<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514</id><updated>2011-11-28T07:44:33.857+07:00</updated><category term='arti yadnya'/><category term='Upacara Potong Gigi'/><category term='Pura Dadya'/><category term='Mantra Saat Memotong Binatang'/><category term='Dasa Indria'/><category term='Budaya Agama'/><category term='Satya'/><category term='Pancawalikrama'/><category term='Dewa Pitara'/><category term='Persebahan dan Pemujaan Kehadapan Para Dewa Berdasarkan Perhitungan Sasih'/><category term='Hari Raya Suci'/><category term='Sad Paramitha'/><category term='Unsur - Unsur Bhuwana Alit'/><category term='Atma'/><category term='Wiwaha'/><category term='Pratima'/><category term='Catur Paramitha'/><category term='Sugihan Bali'/><category term='Pengaruh Lagu Saat Memuja Tuhan'/><category term='Dharma Gita'/><category term='Putu Surya Yudistira'/><category term='Arca'/><category term='Panca Yama Bratha'/><category term='Banten'/><category term='Catur Marga'/><category term='Sapta Rsi'/><category term='Gede Prama'/><category term='Tujuan Wiwaha'/><category term='Bhuwana Agung'/><category term='Palinggih'/><category term='Lima Cara Beryadnya'/><category term='Pemedek Penyungsung dan Pengemong'/><category term='Weda'/><category term='Jro Mangku'/><category term='Kekawin'/><category term='Hari Raya Siwalatri'/><category term='Syarat-syarat Wiwaha'/><category term='Rsi Wasista'/><category term='Busana Hitam'/><category term='Catur Aiswarya'/><category term='Sad Atatayi'/><category term='Sad Ripu'/><category term='Hari-Hari dan Bulan Baik'/><category term='Brahmacari'/><category term='Ngotonin'/><category term='Etika Berbusana'/><category term='Ciri Karang Panes'/><category term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><category term='Hari Raya Nyepi'/><category term='Sad Guna'/><category term='Sulinggih'/><category term='Pengertian Lagu Kerohanian'/><category term='Maharesi Penerima Wahyu'/><category term='Tumpek Wayang'/><category term='Tri Kaya Parisudha'/><category term='Makna Sarad'/><category term='Agama Hindu'/><category term='Doa sehari hari'/><category term='Awyawahara'/><category term='Hari Suci berdasarkan Pawukon'/><category term='Gayatri Mantra'/><category term='Tri Karana atau Tri Sadhana'/><category term='Sanggah Kamulan'/><category term='Siwa Ratri'/><category term='Pura'/><category term='Om Swastyastu'/><category term='Kewajiban Orang Tua'/><category term='Hari Raya Galungan'/><category term='Hari Raya Saraswati'/><category term='Tri Hita Karana'/><category term='Dewa dan Bhatara'/><category term='Asta Brata'/><category term='Pengerian Wiwaha'/><category term='Tri Guna'/><category term='Keluarga Staniya'/><category term='Kerauhan'/><category term='Pitra Yadnya'/><category term='Pura Kawitan'/><category term='Tri Brata'/><category term='Dasa Paramartha'/><category term='Mahabharata'/><category term='Padmasana'/><category term='Dasa Dharma dan Catur Purusartha'/><category term='Sapta Timira'/><category term='Dasa Sila'/><category term='Sad Mitra'/><category term='Panca Sembah'/><category term='Bhuwana alit'/><title type='text'>Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang</title><subtitle type='html'>Kesejahteraan Lahir dan Kebahagiaan Batin</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>136</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3884965318897023382</id><published>2011-09-28T11:23:00.000+07:00</published><updated>2011-09-28T11:32:55.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Panca Yama Bratha'/><title type='text'>Panca Yama Bratha</title><content type='html'>Contoh perilaku dalam cerita yang bertentangan  dengan perilaku Panca Yama Bratha. Untuk lebih jelasnya mari simak cerita berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Dewi Gangga akan melanjutkan perjalanan menuju sungai Gangga untuk menjalani kutukan dari Dewa Brahma di Surga. Di tengah perjalanan bertemu dengan Sang Astabasu yang rupanya seperti orang nista dan kurus kering, karena Beliau dikutuk juga oleh Bhagawan Wasista.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bertanyalah Dewi Gangga kepada Sanga astabasu, apa yang menyebabkan kamu bersedih?, sampai kurus kering. Sang astabasu menjawab dan menceritakan riwayat penyebab dukannya. Tersebutlah seorang Resi bernama Bhagawan Wasista. Beliau mempunyai seekor lembu bernama Nandini. lembu itulah yang kami curi yang menyebabkan Sang Resi marah dan megutuk kami supaya menjelma menjadi manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dewi Gangga berkata “ Sang Maha Bima dikutuk oleh Dewa Brahma menjadi manusia sebagai putra Maha Raja Partipa. Beliau yang mengambil saya menjadi istrinya. Aku berharap kau mau menjelma pada diriku, supaya tidak lama menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu semua upaya saya, segala tingkah laku tidak boleh dihalangi suami saya. Kalau dihalangi maka saat itu saya akan meninggalkan suami dan saya kembali kesorga. Sebab sudah sampai batas hukuman yang saya jalani dan berputra 8 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab Sang Astabasu “  kalau demikian saudara-saudara saya yang kedelapan akan menjelma pada dirimu. Usahakan apabila kami lahir, cepatlah buang kami ke sungai Gangga. Apabila sampai penjelmaan kedelapan yakni penjelmaan dari Sang Prabata jangan dibuang. Karena Sang Prabata yang paling besar dosanya diantara saudara kam. Itulah sebabnya dia lebih lama menjadi manusia . akhirnya Dewi Gangga menyanggupi dan melaksanakan perintah Sang Astabasu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ajaran agama Hindu perbuatan mencuri sangat dilarang. Agar tidak tergoda oleh nafsu jahat, maka berpuasalah dengan apa yang kita miliki. Tetapi bila ingin meningkatkan derajat kehidupan, berusahalah untuk bekerja keras, serta jujur berdasarkan Dharma. Walaupun sedikit berpendapatan asalkan dicari dengan secara baik, maka pikiran kiita akan tenang, aman, damai, bahagia, dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ajaran Asteya atau Astenya hendaknya selalu ditaati untuk mencapai kedamaian dan ketentraman hidup jasmani dan rohani.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3884965318897023382?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3884965318897023382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/panca-yama-bratha_28.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3884965318897023382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3884965318897023382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/panca-yama-bratha_28.html' title='Panca Yama Bratha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4981653365508901627</id><published>2011-09-23T10:51:00.002+07:00</published><updated>2011-09-23T10:52:35.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Awyawahara'/><title type='text'>Awyawahara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Wr0zIZNQeOg/TnwCAFNB_QI/AAAAAAAAArY/AjWpy5EqO2c/s1600/P7130273.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-Wr0zIZNQeOg/TnwCAFNB_QI/AAAAAAAAArY/AjWpy5EqO2c/s320/P7130273.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Awyawahara disebut juga Awyawaharika. Awyawahara diurai dari kata Wyawahara yang artinya ikatan terhadap hidup keduniawian, atau berarti juga peraturan hidup (undang-undang) dan “A” artinya tidak, jadi, Awyawahara artinya tidak terikat oleh ketentuan dan ikatan hidup keduniawian, atau melakukan usaha dengan hati yang tulus ikhlas guna menciptakan ketentraman batin.&lt;span class="fullpost"&gt;Agama Hindu mengajakan bahwa tujuan agama hindu adalah menuntun umatnya  untuk mencapai Moksa dan Jagathita sehingga dapat menciptakan rasa kebahagian lahir batin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4981653365508901627?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4981653365508901627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/awyawahara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4981653365508901627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4981653365508901627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/awyawahara.html' title='Awyawahara'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Wr0zIZNQeOg/TnwCAFNB_QI/AAAAAAAAArY/AjWpy5EqO2c/s72-c/P7130273.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-209775432541158302</id><published>2011-09-19T14:20:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T14:20:56.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Satya'/><title type='text'>Satya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-d13K26MBaxw/TnbHibg6NhI/AAAAAAAAArI/ZJUBrmlv6AA/s1600/Delem2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-d13K26MBaxw/TnbHibg6NhI/AAAAAAAAArI/ZJUBrmlv6AA/s320/Delem2.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Satya berarti sikap menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran. Dalam sloka satya Hindu disebutkan semboyan “Satyam evam jayate na nrtam” artinya hanya kebenaranlah yang menang bukan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 5 macam sikap Satya yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Satya WacanaSatya wacana adalah setia, jujur dan benar dalam berkata-kata. Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan yang disebut “wak purusya”.&lt;span class="fullpost"&gt;b. Satya HredayaSatya hredaya adalah setia terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati, berpendirian teguh, dan tidak terombang-ambing .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Satya LaksanaSatya Laksana adalah sikap setia dan jujur mengakui serta mempertanggungjawabkan kebenaran dari segala perbuatan yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Satya MitraSatya Mitra adalah setia dan jujur kepada teman dalam segala hal, serta berusaha untuk mengarahkan segala tindakan atau perbuatan agar selalu berdasarkan  kebenaran sesuai dengan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Satya SamayaSatya Samaya adalah setia dan jujur terhadap janji yang telah diucapkan serta memenuhi segala sesuatuyang ditimbulkan akibat ucapan janji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat satya itu hendaknya dapat diwujudkan dalam pelaksanaan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Berusaha jangan berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebab hal ini dapat mengakibatkan pikiran gelisah karena merasa bersalah. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-209775432541158302?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/209775432541158302/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/satya_19.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/209775432541158302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/209775432541158302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/satya_19.html' title='Satya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-d13K26MBaxw/TnbHibg6NhI/AAAAAAAAArI/ZJUBrmlv6AA/s72-c/Delem2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8336616212251859453</id><published>2011-09-18T14:58:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T15:21:23.150+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari-Hari dan Bulan Baik'/><title type='text'>Hari-Hari dan Bulan Baik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Rs_SkXZCAOs/TnWjd3HINTI/AAAAAAAAArA/YF-qwlHsNro/s1600/Pawiwahan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-Rs_SkXZCAOs/TnWjd3HINTI/AAAAAAAAArA/YF-qwlHsNro/s320/Pawiwahan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Dalam Agama Hindu kita mengenal hari baik dan bulan baik dalam melaksanakan hari raya suci. Hari baik dan bulan baik biasanya dihitung berdasarkan datangnya, wewaran, wuku, dan sasih (bulan). Dasar inilah yang dipakai pedoman untuk melaksanakan kegiatan agar kegiatan tersebut berhasil dengan selamat, damai, dan bahagia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Misalanya membuat dasar bangunan, berdagang, mulai belajar, dan upacara yadnya. Contoh pewarigaan dapat dilihat pada kalender Bali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikut ini adalah nama-nama Wewaran :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Eka Wara : Luang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Dwi Wara : menga, pepet&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Tri Wara : pasah, beteng, kejeng (dora, wahya, bhyantara).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8336616212251859453?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8336616212251859453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/hari-hari-dan-bulan-baik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8336616212251859453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8336616212251859453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/hari-hari-dan-bulan-baik.html' title='Hari-Hari dan Bulan Baik'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Rs_SkXZCAOs/TnWjd3HINTI/AAAAAAAAArA/YF-qwlHsNro/s72-c/Pawiwahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7395097116608109219</id><published>2011-09-17T11:38:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T15:33:27.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Brahmacari'/><title type='text'>Brahmacari</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3Zn8YAB2eaw/TnQkLF81qXI/AAAAAAAAAq8/qgTLVjQ0j8E/s1600/Pawiwahan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-3Zn8YAB2eaw/TnQkLF81qXI/AAAAAAAAAq8/qgTLVjQ0j8E/s320/Pawiwahan.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Brahmacari di urai dari kata brahma dan cari. Brahma artinya ilmu pengetahuan. Sedangkan Cari (Carya) berasal dari bahasa sansekerta “Car” artinya bergerak (tingkah laku).  Jadi, Brahmacari berarti  tingkah laku manusia dalam masa menuntut ilmu pengetahuan.Agar dapat memusatkan jiwa raga dan pikiran dalam menuntut ilmu pengetahuan  maka seorang brahmacari dilarang menikah, berdagang, dan berpolitik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping itu mereka harus dapat mematuhi  segala nasehat dan perintah dari gurunya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkawinan Brahmacari  dapat dibagi menjadi tiga jenis :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Sukla BrahmacariSukla Brahmacari adalah orang yang tidak pernah kawin selama hidupnya (sejak kecil sampai meninggal dunia). Dalam cerita Mahabratha yang melaksanakan sukla brahmacari (tidak kawin) adalah Prabhu Bhisma, begitu juga dalam cerita Ramayan yang melaksanakan Brahmacari (tidak kawin) adalah Sang Laksamana.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Sewala BrahmacariSewala Brahmacari adalah orang yang kawin hanya sekali  dalam hidupnya. Walaupun suami/istri meninggal dunia. Dalam cerita Ramayana yang kawin hanya sekali adalah Sang Rama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c.	Tresna atau Kresna BrahmacariTresna atau Kresna Brahmacari adalah orang yang kawin lebih dari satu kali dan paling banyak empat kali, dan semuanya istri yang sah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7395097116608109219?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7395097116608109219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/brahmacari_17.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7395097116608109219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7395097116608109219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/09/brahmacari_17.html' title='Brahmacari'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-3Zn8YAB2eaw/TnQkLF81qXI/AAAAAAAAAq8/qgTLVjQ0j8E/s72-c/Pawiwahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3669530355399389656</id><published>2011-06-05T08:17:00.007+07:00</published><updated>2011-06-05T09:56:46.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dharma Gita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengertian Lagu Kerohanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kekawin'/><title type='text'>Pengertian Lagu Kerohanian</title><content type='html'>Budaya umat Hindu dalam melaksanakan suatu yadnya, pada umumnya dibarengi dengan adanya lagu-lagu kerohanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagu kerohanian ialah lagu-lagu atau nyanyian yang isi atau syairnya mengajarkan tuntunan keagamaan seperti Tattwa, Susila, dan upacara. Lagu-lagu kerohanian agama Hindu disebut Dharma Gita. Dharma artinya agama sedangkan Gita artinya nyanyian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Dharma Gita adalah lagu-lagu suci keagamaan/kerohanian bagi umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharma Gita yang dilantunkan pada saat upacara Yadnya disebut Kidung. Kidung untuk mengiringi pelaksanaan upacara panca yadnya dibedakan menjadi 5 jenis, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kidung Dewa Yadnya&lt;br /&gt;Kidung Dewa Yadnya adalah kidung yang isinya tentang pujian kehadapan Hyang Widhi beserta segala manifestasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kidung Rsi Yadnya&lt;br /&gt;Kidung Rsi Yadnya adalah kidung yang isinya tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalani seorang wilen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kidung Pitra Yadnya&lt;br /&gt;Kidung Pitra Yadnya adalah kidung yang isi syairnya menyatakan perjalanan roh menuju alam baka yang diantar oleh saudara empat (Catur sanak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kidung Manusia Yadnya&lt;br /&gt;Kidung Manusia Yadnya adalah kidung isi syairnya tentang seorang yang melaksanakan upacara penuh semangat dan dihormati serta dikagumi oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kidung Bhuta Yadnya&lt;br /&gt;Kidung Butha Yadnya adalah kidung yang isinya tentang upacara persembahan kepada Bhuta Kala yang ada pada arah penjuru bumi agar tidak mengganggu kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3669530355399389656?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3669530355399389656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/06/pengertian-lagu-kerohanian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3669530355399389656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3669530355399389656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/06/pengertian-lagu-kerohanian.html' title='Pengertian Lagu Kerohanian'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-651235903700967131</id><published>2011-06-02T13:44:00.001+07:00</published><updated>2011-06-02T14:00:16.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Suci'/><title type='text'>Pengertian Hari Suci</title><content type='html'>Hari suci adalah hari yang khusus, karena di hari-hari suci tersebut para Dewa Beryoga untuk menyucikan alam semesta beserta isinya. Hari-hari suci diyakini oleh umat Hindu sebagai hari yang sangat baik untuk melakukan Yadnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beryadnya pada hari raya suci nilainya sangat utama jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari suci dikenal dengan istilah Hari Raya. Karena pada hari tersebut diperingati dan dirayakan dengan acara khusus. Hari raya atau hari suci di Bali sering di sebut dalam bahasa balinya "Rahinan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hari suci adalah hari yang disucikan dan dikeramatkan yang datangnya berdasarkan Wariga dan Pedewasan. wariga atau dewasa bersumber dari kitab suci Weda khususnya pada bagian Jyotisa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-651235903700967131?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/651235903700967131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/06/pengertian-hari-suci.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/651235903700967131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/651235903700967131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2011/06/pengertian-hari-suci.html' title='Pengertian Hari Suci'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5620639218318314048</id><published>2010-10-24T09:40:00.010+07:00</published><updated>2011-09-17T11:30:15.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Padmasana'/><title type='text'>Padmasana</title><content type='html'>Padmasana berasal dari kata Padma dan Asana. Padma berarti bunga teratai. Asana berarti tempat duduk. Padmasana adalah tempat duduk dari bunga teratai. Dalam pandangan umat Hindu, padmasana diartikan sebagai simbolis dari alam semesta sebagai istananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dibangun dalam bentuk bangunan yang menjulang tinggi. Penemuan sejarah bidang agama menyebutkan, bahwa para Dewa Hindu dilukiskan sebagai arca yang duduk di atas bunga teratai. Patung-patung dewa yang digambarkan duduk diatas bunga teratai banyak kita jumpai pada masa pemerintahan raja-raja Kediri, Singasari, dan Majapahit serta raja-raja Hindu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga teratai memiliki helai daun berjumblah delapan, dapat dihubungkan dengan Asta Iswarya, yaitu para Dewa yang menguasai delapan penjuru arah dari alam semesta ini. Bunga teratai juga memiliki sifat dapat hidup di tiga lapisan alam, seperti akarnya hidup didalam lumpur daunnya di air dan bunganya di udara. Ini dapat dihubungkan dengan Tri Bhuwana (bhur, bhuwah dan swah). Bunga teratai juga disebut dengan nama Pangkaja artinya lahir dari lumpur. Beberapa kitab Purana, menceritakan bahwa para dewa muncul dari Padmasana. Padmasana itu adalah lambang dari gunung Maha Meru yang juga sebagai simbol alam semesta tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan bentuk bangunan padmasana seperti yang sering kita lihat di Bali (khususnya), adalah sebuah bangunan yang menjulang tinggi berbentuk Bedawang Nala yang dililit oleh dua ekor naga (Naga Besuki dan Naga Ananta Bhoga). Pada bagian tengah belakang terdapat lukisan burung Garuda, di atasnya terdapat burung angsa, dan pada bagian samping kiri dan kanan dari singasananya terdapat lukisan Naga Taksaka. Dari seluruh bentuk bangunan itu kita tidak dapat melihat lukisan padma. Untuk mengetahui itu semua, ada baiknya kita memperhatikan puja yang digunakan oleh pendeta (Siwa-Budha) pada saat menstanakan (ngelinggihang) Ida Sang Hyang Widi Wasa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5620639218318314048?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5620639218318314048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/10/padmasana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5620639218318314048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5620639218318314048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/10/padmasana.html' title='Padmasana'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5449163806145246427</id><published>2010-10-22T09:49:00.004+07:00</published><updated>2011-09-17T11:02:35.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bhuwana alit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bhuwana Agung'/><title type='text'>Persamaan dan Perbedaan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit</title><content type='html'>Sama-sama dari Purusa dan Prakerti. Purusa unsur dasar yang bersifat kejiwaan. Sedangkan Prakerti unsur dasar yang bersifat kebendaan dengan kerja sama Purusa dan Prakerti muncullah Panca Tan Mantra akhirnya timbullah Panca Mahabhuta yang membuat terciptanya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Persamaan unsur Panca Mahabhuta yang membuat terciptanya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Segala yang padat, keras dan kental dalam tubuh makhluk terjadi dari unsur pertiwi (zat padat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Segala ya cair baik didalam maupun ditubuh manusia terjadi unsur Apah (zat air).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Segala yang bercahaya dan panas baik dalam alam semesta maupun tubuh manusia dari unsur Teja (cahaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Segala hawa, gas dan angin pada alam nafas pada makhluk terjadi dari Bayu (unsur gas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Segala kosong (ruang angkasa) pada alam, rongga-rangga pada tubuh mahkluk terjadi unsur Angkasa (ether).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5449163806145246427?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5449163806145246427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/10/persamaan-dan-perbedaan-bhuwana-agung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5449163806145246427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5449163806145246427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/10/persamaan-dan-perbedaan-bhuwana-agung.html' title='Persamaan dan Perbedaan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8224334199753859518</id><published>2010-09-10T10:53:00.005+07:00</published><updated>2011-09-17T11:03:17.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dharma Gita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Arti Lagu Kerohanian dan Jenis-jenisnya</title><content type='html'>- Arti Lagu Kerohanian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu kerokhanian memiliki peranan penting dalam semua peribadatan Hindu. Lagu kerokhanian Hindu dinamakan " Dharma Gita ". Jadi Dharma Gita sesungguhnya adalah lagu kerokhanian atau lagu keagamaan yang berisi pesan-pesan tentang ajaran kebenaran, keadilan, dinyanyikan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya syair-syair Dharma Gita disusun dengan deretan kata-katanya dipercaya memiliki daya kekuatan yang dapat menuntun jiwa dan perasaan seseorang menuju suasana yang hening dan hidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;br /&gt;fungsinya dharma gita menjadi salah satu unsur yang mengiringi doa-doa / puja mantra yang diucapkan oleh pemimpin upacara. Ada lima suara dipadukan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan upacara-upacara tertentu agama Hindu yakni upacara mantra pemimpin upacara, alunan dharma gita, alunan suara gamelan, suara kentongan, dan gemerincing suara genta ( Bajra ), membuat suasana yang mampu menciptakan getaran kerokhanian menuju terciptanya suasana bhakti kepada Hyang Widhi sebagai obyek yang dituju atau diharapkan hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharma Gita adalah kegiatan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan jalan menyanyikan atau melantunkan kidung-kidung suci keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kegiatan ritual, dharma gita dinyanyikan dengan tenang, dengan ritme dan aturan-aturan tertentu yang diucapkan secara berulang-berulang pada jenis nyanyian yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping amanat yang tertuang dalam syair-syair dharma gita menjadi media pemahaman ajaran agama, dharma gita juga mengajarkan tentang nilai-nilai estetika atau keindahan yang dituangkan dalam bentuk irama yang indah didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan dharma gita di dalamnya terkandung ajarara agama, susila, tuntunan hidup, serta menggambarkan keagungan Hyang Widhi dalam berbagai manifestasiNya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8224334199753859518?