E-mail : pasek.trunyan@gmail.com
=

Hari-Hari dan Bulan Baik


Dalam Agama Hindu kita mengenal hari baik dan bulan baik dalam melaksanakan hari raya suci. Hari baik dan bulan baik biasanya dihitung berdasarkan datangnya, wewaran, wuku, dan sasih (bulan). Dasar inilah yang dipakai pedoman untuk melaksanakan kegiatan agar kegiatan tersebut berhasil dengan selamat, damai, dan bahagia. 

Misalanya membuat dasar bangunan, berdagang, mulai belajar, dan upacara yadnya. Contoh pewarigaan dapat dilihat pada kalender Bali. 

Berikut ini adalah nama-nama Wewaran : 

a. Eka Wara : Luang 
b. Dwi Wara : menga, pepet 
c. Tri Wara : pasah, beteng, kejeng (dora, wahya, bhyantara).

Read More......

Brahmacari

Brahmacari di urai dari kata brahma dan cari. Brahma artinya ilmu pengetahuan. Sedangkan Cari (Carya) berasal dari bahasa sansekerta “Car” artinya bergerak (tingkah laku). Jadi, Brahmacari berarti tingkah laku manusia dalam masa menuntut ilmu pengetahuan. Agar dapat memusatkan jiwa raga dan pikiran dalam menuntut ilmu pengetahuan maka seorang brahmacari dilarang menikah, berdagang, dan berpolitik. 

Disamping itu mereka harus dapat mematuhi segala nasehat dan perintah dari gurunya. 

Perkawinan Brahmacari dapat dibagi menjadi tiga jenis : 

a. Sukla Brahmacari Sukla Brahmacari adalah orang yang tidak pernah kawin selama hidupnya (sejak kecil sampai meninggal dunia). Dalam cerita Mahabratha yang melaksanakan sukla brahmacari (tidak kawin) adalah Prabhu Bhisma, begitu juga dalam cerita Ramayan yang melaksanakan Brahmacari (tidak kawin) adalah Sang Laksamana. 

b. Sewala Brahmacari Sewala Brahmacari adalah orang yang kawin hanya sekali dalam hidupnya. Walaupun suami/istri meninggal dunia. Dalam cerita Ramayana yang kawin hanya sekali adalah Sang Rama. 

c. Tresna atau Kresna Brahmacari Tresna atau Kresna Brahmacari adalah orang yang kawin lebih dari satu kali dan paling banyak empat kali, dan semuanya istri yang sah.

Read More......

Pengertian Lagu Kerohanian

Budaya umat Hindu dalam melaksanakan suatu yadnya, pada umumnya dibarengi dengan adanya lagu-lagu kerohanian.

Lagu-lagu kerohanian ialah lagu-lagu atau nyanyian yang isi atau syairnya mengajarkan tuntunan keagamaan seperti Tattwa, Susila, dan upacara. Lagu-lagu kerohanian agama Hindu disebut Dharma Gita. Dharma artinya agama sedangkan Gita artinya nyanyian.

Jadi, Dharma Gita adalah lagu-lagu suci keagamaan/kerohanian bagi umat Hindu.

Dharma Gita yang dilantunkan pada saat upacara Yadnya disebut Kidung. Kidung untuk mengiringi pelaksanaan upacara panca yadnya dibedakan menjadi 5 jenis, antara lain :

1. Kidung Dewa Yadnya
Kidung Dewa Yadnya adalah kidung yang isinya tentang pujian kehadapan Hyang Widhi beserta segala manifestasinya.

2. Kidung Rsi Yadnya
Kidung Rsi Yadnya adalah kidung yang isinya tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalani seorang wilen.

3. Kidung Pitra Yadnya
Kidung Pitra Yadnya adalah kidung yang isi syairnya menyatakan perjalanan roh menuju alam baka yang diantar oleh saudara empat (Catur sanak).

4. Kidung Manusia Yadnya
Kidung Manusia Yadnya adalah kidung isi syairnya tentang seorang yang melaksanakan upacara penuh semangat dan dihormati serta dikagumi oleh masyarakat.

