E-mail : pasek.trunyan@gmail.com
=

Haruskah Gunakan Pratima di Sanggah

Sanggah (Merajan), Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang
Di dalam lontar Siwagama yang menguraikan perihal pendirian pura yang tergolong kawitan termasuk sanggah/merajan tidak ada disebutkan mengaenai persyaratan yang mengharuskan adanya pratima dan prasasti pada bangunan suci keluarga tersebut. Di dalam lontar itu hanya ditegaskan bahwa di setiap pekarangan agar kiranya dapat didirikan palinggih Kamulan dengan rong tiganya yang merupakan sthana sekaligus tempat pemujaan roh suci leluhur yang sudah diyakini berada di alam Dewata (Siddha Dewata), sehingga disebut sebagai Dewa Pitara. Dengan begitu maka keberadaan pratima ataupun prasasti tidak merupakan keharusan. Artinya, bila ingin dibuatkan tidak di larang, jika tanpa pratima dan prasasti pun bukan suatu pelanggaran.

Sebagai roh suci leluhur yang sudah berkedudukan setara (bukan sederajat) dengan Dewa sehingga dapat disebut Dewa Pitara maka keturunannya wajib menyembah dan atau memujannya. Hal ini berpijak pada konsep ajaran Pitra Puja yang dilandasi oleh adanya ikatan Pitra Rna. Karena berbhakti kepada leluhur merupakan dharma tertinggi. “Haywa kita pegat akadang purusantha sembahen”, begitu petuah leluhur yang menyiratkan makna untuk tidak memutuskan bhakti dengan menyembah dan atau memuja roh suci leluhur yang sudah berkedudukan sebagai Bhatara-Bhatari, sekaligus sebagai Dewa Pitara.

Tentang persamaan dan perbedaan makna antara “menyembah” dengan “memuja” sebenarnya sulit dijelaskan. Dari sudut kamus bahasa pun sulit di bedakan. Karena kedua kata ini lebih banyak menyiratkan persamaannya. Tetapi sebagai perbandingan mungkin bisa dipersamakan dengan kata “tirtha” dan “toya”. Keduannya sama-sama berupa “air” bedanya “tirtha” merupakan air yang telah disucikan, sementara “toya” lebih merupakan wujud benda cair (air biasa).

Begitupun perihal kata “menyembah” dan “memuja”. Keduanya sama-sama merupakan wujud dari perilaku berbhakti, hormat dan atau menjunjung tinggi terhadap sesuatu obyek seperti Bhatara-Bhatari, Dewa atau Tuhan. Maka lahirlah kalimat, ia menyembah dan atau memuja Bhatara-Bhatari, Para Dewa, atau Hyang Widhi.

Roh suci leluhur, meski sudah berkedudukan sebagai Dewa Pitara tetap tidak akan mengambil peran Hyang Widhi sebagai penciptanya. Sebab Dewa Pitara berada dalam posisi sebagai “makhluk ciptaan”. Hanya Hyang Widhilah pencipta segala yang ada dan yang akan ada.

No comments:

Post a Comment