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8224334199753859518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/09/arti-lagu-kerohanian-dan-jenis-jenisnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8224334199753859518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8224334199753859518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/09/arti-lagu-kerohanian-dan-jenis-jenisnya.html' title='Arti Lagu Kerohanian dan Jenis-jenisnya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5455163861431230902</id><published>2010-08-31T10:09:00.008+07:00</published><updated>2011-09-17T11:03:55.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unsur - Unsur Bhuwana Alit'/><title type='text'>Unsur-Unsur Bhuwana Alit</title><content type='html'>Bhuwana Alit berarti alam kecil atau dunia kecil, yaitu suatu istilah untuk menyebutkan bersemayamnya Sang Hyang Atma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk Bhuwana Alit adalah tubuh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia adalah makhluk yang tertinggi karena manusia adalah makhluk yang berfikir, berbudaya dan memiliki Tri Pramana ( Bayu, sabda dan idep). Hewan memiliki dwi permana (bayu dan sabda) sedangkan tumbuhan memiliki eka pramana (bayu).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhuana Alit juga disebut Microcosmos. Tubuh manusia selalu mengalami perubahan (yang tidak kekal), tetapi atma yang menempati tubuh itu kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhuwana Alit atau tubuh manusia, tumbuhan dan binatang ini terbentuknya sama seperti Bhuwang Agung yang pertemuan Purusa dan Prakerti.&lt;br /&gt;- Purusa adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan.&lt;br /&gt;- Prakerti adalah dasar yang bersifat kebendaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur Purusa itu menjadi jiwatman, sedangkan unsur Prakerti menjadi badan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Antah Karana adalah merupakan alat batin manusia yang sangat menentukan watak/karakter seseorang.&lt;br /&gt;Tri Antah Karana yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buddhi fungsinya untuk menentukan keputusan (kebijaksanaan yang tertinggi).&lt;br /&gt;2. Manas fungsinya untuk berfikir.&lt;br /&gt;3. Ahamkara fungsinya untuk merasakan dan bertindak (sifat ego manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panca Tan Mantra menjadi indra penilai (Panca buddhindriya) yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sabda menjadi Srotendriya (indra yang terletak di telinga)&lt;br /&gt;- Sparsa menjadi Twikindrya (indra yang terletak dikulit)&lt;br /&gt;- Rupa menjadi Cakswindrya (indra yang terletak dimata)&lt;br /&gt;- Rasa menjadi Jihwendriya (indra yang terletak pada lidah)&lt;br /&gt;- Gadha menjadi Ghranendriya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panca Tan Mantra berevolusi kemudian menjadi Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta menjadi unsur pembentuk tubuh manusia/jasmani manusia yaitu :&lt;br /&gt;- Akasa menjadi rongga-rongga dalam tubuh serta rongga mulut, rongga hidung, rongga dada dan rongga perut.&lt;br /&gt;- Bayu menjadi udara dalam badan yang juga disebut prana seperti pernafasan dan sebagainya.&lt;br /&gt;- Teja menjadi panas dalam tubuh seperti suhu tubuh dan sebagainya&lt;br /&gt;- Apah menjadi segala yang cair dalam tubuh seperti darah, keringat, ludah, air kencing dan sebagainya&lt;br /&gt;- Prthiwi menjadi segala yang bersifat dalam tubuh seperti tulang, otot, daging dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia terdiri dari tiga lapisan badan disebut Tri Sarira :&lt;br /&gt;- Stula Sarira : lapisan badan kasar&lt;br /&gt;- Suksma Sarira : lapisan badan halus&lt;br /&gt;- Antakarana Sarira : lapisan badan paling halus / penyebab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5455163861431230902?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5455163861431230902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/08/unsur-unsur-bhuwana-alit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5455163861431230902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5455163861431230902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/08/unsur-unsur-bhuwana-alit.html' title='Unsur-Unsur Bhuwana Alit'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1773564810408741616</id><published>2010-08-12T10:54:00.008+07:00</published><updated>2011-09-17T11:04:31.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rsi Wasista'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sapta Rsi'/><title type='text'>Sapta Rsi</title><content type='html'>Sapta Maha Resi penerima wahyu dalam kitab suci Weda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rsi Gritsamada&lt;br /&gt;Rsi Gritsamada lahir dari keluarga Angira, beliau Rsi yang rajin dan tekun, Rsi Gritsamada berjasa bagi kita, beliau mengumpulkan mantram-mantram Weda. Beliau banyak menulis mantra Reg Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rsi Wiswamitra&lt;br /&gt;Wiswamitra adalah Rsi yang banyak disebut-sebut, wahyu yang beliau terima dihimpun dalam Weda. Pada mulanya Wiswamitra dikenal sebagai keturunan ksatria atau penguasa, karena ketekunannya dalam belajar beliau akhirnya dikenal sebagai Maha Rsi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rsi Wamadewa&lt;br /&gt;Wamadewa sangat banyak menulis ayat-ayat Weda. Dalam cerita dikatakan Rsi Ramadewa telah mencapai penerangan sempurna semasih dalam kandungan ibunya, keajaiban sering terjadi dalam kehidupannya. Wamadewa sudah biasa berbicara dengan Dewa Indra dan Dewa Aditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rsi Atri&lt;br /&gt;Atri lahir dilingkungan keluarga Brahmana, keluarga Atri banyak menerima wahyu. Sebagai warga Brahmana, Rsi Atri sejak kecil hidup dalam lingkungan disiplin Brahmana, ada tiga puluh enam keluarga Atri yang mampu menerima wahyu. Rsi Atri dan keluarganya sungguh besar jasanya bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rsi Bharadwaja&lt;br /&gt;Pada masa Rsi Bharadwaja, kegiatan menghimpun ayat Weda tetap dilanjutkan. Rsi Bharadwaja selalu berpikir suci, beliau sangat rajin mengumpulkan ayat-ayat Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Rsi Wasista&lt;br /&gt;Nama Wasista banyak disebutkan dalam Maha Bharata, Wasista adalah seorang Rsi. Beliau tinggal di hutan Kamyaka, beliau belajar di tempat yang sepi jauh dari keramaian. Beliau banyak menambah ayat-ayat Reg Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Rsi Kanwa&lt;br /&gt;Maha Rsi Kanwa adalah orang suci, beliau menerima banyak wahyu. Karena kesuciannya beliau sangat dicintai. Hyang Widhi menganugrahkan kesabaran kepada beliau, Rsi Kanwa sangat bijaksana, pribadinya dikagumi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1773564810408741616?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1773564810408741616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/08/sapta-rsi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1773564810408741616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1773564810408741616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/08/sapta-rsi.html' title='Sapta Rsi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3274946281142012913</id><published>2010-07-25T11:14:00.010+07:00</published><updated>2011-09-17T11:05:50.101+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Weda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Weda</title><content type='html'>- Catur Weda dan isi Pokoknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Weda berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata "Vid" (Wid), yang berarti tahu (mengetahui) dan kata Veda (Weda) berarti pengetahuan (pengetahuan suci). Kalau kata weda ditulis dengan aksara (a panjang), maka kata Weda berubah artinya menjadi suatu kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu atau dilagukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weda itu sebagian besar adalah nyanyian-nyanyian untuk memuja Tuhan. Nyanyian-nyanyian itu adalah nyanyian suci yang berbentuk puisi. Peraturan-peraturan puisi dalam Weda disebut Chanda. Orang yang menghayati dan mengamalkan ajaran Weda akan mendapatkan kerahayuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang dipakai dalam Weda adalah bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Weda terdiri dari empat hinpunan/Samhita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Reg Weda/Rg Weda Samhita, yaitu kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum tentang pemujaan. Adapun yang menulis kitab Rg. Weda samhita ini adalah Bhagawan Byasa yang dibantu oleh Bhagawan Pulaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt; Sama Weda/Sama Weda Samhita, yaitu kumpulan mantra yang memuat tentang lagu-lagu pemujaan. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Byasa yang dibantu oleh Bhagawan Jaimaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yayur Weda/Yayur Weda Samhita, yaitu kumpulan mantra yang memuat tentang pokok-pokok ajaran yadnya. Adapun yang menulis kitab ini adalah Bhagawan Waicapayana atas perintah Bhagawan Byasa selaku gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Atharwa Weda/Atharwa Weda Samhita, yaitu kumpulan mantra yang memuat tentang mantra-mantra yang bersifat gaib atau magic.&lt;br /&gt; Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Sumantu atas perintah Bhagawan Byasa selaku gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang menulis kitab Catur Weda itu adalah Bhagawan Byasa dengan dibantu oleh empat orang muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weda adalah sumber ajaran agama Hindu. Dari Weda inilah ajaran agama Hindu mengalir, karena itulah semua ajaran-ajaran Hindu berjiwa Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weda adalah santi, yaitu kitab Suci Agama Hindu yang memuat ajaran-ajaran suci yang berasal dari wahyu (sabda suci). Tuhan yang sama sekali tidak boleh diragukan lagi kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3274946281142012913?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3274946281142012913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/07/weda.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3274946281142012913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3274946281142012913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/07/weda.html' title='Weda'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3938976855464868363</id><published>2010-07-14T11:56:00.013+07:00</published><updated>2011-09-17T11:06:46.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bhuwana Agung'/><title type='text'>Unsur - Unsur Bhuana Agung</title><content type='html'>Bhuwang Agung artinya alam besar atau jagat raya yang kita muliakan karena keluhuran dan kemampuannya untuk memberikan kehidupan kepada semua makhluk tanpa henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhuana agung juga disebut Macrocosmos. Terjadinya Bhuana Agung atau alam semesta ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi pada waktu Sresti (penciptaan) dan akan kembali pada waktu Pralaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu masa Sresti (penciptaan) disebut "Brahma Dewa" (siang hari Brahma) dan pada masa Pralaya (kiamat) disebut "Brahma Nakta" (malam hari Brahman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran dari Utpeti, Sthiti, dan Pralina dari alam semesta disebut "Akalpa" yaitu sehari dan semalam Brahman disebut "Brahman Kalpa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaannya ketika dunia ini belum ada yang ada hanyalah Sang Hyang Widhi sebagai Nirguna Brahman yang berwujud :&lt;br /&gt;- Sepi&lt;br /&gt;- Sunyi&lt;br /&gt;- Kosong&lt;br /&gt;- Hampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lebih lanjut Sang Hyang Widhi menjadikan dirinya Saguna Brahman yaitu mulai ada aktivitas keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap ini Sang Hyang Widhi menciptakan unsur Purusa dan Prakerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Purusa adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Prakerti adalah unsur dasar yang bersifat kebendaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua unsur tersebut : Purusa dan Prakerti bersifat tak dapat diamati (abstrak) dan tanpa permulaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakerti yang merupakan asas kebendaan memiliki Tri Guna yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Satwam sifat dasarnya terang, bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rajas sifat dasarnya aktif, dinamis dan rajin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tamas sifat dasarnya berat, malas dan lamban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga Tri Guna pada awalnya Sattwam yang lebih kuat menyebabkan lahirnya Mahat yang artinya Maha Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mahat lahirnya Buddhi, dari Buddhi lahirlah Ahamkara, dari Ahamkara lahirlah manas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buddhi adalah benih kejiwaan tertinggi, fungsinya adalah untuk menentukan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ahamkara adalah asas individu, ego, berfungsi untuk merasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Manas adalah alam pikiran yang gunanya untuk berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Manas selanjutnya lahirlah Panca Tan Mantra yaitu lima benih unsur yang sangat halus, terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sabda Tan Mantra adalah benih suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rupa Tan Mantra adalah benih dari sari warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Rasa Tan Mantra adalah benih sari rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Gandha Tan Mantra adalah benih sari bau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sparsa Tan Mantra adalah benih sari raba, sentuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui proses evolusi yang amat panjang lahirlah lima unsur yang lebih kasar. Kelima unsur ini disebut Panca Maha Butha yang terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Akasa atau Ether timbul dari sabda dan sparsa tan mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bayu atau hawa timbul dari sabda dan sparsa tan mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Teja atau panas timbul dari sabda dan rupa tan mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Apah atau cair timbul dari sabda, sparsa, rupa dan rasa tan mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pretiwi atau padat timbul dari kelima unsur tan mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhuwana Agung terbetuk dari lima macam unsur yang disebut Panca Maha Bhuta terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akasa yaitu Ether atau ruang angkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bayu yaitu udara yang ada disekitar manusia. Makhluk-makhluk lain sehingga bisa hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teja yaitu panas, sinar yang memberikan penerangan pada alam semesta ini seperti, Matahari dan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apah yaitu Zat cair yang terdiri dari : Air, minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pertiwi yaitu Zat padat yang terdiri dari : Tanah, Karang, Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dari unsur Panca Maha Bhuta berkembanglah Bhuana Agung dengan segala isinya : Matahari, bumi, planet-planet yang ada di jagat ini&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3938976855464868363?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3938976855464868363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/07/unsur-unsur-bhuana-agung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3938976855464868363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3938976855464868363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/07/unsur-unsur-bhuana-agung.html' title='Unsur - Unsur Bhuana Agung'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6203516877601515555</id><published>2010-06-12T09:23:00.007+07:00</published><updated>2011-09-17T11:10:42.534+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Suci berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Hari Suci berdasarkan Pawukon (Bag. 3)</title><content type='html'>21. Hari Saniscara, Kliwon Wuku Uye, disebut Hari Tumpek Kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari suci ini yang dipuja Ida Bhatara Siwa dalam manifestasiNya sebagai Sang Rare Angon. Beliau adalah penguasa semua binatang baik kecil maupun yang besar. Pada hari ini dilaksanakan pemujaan pada tempat suci untuk memohon keselamatan semua binatang termasuk yang dipelihara. Secara religi para binatangpun dibuat upacara otonan, agar para binatang itu menjadi selamat adanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Hari Sukra Wage Wuku Wayang, disebut juga Wananing Cemeng (Alapaksa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedasarkan hitungan Pawukon, hari ini disebut hari pertemuan wuku Wayang dengan wuku Sinta. Menurut kepercayaan umat hari ini dipandang leteh (kotor). Pada hari ini pantang dilaksanakan ucara pembersihan / penyucian. Umat di Bali khususnya pada hari ini biasanya memasang paselag (tanda silang) dihulu hati dengan sarana kapur sirih atau memasang seselah dari daun pandan dibawah tempat tidur dan keesokan harinya dibuang dipekarangan rumah yang dilengkapi dengan canang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Hari Sabtu Kliwon Wuku Wayang, disebut Tumpek Wayang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari ini merupakan pujawali Bhatara Iswara. Umat melaksanakan persembahyangan dan pemujaan dengan sarana kesenian sebagai pralingganya seperti wayang, gong, gender, gambang dan yang lainnya. Tujuanya adalah mengadakan pemujaan kehadapan Ida Bhatara Iswara agar beliau memberikan manfaat yang mulai dari saluran aktifitas umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung, disebut Hari Raya Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan pujawali Sang Hyang Aji Saraswati. Umat Hindu meyakini bahwa hari ini merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan/Veda. Umat Hindu melakukan persembahan dan pemujaang dengan menggunakan Pustaka (Lontar, Buku, Prasasti) dan yang lainnya sebagai pralingga Sang Hyang Aji Saraswati. Tujuannya adalah memohon kepadanya agar umat di Anugrahi kecerdasan serta selalu dapat berpikir positif dalam hidup dan kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pemuajaan umat diharapkan dapat melaksanakan Bratha, seperti tidak membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Hari Redite Pon Wuku Sinta, disebut Hari Banyu Pinaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini umat melaksanakan pembersihan diri, seperti berkemas pada sumber air pada saat matahari baru terbit dengan menggunakan air kumkuman. Setelah itu dilaksanakan pemujaan dan persembahyangan ditempat suci, dilanjutkan memohon tirtha dan menikmati haturan yang telah dipersembahkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6203516877601515555?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6203516877601515555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6203516877601515555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6203516877601515555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-3.html' title='Hari Suci berdasarkan Pawukon (Bag. 3)'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-590664811157997995</id><published>2010-06-06T10:02:00.011+07:00</published><updated>2010-12-17T10:52:40.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Suci berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Hari Suci berdasarkan Pawukon (Bag. 2)</title><content type='html'>11. Hari Soma Pon Wuku Dunggulan, disebut juga hari Penyajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini biasanya, dalam praktik kehidupan sehari-hari para umat membuat jajan untuk persiapan yang akan dipersiapkan pada hari Galungan. Jajan yang dibuat beraneka ragam macam warna, jenis dan nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat hendaknya melaksanakan persembahyangan, memohon kehadapannya agar dapat lebih sungguh-sungguh meningkatkan pengendalian dan kesucian diri sehingga berhasil memenangkan kebenaran pada setiap langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Hari Anggara Wage Wuku Dungulan, disebut Hari Penampahan Galungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas yang lebih menonjol pada hari ini adalah acara memotong hewan (Nampah), dilanjutkan dengan mengolah daging yang diperoleh dari tempat memotong hewan. Olahan yang dibuat untuk perayaan Galungan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Hari Budha Kliwon Wuku Dungulan, disebut Hari Raya Galungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan hari pujawali dan Payogan Sang Hyang Dharma. Umat Hindu melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci (Pura Kahyangan Jagat/Desa, Kawitan, Padharman, Merajan/Sanggah) dan yang lainnya menurut keyakinan masing-masing. Semua tempat diupacarakan termasuk peralatan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Hari Redite Wage Wuku Kuningan, disebut Hari Ulihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini diyakini oleh umat Hindu, bahwa para Dewa dan Roh suci Leluhur kembali ke PayoganNya masing-masing. Umat Hindu biasanya melaksanakan persembahyangan kehadapannya karena Beliau telah menganugerahkan umur panjang kepada kita sekalian. Pemujaan dan persembahyangan pada hari ini bertujuan untuk menyampaikan rasa hormat dan bhakti serta terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Hari Soma Kliwon Wuku Kuningan, Hari Pemacekan Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini umat melaksanakan  persembahyangan kepada Bhuta Galungan agar Beliau kembali dan tidak menggoda umat manusia. Tujuannya adalah menyomyakan Sang Bhuta Galungan beserta kekuatan-kekuatanya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada wuktu Sandhikala (sore) hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Hari Budha Pahing Wuku Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan pujawali Ida Bhatara Wisnu. Umat hendaknya melaksanakan persembahyangan ditempat-tempat suci, guna memohon anugrahNya berupa kesejahteraan Alam Semesta beserta isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Hari Sukra Wage Wuku Kuningan disebut Penampahan Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini umat Hindu melaksanakan berbagai aktivitas dalam rangka mempersiapkan diri untuk menyambut hari Kuningan. Persiapan yang dimaksud adalah persiapan rohani, dengan melaksanakan pengendalian diri agar pikiran terlepas dari pengaruh-pengaruh yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Hari Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, disebut Hari Raya Kuningan, atau "Tumpek Kuningan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Hindu meyakini bahwa pada hari ini adalah kembali turunnya para Dewa diiringi oleh para Leluhur, untuk menyaksikan persembahyangan umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.&lt;br /&gt; Hari Budha Kliwon Wuku Pahang, disebut Hari Budha Kliwon Pengatwaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini rangkaian terakhir dari pada perayaan Galungan dalam kurun waktu enam bulan. Pada hari ini sisa upacara selama menyambut Galungan dan Kuningan, seperti : Lamak, gantung-gantungan, canang dan lainnya dibersihkan dan dibakar pada tempatnya masing-masing, selanjutnya abunya ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Hari Budha Wage Wuku Kelawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan pujawali Bhatara Rambut Sedana. Umat mengadakan persembahan kehadapan Beliau melalui pralingganya seperti emas, perak, permata dan kekayaan yang lainnya. Juga mengadakan persembahyangan ditujukan kehadapan Bhatara Rambut Sedana, untuk memohon AnugrahNya berbagai macam bentuk kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="a2a_kit a2a_default_style"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=www.suryadistira.blogspot.com&amp;amp;linkname=Kula%20Gotra%20Pasek%20Trunyan%2C%20Desa%20Tamblang"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="a2a_divider"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_facebook"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_twitter"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_email"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;var a2a_config = a2a_config || {};&lt;br /&gt;a2a_config.linkname = "Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang";&lt;br /&gt;a2a_config.linkurl = "www.suryadistira.blogspot.com";&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny END --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-590664811157997995?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/590664811157997995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/590664811157997995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/590664811157997995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-2.html' title='Hari Suci berdasarkan Pawukon (Bag. 2)'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7155120359264517949</id><published>2010-06-01T08:04:00.013+07:00</published><updated>2010-12-17T10:53:21.