5. Kidung Bhuta Yadnya
Kidung Butha Yadnya adalah kidung yang isinya tentang upacara persembahan kepada Bhuta Kala yang ada pada arah penjuru bumi agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Read More......

Pengertian Hari Suci

Hari suci adalah hari yang khusus, karena di hari-hari suci tersebut para Dewa Beryoga untuk menyucikan alam semesta beserta isinya. Hari-hari suci diyakini oleh umat Hindu sebagai hari yang sangat baik untuk melakukan Yadnya.

Beryadnya pada hari raya suci nilainya sangat utama jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Hari suci dikenal dengan istilah Hari Raya. Karena pada hari tersebut diperingati dan dirayakan dengan acara khusus. Hari raya atau hari suci di Bali sering di sebut dalam bahasa balinya "Rahinan".

Jadi, hari suci adalah hari yang disucikan dan dikeramatkan yang datangnya berdasarkan Wariga dan Pedewasan. wariga atau dewasa bersumber dari kitab suci Weda khususnya pada bagian Jyotisa.

Read More......

Padmasana

Padmasana berasal dari kata Padma dan Asana. Padma berarti bunga teratai. Asana berarti tempat duduk. Padmasana adalah tempat duduk dari bunga teratai. Dalam pandangan umat Hindu, padmasana diartikan sebagai simbolis dari alam semesta sebagai istananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dibangun dalam bentuk bangunan yang menjulang tinggi. Penemuan sejarah bidang agama menyebutkan, bahwa para Dewa Hindu dilukiskan sebagai arca yang duduk di atas bunga teratai. Patung-patung dewa yang digambarkan duduk diatas bunga teratai banyak kita jumpai pada masa pemerintahan raja-raja Kediri, Singasari, dan Majapahit serta raja-raja Hindu di Bali.


Bunga teratai memiliki helai daun berjumblah delapan, dapat dihubungkan dengan Asta Iswarya, yaitu para Dewa yang menguasai delapan penjuru arah dari alam semesta ini. Bunga teratai juga memiliki sifat dapat hidup di tiga lapisan alam, seperti akarnya hidup didalam lumpur daunnya di air dan bunganya di udara. Ini dapat dihubungkan dengan Tri Bhuwana (bhur, bhuwah dan swah). Bunga teratai juga disebut dengan nama Pangkaja artinya lahir dari lumpur. Beberapa kitab Purana, menceritakan bahwa para dewa muncul dari Padmasana. Padmasana itu adalah lambang dari gunung Maha Meru yang juga sebagai simbol alam semesta tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi.

Dalam kenyataan bentuk bangunan padmasana seperti yang sering kita lihat di Bali (khususnya), adalah sebuah bangunan yang menjulang tinggi berbentuk Bedawang Nala yang dililit oleh dua ekor naga (Naga Besuki dan Naga Ananta Bhoga). Pada bagian tengah belakang terdapat lukisan burung Garuda, di atasnya terdapat burung angsa, dan pada bagian samping kiri dan kanan dari singasananya terdapat lukisan Naga Taksaka. Dari seluruh bentuk bangunan itu kita tidak dapat melihat lukisan padma. Untuk mengetahui itu semua, ada baiknya kita memperhatikan puja yang digunakan oleh pendeta (Siwa-Budha) pada saat menstanakan (ngelinggihang) Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Read More......

Persamaan dan Perbedaan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

Sama-sama dari Purusa dan Prakerti. Purusa unsur dasar yang bersifat kejiwaan. Sedangkan Prakerti unsur dasar yang bersifat kebendaan dengan kerja sama Purusa dan Prakerti muncullah Panca Tan Mantra akhirnya timbullah Panca Mahabhuta yang membuat terciptanya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

Persamaan unsur Panca Mahabhuta yang membuat terciptanya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

1. Segala yang padat, keras dan kental dalam tubuh makhluk terjadi dari unsur pertiwi (zat padat).

2. Segala ya cair baik didalam maupun ditubuh manusia terjadi unsur Apah (zat air).

3. Segala yang bercahaya dan panas baik dalam alam semesta maupun tubuh manusia dari unsur Teja (cahaya).

4. Segala hawa, gas dan angin pada alam nafas pada makhluk terjadi dari Bayu (unsur gas).

5. Segala kosong (ruang angkasa) pada alam, rongga-rangga pada tubuh mahkluk terjadi unsur Angkasa (ether).

Read More......

