasil dengan selamat, damai, dan bahagia. 

Misalanya membuat dasar bangunan, berdagang, mulai belajar, dan upacara yadnya. Contoh pewarigaan dapat dilihat pada kalender Bali. 

Berikut ini adalah nama-nama Wewaran : 

a. Eka Wara : Luang 
b. Dwi Wara : menga, pepet 
c. Tri Wara : pasah, beteng, kejeng (dora, wahya, bhyantara).

Read More......

Brahmacari

Brahmacari di urai dari kata brahma dan cari. Brahma artinya ilmu pengetahuan. Sedangkan Cari (Carya) berasal dari bahasa sansekerta “Car” artinya bergerak (tingkah laku). Jadi, Brahmacari berarti tingkah laku manusia dalam masa menuntut ilmu pengetahuan. Agar dapat memusatkan jiwa raga dan pikiran dalam menuntut ilmu pengetahuan maka seorang brahmacari dilarang menikah, berdagang, dan berpolitik. 

Disamping itu mereka harus dapat mematuhi segala nasehat dan perintah dari gurunya. 

Perkawinan Brahmacari dapat dibagi menjadi tiga jenis : 

a. Sukla Brahmacari Sukla Brahmacari adalah orang yang tidak pernah kawin selama hidupnya (sejak kecil sampai meninggal dunia). Dalam cerita Mahabratha yang melaksanakan sukla brahmacari (tidak kawin) adalah Prabhu Bhisma, begitu juga dalam cerita Ramayan yang melaksanakan Brahmacari (tidak kawin) adalah Sang Laksamana. 

b. Sewala Brahmacari Sewala Brahmacari adalah orang yang kawin hanya sekali dalam hidupnya. Walaupun suami/istri meninggal dunia. Dalam cerita Ramayana yang kawin hanya sekali adalah Sang Rama. 

c. Tresna atau Kresna Brahmacari Tresna atau Kresna Brahmacari adalah orang yang kawin lebih dari satu kali dan paling banyak empat kali, dan semuanya istri yang sah.

Read More......

Pengertian Lagu Kerohanian

Budaya umat Hindu dalam melaksanakan suatu yadnya, pada umumnya dibarengi dengan adanya lagu-lagu kerohanian.

Lagu-lagu kerohanian ialah lagu-lagu atau nyanyian yang isi atau syairnya mengajarkan tuntunan keagamaan seperti Tattwa, Susila, dan upacara. Lagu-lagu kerohanian agama Hindu disebut Dharma Gita. Dharma artinya agama sedangkan Gita artinya nyanyian.

Jadi, Dharma Gita adalah lagu-lagu suci keagamaan/kerohanian bagi umat Hindu.

Dharma Gita yang dilantunkan pada saat upacara Yadnya disebut Kidung. Kidung untuk mengiringi pelaksanaan upacara panca yadnya dibedakan menjadi 5 jenis, antara lain :

1. Kidung Dewa Yadnya
Kidung Dewa Yadnya adalah kidung yang isinya tentang pujian kehadapan Hyang Widhi beserta segala manifestasinya.

2. Kidung Rsi Yadnya
Kidung Rsi Yadnya adalah kidung yang isinya tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalani seorang wilen.

3. Kidung Pitra Yadnya
Kidung Pitra Yadnya adalah kidung yang isi syairnya menyatakan perjalanan roh menuju alam baka yang diantar oleh saudara empat (Catur sanak).

4. Kidung Manusia Yadnya
Kidung Manusia Yadnya adalah kidung isi syairnya tentang seorang yang melaksanakan upacara penuh semangat dan dihormati serta dikagumi oleh masyarakat.

5. Kidung Bhuta Yadnya
Kidung Butha Yadnya adalah kidung yang isinya tentang upacara persembahan kepada Bhuta Kala yang ada pada arah penjuru bumi agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Read More......