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Suci berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Hari Suci Berdasarkan Pawukon (Bag. 1)</title><content type='html'>Pemujaan dan persembahan pada hari raya berdasarkan perhitungan Pawukon, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hari Soma Pon, Wuku Sinta disebut Hari Soma Ribek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan Payogan Bhatara Sri. Pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara Sri sebagai sakti dari Bhatara Wisnu. Tujuanya adalah memohon panugrahan berupa kemakmuran. Pada hari ini umat Hindu sebaiknya pendalaman tentang ajaran-ajaran kerohanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hari Anggara Wage, Wuku Sinta disebut Hari Sabuh Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari suci ini adalah merupakan hari suci pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara Mahadewa dengan menggunakan sedana berupa emas, manik-manik ataupun kekayaan. Maknanya adalah agar setiap umat senantiasa menampilkan prilaku dan kepribadian baik setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Hari Budha Kliwon Wuku Sinta disebut Pagerwesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan payogan Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru. Beliau disertai oleh Dewa yang lainya, menciptakan dan mengembangkan kelestarian kehidupan didunia ini. Para umat hendaknya melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Pramesti Guru, memohon pelestarian kehidupan yang abadi. Pemujaan dituntun oleh Sulinggih atau Pendeta, setelah mengadakan pemujaan umat hendaknya melaksanakan yoga samadhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hari Saniscara Kliwon Wuku Landep, disebut Tumpek Landep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah merupakan hari pujawali Bhatara Siwa, dan payogan Ida Sang Hyang Pasupati, umat Hindu hendaknya melakukan pemujaan kehadapan Beliau agar berkenan menganugrahkan ketajaman pikiran serta ketangguhan dalam menghadapi perjuangan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hari Redite Umanis Wuku Ukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan Pujawali Bhatara Guru. Umat sedharma hendaknya melakukan persembahyangan memuja Ida Bhatara Guru, memohon bimbingan agar dianugrahi pencerahan rohani sehingga kehidupan ini tentram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hari Anggara Kliwon Wuku Kulantri, disebut Anggara Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha&lt;br /&gt;ri ini merupakan Pujawali Bhatara Mahadewa. Umat sedharma hendaknya melaksanakan persembahyangan, memohon kehadapan Bhatara Maha Dewa agar di anugrahi kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan pujawali Ida Sang Hyang Sangkara. Beliau yang menciptakan dan melestarikan semua tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan yang abadi dunia ini. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan agar semua tumbuh-tumbuhan dapat &lt;br /&gt;hidup dengan subur dan memberi buah serta buah-buahan yang bermutu terhadap kehidupan didunia ini. Umat diharapkan melakukan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Sangkara agar pikiran dapat tumbuh dan berkembang dengan suci, baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hari Wraspati Wuku Sungsang disebut Sugihan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini diyakini oleh umat Hindu sebagai hari turunnya para Dewa dah Roh-Roh pembersihan dan penyucian Bhuana Agung atau Alam Semesta, dilanjutkan dengan mengadakan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Widhi, para Dewa dan Roh Suci memohon keselamatan Alam Semesta. Umat juga diharapkan melaksanakan yoga Samadhi memohon keselamatan menyongsong kemenangan Dharma melawan Adharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hari Sukra Kliwon Wuku Sungsang disebut Juga Sugihan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah merupakan pembersihan dan penyucian Bhuana Alit ( diri sendiri ), umat Hindu hendaknya melaksanakan persembahyangan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasiNya dan roh suci leluhur untuk memohon kehadapannya kesucian lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hari Redite Pahing Wuku Dungulan, juga disebut sebagai Panyekeban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini diyakini oleh umat Hindu sebagai hari turunya Sang Hyang Kala Tiga Wisesa Yang akan menjadi Bhuta Galungan. Sang Bhuta Galungan adalah kekuatan Alam yang hendak menggoda serta memberikan cobaan umat manusia yang akan merayakan Hari Raya Galungan " Kemengan Dharma ". Oleh karena itu umat hendaknya melakukan persembahyangan, memuja kebesaran Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasiNya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="a2a_kit a2a_default_style"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=www.suryadistira.blogspot.com&amp;amp;linkname=Kula%20Gotra%20Pasek%20Trunyan%2C%20Desa%20Tamblang"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="a2a_divider"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_facebook"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_twitter"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_email"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;var a2a_config = a2a_config || {};&lt;br /&gt;a2a_config.linkname = "Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang";&lt;br /&gt;a2a_config.linkurl = "www.suryadistira.blogspot.com";&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny END --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7155120359264517949?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7155120359264517949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7155120359264517949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7155120359264517949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/06/hari-suci-berdasarkan-pawukon-bag-1.html' title='Hari Suci Berdasarkan Pawukon (Bag. 1)'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4815857142387215580</id><published>2010-05-03T09:15:00.002+07:00</published><updated>2010-12-17T10:53:44.447+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persebahan dan Pemujaan Kehadapan Para Dewa Berdasarkan Perhitungan Sasih'/><title type='text'>Persembahan dan Pemujaan Kehadapan Para Dewa Berdasarkan Perhitungan Sasih :</title><content type='html'>1. Hari Purnama dan Tilem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasih menurut perhitungan Sastra Agama Hindu "Wariga" ada 12 banyaknya, antara lain: Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kalima, Kaenem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Jyestha, dan Sadha. Setiap sasih terjadi satu kali Purnama dan satu kali Tilem. Pada umumnya sasih memiliki jumlah hari sebanyak tiga puluh hari. Sehari setelah purnama disebut panglong, dan sehari setelah tilem disebut Penanggal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Hari Siwaratri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Siwaratri dirayakan setiap setahun sekali, yaitu pada hari Purwaning Tilem Sasih Kapitu. Hari Siwaratri merupakan hari beryoganya Bhatara Siwa. Umat Hindu hendaknya mengadakan persembahan dan pemujaan atau persembahyangan kehadapan Bhatara Siwa untuk memohon keselamatan, kesucian lahir bathin serta terbebasnya pikiran kita dari kegelapan. Pemujaan hendaknya dilaksanakan ditempat suci seperti Pura dan Sanggah atau Merajan, selain mengadakan persembahyangan, pada hari ini sangat baik bagi umat melaksanakan Tapa, Bratha, Yoga, dan Samadhi, guna memohon pengampunan atas dosa yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hari Raya Nyepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Caka) dikaksanakan setiap Tahun sekali, yaitu pada pananggal apisan (pertama) sasih ke Dasa. Sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan upacara pengerupukan dan Tawur Agung pada setiap Catur Weda (perempatan) Desa / wilayah. Sebelum upacara Tawur dilaksanakan upacara Mekiis ke Segara (Laut) atau sumber mata air, dengan tujuan untuk menyucikan pralingga Ida Bhatara yang disungsung oleh umat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="a2a_kit a2a_default_style"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=www.suryadistira.blogspot.com&amp;amp;linkname=Kula%20Gotra%20Pasek%20Trunyan%2C%20Desa%20Tamblang"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="a2a_divider"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_facebook"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_twitter"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_button_email"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;var a2a_config = a2a_config || {};&lt;br /&gt;a2a_config.linkname = "Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang";&lt;br /&gt;a2a_config.linkurl = "www.suryadistira.blogspot.com";&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddToAny END --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4815857142387215580?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4815857142387215580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/05/persembahan-dan-pemujaan-kehadapan-para.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4815857142387215580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4815857142387215580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/05/persembahan-dan-pemujaan-kehadapan-para.html' title='Persembahan dan Pemujaan Kehadapan Para Dewa Berdasarkan Perhitungan Sasih :'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2411262656227809049</id><published>2010-02-15T18:06:00.003+07:00</published><updated>2010-02-21T09:44:36.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wiwaha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syarat-syarat Wiwaha'/><title type='text'>Syarat-syarat Wiwaha</title><content type='html'>Upacara Wiwaha (Perkawinan) adalah suatu Samskara dan merupakan lembaga yang tidak terpisah dari hukum Agama (Dharma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ajaran agama Hindu, sah atau&lt;br /&gt; tidaknya suatu perkawinan terkait dengan sesuai atau tidak dengan persyaratan yang ada dalam agama. Suatu perkawinan dianggap sah menurut Hindu adalah, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perkawinan dikatakan sah apabila dilakukan menurut ketentuan Hukum Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengesahkan perkawinan menurut Hukum Hindu harus dilakukan oleh Pendeta/Rohaniawan atau pejabat agama yang memenuhi syarat untuk melakukan perbuatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Suatu perkawinan dikatakan sah apabila kedua calon mempelai telah menganut Agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berdasarkan tradisi yang berlaku di Bali, perkawinan&lt;br /&gt; dikatakan sah setelah melaksanakan upacara Byakala/Biakaonan sebagai rangkaian Upcara Wiwaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Calon mempelai tidak terikat oleh suatu ikatan perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak ada kelainan seperti banci, kuming (tidak pernah haid), tidak sakit jiwa atau sehat jasmani dan rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Calon mempelai cukup umur, pria berumur 21 tahun dan wanita minimal 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Calon mempelai tidak mempunyai darah dekat atau sepinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2411262656227809049?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2411262656227809049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/syarat-syarat-wiwaha.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2411262656227809049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2411262656227809049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/syarat-syarat-wiwaha.html' title='Syarat-syarat Wiwaha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5667757855307762885</id><published>2010-02-10T08:41:00.006+07:00</published><updated>2010-02-10T09:52:06.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wiwaha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tujuan Wiwaha'/><title type='text'>Tujuan Wiwaha</title><content type='html'>Bagi masyarakat Hindu soal perkawinan mempunyai arti dan kedudukan yang khusus dalam dunia kehidupan mereka. Istilah perkawinan sebagaimana terdapat didalam sastra dan kitab hukum Hindu (Smrti), dikenal dengan nama wiwaha. Peraturan-peraturan yang mengatur tata laksana perkawinan pembinaan hukum agama Hindu di bidang perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Kitab Manusmrti, perkawinan bersifat religius dan obligator karena dikaitkan dengan kewajiban seseorang untuk mempunyai keturunan dan untuk menebus dosa-dosa orang tua dengan jalan melahirkan seorang "putra". Kata putra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "ia yang menyebrangkan/menyelamatkan arwah orang tuanya dari neraka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiwaha dalam agama Hindu dipandang sebagai suatu yang amat mulia. Dalam Manawa Dharmasastra dijelaskan bahwa Wiwaha itu bersifat sakral yang hukumnya bersifat wajib, dalam artian harus dilakukan oleh seseorang yang dialami normal sebagai suatu kewajiban dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami oleh seseorang demikian pula oleh para leluhur akan dapat dikurangi bila memiliki keturunan. Penebusan dosa seseorang akan dapat dilakukan oleh keturunannya seperti dijelaskan dalam ceritera/Itihasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tujuan utama dari wiwaha adalah untuk memperoleh keturunan/sentana terutama yang Suputra. Yaitu anak hormat kepada orang tua. Cinta kasih terhadap sesama, dan berbakti kepada Tuhan. Suputra sebenarnya berarti anak yang mulia yang mampu menyebrangkan orang tuanya dari neraka ke surga. Seorang suputra dengan sikapnya yang mulia mampu mengangkat derajat dan martabat orang tuanya. Mengenai keutamaan suputra dijelaskan dalam kitab Nitisastra berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mampu membuat seratus sumur masih kalah keutamaannya dibandingkan dengan orang yang mampu membuat satu waduk, orang yang mampu membuat seratus waduk kalah keutamaanya dibandingkan oleh orang yang mampu membuat satu yadnya secara tulus ikhlas, dan orang yang mampu membuat seratus yadnya masih kalah keutamaanya dibandingkan dengan orang yang mampu melahirkan seorang anak yang saputra. Demikian keutamaan seorang anak yang saputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh dijelaskan oleh Manawa Dharmasastra bahwa wiwaha itu disamakan dengan Samskara yang menempatkan kedudukan perkawinan sebagai lembaga yang memiliki keterkaitan yang erat dengan Agama Hindu. Oleh karena itu semua persyaratan yang ditentukan hendaknya dipatuhi oleh umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara Manusia Yadnya, wiwaha Samskara (Upacara Perkawinan) dipandang merupakan puncak dari upacara Manusa Yadnya, yang harus dilakukan oleh seseorang dalam hidupnya. Wiwaha bertujuan untuk membayar hutang kepada orang tua atau Leluhur, maka itu disamakan dengan Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiwaha Samskara diabadikan berdasarkan Weda, karena ia merupakan salah satu sarira samskara atau penyucian diri melalui perkawinan. Sehubungan dengan itu Manawa Dharmasastra menjelaskan bahwa untuk menjadikan bapak dan ibu maka diciptakanlah wanita dan pria oleh Tuhan, dan karena itu Weda akan diabadikan oleh Dharma yang harus dilaksanakan oleh pria dan wanita sebagai suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berumah tangga ada beberapa kewajiban yang perlu dilaksanakan yaitu :&lt;br /&gt;1. Melanjutkan keturunan&lt;br /&gt;2. Membina rumah tangga&lt;br /&gt;3. Bermasyarakat&lt;br /&gt;4. Melaksanakan Panca Yadnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5667757855307762885?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5667757855307762885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/tujuan-wiwaha.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5667757855307762885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5667757855307762885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/tujuan-wiwaha.html' title='Tujuan Wiwaha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4675400499067656037</id><published>2010-02-08T09:05:00.005+07:00</published><updated>2010-02-08T09:44:34.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wiwaha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengerian Wiwaha'/><title type='text'>Wiwaha</title><content type='html'>Pengertian Wiwaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Hindu ada empat jenjang/tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama. Tahap pertama, yaitu tahap belajar/menuntut ilmu yang disebut Brahmacari. Tahap yang kedua adalah Grhasta, yaitu berumah tangga. Tahap ketiga disebut Wanaprastha, yaitu mulai melepaskan diri dari ikatan Duniawi dan tahap keempat adalah Bhiksuka/Sanyasin, yaitu menyebarkan ilmu kerohanian kepada umat, dan dirinya sepenuhnya diabdikan kepada Tuhan, Wiwaha/Perkawinan dalam masyarakat Hindu memiliki arti dan kedudukan khusus dan penting sebagai awal dari masa berumah tangga atau grhastha asrama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu transaksi dianggap sah bila ada saksi, dalam Upacara Wiwaha (Byakala) tersebut sudah terkandung Tri Upasaksi (Tiga Saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusa Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa saksi adalah Saksi Dewa (Ida Sang Widhi Wasa) yang di mohon untuk menyaksikan upacara pawiwahan tersebut, Manusa Saksi adalah Saksi Manusia. Dalam hal ini semua orang yang hadir pada saat dilaksanakan upacara utamanya, seperti Pemangku dan Perangkat Desa (Bendesa Adat, Kelian Dinas dan sebagainya). Bhuta Saksi adalah saksi para Bhuta Kala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dilaksanakan Upacara Byakala kita membakar tetimpug (beberapa potongan bambu yang kedua ruasnya masih ada) sehingga timbul suara ledakan. Suara ledakan tersebut merupakan simbul memanggil Bhuta Kala untuk hadir di areal upacara, kemudian diberikan suguhan dengan harapan tidak mengganggu jalanya upacara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesainya Upacara Wiwaha (Byakala). Maka pasangan pria dan wanita tersebut telah resmi menjadi suami istri (Dampati) dan berkewajiban melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang Grhastin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4675400499067656037?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4675400499067656037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/wiwaha.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4675400499067656037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4675400499067656037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2010/02/wiwaha.html' title='Wiwaha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7731528481758301830</id><published>2009-12-09T07:17:00.001+07:00</published><updated>2009-12-09T07:17:25.103+07:00</updated><title type='text'>Arti Panca Sradha</title><content type='html'>Agama Hindu adalah agama tertua di dunia. Agama Hindu dengan kitab sucinya Weda yang merupakan wahyu-wahyu suci dipakai pedoman dan pandangan hidup bagi umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan jasmani. Dalam pustaka suci Weda disebutkan dengan istilah " Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma " yang artinya, agama atau Dharma itu ialah untuk mencapai Moksa (kebahagiaan rohani) dan Jagadhita (kesejahteraan hidup lahariah).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moksa juga sering disebut Mukti, artinya mencapai kebebasan Jiwatman atau kebahagiaan rohani langgeng. Sedangkan Jagathita sering disebut dengan istilah Bhukti, artinya mencapai kesejahteraan atau kemakmuran masyarakat dan negara yang kita nikmati secara nyata ( kebahagiaan lahiriah ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan tersebut, agama Hindu menjabarkan ajarannya menjadi tiga bagian yang sering disebut Tiga Kerangka agama Hindu, atau Tiga Kerangka Dasar agama Hindu. Adapun ketiga bagian kerangka dasar agama Hindu tersebut ialah :&lt;br /&gt;1. Tattwa = Filsafat&lt;br /&gt;2. Susila = Etika&lt;br /&gt;3. Upacara = Ritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mana ketiga-tiganya itu merupakan tiga serangkai. Berkaitan yang satu dengan yang lainya tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketiga-tiganya itu tidak berdiri sendri. Namun ketiganya merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan, misalnya jika filsafat agama saja diketahui tanpa melaksanakan ajaran susila dan upacara tidaklah sempurna. Demikian pula sebaliknya, jika hanya melaksanakan upacara saja tanpa filsafat dan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga kerangka dasar itu ibaratnya seperti sebuah telur.&lt;br /&gt;- Kuningnya adalah filsafat.&lt;br /&gt;- Putihnya adalah susila agama, dan&lt;br /&gt;- Kulitnya adalah upacara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuning, putih dan kulitnya harus baik, jika salah satu dari ketiga tersebut yang rusak maka tidak sempurna. Demikian pula dengan ajaran agama Hindu akan dapat dicapai dengan melaksanakan ketiga kerangka dasar tersebut. Adapun Tattwa (filsafat) agama Hindu meliputi lima keyakinan yang disebut "Panca Sradha".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Panca Sradha berasal dari kata Panca dan Sradha. Panca artinya lima dan Sradha artinya kepercayaan. Jadi arti dari Panca Sradha adalah lima kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7731528481758301830?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7731528481758301830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/12/arti-panca-sradha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7731528481758301830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7731528481758301830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/12/arti-panca-sradha.html' title='Arti Panca Sradha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8820507865335725975</id><published>2009-09-17T19:30:00.001+07:00</published><updated>2009-09-17T19:30:05.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Saraswati'/><title type='text'>Hari Raya Saraswati</title><content type='html'>Hari Raya Saraswati dilaksanakan untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam wujud Dewi Saraswati yaitu Dewanya ilmu pengetahuan. Hari raya Saraswati dilaksanakan pada hari Sabtu Umanis wuku Watugunung (enam bulan atau setiap 210 hari) sekali. Umat Hindu menghaturkan sesaji/banten Saraswati dan melakukan persembahyangan. Buku-buku ditata dengan rapi pada tempatnya kemudian kita haturkan banten Saraswati perlengkapan yang lainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tujuan untuk memohon berkah ilmu pengetahuan. Barang siapa yg mau belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh maka Dewi Saraswati akan menganugerahkan kita kepandaian untuk bekal hidup di dunia ini. Dengan ilmu pengetahuan hidup kita dimudahkan karena pengetahuan itu seperti senjata yang dapat mengalahkan musuh berupa kebodohan, kemiskinan dan kemelaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan itu dilambangkan dengan wanita cantik bertangan empat dengan memegang seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Genitri, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak habis-habisnya dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keropak, melambangkan tempat penyimpanan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wina, melambangkan seni budaya yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Teratai, melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada juga lambang-lambang yang lain seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Wanita cantik, melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat menarik bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tangan empat, melambangkan Dewi Saraswati itu melebihi dari manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Angsa, melambangkan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Merak, melambangkan kewibawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Air, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu terus mengalir dan terus berkembang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelaksanaan upacara Saraswati dilaksanakan pada pagi hari, karena pada siang hari Dewi Saraswati sudah kembali ke kahyangan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah hari Saraswati disebut hari Banyupinaruh, pada saat ini umat melakukan penyucian diri dengan cara mandi kelaut, ke sungai atau mandi dengan "air kumkuman" (air dicampur dengam berbagai jenis bunga) setelah menyucikan diri dilanjutkan dengan sembahyang memuja  Dewi Saraswati memohon anugrah berupa kaweruhan/kepandaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8820507865335725975?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8820507865335725975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-raya-saraswati.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8820507865335725975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8820507865335725975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-raya-saraswati.html' title='Hari Raya Saraswati'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3364999330356247144</id><published>2009-09-07T10:14:00.001+07:00</published><updated>2009-09-07T10:14:23.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Siwalatri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Hari Raya Siwalatri</title><content type='html'>Hari Siwalatri diperingati setiap 1 Tahun sekali, tepatnya sehari sebelum tilem sasih kapitu (purwaning tilem kapitu) untuk memuja manifestasi Sang Hyang Widhi dalam wujud Dewa Siwa. Manusia yang diliputi oleh kegelapan, kebodohan dan ketidaksadaran (awidya) Memohon kepada Dewa Siwa agar dituntun ke jalan yang benar dan terang (widya).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun brata Siwalatri yang patut kita laksanakan yaitu :&lt;br /&gt;- Jagra artinya melek (begadang semalam suntuk)&lt;br /&gt;- Mona artinya tidak boleh berbicara&lt;br /&gt;- Upawasa artinya tidak boleh makan dan minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaanya boleh kita memilih salah satu brata diatas atau semuanya sekaligus, sangat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan kita masing-masing. Hari raya Siwalatri ini erat kaitannya dengan cerita Lubdaka. Cerita ini dikarang oleh Empu Tanakung. Lubdaka adalah seorang pemburu binatang, pekerjaanya setiap hari membunuh, sehingga hidupnya Lubdaka penuh dengan dosa. Walaupun demikian pada saat meninggal Lubdaka masuk Sorga. Karena dia melaksanakan brata Siwalatri dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3364999330356247144?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3364999330356247144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-raya-siwalatri.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3364999330356247144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3364999330356247144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-raya-siwalatri.html' title='Hari Raya Siwalatri'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3681543636636975923</id><published>2009-09-05T14:10:00.001+07:00</published><updated>2009-09-05T14:10:53.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Hari  Suci Yang Berdasarkan Pertemuan Sapta Wara Dengan Panca Wara</title><content type='html'>1. Hari Anggara Kliwon, disebut Anggara kasih.