Arti Lagu Kerohanian dan Jenis-jenisnya

- Arti Lagu Kerohanian

Lagu kerokhanian memiliki peranan penting dalam semua peribadatan Hindu. Lagu kerokhanian Hindu dinamakan " Dharma Gita ". Jadi Dharma Gita sesungguhnya adalah lagu kerokhanian atau lagu keagamaan yang berisi pesan-pesan tentang ajaran kebenaran, keadilan, dinyanyikan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu.

Pada umumnya syair-syair Dharma Gita disusun dengan deretan kata-katanya dipercaya memiliki daya kekuatan yang dapat menuntun jiwa dan perasaan seseorang menuju suasana yang hening dan hidmat.

Dalam
fungsinya dharma gita menjadi salah satu unsur yang mengiringi doa-doa / puja mantra yang diucapkan oleh pemimpin upacara. Ada lima suara dipadukan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan upacara-upacara tertentu agama Hindu yakni upacara mantra pemimpin upacara, alunan dharma gita, alunan suara gamelan, suara kentongan, dan gemerincing suara genta ( Bajra ), membuat suasana yang mampu menciptakan getaran kerokhanian menuju terciptanya suasana bhakti kepada Hyang Widhi sebagai obyek yang dituju atau diharapkan hadir.

Dharma Gita adalah kegiatan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan jalan menyanyikan atau melantunkan kidung-kidung suci keagamaan.

Dalam suatu kegiatan ritual, dharma gita dinyanyikan dengan tenang, dengan ritme dan aturan-aturan tertentu yang diucapkan secara berulang-berulang pada jenis nyanyian yang cocok.

Disamping amanat yang tertuang dalam syair-syair dharma gita menjadi media pemahaman ajaran agama, dharma gita juga mengajarkan tentang nilai-nilai estetika atau keindahan yang dituangkan dalam bentuk irama yang indah didengar.

Dapat dikatakan dharma gita di dalamnya terkandung ajarara agama, susila, tuntunan hidup, serta menggambarkan keagungan Hyang Widhi dalam berbagai manifestasiNya.

Read More......

Unsur-Unsur Bhuwana Alit

Bhuwana Alit berarti alam kecil atau dunia kecil, yaitu suatu istilah untuk menyebutkan bersemayamnya Sang Hyang Atma.

Yang termasuk Bhuwana Alit adalah tubuh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia adalah makhluk yang tertinggi karena manusia adalah makhluk yang berfikir, berbudaya dan memiliki Tri Pramana ( Bayu, sabda dan idep). Hewan memiliki dwi permana (bayu dan sabda) sedangkan tumbuhan memiliki eka pramana (bayu).


Bhuana Alit juga disebut Microcosmos. Tubuh manusia selalu mengalami perubahan (yang tidak kekal), tetapi atma yang menempati tubuh itu kekal.

Bhuwana Alit atau tubuh manusia, tumbuhan dan binatang ini terbentuknya sama seperti Bhuwang Agung yang pertemuan Purusa dan Prakerti.
- Purusa adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan.
- Prakerti adalah dasar yang bersifat kebendaan.

Unsur Purusa itu menjadi jiwatman, sedangkan unsur Prakerti menjadi badan manusia.

Tri Antah Karana adalah merupakan alat batin manusia yang sangat menentukan watak/karakter seseorang.
Tri Antah Karana yaitu :

1. Buddhi fungsinya untuk menentukan keputusan (kebijaksanaan yang tertinggi).
2. Manas fungsinya untuk berfikir.
3. Ahamkara fungsinya untuk merasakan dan bertindak (sifat ego manusia).