&lt;br /&gt;Hari Anggara kasih adalah merupakan payogan Bhatara Rudra. Beliau beryoga untuk menghilangkan segala kotoran yang menodai Alam Semesta. Para umat Hindu juga diharapkan untuk melaksanakan yoga, dalam usaha untuk menetralisir kekuatan-kekuatan kotor yang mempengaruhi tercemarnya kesucian jasmani dan rohani manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hari Budha Kliwon.&lt;br /&gt;Hari ini adalah merupakan hari penyucian Sang Hyang Bayu. Pemujaan ditunjukan kepada Sang Hyang Nirmala Jati. Tujuannya adalah memohon keselamatan Tri Mandala (Tri Bhuana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hari Budha Wage, atau disebut juga Buda cemeng.&lt;br /&gt;Hari ini adalah payongan Bhatari Manik Galih. Pemujaan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Ongkara Amrtha dengan tujuan memohon sumber kehidupan di dunia ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Hari Saniscara Kliwon.&lt;br /&gt;Hari ini adalah merupakan payongan Ida Sang Hyang Maha Wisesa. Hari ini sering disebut Tumpek dan namanya disesuaikan dengan nama wuku. Persembahan ditujukan kepada Sang Hyang Parameswara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3681543636636975923?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3681543636636975923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-suci-yang-berdasarkan-pertemuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3681543636636975923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3681543636636975923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/09/hari-suci-yang-berdasarkan-pertemuan.html' title='Hari  Suci Yang Berdasarkan Pertemuan Sapta Wara Dengan Panca Wara'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7483194996276214988</id><published>2009-08-09T08:22:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:45:56.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arti yadnya'/><title type='text'>Arti Yadnya</title><content type='html'>1. Menghormati, memuja, menjungjung dengan dasar tulus ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berbuat kebajikan untuk yang dihormati, dipuja, dijungjung, dengan ikhlas hati mengorbankan segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengorbankan dengan dasar tulus ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan yadnya itu korban suci yang berdasarkan ke ikhlasan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7483194996276214988?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7483194996276214988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/08/arti-yadnya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7483194996276214988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7483194996276214988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2009/08/arti-yadnya.html' title='Arti Yadnya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1332011315738304095</id><published>2008-12-15T16:14:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T10:45:50.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasa Sila'/><title type='text'>Dasa Sila</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUYgGas8B-I/AAAAAAAAApQ/-vaa60-IH2A/s1600-h/Pura+Dalem+Tajun.JPG"&gt;&lt;img alt="Pura Dalem Tajun" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279942907757594594" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUYgGas8B-I/AAAAAAAAApQ/-vaa60-IH2A/s320/Pura+Dalem+Tajun.JPG" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dasa Sila artinya sepuluh macam perbuatan yang baik dan mulia yang perlu diikuti dan dilaksanakan oleh umat Hindu, meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahimsa atau tidak membunuh atau menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Brahmacari atau dapat mengendalikan nafsu birahi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Satya atau setia kepada janji, jujur, tulus, terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Awyawahara atau melakukan usaha dengan tulus ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Akrodha atau tidak marah / tidak mudah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Asteniya atau Asteya artinya tidakmencuri, tidak mengambil barang orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Guru Susrusa atau hormat kepada guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sauca atau selalu memelihara kesucian diri lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Aharalagawa atau mengatur jenis makanan yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Apramada atau taat mempelajari dan mengamalkan ajaran Weda, takwa dan tidak sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasa Sila ini merupakan gabungan antara unsure Panca Yama Brata dan Panca Niyama Brata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_pub  = 'citakbagus';&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1332011315738304095?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1332011315738304095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/dasa-sila.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1332011315738304095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1332011315738304095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/dasa-sila.html' title='Dasa Sila'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUYgGas8B-I/AAAAAAAAApQ/-vaa60-IH2A/s72-c/Pura+Dalem+Tajun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-135304513260372444</id><published>2008-12-14T15:58:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:44:32.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tri Karana atau Tri Sadhana'/><title type='text'>Tri Karana atau Tri Sadhana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUTK2cFc7NI/AAAAAAAAApI/BM1-iPwow_g/s1600-h/Pura+Dalem+Tajun.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUTK2cFc7NI/AAAAAAAAApI/BM1-iPwow_g/s320/Pura+Dalem+Tajun.JPG" border="0" alt="Pura Dalem Tajun"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279567699785870546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tri Karana atau Tri Sadhana adalah tiga jalan (sadhana) yang patut diikuti dan dikerjakan oleh orang yang ingin mencapai kelepasan atau Moksa, meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jnanabhyudreka artinya dapat memahami segala tatwa atau hakekat ilmu pengetahuan dan filsafat kerohanian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Indriya yogamarga artinya tidak terikat kepada kenikmatan duniawi dan dapat mengendalikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tresnadosaksaya artinya dapat menghilangkan rasa terikat kepada pahala yang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Tri Sadhana atau Tri Karana ini pada hakekatnya mempunyai kesamaan dengan ajaran Catur Yoga, dimana bagian-bagiannya merupakan satu kesatuan yang saling terkait, artinya bukan merupakan bagian yang berdiri sendiri. Ajaran ini sangat baik dikhayati dan dilaksanakan oleh umat Hindu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-135304513260372444?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/135304513260372444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tri-karana-atau-tri-sadhana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/135304513260372444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/135304513260372444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tri-karana-atau-tri-sadhana.html' title='Tri Karana atau Tri Sadhana'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUTK2cFc7NI/AAAAAAAAApI/BM1-iPwow_g/s72-c/Pura+Dalem+Tajun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6792338961310988642</id><published>2008-12-13T15:30:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:44:19.034+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasa Paramartha'/><title type='text'>Dasa Paramartha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUN0RbP7MSI/AAAAAAAAApA/Tk8hT76ofOY/s1600-h/Pura+Dalem+Tajun.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUN0RbP7MSI/AAAAAAAAApA/Tk8hT76ofOY/s320/Pura+Dalem+Tajun.JPG" border="0" alt="Pura Dalem Tajun"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279191030929502498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dasa Paramartha merupakan sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai sebagai penuntun dalam meningkatkan tingkah laku yang baik, guna mencapai tujuan hidup yang tertinggi. Ke sepuluh macam ajaran kerohanian dimaksud meliputi :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Tapa artinya pengendalian diri atas semua keinginan atau nafsu keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Brata artinya mengekang hawa nafsu atau berpantang terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Samadhi artinya konsentrasi atau memusatkan pikiran yang hanya tertuju kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Santa artinya selalu tenang dan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sanmata artinya selalu bercita-cita berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Karuna artinya mempunyai perasaan cinta kasih terhadap semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Karuni artinya welas asih terhadap semua makhluk, barang-barang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Upeksa artinya dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mudita artinya selalu berusaha menyenangkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sepuluh tujuan hidup yang harus diketahui oleh orang yang menjalankan dharma yang ingin melepaskan pikirannya untuk menjadi manusia yang lebih tinggi. Dengan melaksanakan sepuluh tujuan hidup ini, maka ia akan melepaskan diri dari neraka. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6792338961310988642?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6792338961310988642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/dasa-paramartha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6792338961310988642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6792338961310988642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/dasa-paramartha.html' title='Dasa Paramartha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUN0RbP7MSI/AAAAAAAAApA/Tk8hT76ofOY/s72-c/Pura+Dalem+Tajun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3038480110534285709</id><published>2008-12-12T14:58:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T10:42:59.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Paramitha'/><title type='text'>Sad Paramitha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUIZ7xLOzmI/AAAAAAAAAo4/HkBrQDLNlBw/s1600-h/Pura+Sembiran.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUIZ7xLOzmI/AAAAAAAAAo4/HkBrQDLNlBw/s320/Pura+Sembiran.JPG" border="0" alt="Pura Sembiran"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278810227835063906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sad Paramitha adalah enam jalan utama menuju keluhuran budi, yang perlu dilaksanakan oleh umat Hindu, meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dana Paramitha atau memberi sedekah kepada orang yang memerlukannya. Dana berarti suka membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Orang yang suka membantu dikatakan sebagai orang yang dermawan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Sila Paramitha atau berpikir, berkata atau berbuat baik, suci dan luhur. Berpikir, berkata dan berbuat yang baik atau Tri Kaya Parisudha merupakan suatu perbuatan yang baik dan patut dilaksanakan oleh umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ksanti Paramitha atau pikiran yang tenang, tahan terhadap godaan, penghinaan, penyakit, dengki dan iri hati serta kata-kata yang tidak baik. Dalam hal ini orang bersikap tabah dan tahan uji terhadap semua cobaan dan godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Wirya Paramitha atau pikiran, perkataan dan perbuatan yang teguh dan tak pernah mengeluh dalam membela kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dhyana Paramitha atau memusatkan pikiran kehadapan Tuhan untuk mencari kebenaran dan keselamatan. Dengan pikiran terpusat, hanya tertuju kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa orang akan lebih mudah dapat mencapai kebahagiaan lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pradnya Paramitha atau bijaksana dalam menimbang-nimbang kebenaran. Dalam hal ini seseorang akan selalu hati-hati dalam menimbang-nimbang berbagai perbuatan yang akan dilaksanakannya, perbuatan mana selalu harus didasarkan kepada ajaran kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam jalan menuju keluhuran budi diatas, baik sekali jika dapat dilaksanakan oleh umat Hindu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3038480110534285709?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3038480110534285709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-pramitha.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3038480110534285709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3038480110534285709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-pramitha.html' title='Sad Paramitha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUIZ7xLOzmI/AAAAAAAAAo4/HkBrQDLNlBw/s72-c/Pura+Sembiran.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7538516399938293692</id><published>2008-12-11T12:33:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:41:17.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catur Aiswarya'/><title type='text'>Catur Aiswarya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUCmnWofWjI/AAAAAAAAAow/LkrZuKvUZ1g/s1600-h/Pura+Ponjok+Batu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUCmnWofWjI/AAAAAAAAAow/LkrZuKvUZ1g/s320/Pura+Ponjok+Batu.JPG" border="0" alt="Pura Ponjok Batu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278401958298737202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catur Aiswarya adalah empat ajaran kerohanian untuk mendapatkan kebahagiaan baik lahir maupun batin, yang patut dilaksanakan oleh umat Hindu, mencakup :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dharma atau perbuatan yang berlandaskan kebenaran. Agama Hindu mengajarkan agar umatnya setia untuk melaksanakan ajaran Dharma atau ajaran tentang kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Jnana atau pengetahuan dan atau kebijaksanaan yang berguna untuk kehidupan manusia. Pengetahuan itu tentu perlu kita miliki agar dapat mencapai kebahagiaan lahir batin. Dalam hal ini kita perlu rajin belajar, rajin membaca dan rajin bertanya kepada orang yang lebih pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wairagya atau tidak menginginkan kemewahan dan kemegahan. Umat manusia sepatutnya tidak hidup dalam kemegahan dan kemewahan. Belajarlah hidup sederhana , hidup apa adanya dan tidak berlebihan. Hidup secara berlebihan dapat menyebabkan pikiran kita menjadi buntu yang pada akhirnya menjauhkan kita dari kebahagiaan lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Aiswarya atau kebahagiaan dan kesejahteraan yang diperoleh dengan jalan dharma. Ini adalah jalan kebenaran, kesetiaan dan kejujuran. Janganlah hidup berdasarkan ketidak benaran, ketidak setiaan dan ketidak jujuran. Pegang teguhlah kebenaran, kejujuran dan kesetiaan itu, agar kita dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Aiswarya atau empat ajaran kerohanian untuk mendapatkan kebahagiaan baik lahir maupun batin diatas perlu dipahami dan diikuti umat Hindu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7538516399938293692?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7538516399938293692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/catur-aiswarya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7538516399938293692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7538516399938293692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/catur-aiswarya.html' title='Catur Aiswarya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SUCmnWofWjI/AAAAAAAAAow/LkrZuKvUZ1g/s72-c/Pura+Ponjok+Batu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-144797307118453666</id><published>2008-12-09T16:26:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T10:41:06.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahabharata'/><title type='text'>Tanya Jawab Seputar Mahabharata</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/ST46aBWScSI/AAAAAAAAAoo/ZWsC5JYFSGM/s1600-h/Pura+Pasek+Trunyan+Bali.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/ST46aBWScSI/AAAAAAAAAoo/ZWsC5JYFSGM/s320/Pura+Pasek+Trunyan+Bali.JPG" border="0" alt="Pura Pasek Trunyan Bali"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277720032037728546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. Siapakah pengarang Mahabharata di dalam bahasa Sanskerta ?&lt;br /&gt;- Rsi Wyasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa nama lain dari Mahabharata ?&lt;br /&gt;- Jaya atau Weda kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apa nama khusus yang diberikan pada setiap bab di dalam Mahabharata ?&lt;br /&gt;- Parwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mahabharata terdiri berapa bab ?&lt;br /&gt;- 18 Bab.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;5. Babaimana Mahabharata digambarkan oleh orang-orang terpelajar ?&lt;br /&gt;- Mahabharata adalah sebuah epos besar, yang menceritakan tentang pahlawan-pahlawan baik wanita maupun pria, tentang manusia dan kesucian, Mahabharata adalah sebuah kitab yang memuat tentang perilaku hidup, social politik dan spekulasi problem manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Siapa yang menulis Mahabharata, saat Rsi Wyasa mendiktekan secara lisan ?&lt;br /&gt;- Winayaka (Ghanesha) menulis tentang Mahabharata sementara Rsi Wyasa mendiktekannya secara lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Syarat apa yang harus dipenuhi untuk melakukan (penulisan) itu ?&lt;br /&gt;- Ganaphati mengatakan bahwa Wyasa harus terus menceritakan tanpa berhenti atau tanpa keragu-raguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Apa yang terjadi secara tiba-tiba (saat penulisan itu) ?&lt;br /&gt;- suatu ketika secara tiba-tiba pensil metalik yang dipakai Winayaka untuk menulis patah. Winayaka segera mencabut (mematahkan) salah satu taringnya dan meneruskan menulis dengan taringnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kejadian tersebut ?&lt;br /&gt;- Ini menunjukkan jiwa pengorbanan Winayaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Di dalam Githa bab mana dimaksudkannya ?&lt;br /&gt;- Bhisma Parwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Apa tema dari Mahabharata ?&lt;br /&gt;- Epos yang mengisahkan tentang peperangan antara saudara sepupu yang memperebutkan kerajaan, secara simbolik adalah peperangan abadi antara kebaikan dan kejahatan di dalam diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Pesan apa yang terkandung di dalam Mahabharata ?&lt;br /&gt;- “Dharmaraksahati, rakshitah” yang artinya “seseorang yang melindungi Dharma akan dilindungi oleh Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Dharma apa yang tertinggi ?&lt;br /&gt;- Sebagaimana harapan untuk melaksanakan kebaikan, jadi engkau harus melaksanakan kebajikan pertama untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Siapa figure terpenting dalam cerita Mahabharata ?&lt;br /&gt;- Raja Shanthanu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Siapa Bhisma itu ?&lt;br /&gt;- Putra Shanthanu dan Ibu Gangga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-144797307118453666?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/144797307118453666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tanya-jawab-seputar-mahabharata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/144797307118453666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/144797307118453666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tanya-jawab-seputar-mahabharata.html' title='Tanya Jawab Seputar Mahabharata'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/ST46aBWScSI/AAAAAAAAAoo/ZWsC5JYFSGM/s72-c/Pura+Pasek+Trunyan+Bali.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8479420078363468488</id><published>2008-12-07T12:43:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T10:40:47.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Guna'/><title type='text'>Sad Guna</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STti_cUHdhI/AAAAAAAAAog/WhDWpktqPms/s1600-h/Pura+Ponjok+Batu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STti_cUHdhI/AAAAAAAAAog/WhDWpktqPms/s320/Pura+Ponjok+Batu.JPG" border="0" alt="Pura Ponjok Batu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276920230466516498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sad Guna adalah enam perilaku yang sangat baik dan bermanfaat karena sikap yang optimistic, simpatik, bisa menempatkan diri, berpengaruh dan disukai orang lain, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sandhi yaitu sesuatu bagaimanapun sulitnya, pasti dapat diperoleh. Perilaku ini merupakan sikap optimistic. Orang dengan sikap seperti ini percaya bahwa asalkan mau berusaha, mau berjuang, pasti berhasil. Dan orang seperti ini pun tidak mengenal kata putus asa. Dalam pikirannya selalu terbayang, bahwa kalau mau berusaha, pasti berhasil.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Wigrha atau mempunyai banyak pengikut, berpengaruh dan disenangi orang. Orang dengan sikap baik ini sangat berpengaruh dalam masyarakat dan karena itu banyak temannya, banyak pengikutya. Orang dengan sikap Wigrha ini disukai orang banyak, disenangi teman-temannya. Hal ini karena sikapnya yang baik dan tidak pernah menyusahkan atau mengecewakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jana atau setiap perkataannya akan diturut dan ditaati. Orang yang mempunyai sikap Jana adalah orang yang baik , tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain, kata-katanya lemah lembut dan suka membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Karena itu orang ini selalu dituruti kata-katanya dan selalu ditaati perintah-perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sana atau dapat menempatkan diri dengan baik dimana saja dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga.  Orang yang sikap sana ini pandai sekali bergaul, sikapnya yang santun dan lemah lembut disukai banyak orang sehingga ia mampu menempatkan diri dalam situasi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Wisesa atau bijaksana dan berwibawa dan mampu menaklukkan lawan. Orang ini adalah orang pintar. Meskipun demikian dia tidak sombong, dia selalu merendahkan diri, pandai bergaul. Perilakunya yang baik, tidak pernah marah, kata-katanya yang manis dan lemah lembut mampu menundukkan siapapun juga yang diajak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Srya atau cepat memperoleh simpati dan bantuan orang lain. Orang dengan sikap Srya ini sangat santun, ramah tamah dan baik hati, suka menolong orang dalam kesulitan. Karena sikapnya yang baik itu dia cepat sekali mendapat simpati, bahkan teman-temannya seolah berebutan ingin menolong jika pada suatu waktu dia menghadapi masalah atau kesulitan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8479420078363468488?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8479420078363468488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-guna.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8479420078363468488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8479420078363468488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-guna.html' title='Sad Guna'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STti_cUHdhI/AAAAAAAAAog/WhDWpktqPms/s72-c/Pura+Ponjok+Batu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4509142206415498577</id><published>2008-12-06T09:41:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:40:36.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Mitra'/><title type='text'>Sad Mitra</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STnnHqUzAoI/AAAAAAAAAoY/lQyqxhrbyeg/s1600-h/Pura+Ponjok+Batu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STnnHqUzAoI/AAAAAAAAAoY/lQyqxhrbyeg/s320/Pura+Ponjok+Batu.JPG" border="0" alt="Pura Ponjok Batu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276502557247865474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sad Mitra mempunyai makna yang berlawanan dengan Sad Ripu. Kalau Sad Ripu merupakan enam perbuatan buruk, maka Sad Mitra adalah enam tata laku yang baik dengan unsure yang sama dengan Sad Ripu, tetapi dalam pengertian yang positif sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Kama atau cinta akan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Kama dalam pengertiannya yang negative berarti nafsu atau keinginan. Keinginan atau nafsu itu harus dikendalikan. Tetapi dalam pengertian yang positif, kama diartikan sebagai nafsu atau keinginan besar sekali untuk melaksanakan ajaran dharma atau ajaran tentang kebenaran, kejujuran dan keadilan. Dalam hal ini orang yang bersangkutan sangat ingin sekali mengikuti dan melaksanakan ajaran dharma, ajaran yang baik dan dibenarkan oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Loba arti sesungguhnya dalam pengertian yang negative adalah rakus. Tetapi dalam pengertiannya yang positif orang yang “loba” ini tidak pernah merasa puas dalam ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Semakin banyak yang dipelajari, ia merasa bodoh saja. Karena itu ia selalu berusaha keras untuk belajar mengejar berbagai ilmu dengan maksud untuk dapat diamalkan sebagai pengabdian kepada masyarakat, Negara dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mada dalam pengertian yang negative berarti mabuk atau lupa daratan. Tetapi dalam pengertian yang positif, orang yang Mada ini bukan mabuk terhadap hal-hal yang dapat menyusahkan orang lain atau dirinya sendiri, tetapi justru sebaliknya, ia mabuk untuk mengabdikan dirinya kepada Tuhan dan berbagai masalah Ketuhanan. Karena itu orang ini rajin mempelajari buku tentang ketuhanan dan tentang hal-hal yang berbau spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kroda atau marah dan benci kepada diri sendiri karena kelalaian dan kebodohannya. Orang yang kroda ini benar-benar marah dengan dirinya sendiri, dengan sifat-sifatnya yang bodoh. Ia selalu berusaha untuk melakukan introspeksi dan koreksi diri guna mencari dimana letak kekurangannya, sehingga dapat menemukan dan memperbaiki kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Moha atau bingung karena tidak mencapai kebahagiaan dan karena itu selalu berusaha mengejarnya. Orang yang Moha ini bingung, mengapa orang lain bisa berbahagia, sedangkan dia tidak. Dia berusaha mencari dan menemukan dimana letak kekurangannya. Ia selalu berusaha untuk memenuhi dengan mengejar kekurang berhasilannya dalam hidup ini. Orang ini selalu berusaha agar bisa menyamai kebahagiaan dan keberasilan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Matsarya atau iri hati karena tidak berhasil atau tidak sukses dalam kehidupannya seperti orang lain dan karena itu selalu berupaya untuk mencapainya. Orang ini merasa sudah cukup banyak berusaha agar bisa berhasil dalam kehidupannya seperti halnya orang lain. Tetapi ternyata belum berhasil. Karena itu ia seolah-olah merasa iri hati, mengapa orang lain bisa sedangkan dia sendiri tidak. Karena itu ia berusaha terus, tanpa kenal lelah untuk mengejarnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4509142206415498577?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4509142206415498577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-mitra.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4509142206415498577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4509142206415498577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/sad-mitra.html' title='Sad Mitra'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STnnHqUzAoI/AAAAAAAAAoY/lQyqxhrbyeg/s72-c/Pura+Ponjok+Batu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4216594035275539212</id><published>2008-12-05T15:06:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T10:40:23.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catur Paramitha'/><title type='text'>Catur Paramitha</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STjhgxmBkpI/AAAAAAAAAn4/fnp_--2OhMA/s1600-h/Pura+Ponjok+Batu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STjhgxmBkpI/AAAAAAAAAn4/fnp_--2OhMA/s320/Pura+Ponjok+Batu.JPG" border="0" alt="Pura Ponjok Batu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276214916649423506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catur Paramitha berasal dari kata “Catur” yang berarti empat dan “Paramitha” yang berarti perbuatan luhur. Catur Paramitha dengan demikian berarti empat perbuatan luhur, yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keempat perbuatan luhur dimaksud adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Maitri atau bersahabat.&lt;br /&gt;2. Karuna atau cinta kasih&lt;br /&gt;3. Mudhita atau bersimpati.&lt;br /&gt;4. Upeksa atau toleran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4216594035275539212?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4216594035275539212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/catur-paramitha.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4216594035275539212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4216594035275539212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/catur-paramitha.html' title='Catur Paramitha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STjhgxmBkpI/AAAAAAAAAn4/fnp_--2OhMA/s72-c/Pura+Ponjok+Batu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7098476613019033989</id><published>2008-12-04T16:48:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:40:13.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asta Brata'/><title type='text'>Asta Brata</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STeoETc-EcI/AAAAAAAAAnw/AgxSj-nhj98/s1600-h/Pura+Besakih.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STeoETc-EcI/AAAAAAAAAnw/AgxSj-nhj98/s320/Pura+Besakih.JPG" border="0" alt="Pura Besakih"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275870280382550466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Disamping tingkah laku dan sifat-sifat baik serta cara-cara pengendalian diri termaksud diatas, manusia hendaknya juga dapat meniru sifat-sifat baik Asta Dewata (Delapan Dewa atau delapan sinar suci kebesaran Tuhan). Meneladani sifat-sifat baik Delapan Dewa ini berarti mengendalikan keinginan. Dengan demikian Asta Brata berarti mencontoh sifat-sifat baik Delapan Dewa dalam rangka usaha untuk mengendalikan diri. Sifat-sifat baik ini bermanfaat sekali bagi mereka yang memegang tampuk kepeminpinan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun Delapan Dewa yang sifat-sifatnya perlu diteladeni oleh umat Hindu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dewa Surya atau Dewa Matahari&lt;br /&gt;2. Dewa Candra atau Dewa Bulan&lt;br /&gt;3. Dewa Bayu atau Dewa Angin&lt;br /&gt;4. Dewa Kuwera atau Dewa Kekayaan&lt;br /&gt;5. Dewa Baruna atau Dewa Lautan&lt;br /&gt;6. Dewa Agni atau Dewa Api&lt;br /&gt;7. Dewa Yama atau Dewa Atman&lt;br /&gt;8. Dewa Indra atau Dewa Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia atau setidak-tidaknya para pemimpin hendaknya memiliki delapan sifat baik dari para Dewa tersebuta diatas. Paling tidak mereka harus berusaha untuk memiliki sifat-sifat Delapan Dewa termaksud. Dibawah ini adalah uraian lebh jauh mengenai sifat-sifat baik Delapan Dewa tersebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dewa Surya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat baik Dewa Surya atau Dewa matahari perlu ditiru oleh umat Hindu. Matahari adalah sumber kehidupan. Matahari memberikan sinarnya tanpa pilih kasih. Matahari juga meniadakan kegelapan dan memberi kekuatan kepada alam semesta. Umat Hindu khususnya para pemimpinnya seharusnya dapat meniru sifat-sifat baik Dewa Matahari. Mereka harus memberikan perhatian terhadap sesamanya tanpa pilih kasih. Mereka harus memberikan semangat dan dorongan kepada sesamanya agar dapat bekerja dengan baik. Mereka juga harus mempu memberikan bimbingan dan pendidikan agar manusia terhindar dari kegelapan atau kebodohan tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan pangkat atau kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dewa Candra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Candra atau Dewa Bulan juga perlu diteladeni sifat-sifat baiknya. Bulan memancarkan sinarnya dengan sangat lembut. Bulan memberikan sinar terang dimalam gelap. Umat Hindu setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaknya selalu bersikap lemah lembut, ramah tamah, murah senyum dan tidak mudah marah. Mereka juga harus dapat menciptakan ketenangan dan ketentraman dalam lingkungannya. Disamping itu mereka juga harus dapat membantu sesamanya yang dalam kesusahan atau kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dewa Bayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Bayu atau Dewa Angin sifat-sifatnya juga perlu diikuti oleh umat manusia. Angin atau udara memberikan kehidupan kapada manusia. Tanpa udara manusia tidak bisa hidup. Tiupan angin juga memberikan kesejukan kepada manusia yang dapat menghidarkannya dari rasa gerah atau kepanasan. Umat Hindu atau setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaklah dapat mendorong seseorang untuk hidup rukun, hidup penuh dengan toleransi atau timbang rasa, sehingga dijauhkan dari silang sengketa yang dapat menimbulkan perkelahian sampai kematian. Mereka juga harus dapat menciptakan suasana sejuk, suasana yang segar, sehingga terjalin suatu kerjasama yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dewa Kuwera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat baik Dewa Kuwera atau Dewa Kekayaan adalah menjaga harta benda atau kekayaan dengan sebaik-baiknya demi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Kekayaan atau harta benda yang dimiliki hendaklah dipakai untuk tujuan baik. Janganlah mempergunakan kekayaan sebagai alat untuk menyombongkan diri. Sebaliknya pergunakanlah kekayaan itu untuk membantu orang lain yang serba kekurangan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang sejahtera dan terhindar dari penderitaan. Namun kekayaan hendaknya selalu dijaga dan dipelihara serta dimanfaatkan agar dapat berkembang dan menghasilkan. Kekayaan hendaknya tidak dihambur-hamburkan. Umat Hindu setidak-tidaknya para pemimpinnya, hendaklah dapat menjaga dan memelihara harta benda yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dewa Baruna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneladani sifat-sifat baik Dewa Baruna yeng selalu menjaga ketenangan, menegakkan keadilan dan kebenaran, selalu waspada atas kemungkinan terjadinya gejolak/kejahatan dan selalu menghukum siapa saja yang berbuat jahat adalah baik sekali. Manusia, terutama para pemimpin, hendaknya selalu menghormati peraturan dan ketentuan yang berlaku dan tidak mencoba untuk melanggarnya. Mereka juga harus selalu waspada terhadap kejahatan yang mungkin timbul, serta berani bertindak tegas dalam menghadapinya. Mereka juga harus berani menegakkan kebenaran dengan menghukum orang-orang yang salah. Sebaliknya mereka harus mampu melindungi atau mengayomi orang-orang yang tidak berdosa, terutama orang-orang kecil, khususnya orang-orang yang berada dalam posisi lemah, dalam keadaan susah atau menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dewa Agni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat Dewa Agni adalah melenyapkan atau “membakar” setiap orang yang berbuat jahat, mampu menguasai ilmu pengetahuan kerohanian, disamping juga mampu bertindak sebagai orang suci, sanggup membantu orang lain secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih, serta berani bertindak sebagai kesatria dalam melawan musuh. Manusia, khususnya para pemimpin, hendaknya berbudi luhur (suci), arif dan bijaksana, mampu melawan musuh, baik yang berada diluar maupun didalam dirinya sendiri, serta sanggup menghadapi dan memecah setiap kesulitan. Mereka juga harus sanggup menimba ilmu pengetahuan dan selanjutnya mengajarkannya kepada orang lain secara tulus ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dewa Yama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru sifat-sifat baik Dewa Yama yang selalu memegang teguh keadilan dan kebenaran serta berani menghukum orang-orang yang bersalah adalah bagus. Umat Hindu, khususnya para pemimpinnya, hendaknya selalu berlaku adil, selalu menjaga kebenaran dan berani bertindak tegas untuk menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang berbuat jahat dan salah. Sebaliknya mereka harus berani melindungi, bahkan membela orang-orang yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dewa Indra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Hujan atau Dewa Indra sifat-sifat baiknya adalah melindungi orang-orang kecil dan orang-orang yang sangat memerlukan bantuan. Umat Hindu, khususnya para pemimpinnya, hendaklah mampu dan berani memberikan “hujan” perlindungan kepada rakyat kecil, terutama terhadap orang-orang yang berada dalam kesulitan. Perlindungan yang diberikan akan dapat menimbulkan ketenteraman dan kebahagiaan bagi masyarakat kebanyakan. Pada gilirannya rakyat kecil akan memperoleh “hujan” kesejahteraan. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7098476613019033989?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7098476613019033989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/asta-brata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7098476613019033989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7098476613019033989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/asta-brata.html' title='Asta Brata'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STeoETc-EcI/AAAAAAAAAnw/AgxSj-nhj98/s72-c/Pura+Besakih.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8507068292540821045</id><published>2008-12-03T16:44:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T10:39:47.393+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tri Brata'/><title type='text'>Tri Brata</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STZ57lQpzDI/AAAAAAAAAno/JFC-qPNhgaQ/s1600-h/Tri+Brata.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STZ57lQpzDI/AAAAAAAAAno/JFC-qPNhgaQ/s320/Tri+Brata.JPG" border="0" alt="Tri Brata"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275538078032317490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tri Brata merupakan tiga macam pengendalian diri yang perlu diikuti dan dilaksanakan untuk memperoleh sifat-sifat kedewataan, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akrodha atau tidak mudah marah. Krodha artinya marah. Kata “A” didepannya berarti tidak. Jadi akrodha berarti tidak marah atau tidak mudah marah. Hal ini tentu bisa dicapai dengan pengendalian diri yang baik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Alobha atau tidak serakah atau irihati. Lobha artinya serakah. “A” berarti tidak, jadi alobha berarti tidak serakah atau tidak loba atau tidak ingin merebut bagian orang lain untuk dijadikan sebagai miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sukawarjita atau tidak pernah bersedih, meskipun tertimpa bencana. Inilah sifat seorang pengembira, orang yang selalu gembira ria dan tidak pernah susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat baik yang berguna untuk mengendalikan diri ini sangat perlu dikhayati dan diamalkan oleh umat Hindu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8507068292540821045?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8507068292540821045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tri-brata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8507068292540821045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8507068292540821045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/12/tri-brata.html' title='Tri Brata'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STZ57lQpzDI/AAAAAAAAAno/JFC-qPNhgaQ/s72-c/Tri+Brata.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4699104845744953405</id><published>2008-11-26T16:13:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:38:30.367+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catur Marga'/><title type='text'>Catur Marga</title><content type='html'>Perbuatan yang baik pertama adalah Catur Marga. Boleh jadi ada yang bertanya, mengapa Catur Marga dimaksudkan sebagai perbuatan baik (Subhakarma). Berikut ini adalah jawabannya. Dharmasastra, etika atau susila agama Hindu pada hakekatnya merupakan pedoman, norma atau ukuran untuk diamati dan diamalkan, untuk dapat mencapai apa yang dinamakan “suka tan pawali dukha” kebahagiaan tertinggi dan kedamaian serta ketertiban di dunia. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Etika hanyalah pembina moral, agar manusia berpribadi dan berbudi pekerti yang luhur, agar manusia dapat hidup rukun dan damai. Berpribadi dan berbudi pekerti luhur itu berarti bahwa manusia harus selalu berbuat baik. Karena itu untuk mencapai tujuan hidupnya, umat Hindu harus berpegang kepada aturan yang kekal yaitu dharma agama. Tujuan hidup itu adalah Moksa atau jagadhita. Dharmasastra, etika atau susila itu merupakan persiapan untuk mencapai Moksa dan jagadhita itu. Jalan atau cara untuk mencapai tujuan hidup itu adalah dengan melalui empat marga utama yang dinamakan Catur Marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hidup umat Hindu adalah untuk mendapat tempat yang layak di akhirat dan kesejahteraan duniawi. Karena itu yang dikejar adalah kebahagiaan abadi setelah meninggal dunia dan kebahagiaan duniawi ketika masih hidup. Dan untuk mencapai semua itu, umat Hindu harus selalu berbuat baik. Tanpa berbuat baik pasti tujuan hidup itu tidak akan dicapai. Itulah sebabnya agama Hindu mengajarkan agar umatnya selalu berbuat baik, melaksanakan ajaran dharma, bertindak sejalan dengan ajaran agama. Khusus untuk dapat mencapai kesejahteraan abadi setelah meninggal atau moksa, agama Hindu mengajarkan apa yang disebut Catur Marga atau Catur Yoga yaitu empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Marga berasal dari kata “catur” yang berarti empat dan “marga” yang berarti jalan atau cara. Catur Marga dengan demikian berarti empat cara atau empat jalan untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa guna mencapai kesempurnaan hidup lahir dan bathin yang dinamakan Moksa. Ke empat cara atau jalan tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jnana Marga&lt;br /&gt;2. Karma Marga&lt;br /&gt;3. Bhakti Marga&lt;br /&gt;4. Raja Marga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah lain yang dipergunakan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir batin termaksud diatas adalah Catur Yoga. “Catur” sudah dijelaskan berarti empat dan “Yoga” berarti menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi. Catur Yoga dengan demikian berarti empat cara untuk menghubungkan diri dengan Tuhan guna menuju kesempurnaan hidup atau moksa dan ini terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jnana Yoga&lt;br /&gt;2. Karma Yoga&lt;br /&gt;3. Bhakti Yoga&lt;br /&gt;4. Raja Yoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menggunakan istilah gabungan dari Marga dan Yoga dan karena itu dinamakan Catur Margayoga. Catur Margayoga ini terdiri atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jnana Marga Yoga&lt;br /&gt;2. Karma Marga Yoga&lt;br /&gt;3. Bhakti Marga Yoga&lt;br /&gt;4. Raja Marga Yoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dimaklumi bahwa ke empat cara termaksud diatas sama baiknya. Cara manapun yang dipakai boleh saja. Setiap orang bebas untuk memilih salah satu diantaranya, yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4699104845744953405?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4699104845744953405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/catur-marga.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4699104845744953405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4699104845744953405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/catur-marga.html' title='Catur Marga'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6863114910898116596</id><published>2008-11-22T15:46:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T10:38:38.101+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sapta Timira'/><title type='text'>Sapta Timira</title><content type='html'>Sapta Timira adalah tujuh jenis kemabukan. “Sapta” artinya tujuh dan “Timira” artinya lupa daratan (lupa diri atau mabuk). Dengan demikian Sapta Timira berarti tujuh macam keadaan yang menyebabkan orang lupa daratan, lupa diri atau mabuk. Sapta Timira karena itu juga merupakan musuh yang berada di dalam diri manusia. Itulah sebabnya, maka ketujuh macam musuh itu harus dimusnahkan. Ketujuh musuh itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Surupa atau kemabukan (lupa daratan) karena wajah atau rupa yang tampan, ganteng atau cantik. Kegantengan atau kecantikan seseorang kadang kala menyebabkan yang bersangkutan menjadi angkuh, sombong dan tinggi hati. Semestinya kegantengan atau kecantikan wajah dibarengi dengan perilaku yang baik, budi yang luhur. Orang yang ganteng atau cantik, hendaknya dapat mengendalikan diri dengan membuang jauh-jauh sikap dan perilaku yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dhana atau kemabukan (lupa daratan) karena banyak mempunyai harta benda atau kekayaan. Banyaknya harta benda yang dimiliki sering kali menyebabkan seseorang menjadi lupa diri, menepuk dada, angkuh dan sombong dan tidak ingat dengan teman-temannya. Pada hal kepemilikan harta benda seyogyanya dibarengi dengan dharma, perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama. Karena itu orang yang memiliki banyak harta  benda seyogyanya dapat menjaga diri, tidak menepuk dada atau tidak sombong dengan harta bendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Guna atau kemabukan (lupa daratan) karena mempunyai kepintaran atau kepandaian. Orang yang pintar juga kadang lupa diri, menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang seperti ini cenderung angkuh dan kurang disukai oleh masyarakat. Oleh karena kepandaian semestinya dibarengi dengan perbuatan yang baik, disertai dengan budi pekerti yang luhur. Kepintaran semestinya diamalkan, dipergunakan untuk maksud-maksud yang baik, sehingga dapat membantu masyarakat yang kurang mempunyai pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kulina atau kemabukan (lupa daratan) karena keturunan. Factor keturunan juga sering mengakibatkan orang lupa diri. Seorang keturunan bangsawan, keturunan raja, kadang kala juga menganggap remeh orang lain yang tidak seketurunan. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi orang tersebut. Keturunan orang-orang terkenal, berpangkat atau bangsawan, sebaiknya mempunyai perilaku yang baik, berbudi luhur sejalan dengan ajaran agama. Mereka seharusnya dapat menjadi panutan dapat memberikan contoh yang baik terhadap masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Yohana atau kemabukan (lupa daratan) karena masa remaja atau masa muda. Anak muda remaja karena kurang pendidikan dan pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan dan suka berkelahi. Sebaikanya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan agama yang memadai, diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di dalam masyarakat, sebagaimana harus membawa diri dan lain-lain, supaya mereka dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Masa remaja adalah masa yang baik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi nusa dan bangsa serta agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sura atau kemabukan (lupa daratan) karena minuman keras. Minuman keras merupakan musuh yang sangat buruk. Ia dapat membuat orang mabuk, lupa diri dan berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Karena itu manusia beragama sebaiknya menjauhi minuman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kasuran atau kemabukan (lupa daratan) karena merasa mempunyai keberanian. Keneranian kadang kala membuat orang lupa diri. Keberanian tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik dapat mengakibatkan kerugian atau kesulitan bagi orang lain maupun yang bersangkutan sendiri. Keberanian hendaknya selalu dilandasi oleh kebenaran dan Dharma, oleh perbuatan yang luhur sesuai dengan ajaran agama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6863114910898116596?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6863114910898116596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/sapta-timira.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6863114910898116596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6863114910898116596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/sapta-timira.html' title='Sapta Timira'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2247767862214473682</id><published>2008-11-19T16:43:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T10:38:14.011+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Atatayi'/><title type='text'>Sad Atatayi</title><content type='html'>Sad Atatayi adalah enam jenis perbuatan yang kejam. Sad Atatayi berasal dari kata “Sad” yang berarti enam dan “Atatayi” yang berarti kejam. Dengan demikian Sad Atatayi diartikan sebagai enam perbuatan yang kejam dan ini adalah kelemahan atau musuh dalam diri manusia. Kelemahan tersebut hendaknya ditiadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun enam perbuatan kejam yang dianggap sebagai musuh dalam diri manusia dan harus dijauhi adalah :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Agnida atau sikap kejam karena suka membakar milik orang lain. Tidak semua orang senang melihat orang lain senang. Tidak semua orang suka melihat orang lain memiliki sesuatu barang yang bagus. Orang itu cenderung iri hari atau dengki melihat orang lain memiliki barang itu. Karena itu timbul pikiran buruk untuk membakar barang milik orang lain dimaksud. Orang seperti ini tergolong sebagai orang yang sangat kejam, karena dapat merusak milik orang lain, dapat mengakibatkan pemiliknya menjadi susah. Seyogyanya manusia dapat mengontrol peribadinya agar tidak berbuat yang bententangan dengan ajaran agama dan menghindari perbuatan yang dapat menyusahkan oprang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wisada atau sikap kejam karena suka meracun. Perbuatan meracun adalah perbuatan yang disengaja, dengan tujuan untuk membunuh orang lain. Karena itu perbuatan ini digolongkan sebagai perbuatan yang sangat kejam karena dapat menyebabkan jiwa manusia melayang. Perbuatan ini bertentangan dengan dan karena itu dilarang oleh agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Atharwa atau sikap kejam karena suka bermain black magic atau ilmu hitam. Tujuannya adalah untuk membuat seseorang menjadi sakit atau susah sampai meninggal dunia. Perbuatan ini dianggap sebagai perbuatan yang kejam dan karena itu dilarang oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sastraghma atau sikap kejam karena suka mengamuk. Perbuatan ini timbul karena pikiran yang buntu dan kacau atau sedang bingung serta putus asa, sehingga tidak bisa menemukan pemecahan atas sesuatu persoalan yang dihadapi. Sikap seperti ini dapat menimbulkan kekacauan dan kepanikan karena bisa jadi orang yang sedang ngamuk membunuh orang lain. Karena itu perbuatan ini digolongkan sebagai perbuatan yang sangat kejam dan dilarang oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dratikrama atau sikap kejam karena suka memperkosa orang lain. Perbuatan ini sama dengan perbuatan binatang, karena dilakukan tanpa perasaan malu dan hanya berdasarkan nafsu. Perilaku seperti ini sangat menyusahkan orang lain dan dikatagorikan sebagai perbuatan kejam dan karena itu dilarang oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Raja Pisuna atau sikap kejam karena suka mempitnah. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah dapat mencelakakan dan dapat menimbulkan rasa benci kepada orang yang difitnah. Fitnah dapat menyusahkan orang lain. Karena itu perbuatan serupa ini dilarang oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam jenis perbuatan kejam termaksud diatas, disamping merupakan kelemahan dalam diri manusia, juga sangat bertentangan dengan ajaran Agama Hindu. Karena umat Hindu hendaknya menjauhkan diri dari enam jenis perbuatan kejam itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2247767862214473682?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2247767862214473682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/sad-atatayi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2247767862214473682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2247767862214473682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/sad-atatayi.html' title='Sad Atatayi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5120939556473499204</id><published>2008-11-14T21:48:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T10:37:47.