Panca Tan Mantra menjadi indra penilai (Panca buddhindriya) yaitu :

- Sabda menjadi Srotendriya (indra yang terletak di telinga)
- Sparsa menjadi Twikindrya (indra yang terletak dikulit)
- Rupa menjadi Cakswindrya (indra yang terletak dimata)
- Rasa menjadi Jihwendriya (indra yang terletak pada lidah)
- Gadha menjadi Ghranendriya

Panca Tan Mantra berevolusi kemudian menjadi Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta menjadi unsur pembentuk tubuh manusia/jasmani manusia yaitu :
- Akasa menjadi rongga-rongga dalam tubuh serta rongga mulut, rongga hidung, rongga dada dan rongga perut.
- Bayu menjadi udara dalam badan yang juga disebut prana seperti pernafasan dan sebagainya.
- Teja menjadi panas dalam tubuh seperti suhu tubuh dan sebagainya
- Apah menjadi segala yang cair dalam tubuh seperti darah, keringat, ludah, air kencing dan sebagainya
- Prthiwi menjadi segala yang bersifat dalam tubuh seperti tulang, otot, daging dan sebagainya.

Tubuh manusia terdiri dari tiga lapisan badan disebut Tri Sarira :
- Stula Sarira : lapisan badan kasar
- Suksma Sarira : lapisan badan halus
- Antakarana Sarira : lapisan badan paling halus / penyebab.

Read More......

Sapta Rsi

Sapta Maha Resi penerima wahyu dalam kitab suci Weda :

1. Rsi Gritsamada
Rsi Gritsamada lahir dari keluarga Angira, beliau Rsi yang rajin dan tekun, Rsi Gritsamada berjasa bagi kita, beliau mengumpulkan mantram-mantram Weda. Beliau banyak menulis mantra Reg Weda.

2. Rsi Wiswamitra
Wiswamitra adalah Rsi yang banyak disebut-sebut, wahyu yang beliau terima dihimpun dalam Weda. Pada mulanya Wiswamitra dikenal sebagai keturunan ksatria atau penguasa, karena ketekunannya dalam belajar beliau akhirnya dikenal sebagai Maha Rsi.


3. Rsi Wamadewa
Wamadewa sangat banyak menulis ayat-ayat Weda. Dalam cerita dikatakan Rsi Ramadewa telah mencapai penerangan sempurna semasih dalam kandungan ibunya, keajaiban sering terjadi dalam kehidupannya. Wamadewa sudah biasa berbicara dengan Dewa Indra dan Dewa Aditi.

4. Rsi Atri
Atri lahir dilingkungan keluarga Brahmana, keluarga Atri banyak menerima wahyu. Sebagai warga Brahmana, Rsi Atri sejak kecil hidup dalam lingkungan disiplin Brahmana, ada tiga puluh enam keluarga Atri yang mampu menerima wahyu. Rsi Atri dan keluarganya sungguh besar jasanya bagi kita semua.

5. Rsi Bharadwaja
Pada masa Rsi Bharadwaja, kegiatan menghimpun ayat Weda tetap dilanjutkan. Rsi Bharadwaja selalu berpikir suci, beliau sangat rajin mengumpulkan ayat-ayat Weda.


6. Rsi Wasista
Nama Wasista banyak disebutkan dalam Maha Bharata, Wasista adalah seorang Rsi. Beliau tinggal di hutan Kamyaka, beliau belajar di tempat yang sepi jauh dari keramaian. Beliau banyak menambah ayat-ayat Reg Weda.

7. Rsi Kanwa
Maha Rsi Kanwa adalah orang suci, beliau menerima banyak wahyu. Karena kesuciannya beliau sangat dicintai. Hyang Widhi menganugrahkan kesabaran kepada beliau, Rsi Kanwa sangat bijaksana, pribadinya dikagumi banyak orang.

Read More......