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasa Dharma dan Catur Purusartha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Dasa Dharma dan Catur Purusartha</title><content type='html'>Dasa Dharma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasa Dharma adalah sepuluh macam perbuatan baik yang patut dilaksanakan oleh umat Hindu. Segenap umat Hindu seyogyanya memahami, menghayati dan mengamalkan  ajaran Dasa Dharma ini, karena dapat mendorong terciptanya masyarakat yang aman, tenteram dan damai. Kesepuluh ajaran Dasa Dharma termaksud adalah :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Dhriti atau bekerja dengan sungguh-sungguh&lt;br /&gt;2. Ksama atau mudah memberi maaf&lt;br /&gt;3. Dama atau dapat mengendalikan  nafsu&lt;br /&gt;4. Asteya atau tidak mencuri&lt;br /&gt;5. Sauca atau bersih atau suci&lt;br /&gt;6. Indryanigraha atau dapat mengendalikan keinginan&lt;br /&gt;7. Dhira atau berani membela yang benar&lt;br /&gt;8. Widya atau sanggup belajar dan mengajar&lt;br /&gt;9. Satya atau kebenaran, kesetiaan dan kejujuran&lt;br /&gt;10 Akroda atau tidak marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Purusartha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tujuan hidup manusia menurut Agama Hindu yang dinamakan Catur Purusa Artha atau Catur Purusartha. “Catur” artinya empat, “Purusa” artinya jiwa manusia dan “Artha” artinya tujuan hidup. Jadi Catur Purusa Artha berarti empat tujuan hidup. Keempat tujuan hidup manusia  ini terjalin dengan erat, artinya satu dengan yang lain saling berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ke empat tujuan hidup adalah :&lt;br /&gt;1. Dharma&lt;br /&gt;2. Artha&lt;br /&gt;3. Kama&lt;br /&gt;4. Moksa&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5120939556473499204?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5120939556473499204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/dasa-dharma-dan-catur-purusartha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5120939556473499204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5120939556473499204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/dasa-dharma-dan-catur-purusartha.html' title='Dasa Dharma dan Catur Purusartha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1885385059589970294</id><published>2008-11-05T09:20:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:37:42.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Memahami Ajaran Agama Hindu dan Mengamalkan Perbuatan Baik</title><content type='html'>Umat Hindu perlu memahami, mendalami bahkan menghayati ajaran agamanya dengan baik, sehingga dapat mengetahui etika atau norma-norma tata susila yang berlaku dalam masyarakat, disamping mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang patut dihindari. Karena itu mereka semestinya patut mengerti dan menguasai agamanya secara baik dan benar, meliputi Tatwa atau Filsafat, Susila atau Etika dan Upacara atau Ritual Agama Hindu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak saja harus menguasai masalah upacara, tetapi juga harus mengerti perihal Susila dan Tatwa agamanya. Terkait dengan masalah Etika atau Susila, umat Hindu juga harus dapat mengamalkan ajaran tentang perbuatan (Subhakarma) dan menghindari perbuatan yang tidak baik (Asubhakarma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Hindu bukan saja perlu mendalami dan menghayati, tetapi juga harus dapat mengamalkan ajaran agamanya terutama yang berkaitan dengan Etika atau Susila Agama Hindu. Dalam hal ini mereka harus dapat melaksanakan ajaran tentang perbuatan yang baik atau Subhakarma. Mereka juga harus menyadari bahwa sesungguhnya Agama Hindu mengajarkan cukup banyak sikap, tindakan dan perilaku atau perbuatan yan baik itu, sehingga mereka semestinya dapat bermasyarakat dengan baik, dapat hidup saling asah, saling asih dan saling asuh serta dijauhkan dari saling sengketa yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu agama Hindu juga memberikan tuntunan, jalan atau cara untuk dapat hidup berbahagia, hidup dengan tenang, tenteram dan damai, disamping juga jalan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sampai kepada menyatunya Atman dan Brahman. Semua cara atau jalan serta berbagai perbuatan baik yang patut diikuti dan perbuatan buruk yang perlu dihindari oleh umat Hindu. Termasuk jalan atau cara untuk mencapai kebahagiaan hidup yang patut diikuti, untuk dapat kiranya didalami, dikaji dan atau dihayati, sehingga dapat diamalkan atau dilaksanakan sebagaimana mestinya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1885385059589970294?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1885385059589970294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/memahami-ajaran-agama-hindu-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1885385059589970294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1885385059589970294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/memahami-ajaran-agama-hindu-dan.html' title='Memahami Ajaran Agama Hindu dan Mengamalkan Perbuatan Baik'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1160004716679997414</id><published>2008-11-01T10:16:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T10:37:41.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasa Indria'/><title type='text'>Dasa Indria</title><content type='html'>Dalam hal ini dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mengendalikan Dasa Indrianya berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Srotendria artinya indra pendengar. Srota artinya telinga. Daam hal ini manusia harus mampu mengendalikan telinganya. Maksudnya adalah bahwa orang harus dapat mengendalikan apa yang diterima atau didengar oleh telinga. Jangan salah terima atau salah mengerti. Karena itu apa yang didengar melalui telinga hendaknya dapat “dicerna” dengan baik, sehingga kita tidak salah mengerti. Perhatikan benar-benar, dengar baik-baik apa yang dibicarakan, jangan sampai kita salah tangkap atau salah mengartikannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Twakindria artinya indra peraba. Twak artinya kulit. Dalam hal ini manusia harus mampu mengendalikan alat perabanya. Alat peraba itu bisa jadi tangan atau kulit. Kita diharapkan jangan sampai salah memberikan arti terhadap apa yang kita raba, terhadap apa yang kita rasakan. Dan jangan menggunakan alat peraba itu untuk tujuan yang tidak baik, misalnya untuk meraba payudara seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Granendria artinya indra pencium. Grana artinya hidung. Dalam hal ini manusia harus mampu indra penciumannya. Hidung itu sangat penting untuk mencium sesuatu. Hidung tentu harus dapat membedakan bau yang harum dan bau yang busuk. Salah mencium bau, kita barangkali bisa ngoceh, ngomel atau menyalahkan orang lain. Karena itu “kendalikanlah” indra pncium itu dengan baik, jangan sampai salah memberikan makna terhadap apa yang dicium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Caksundria artinya indra penglihatan. Caksu, caksuh atau caksur berarti mata. Dalam hal ini manusia hendaknya mampu mengendalikan indra penglihatannya. Mata sangat penting artinya bagi manusia. Dengan mata kita bisa melihat. Tetapi mata hendaknya kita jangan sampai salah melihat atau salah memberi arti terhadap apa yang kita lihat. Mata juga tidak boleh jelalatan atau ingin melihat atau memperhatikan wanita cantik misalnya. Penggunakanlah mata dengan wajar, dengan sebaik-baiknya, jangan sampai mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Wakindria artinya indra bicara. Wak artinya suara, bicara atau bunyi. Dalam hal ini manusia hendaknya mampu mengendalikan mulutnya. Mulut juga sangat penting bagi seseorang. Mulut digunakan untuk makan dan berbicara. Janganlah makan sembarangan, seperti juga berbicara tidak boleh asal ngomong. Makanlah makanan sederhana dan ringan-ringan saja, jangan berlebihan, jangan pula rakus. Makan yang banyak dapat menyebabkan kita malas, pikiran menjadi buntu bahkan tidak bisa berpikir jernih. Dan jangan pula sembarangan menggunakan mulut sebagai alat untuk berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Panandria artinya indra memegang. Pana artinya tangan. Umat manusia haruslah mampu mengendalikan  tangannya. Jangan asal memegang. Tangan itu hendaknya digunakan dengan tujuan  yang baik. Jangan menggunakan tangan  untuk maksud-maksud buruk seperti mencuri atau mengambil barang orang lain. Jangan pula menggunakan  tangan untuk menyakiti atau memukul orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Payundria artinya indra pengeluar kotoran. Payu artinya anus atau bubu. Manusia haruslah mampu mengendalikan pantat atau duburnya. Gunakanlah anus itu ada tempatnya. Membuang air besar hendaknya di WC. Membuang angin atau kentut, janganlah dihadapan orang ramai. Perhatikanlah sopan santun, jangan sampai orang lain merasa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jihwendria artinya indra perasa. Jihwa artinya lidah. Umat manusia sepatutnya mampu mengendalikan  lidahnya. Menggunakan lidah itu sama pentingnya dengan menggunakan mulut. Lidah perlu dikendalikan agar tidak sembarangan ngomong. Jangan juga bersilat lidah atau berdebat yang bukan-bukan dan tidak perlu. Belajarlah menggunakan dengan baik-baik, dengan santun, agar orang lain tidak merasa tersinggung. Kalau berbicara, ingatlah tata karma dan sopan santun. Berbicaralah yang manis, lemah lembut dan enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Padendria artinya indra atau kekuatan berjalan. Dalam hal ini umat manusia haruslah mampu mengendalikan gerakan kakinya. Kaki kita memang untuk berjalan. Tetapi kakipun perlu dikendalikan. Jangan menggunakan kaki sembarangan, misalnya untuk pergi kerumah tetangga guna mengambil atau mencuri barang. Gunakanlah kaki untuk tujuan mulia, misalnya untuk pergi kepura guna sembahyang atau medana punia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pastendria artinya indra kelamin. Pasthendriya artinya alat kelamin laki-laki. Umat manusia, khususnya yang laki-laki, hendaknya mampu mengendalikan kelaminnya. Alat kelamin itu dapat menimbulkan kenikmatan, tetapi bila salah menggunakannya dapat menimbulkan kesedihan dan kesengsaraan. Kita bisa kena penyakit kotor jika tidak hati-hati. Kendalikanlah penggunaannya hanya untuk istri kita saja. Jangan digunakan untuk orang lain yang bukan istri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1160004716679997414?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1160004716679997414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/dasa-indria.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1160004716679997414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1160004716679997414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/11/dasa-indria.html' title='Dasa Indria'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-9210008390705669111</id><published>2008-10-29T08:59:00.008+07:00</published><updated>2011-09-19T10:37:06.390+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tri Hita Karana'/><title type='text'>Tri Hita Karana</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQfD7ItVo5I/AAAAAAAAAng/lsURGOj_-9s/s1600-h/Tri+Hita+Karana.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQfD7ItVo5I/AAAAAAAAAng/lsURGOj_-9s/s320/Tri+Hita+Karana.JPG" border="0" alt="Tri Hita Karana"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262390110323057554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga penyebab kebahagiaan termaksud adalah adanya :&lt;br /&gt;1. Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;2. Hubungan baik manusia dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;3. Hubungan baik manusia dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini disampaikan penjelasannya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan Atman yang ada dalam diri manusia merupakan percikan sinar suci kebesaran Tuhan yang menyebabkan manusia dapat hidup. Dilihat dari segi ini sesungguhnya manusia itu berhutang nyawa terhadap Tuhan. Oleh karena itu umat Hindu wajib berterima kasih, berbhakti dan selalu sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa terima kasih dan sujud bhakti itu dapat dinyatakan dalam bentuk puja dan puji terhadap kebesaran Nya, yaitu :&lt;br /&gt;- Dengan bersembahyang dan melaksanakan yadnya.&lt;br /&gt;- Dengan melaksanakan Tirtha Yatra atau Dharma Yatra, yaitu kunjungan ketempat-tempat suci.&lt;br /&gt;- Dengan melaksanakan Yoga Samadhi.&lt;br /&gt;- Dengan mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hubungan baik manusia dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;Sebagai mahluk social, umat Hindu tidak dapat hidup menyendiri. Mereka memerlukan bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Karena itu hubungan antara sesamanya harus selalu baik dan harmonis. Hubungan antar manusia harus diatur dengan dasar saling asah, saling asih dan saling asuh, saling menghargai, saling mengasihi dan saling membingbing. Hubungan antar keluarga dirumah tangga harus harmonis. Hubungan dengan masyarakat lainya juga harus harmonis. Hubungan baik ini akan menciptakan keamanan dan kedamaian lahir batin di masyarakat. Masyarakat yang aman dan damai akan menciptakan Negara yang tenteram dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hubungan baik manusia dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu umat Hindu harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tenteram dalam diri manusia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-9210008390705669111?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/9210008390705669111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/tri-hita-karana.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9210008390705669111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9210008390705669111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/tri-hita-karana.html' title='Tri Hita Karana'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQfD7ItVo5I/AAAAAAAAAng/lsURGOj_-9s/s72-c/Tri+Hita+Karana.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3461343231636652606</id><published>2008-10-27T15:38:00.008+07:00</published><updated>2011-09-19T10:35:25.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Catur Prawrti, Wiweka dan Tat Twam Asi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQV-6IYKd4I/AAAAAAAAAnY/8cPO61_8M14/s1600-h/Banten.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 272px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQV-6IYKd4I/AAAAAAAAAnY/8cPO61_8M14/s320/Banten.JPG" border="0" alt="Banten"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261751276798637954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catur Prawrti merupakan empat pedoman hidup yang patut diikuti dan dilaksanakan oleh segenap umat Hindu. Keempat pedoman hidup itu adalah :&lt;br /&gt;- Arjawa artinya bersikap jujur dan menjaga kebenaran.&lt;br /&gt;- Anrsangsa artinya tidak mementingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;- Dama artinya senang mengendalikan diri.&lt;br /&gt;- Indranigraha artinya dapat mengendalikan nafsu seksual dan nafsu jahat lainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wiweka adalah perilaku yang hati-hati dan penuh petimbangan artinya tidak pernah ceroboh dalam bertindak. Wiweka selalu mempergunakan akal sehat dan pikiran yang fositif, serta selalu mengutamakan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang tidak baik. Perilaku seperti ini patut diikuti dan dilaksanakan oleh umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tat Twam Asi berasal dari kata “Tat” yang berarti “Itu”, “Twam” berarti “Kamu”, dan “Asi” berarti “adalah”. Jadi Tat Twam Asi dapat diartikan menjadi “Itu adalah Kamu”. Kata “Itu” dapat pula diartikan sebagai “Dia” sehingga Tat Twam Asi dapat bermakna “Dia adalah Kamu”. Secara bebas dapat pula diterjemahkan menjadi “Kamu adalah Dia” jadi kamu adalah dia itu adalah sama saja. Ini berarti bahwa semua manusia pada hakekatnya adalah sama. Jika dilihat dari segi Atman atau jiwanya, maka Tat Twam Asi dapat diartikan sebagai “jiwa orang itu adalah jiwa kamu”. Jadi Atman orang ini dan Atman orang itu adalah sama. Atman itu memang sama karena bersumber dari percikan sinar suci Tuhan Yang Satu. Semua manusia sebenarnya memang bersaudara.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3461343231636652606?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3461343231636652606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/catur-prawrti-wiweka-dan-tat-twam-asi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3461343231636652606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3461343231636652606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/catur-prawrti-wiweka-dan-tat-twam-asi.html' title='Catur Prawrti, Wiweka dan Tat Twam Asi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SQV-6IYKd4I/AAAAAAAAAnY/8cPO61_8M14/s72-c/Banten.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8914353162153217944</id><published>2008-10-26T16:06:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T10:35:12.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon</title><content type='html'>Wuku Kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ulihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Redite atau Minggu Wage wuku Kuningan, merupakan saat kembalinya para Dewa ke Kahyangannya masing-masing, setelah memberikan berkah keselamatan, panjang umur kepada yang ditinggalkannya, yaitu para pewaris dan penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara:&lt;br /&gt;Di sanggah, merajan, atau sejenis dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Rempah-rempah, beras dan lain sejenisnya, yang berfungsi sebagai oleh-oleh untuk bekal kembali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Pemacekan Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan setiap Coma atau senin Kliwon wuku Kuningan, 210 hari atau enam bulan sekali. Pemacekan Agung merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya kegiatan Galungan, yang dimulai dari Tumpek Wariga hingga Buda Kliwon Paang. Tujuan upacara adalah untuk mengembalikan Bhuta Galungan beserta para pengikutnya kembali ke tempat asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di depan pekarangan rumah atau lebuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;segehan agung memakai penyambleh ayam samalulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Piodalan Bhatara Wisnu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Buda atau Rebo Paing wuku Kuningan, tiga hari sebelum Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di paibon, dadia atau panti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Sirih dikapuri, putih, hijau, pinang 26 disertai tumpeng hitam serta reruntutannya, bunga-bunga harum. Dapat dilengkapi lagi dan disesuaikan dengan desa, kala, patra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penampahan Kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh pada hari Sukra atau Jumat Wage wuku Kuningan, merupakan kegiatan untuk mempersiapkan upacara dan upakara untuk hari raya Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hari Kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan setiap hari Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Kuningan, sepuluh hari setelah Galungan. Datangnya setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Pada hari Kuningan ini para Dewa, Leluhur, dan Pitra turun melaksanakan pesucian serta menikmati sesajen dan kemudian kembali ke kahyangannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di sanggah, pamerajan atau yang sejenis dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Sega, selanggi, tebong, raka-raka, pesucian, dilengkapi dengan hiasan berupa jejahitan tamiang, kolem, ter, candiga yang diletakkan pada bangunan-bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk manusia yadnya : upakara berupa :&lt;br /&gt;sesayut prayascita luwih, punjung kuning, daging itik putih, penyeneng, dan tetebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk di natar pekarangan : upakara berupa :&lt;br /&gt;Segehan agung dan upacaranya dilakukan sebelum jam 12 siang, atau sebelum tengah hari.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8914353162153217944?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8914353162153217944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_26.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8914353162153217944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8914353162153217944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_26.html' title='Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1314245815964043716</id><published>2008-10-22T19:22:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:35:02.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon</title><content type='html'>Wuku Dungulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Redite atau Minggu Paing Wuku Dungulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut hari Penyekeban, yaitu hari baik untuk memulai melaksanakan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu negatif dalam menyongsong hari raya Galungan yang akan tiba. Saat ini pula mulai turunnya Sanghyang Kala Tiga Wisesa, menjelma menjadi Ki Bhuta Galungan, menguji ketabahan dan kewaspadaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Coma atau Senin Pon Wuku Dungulan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disebut Penyajahan Galungan, bermakna sebagai hari yang baik untuk membuat persiapan jajan, sebagai lambang kesungguhan hati. Saat ini turun Sang Bhuta Dungulan masih memuji ketabahan dan kewaspadaan manusia dalam menyambut Galungan tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anggara atau Selasa Wage Wuku Dungulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut hari Penampaan Galungan. Saat ini baik dipakai untuk memotong hewan seperti babi yang dijadikan sarana upakara Galungan berupa : sate, lawar, dan lain sejenisnya. Pada hari Penampaan ini Sang Bhuta Amangkurat, yaitu bhuta yang paling hebat menguji ketabahan dan kewaspadaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara dilaksanakan&lt;br /&gt;Di natar atau halaman rumah (lebuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Segehan warna tiga berjejer, terdiri atas : warna putih 5 tanding, merah 9 tanding, dan hitam 4 tanding, memakai daging olahan dari babi yang lengkap berisi tetabuhan arak, berem, tuak, dan toya hening, serta segehan agung.&lt;br /&gt;Sore harinya menjelang malam, semua anggota keluarga kecuali anak-anak yang belum tanggal giginya, dilaksanakan upacara mabyakala, maprayascita, setelah selesai dilanjutkan dengan memasang penjor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Galungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Buda atau Rebo Kliwon wuku Dungulan, setiap 210 hari atau enam bulan sekali sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Juga dikenal dengan nama hari Pawedalan Jagat, yang bermakna untuk memusatkan pikiran agar suci dan bersih disertai dengan melaksanakan upacara-upacara persembahan kehadapan para Dewa dan leluhur di semua tempat-tempat suci yang ada yaitu dari perumahan sampai ke parahyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk di sanggar, pemerajan, parhyangan terdiri atas tumpeng payas, pesucian, dan wangi-wangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk di balai-balai terdiri atas : tumpeng pengambyan, jerimpen pajegan, sodan memakai daging babi diolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada semua bangunan dipersembahkan upakara seperlunya, sesuai dengan desa, kala, dan patra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Umanis Galungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan setiap hari Wraspati atau Kamis Umanis wuku Dungulan, sehari setelah Galungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Untuk di sanggar, merajan, atau sejenis dengan itu, mempersembahkan wangi-wangian, air kumkuman, asep (dupa), dan setelah itu mohon tirtha Galungan.&lt;br /&gt;Untuk ni natar sanggah : menghaturkan segehan sesuai dengan desa, kala, dan patra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pemaridan Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan setiap hari Saniscara atau Sabtu Pon wuku Dungulan. Upacaranya bermakna untuk pembersihan terhadap diri pribadi dan memohon tirtha pada pendeta. Selesai itu dilanjutkan dengan nyurud banten berupa “Tumpeng Guru” di Sanggah Kemulan bersama-sama keluarga, yang bermakna untuk memohon berkah keselamatan secara lahir dan bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di sanggah atai merajan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upakara terdiri atas :&lt;br /&gt;Ketupat banjotan atau kelan dampulan, canang meraka, dan wangi-wangian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1314245815964043716?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1314245815964043716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_22.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1314245815964043716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1314245815964043716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_22.html' title='Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-9125428222098578599</id><published>2008-10-21T15:28:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:36:01.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon</title><content type='html'>Wuku Ukir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Piodalan Bhatara Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Redite atau Minggu Umanis wuku Ukir setiap 210 hari atau enam bulan sekali, Bhatara Guru adalah menifestasi Hyang Widhi Wasa yang memberikan tuntunan pada keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan upacaranya :&lt;br /&gt;Di sanggah kemulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Pengambyan 1, sedah ingapon atau sirih diberi kapur sebanyak 25 lembar, kewangen 8 buah. Upakara ini dapat di tambahi lagi, sesuaikan dengan desa, kala, dan patra.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wuku Kulantir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Piodalan Bhatara Mahadewa&lt;br /&gt;Dirayakan setiap Anggara atau Selasa wuku Kulantir 210 hari atau enam bulan sekali. Mahadewa adalah manifestasi dari Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di Sanggah/Pamerajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Sega kuning sapangkonan, memakai daging ayam berbulu kuning dijadikan betutu, sedah woh, sirih, dan pinang dikapuri 22 lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuku Wariga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tumpek Wariga juga disebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpek Pengatag, Pengarah, Bubuh, Uduh. Dirayakan pada hari Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Wariga setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Pada Tumpek Wariga merupakan Piodalan Bhatara Sangkara, yaitu manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Pada salah satu tumbuh-tumbuhan yang dipakai mewakilinya, dapat dibuatkan sebuah tempat untuk meletakkan upakaranya berupa asegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara terdiri atas :&lt;br /&gt;Peras, tulung, sasayut cakrageni, tumpeng bubur, tumpeng agung, dagingnya babi atau itik, penyeneng, raka-raka, dan tetebus.&lt;br /&gt;Tujuan upacara :&lt;br /&gt;Memohon agar semua jenis tumbuh-tumbuhan dapat hidup sempurna dan dapat dipakai sarana untuk kehidupan semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangannya :&lt;br /&gt;Saat ini tidak dibenarkan memetik hasilnya, memotong atau mematikan pohonnya. Baik dipakai sebagai hari untuk menanam bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuku Warigadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pawedalan Bhatara Brahma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Saniscara atau Sabtu Paing wuku Warigadian , setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Bhatara Brahma merupakan manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai pencipta segala yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di paibon, dadia, panti dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Sirih, pinang, dan perlengkapan sebatas kemampuan, bunga-bunga harum atau wangi-wangian, serta dapat disesuaikan dengan desa, kala dan patra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuku Sungsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sugihan Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering juga disebut hari Parerebuan. Dirayakan pada hari Wraspati atau Kamis Wage wuku Sungsang, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Sugihan Jawa merupakan hari pesucian para Dewa dan Bhatara yang bersthana di Sanggah, Pemerajan, dan tempat-tempat suci lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Sanggah, Pemerajan, dan tempat-tempat suci yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Disanggah pemerajan :&lt;br /&gt;Parerebuan lengkap dengan pesucian.&lt;br /&gt;Untuk keluarga : Sesayut.&lt;br /&gt;Untuk rohaniawan :&lt;br /&gt;Malamnya mengadakan renungan suci dengan bunga harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sugihan Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Sukra atau Jumat Kliwon wuku Sungsang, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Pada hari ini umat Hindu diwajibkan melaksanakan pembersihan terhadap diri pribadi dengan metirtha seperti yang sudah-sudah dilaksanakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-9125428222098578599?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/9125428222098578599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_21.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9125428222098578599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9125428222098578599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_21.html' title='Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-925246622247880591</id><published>2008-10-20T15:57:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T10:34:48.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Ripu'/><title type='text'>Sad Ripu</title><content type='html'>Sad Ripu adalah enam jenis sifat yang tidak baik. Sad Ripu berasal dari kata “Sad” yang berarti enam dan “Ripu” yang berarti musuh. Jadi Sad Ripu berarti enam musuh yang ada di dalam diri manusia. Umat Hindu, seyogyanya dapat melenyapkan Sad Ripu yang ada dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam jenis musuh yang harus dibasmi dari dalam diri manusia itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Kama atau Hawa Nafsu&lt;br /&gt;Setiap orang tentu mempunyai nafsu. Tetapi nafsu itu harus dikendalikan. Umat manusia harus dapat mengendalikan hawa nafsunya agar tidak menghacurkan  dirinya sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkendali bukan saja akan merusak dirinya sendiri, tetapi juga dapat pula mesusahkan orang lain. Karena itu agama Hindu mengajarkan agar umatnya selalu mengendalikan panca indrianya, mengendalikan dan mengekang hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Loba atau Rakus&lt;br /&gt;Orang yang rakus selalu ingin memiliki lebih dari apa yang sepantasnya dimiliki. Keinginan untuk memiliki yang berlebihan itu akan dipenuhinya dengan jalan apapun, meski bertentangan dengan ajaran agama. Umat Hindu hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan rakus, karena perbuatan itu bukan saja menyusahkan orang lain, tetapi pada gilirannya dapat menyusahkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kroda atau Marah&lt;br /&gt;Umat Hindu semestinya dapat mengendalikan diri dan tidak lekas marah. Perbuatan marah dapat menyusahkan atau menimbulkan kekecewaan bagi orang lain. Karena itu manusia perlu mengendalikan diri dan menghindari perbuatan marah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Moha atau bingung&lt;br /&gt;Pikiran yang bingung tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Kecendrungan orang yang bingung adalah selalu berbuat yang negative dan menyusahkan orang lain sampai kepada membunuh orang lain atau membunuh dirinya sendiri. Agar tidak terjadi kebingungan, manusia hendaknya selalu mengendalikan dirinya, selalu mentaati ajaran-ajaran agamanya, sehingga dapat hidup tenang dan tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mada atau Mabuk&lt;br /&gt;Orang yang mabuk akan lupa dengan dirinya sendiri maupun kawan-kawannya. Dalam keadaan demikian orang itu akan cenderung untuk berbuat yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Umat Hindu hendaknya selalu menjauhkan diri dari perbuatan mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Matsarya atau Irihati&lt;br /&gt;seseorang belum tentu senang melihat orang lain hidup berbahagia. Belum tentu senang melihat orang lain hidup berkecukupan. Orang itu mungkin merasa disaingi atau merasa dikalahkan gengsinya, sehingga timbul rasa irihatinya. Akibatnya timbullah rencana jahat untuk mengalahkan saingannya dengan berbagai cara. Perbuatan ini tidak sesuai dengan ajaran agama. Umat hindu hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didamping Sad Ripu termasuk diatas, kita juga mengenal apa yang dinamakan Sad Mitra. Keduanya mempunyai enam unsure yang sama, yaitu Kama, Loba, Kroda, Moha, Mada dan Matsarya, tetapi dengan pengertian yang berlawanan. Kalau Sad Ripu merupakan perilaku buruk (negatif), maka Sad Mitra adalah tata laku yang baik dalam pengertian yang fositif.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-925246622247880591?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/925246622247880591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/sad-ripu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/925246622247880591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/925246622247880591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/sad-ripu.html' title='Sad Ripu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4663288731307367436</id><published>2008-10-19T16:17:00.010+07:00</published><updated>2011-09-19T10:34:46.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tri Kaya Parisudha'/><title type='text'>Tri Kaya Parisudha</title><content type='html'>Perbuatan baik berikutnya yang akan dibahas adalah apa yang dinamakan Tri Kaya Parisudha, dengan urutan seperti dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Tri Kaya Parisudha :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara amat sedehana Tri Kaya Parisudha dapat diartikan sebagai berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik. Tri Kaya Parisudha berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Kaya” berarti perilaku atau perbuatan dan “Parisudha” yang berarti baik, bersih, suci, atau disucikan. Dengan kata lain, pikiran itu harus baik, perkataan itu harus baik dan perbuatan itupun harus baik. Tri Kaya Parisudha dapat juga dilihat dari segi Tri Kaya itu sendiri. Tri Kaya artinya tiga (sumber) perbuatan. Tri artinya tiga. Kaya artinya perbuatan, kegiatan atau wujud. Ketiga kegiatan dimaksud adalah manah (pikiran), wak atau waca (perkataan) dan kaya (perbuatan).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik, sehingga terwujudlah perbuatan yang baik. Jadi intinya adalah sama, yaitu bahwa pikiran, perkataan dan perbuatan itu harus baik. Dasarnya adalah dari pikiran yang baik. Dengan pikiran yang baik, orang akan berkata yang baik pula. Jadi semua dipengaruhi oleh pikiran. Karena itulah maka orang harus selalu menguasai dan mengendalikan pikirannya, menjaga gerakan dan ketenangan pikirannya, sebab hanya dengan pikiran yang terkendali, tenang dan tenteram sajalah orang dapat berkata dan berbuat baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Tri Kaya Parisudha dalam Agama Hindu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Kaya Parisudha termasuk dalam Samanya Dharmasastra yaitu etika agama Hindu yang berlaku umum dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Skema Kerangka Dasar Agama Hindu dan Skema Etika Agama Hindu sudah ditunjukkan dimana posisi Tri Kaya Parisudha dalam Agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-Bagian Tri Kaya Parisudha :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah disinggung diatas, Tri Kaya Parisudha terdiri atas tiga bagian berikut ini :&lt;br /&gt;1. Manacika atau berpikir yang baik&lt;br /&gt;2. Wacika atau berkata yang baik&lt;br /&gt;3. Kayika atau berbuat yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap, dibawah ini disampaikan uraian lebih lanjut mengenai ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Manacika atau berpikir yang baik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manas atau manah itu berarti pikiran. Manacika dapat diartikan sebagai segala perilaku yang berhubungan dengan pikiran. Pikiran adalah inti dari segalanya. Dari ketiga unsure Tri Kaya Parisudha, pikiran adalah paling pokok, yang dapat menimbul adanya perkataan maupun perbuatan. Karena itu pikiran adalah paling penting untuk dikendalikan. Adapun pengendalian pikiran itu dapat dilaksanakan dengan cara-cara seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biasakanlah berpikir dan bersikap welas asih atau kasih sayang terhadap sesama mahkluk dan memupuknya secara terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Belajarlah mengendalikan diri, agar rasa iri dan dengki dapat ditiadakan dan tidak timbul lagi dalam pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sibukkanlah diri dengan rajin bekerja, sehingga tidak ada kesempatan bagi pikiran untuk ngelamun atau memikirkan yang bukan-bukan. Sibuk dengan pekerjaan sendiri, tentunya tidak akan ada peluang untuk memikirkan hal yang aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tanamkan terus pikiran dan sikap pengendalian diri yang baik, sehingga kita mudah memberi maaf kepada orang lain dan tidak cepat marah maupun putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- selalulah berpikir yang baik dan benar, sehingga nafsu atau keinginan buruk yang timbul karena pengaruh lingkungan dan panca indriya, dapat ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biasakanlah berpikir, berkata dan berbuat yang baik, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berbudi luhur dan beriman teguh antara lain dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan Samadhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wacika atau berkata yang baik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata-kata atau berbicara itu amatlah penting artinya, baik bagi kita sendiri maupun bagi orang yang mendengarkannya. Karena itu sebelum berkata atau berbicara, pikirkanlah dulu masak-masak akan akibatnya. Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Demikianlah kata peribahasa yang patut kita pahami. Dan janganlah sembarangan berbicara. Jangan pula asal berbicara atau asal berbunyi. Perkataan pada hakekatnya adalah penyampaian isi hati, karena itu hati-hatilah, jangan sampai orang lain merasa tersinggung atau sakit hati. Jangan katakan kepada orang lain siapapun juga orangnya, apa yang anda sendiri tidak senang. Setiap orang hendaknya berkata dengan baik dan benar. Berkata yang baik dan benar inilah dinamakan Wacika Parisudha. Setiap kata-kata dapat menimbulkan akibat yang baik maupun yang buruk. Demikianlah dengan kata-kata itu orang dapat memperoleh kebaikan maupun keburukan. Kita bisa berbahagia, bisa mendapat kesulitan, bisa mendapat teman, bahkan kitapun bisa menemui ajal, jika tidak berhati-hati dalam berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kayika atau berbuat yang baik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayika atau kaya artinya yang berkenaan dengan badan, perbuatan atau wujud atau perilaku yang berkaitan dengan badan. Dengan angota tubuh memang kita dapat menunjukkan perilaku kita. Perilaku dimaksud harus melaksanakan dengan baik dan benar. Perilaku yang baik dan benar inilah yang dinamakan Kayika Parisudha. Setiap perbuatan, apakah perbuatan baik ataukah perbuatan buruk akan dapat menimbulkan apa yang dinamakan karma. Perbuatan yang baik akan menimbulkan karma yang baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk akan menimbulkan karma buruk. Karma itu adalah pahala atau hasil dari perbuatan kita. Semua manusia tentu tidak ingin memetik karma buruk. Semua orang ingin mendapatkan karma baik. Karena itu janganlah berbuat yang tidak baik yang dapat menciptakan karma buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Tri Kaya Parisudha :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Kaya Parisudha atau berpikir yang baik, berkata baik dan berbuat baik tentu mempunyai tujuan yang sangat baik bagi masyarakat, khususnya umat Hindu. Secara umum Tri Kaya Parisudha dapat dikatakan mempunyai tujuan seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Untuk mengembangkan sifat dan sikap jujur dan setia dalam berpikir, berkata maupun berbuat bagi masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Untuk menumbuh kembangkan sikap mental yang bertanggung jawab tanpa diawasi oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Untuk menumbuhkan kesadaran guna berbuat baik dan mengenal berbagai akibat yang dapat timbul dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Untuk memberi petunjuk yang baik dan perlu dimiliki serta disadari dalam bergaul, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- untuk mengajarkan agar manusia selalu waspada dan hati-hati terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan, karena baik pikiran, perkataan maupun perbuatan itu dapat menyebabkan orang lain tidak senang, sedih atau marah, sehingga pada gilirannya dapat menimbulkan kesusahan pada diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4663288731307367436?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4663288731307367436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/tri-kaya-parisudha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4663288731307367436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4663288731307367436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/tri-kaya-parisudha.html' title='Tri Kaya Parisudha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6156255691160339645</id><published>2008-10-18T15:31:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T10:34:11.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPmfDjaNn-I/AAAAAAAAAnA/1XecsCM6DDU/s1600-h/Sarana+Prasarana+Jro+Mangku.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPmfDjaNn-I/AAAAAAAAAnA/1XecsCM6DDU/s320/Sarana+Prasarana+Jro+Mangku.JPG" border="0" alt="Sarana Prasarana Jro Mangku"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258408923325374434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wuku Landep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpek Landep atau Tumpek Senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Landep, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Tumpek Landep merupakan hari baik untuk memuja Hyang Siwa (manifestasi Hyang Widhi Wasa yang memberikan ketajaman secara lahir dan bathin. Secara lahir adalah ketajaman pada senjata atau yang sejenis dengan itu, alat-alat yang dipergunakan dalam kehidupan berupa : senjata tajam yang bentuknya lancip terbuat dari besi. Secara bathin adalah ketajaman pikiran manusia dalam mempergunakan alat-alat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di sanggah, atau yang sejenis dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Tumpeng putih kuning satu dulang, memakai daging ayam, gerih terasi bang/merah, sedah woh (sirih dan pinang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Pasupati adalah :&lt;br /&gt;Manifestasi Hyang Widi Wasa sebagai raja alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacaranya :&lt;br /&gt;Di sanggah (merajan) atau yang sejenis dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upakara berupa :&lt;br /&gt;Sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, canang wangi-wangian, pesucian. Sarana upakara ini untuk memohon semua senjata dan peralatan yang runcing-runcing, alat-alat perang serta busana-busananya yang masih ada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6156255691160339645?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6156255691160339645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_18.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6156255691160339645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6156255691160339645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu_18.html' title='Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPmfDjaNn-I/AAAAAAAAAnA/1XecsCM6DDU/s72-c/Sarana+Prasarana+Jro+Mangku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-9166569011771904162</id><published>2008-10-17T15:36:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T10:32:31.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><title type='text'>Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPhPl2fDcrI/AAAAAAAAAhM/G8_WvDLG_dk/s1600-h/Banten.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPhPl2fDcrI/AAAAAAAAAhM/G8_WvDLG_dk/s320/Banten.JPG" border="0" alt="Banten"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258040076654572210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wuku Sinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Banyu Pinaruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Redite atau Minggu Paing Wuku Sinta setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Pada saat ini pagi-pagi sekali dilaksanakan pembersihan ke tempat-tempat pemandian, kemudian memercikinya dengan air kumkuman. Selain itu, dilanjutkan dengan menghaturkan upakara di tempat-tempat suci masing-masing, dengan upakara berupa sega atau nasi kuning, jamu, dan air kumkuman, yang dibeberapa tempat disebut “labaan”, lengkap berisi lauk pauk, saur kacang-kacangan, telur, daging ayam, kecarum, mentimun, terung dan lain sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Coma Ribek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Coma atau Senin Pon wuku Sinta, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Coma Ribek, merupakan hari baik untuk memuja Sri Amrta (manifestasi Hyang Widhi Wasa yang meberikan kemakmuran berupa : bahan makanan seperti beras, padi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacaranya, yaitu :&lt;br /&gt;- di lumbung (tempat menyimpan padi) atau di pulu (tempat menyimpan beras).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana Upakara berupa :&lt;br /&gt;Nyanyah geti-geti, grinsing, raka-raka, pisang emas, dan bunga-bunga yang harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangannya :&lt;br /&gt;Tidak dibenarkan menjual padi, menumbuk padi dan menjual beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabuh Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan pada hari Anggara atau selasa Wage wuku Sinta, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Sabuh Mas merupakan hari yang baik untuk memuja Dewa Mahadewa (manefestasi Hyang Widhi sebagai pengusaha segala kekayaan berupa mas, manik, dan mutu manikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di piyasan, persembahyangan atau sejenis dengan itu di sanggah atau pemerajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Suci 1, daksina, peras, penyeneng, sasayut mertasari, canang lenga, wangi burat wangi, pembersih atau pesucian, dan pangresikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangannya :&lt;br /&gt;Tidak dibenarkan merasa tekebur terhadap kesenangan yang bersifat kebendaan, muliakanlah ratna mutu manikan yang ada dalam diri, yaitu : jiwa kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pagerwesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirayakan  pada hari Buda atau Rebo Kliwon wuku Sinta, setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Pagerwesi merupakan hari yang baik untuk memuja Hyang Pramesti Guru (Siwa) disertai oleh Dewata Nawa Sanga untuk menyelamatkan jiwa semua makhluk ciptaan-Nya di dunia ini. Saat ini kepada para Sulinggih diharapkan supaya mengadakan pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan upacara :&lt;br /&gt;Di sanggah Kemulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana upakara berupa :&lt;br /&gt;Suci 1, daksina, peras, penyeneng, sesayut panca lingga, penek ajuman, raka-raka, dan wangi-wangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diri manusia, upakara berupa : sasayut pageh urip, prayascita, dan setelah tengah malam dilaksanakan renungan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di natar sanggah, merajan, upakara berupa : segehan panca warna dihaturkan kepada panca maha butha dilengkapi dengan segehan agung dan tetabuhannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-9166569011771904162?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/9166569011771904162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9166569011771904162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9166569011771904162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upacara-hari-raya-hindu.html' title='Upacara - Upacara Hari Raya Hindu Berdasarkan Pawukon'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPhPl2fDcrI/AAAAAAAAAhM/G8_WvDLG_dk/s72-c/Banten.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-501217227161640611</id><published>2008-10-16T15:45:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T10:32:19.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Upacara Upakara Agama Hindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPcDT1ayi4I/AAAAAAAAAhE/z5aff6e-tCk/s1600-h/Banten.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPcDT1ayi4I/AAAAAAAAAhE/z5aff6e-tCk/s320/Banten.JPG" border="0" alt="Banten"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257674729270184834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Hindu banyak sekali mempunyai hari raya. Semua hari raya itu mengingatkan umat-Nya untuk mendekatkan diri ke hadapan Hyang Widhi Wasa memohon keselamatan dan tuntunan kehidupan, karena pada dasarnya semua yang ada itu adalah merupakan ciptaan Beliau. Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna dan tinggi tingkatannya, bila di bandingkan dengan sesama ciptaan-Nya, memegang peranan yang amat penting, yaitu sebagai subyek yang menciptakan keharmonisan dalam kehidupannya. Keharmonisan dimaksud adalah berupa keseimbangan antara lahir dan bathin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran agama Hindu, hal ini dilaksanakan melalui upacara. Upacara merupakan salah satu kerangka dari agama Hindu yang paling jelas kegiatannya dapat disaksikan dimasyarakat. Pelaksanakan upacara tidak dapat dipisahkan dengan etika (susila) dan tattwa (filsafat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketiga kerangka agama itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Semua agama mempunyai upacara. Tanpa upacara, maka kegiatan agama itu tidak akan tampak kehidupannya di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara dalam agama Hindu, adalah merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam usaha menghubungkan diri dengan Hyang Widhi Wasa guna memohon tuntunan hidup dan keselamatan secara lahir dan bathin. Dalam pelaksanaan upacara-upacara tersebut, dilengkapi dengan upakara, banten, atau sesajen, yang fungsinya sebagai sarana konsentrasi atau pemusatan pikiran, karena telah diyakini bahwa kemampuan manusia sangat terbatas adanya. Semua jenis upakara mengandung makna simbolis filosofis yang tinggi dan mendalam, bila di kaji secara mendalam lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-501217227161640611?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/501217227161640611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upakara-agama-hindu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/501217227161640611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/501217227161640611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/upacara-upakara-agama-hindu.html' title='Upacara Upakara Agama Hindu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SPcDT1ayi4I/AAAAAAAAAhE/z5aff6e-tCk/s72-c/Banten.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5186004066647356772</id><published>2008-10-03T12:34:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T10:32:08.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Bersembahyang itu Menghadap Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOWvNQeP1dI/AAAAAAAAAg8/KCHkvP-2kXY/s1600-h/Persembahyangan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOWvNQeP1dI/AAAAAAAAAg8/KCHkvP-2kXY/s320/Persembahyangan.JPG" border="0" alt="Nunas Wangsuh pada (Nunas Tirtha)"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252797182692546002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersembahyang sebenarnya sama dengan menghadap Tuhan. Kalau menghadap manusia saja, apalagi yang mempunyai kedudukan social atau jabatan tinggi kita berusaha tampil dengan prima dan penuh santun, mengapa ketika menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa, sikap kita justru seringkali cuek dengan tata karma. Memang tidak dapat di pungkiri begitulah kenyataan. Seringkali kita terutama umat yang memang ingin serius ngaturang sembah dikecewakan oleh ulah sebagian umat yang sembahyang “asal puput”. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak diatur secara tertib, umat juga ingin seenaknya cepat selesai sembahyang. Datang tidak beraturan, mengambil tempat duduk tanpa mengindahkan pemedek yang sedang khusuk sembahyang. Malah terkadang melangkahi alat persembahyangan yang ada di depan kita. Semua itu memang sangat mengecewakan umat yang ingin khusuk menghadap-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keadaan itu di biarkan setiap pura sesungguhnya proses persembahyangan tidak terpenuhi, itu berarti proses persembahyangan yang dilakukan dalam suasana tidak beraturan itu sepertinya akan sia-sia. Yang nampak hanyalah acara pesembahyangan secara formalitas belaka. Ibarat orang menghadap atasan, yang nampak hanya penampilan fisik saja “dibuat baik” walaupun di dalam hatinya bertolak belakang. Tetapi, dalam hal menghadap Tuhan tidak bisa begitu. Semuanya berawal dari keadaan “dalam” diri kita (batin hening, hati damai, perasaan tenang dan pikiran terkonsentrasi) baru kemudian terealisasi dalam bentuk sikap yang bertata krama dalam persembahyangan (tertib, teratur dan santun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila persyaratan mendasar ini telah di penuhi haruslah acara persembahyangan dimulai (secara perorangan atau bersama). Dan sebagaimana sudah disebutkan pedoman oleh PHDI, sepatutnya acara persembahyangan baik perorangan ataupun bersama dimulai dati tata cara baku ngaturang sembah. Mulai dari Asana mengambil sikap duduk yang nyaman (silasana, padmasana atau bajrasana) lalu menenangkan pikiran baru dimulai dengan Pranayama (mengatur nafas agar tenang dan konsentrasi) lanjut karosodana (membersih-sucikan tangan) dan kemudian Tri Sandhya lalu Panca Sembah serta diakhiri dengan nunas wangsuh pada dan bija. Tata cara dan urutan persembahyangan ini sudah menjadi pedoman baku yang selayaknya diikuti pada setiap kali melakukan persembahyangan. Dengan begitu acara persembahyangan akan dapat berphahala, tidak sia-sia seperti yang sering kali mengecewakan kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5186004066647356772?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5186004066647356772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/bersembahyang-itu-mengahadap-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5186004066647356772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5186004066647356772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/10/bersembahyang-itu-mengahadap-tuhan.html' title='Bersembahyang itu Menghadap Tuhan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOWvNQeP1dI/AAAAAAAAAg8/KCHkvP-2kXY/s72-c/Persembahyangan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5542666363418264252</id><published>2008-09-30T13:50:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:31:52.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Petikan Kekawin Arjuna Wiwaha</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOHM1_MVwuI/AAAAAAAAAg0/IHut4pscCm0/s1600-h/Arjuna.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOHM1_MVwuI/AAAAAAAAAg0/IHut4pscCm0/s320/Arjuna.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251703868359033570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Tuha buru temahan mong&lt;br /&gt;Sakteng sattwa dahatika&lt;br /&gt;Tuha rawa wuhayekan dadyaning&lt;br /&gt;Dredha ring iwak&lt;br /&gt;Sakatilinganing ambek&lt;br /&gt;Tan wyarthan dadi kapitut&lt;br /&gt;Taya mara ya katrshnan&lt;br /&gt;Byaktekang taya ketemu&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arti : I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Pemburu akan menjelma menjadi macan karena terlalu asyik melakukan perburuan terhadap binatang.&lt;br /&gt;- Penangkap ikan itu akan menjelma menjadi buaya karena terlalu asyik melakukan pembunuhan terhadap ikan.&lt;br /&gt;- Apa yang dituju dengan sungguh-sungguh hati, tidak akan sia-sia menjumpai apa yang ditujunya itu.&lt;br /&gt;- Jika nirwana yang ditujunya, maka nirwana pula yang dijumpainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arti II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pemburu yang ahli menjelma harimau, karena sangat senang-senang kepada binatang.&lt;br /&gt;- Nelayan yang ahli menjadi buaya itu penjelmaan orang yang senang kepada ikan.&lt;br /&gt;- Segala yang diingat memusat dalam pikiran, tidak sia-sia pasti akan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;- Tuhan yang selalu dicintai / diingat tentu Tuhan yang dijumpai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5542666363418264252?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5542666363418264252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/petikan-kekawin-arjuna-wiwaha.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5542666363418264252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5542666363418264252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/petikan-kekawin-arjuna-wiwaha.html' title='Petikan Kekawin Arjuna Wiwaha'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SOHM1_MVwuI/AAAAAAAAAg0/IHut4pscCm0/s72-c/Arjuna.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4181511524225682704</id><published>2008-09-27T14:04:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:31:42.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Tegak Odalan bisa Diubah Lagi?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SN3b3A8icPI/AAAAAAAAAgs/wqMtFTjTUVM/s1600-h/Odalan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SN3b3A8icPI/AAAAAAAAAgs/wqMtFTjTUVM/s320/Odalan.JPG" border="0" alt="Odalan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250594478777069810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Odalan atau piodalan pada hakikatnya adalah peringatan hari kelahiran (hari jadi) sebuah pura, semacam perayaan ulang tahun kalau pada manusia. Kalau pada manusia, hari jadi atau ultahnya diperingati berdasarkan perhitungan saat kelahiran menurut penanggalan (hari, tanggal, bulan dan tahun). Sedangkan kalau untuk pura atau kahyangan peringatan “tegak odalan” ditentukan berdasarkan perhitungan sasih atau wewaran terutama memadukan sapta wara dan panca wara serta wuku. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika didasarkan atas perhitungan sasih maka umumnya selalu di kaitkan dengan saat datangnya bulan sempurna (purnama). Sehingga odalan atau piodalan yang berdasarkan sasih selalu mangambil saat purnama. Maka begitulah banyak pura yang  “tegak odalannya” jatuh pada Purnama dengan sasih yang berbeda-beda, dan datangnya setiap setahun sekali. Sementara itu apabila didasarkan atas perhitungan wewaran dan wuku, maka tegak odalan sebuah pura akan dating 210 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah diketahui dasar-dasar perhitungan “tegak odalan”, maka untuk menjatuhkan satu pilihan lagi odalan sebuah pura ditentukan atau diputuskan berdasarkan waktu atau saat diadakan upacara “pemelaspas” atau “ngenteg lingih” dari pura tersebut. Kapan saat pemelaspas atau ngenteg linggihnya, saat itulah biasanya dijadikan sebagai “tegak odalan” berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal adanya keinginan untuk mengubah atau mengganti saat “tegak odalannya” tidaklah masalah, sepanjang sudah menjadi kesepakatan karma penyungsung, pengemong atau pengempon pura tersebut. Dan tentunya kesepakatan sekala itu wajib disampaikan (matur piuning) ke hadapan Ida Bhatara yang malingga di pura tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal “nyejer” (perpanjangan waktu ngaturang bhakti) bisa diadakan bisa juga tidak. Semuanya tergantung pada kepentingan dan kondisi karma penyungsung. Yang jelas ada atau tidak “nyejer” odalan atau piodalan yang menjadi inti perayaan atau upacara peringatan hari jadi di pura tersebut sudah berjalan dan sidhakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir tentang waktu (dauh inti atau dauh ayu) dari pelaksanaan odalan itu, dapat ditentukan berdasarkan saringan dari pertemuan Panca Dauh dan Asta Dauh, tergantung dina (hari) dan kala (siang atau malam). Misalnya untuk odalan yang jatuh pada hari Saniscara, maka dauh inti (waktu terbaik) di kala siang adalah pukul 11.30 – 12.42, sedangkan di kala malam pukul 22.18 – 23.30. Di luar waktu dauh inti itu apalagi sampai kelewatan, maka “tegak odalan” di pura tersebut sudah bergeser ke hari lain atau moment odalan saat itu tidak lagi berada di saat yang tepat (terbaik).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4181511524225682704?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4181511524225682704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/tegak-odalan-bisa-diubah-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4181511524225682704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4181511524225682704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/tegak-odalan-bisa-diubah-lagi.html' title='Tegak Odalan bisa Diubah Lagi?'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SN3b3A8icPI/AAAAAAAAAgs/wqMtFTjTUVM/s72-c/Odalan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7316760423750352214</id><published>2008-09-23T13:02:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T10:31:35.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Bisakah Pemangku Muput Odalan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIUzYMalI/AAAAAAAAAgU/Ye14ZteieaY/s1600-h/Pemangku1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIUzYMalI/AAAAAAAAAgU/Ye14ZteieaY/s320/Pemangku1.JPG" border="0" alt="Pemangku"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249095256670759506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemangku adalah rohaniawan Hindu yang termasuk ekajati dan tergolong sebagai pinandita serta telah menjalani upacara yadnya berupa “pawintenan” sampai dengan “Adiksa Widhi”. Dilihat dari tingkatannya, ada yang namanya pemangku tapakan Widhi pada Sad Kahyangan, Dang Kahyangan, Kahyangan Tiga, termasuk Paibon, Panti, Pedharman, Merajan dan sejenisnya. Satu lagi ada yang disebut sebagai pemangku dalang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemangku, pedoman yang digunakan untuk menjalankan tugasnya adalah Sasana Pemangku yang menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan Gagelaran Pemangku atau Agem-agem (lontar Kusuma Dewa, Sangkul Putih dll), lalu Hak Pemangku (bebas ayahan, menerima sesari, mendapat bagian dari hasil laba pura, dll) dan juga Beberatan Pemangku serta Wewenang Pemangku.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIVCPbyPI/AAAAAAAAAgc/ceHQRcDm0Ns/s1600-h/Pemangku2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIVCPbyPI/AAAAAAAAAgc/ceHQRcDm0Ns/s320/Pemangku2.JPG" border="0" alt="Pemangku"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249095260660549874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIVrNN_PI/AAAAAAAAAgk/uoKV3Os_LWY/s1600-h/Pemangku3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIVrNN_PI/AAAAAAAAAgk/uoKV3Os_LWY/s320/Pemangku3.JPG" border="0" alt="Pemangku"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249095271657110770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di mana seorang Pemangku karena alasan tertentu akhirnya bertindak sebagai “Sang Pemuput Karya odalan” dapat dibenarkan. Acuannya adalah Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang menyakut perihal “Batas-batas dan Wewenang Muput Upacara/Upakara Yadnya”. Di mana khusus yang berkaitan dengan wewenang pemangku (pinandita) dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pinandita berwenang menyelesaikan (muput) upacara puja wali atau odalan sampai tingkat piodalan pada pura yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apabila pinandita menyelesaikan upacara di luar pura atau jenis upacara atau upakara yadnya tersebut bersifat rutin seperti puja wali atau odalan, manusia yadnya, bhuta yadnya, yang seharusnya dipuput dengan tirtha sulinggih, maka pinandita boleh menyelesaikan dengan nganteb serta menggunakan tirtha sulinggih selengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pinandita berwenang menyelesaikan upacara rutin di dalam pura dengan nganteb atau mesehe serta memohon tirtha kehadapan Hyang Widhi dan Bhatara-Bhatari yang melinggih atau bersthana di pura tersebut termasuk upacara yadnya membayar kaul dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam menyelesaikan upacara Bhuta Yadnya atau Caru, pinandita diberi wewenang muput upacara Bhuta Yadnya tersebut maksimal sampai dengan tingkat “Panca Sata” dengan menggunakan tirtha sulinggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalam Hubungan muput upacara Manusia Yadnya, pinandita di beri wewenang dari upacara lahir sampai dengan otonan biasa dengan menggunakan tirtha sulinggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalam hubungan muput upcara Pitra Yadnya, Pinandita diberi wewenang sampai pada mendem sawa sesuai dengan Catur Dresta. Jadi , seorang pemangku mempunyai wewenang untuk “muput karya” termasuk menjadi pemimpin dalam upacara odalan, terutama di pura di mana pemangku tersebut “ngamong”. Tidak saja dapat menggantikan sulinggih yang seharusnya atau biasanya “muput odalan” tetapi bisa langsung ditunjuk atau ditetapkan sebagai “Sang Pemuput Karya Odalan”, tentunya dengan tetap memperhatikan tingkatan dari upacara atau upakara yang dilaksanakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7316760423750352214?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7316760423750352214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/bisakah-pemangku-muput-odalan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7316760423750352214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7316760423750352214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/bisakah-pemangku-muput-odalan.html' title='Bisakah Pemangku Muput Odalan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNiIUzYMalI/AAAAAAAAAgU/Ye14ZteieaY/s72-c/Pemangku1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-932147253931447095</id><published>2008-09-20T14:00:00.003+07:00</published><updated>2011-09-19T08:12:25.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Atma'/><title type='text'>Teman Sang Atma</title><content type='html'>Agama Hindu tidak mendoktrinkan ajarannya sebagai penjamin bahwa seseorang terutama ketika sudah meninggal akan otomatis mendapat sorga atu mencapai moksha hanya dengan melaksanakan upacara Pitra Yadnya (Ngaben) sesuai ketentuan padewasan yang sangat tepat dan disertai dengan iringan doa atau puja mantra seorang sulinggih yang mumpuni. Jika jaminan itu ada, alangkah mudahnya mencapai sorga atau moksha. Artinya seseorang yang semasa hidupnya berperilaku asubhakarma atau adharma tetapi mempunyai harta berlebihan tentunya bisa dengan mudah mencapai alam sorga dan atau moksha. Sebab dia mempunyai uang untuk menyelenggarakan upacara pengabenan dalam tingkatan uttama (besar) sekalipun, dan dengan jumblah sulinggih yang bisa ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jadi demikian persoalannya, uang atau materi agaknya telah menjadi penentu atau penjamin bagi pencapaian tujuan hidup umat Hindu. Bagi yang berkemampuan (kaya materi) tentu bukan masalah tetapi bagi orang yang miskin tentu akan lebih banyak menjadi penghuni neraka. Sementara alam sorga akan mejadi tempat bagi orang-orang yang semasa hidupnya kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi agama Hindu melalui ajaran Catur Purusartha telah ditegaskan bahwa melalui dharma kita wajib mencari artha guna memenuhi kama yang pada akhirnya merupakan bekal dalam mencapai moksha. Namun diingatkan artha bukanlah segala-galanya. Artha memang perlu bahkan penting untuk menunjang kelangsungan hidup dan kehidupan, tetapi artha tidak bersifat mutlak. Sebab artha hanya berfungsi sebagai alat bukan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dewasa yang baik dan tepat, tingkatan upacara ngaben yang utama disertai dengan iringan puja mantra yang sulinggih juga merupakan alat Bantu yang bersifat ritual dan spiritual. Dewasa, upacara yadnya dan puja-puja sulinggih betapun tepat, utama dan mumpuninya tetap berbeda pada posisi sebagai upaya permohonan dan atau pengharapan dari pihak keluarga agar sang mati atmanya mendapat jalan yang baik dan benar dan selanjutnya memperoleh alam sorga atau mungkin bisa bersatu kembali pada sang Paramatma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal apakah upaya itu berhasil atau tidak hanya Hyang Widhi yang maha penentu. Lagi pula sebagaimana disuratkan di dalam Kekawin Arjuna Wiwaha, bahwa “segala harta benda dan kebesaran di dunia ini tidak akan di bawa mati. Adanya artha hanya sebentar menunggu selama kita masih hidup, jika kita mati artha akan kembali berbohong. Dan yang akan setia mengikuti kemanapun kita pergi adalah sifat-sifat guna itu sendiri. “Kitab Niti Satra III.2 menambahkan : “tempat terakhir dari harta benda itu adalah sampai dirumah saja, tidak dapat di bawa mati, orang yang melayat dan keluarga sendiri hanya menghantarkan sampai di kuburan lalu pulang  sambil menangis. Hanya karma/kerja yang baik atau buruk saja yang akan menghantarkan kita ke akhirat. “Demikianlah, bahwa teman setia sang atma untuk bisa mencapai sorga/moksha adalah karma sedang dewasa, upacara yadnya atau puja mantra hanyalah sebagai media penghantar semata.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-932147253931447095?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/932147253931447095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/teman-sang-atma_20.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/932147253931447095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/932147253931447095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/teman-sang-atma_20.html' title='Teman Sang Atma'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3516621565398041724</id><published>2008-09-18T18:41:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T08:12:04.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putu Surya Yudistira'/><title type='text'>Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_A9Y_rUI/AAAAAAAAAfU/cZofi5anA3M/s1600-h/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(1).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_A9Y_rUI/AAAAAAAAAfU/cZofi5anA3M/s320/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(1).JPG" border="0" alt="Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247325801551998274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BMlKNyI/AAAAAAAAAfc/gzFpp1Cj748/s1600-h/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(2).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BMlKNyI/AAAAAAAAAfc/gzFpp1Cj748/s320/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(2).JPG" border="0" alt="Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247325805629552418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BDipy_I/AAAAAAAAAfk/aLFxcQ_0XKk/s1600-h/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(3).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BDipy_I/AAAAAAAAAfk/aLFxcQ_0XKk/s320/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(3).JPG" border="0" alt="Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247325803203120114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BInm44I/AAAAAAAAAfs/6Z1cOxN5ICs/s1600-h/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(4).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BInm44I/AAAAAAAAAfs/6Z1cOxN5ICs/s320/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(4).JPG" border="0" alt="Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247325804566078338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BRNdgjI/AAAAAAAAAf0/g_jWJn3mP5U/s1600-h/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(5).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_BRNdgjI/AAAAAAAAAf0/g_jWJn3mP5U/s320/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(5).JPG" border="0" alt="Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247325806872330802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah senangnya kita sebagai orang tua, bisa membelikan mainan baru kepada anak kita, contohnya sepeda baru ini, karena surya tidak mau pernah diem, selalu mondar-mandir kalau lagi tidak di gendong yang membuatnya sering jatuh lalu terluka, mungkin karena lagi masa-masa aktifnya dia bergerak, mungkin dengan sepeda baru ini kita bisa mengajaknya berjalan-jalan kesana-kemari dan bisa selalu mengawasinya, sekarang surya sudah lebih gampang memberinya maem semenjak ada sepeda baru ini, kita tinggal menyuapinya dan dia duduk di sepeda sambil menekan-nekan tombol yang berbunyi seperti mainan anak-anak pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3516621565398041724?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3516621565398041724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/sepeda-baruku-di-belikan-oleh-ibu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3516621565398041724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3516621565398041724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/sepeda-baruku-di-belikan-oleh-ibu.html' title='Sepeda Baruku di Belikan oleh Ibu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNI_A9Y_rUI/AAAAAAAAAfU/cZofi5anA3M/s72-c/Sepeda+Baruku+di+Belikan+oleh+Ibu+(1).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3689490372424588294</id><published>2008-09-17T12:59:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T08:13:00.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Upacara Agama Wujud Catur Yoga</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPDVPcTI/AAAAAAAAAeM/3bM5i1Tum2U/s1600-h/Sanggah+Kamulan+(Surya).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPDVPcTI/AAAAAAAAAeM/3bM5i1Tum2U/s320/Sanggah+Kamulan+(Surya).JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan (Surya)"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246868646827880754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Upacara agama yang dalam penerapannya disertai dengan upacara/banten dalam struktur hukum Hindu tergolong Acara Agama. Dalam kitab Manawadharmasastra II. 6 dinyatakan bahwa Acara Agama itu pada hakikatnya merupakan pelaksanaan ajaran-ajaran agama melalui tradisi dalam masyarakat. Atau dengan kata lain, melalui upacara agama isi Weda dapat direalisasi melalui bentuk-bentuk tradisi. Karena itu upacara agama pada dasarnya adalah tradisi Weda atau Weda yang ditradisikan. Hanya saja patut dicermati bahwa tidak semua tradisi itu merupakan pengejawantahan ajaran Weda. Untuk itu, sikap yang wajib dikebangkan adalah dengan selalu mengambil pijakan pada Weda untuk meneruskan tradisi-tradisi yang sedemikian rupa sudah kita terima yang dalam bahasa Bali disebut tetamian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPVtiMJI/AAAAAAAAAeU/l5YnUua6b7U/s1600-h/Mebanten+ring+Sanggah+Kamulan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPVtiMJI/AAAAAAAAAeU/l5YnUua6b7U/s320/Mebanten+ring+Sanggah+Kamulan.JPG" border="0" alt="Upacara Naur Sesangi"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246868651761610898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah adanya bahwa upacara agama selain sudah disebutkan sebagai pengejawantahan ajaran Weda melalui tradisi, adalah benar juga dikatakan sebagai perwujudan pelaksanaan ajaran Catur Yoga yang meliputi Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga dan Raja Yoga sudah terangkum sekaligus terealisasi di dalamnya. Simak saja, suatu kegiatan upacara agama diperlukan berbagai aktivitas (gerak) untuk mendapatkan segala macam dan jenis bahan/material yang diperlukan sesuai upacara agama yang akan dilakukan. Mulai mencari janur, buah, lalu menjahitnya, nanding, kemudian menghaturkan kehadapan-Nya dan seterusnya adalah wujud nyata pelaksanaan ajaran Karma Yoga.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPXr75fI/AAAAAAAAAec/Zsef7OPetQM/s1600-h/Penunggun+Karang.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPXr75fI/AAAAAAAAAec/Zsef7OPetQM/s320/Penunggun+Karang.JPG" border="0" alt="Penunggun Karang"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246868652291778034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu pemahaman, penghayatan kita terhadap kandungan filosofis yang melandasi pelaksanaan upacara agama itu termasuk arti berbagai macam dan jenis upakara dan bantennya merupakan pengejawantahan ajaran Jnana Yoga, misalnya bunga sebagai symbol kesucian atau ketulusan hati, api lambang saksi. Begitupun ajaran Bhakti Yoga juga terpancar dari pelaksanaan upacara agama itu, terutama yang berhubungan dengan  niat dan ketulusan hati dalam penyelenggaraan suatu upacara (yadnya). Jika bhakti kita masih diliputi banyak pamrih disebut Apara Bhakti, sedangkan jika niat bhakti kita semata-mata hanya untuk menyerahkan diri setulus-tulusnya tanpa pamrih disebut Para Bhakti yang nilainya lebih tinggi dari pada Apara Bhakti. Dan terakhir, pengejawantahan ajaran Raja Yoga dalam upacara agama dapat dilihat dari sikap-sikap pengendalian /pengekangan diri (yama-niyama) yang antara lain terealisasi melalui pelaksanaan Tapa-Brata-Yoga Samadhi. Contoh, melaksanakan hari Suci Nyepi, realisasi ajaran Raja Yoganya adalah melakukan Catur Brata Penyepian dengan hati yang teguh tanpa terpengaruh oleh situasi sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, melalui upacara agama (yadnya) sesungguhnya keseluruhan ajaran Weda sudah diwujudnyatakan. Hanya saja perlu dipertajam orientasinya yaitu jangan hanya menitikberatkan (mengutamakan) aspek ritualnya saja, realisasikan juga aspek-aspek lainnya seperti aspek, mental-spiritual, social-material untuk kepentingan umat sedharma lainnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3689490372424588294?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3689490372424588294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/upacara-agama-wujud-catur-yoga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3689490372424588294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3689490372424588294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/upacara-agama-wujud-catur-yoga.html' title='Upacara Agama Wujud Catur Yoga'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SNCfPDVPcTI/AAAAAAAAAeM/3bM5i1Tum2U/s72-c/Sanggah+Kamulan+(Surya).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6622810182960825030</id><published>2008-09-14T13:27:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:12:42.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asta Brata'/><title type='text'>Astabrata</title><content type='html'>Partisipasi setiap warga negara dapat diwujudkan melalui pelaksanaan swadharma yakni tugas dan kewajiban masing-masing. Setiap orang bila mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan baik, maka sesungguhnya telah berpartisipasi untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa dan negara tercinta. Tentang tugas dan kewajiban setiap warga negara pada umumnya dan seorang pemimpin pada khususnya, ajaran agama Hindu memberikan petunjuk bagaimana seharusnya seseorang menjadi umat beragama yang baik, sekaligus pula menjadi warga negara yang patuh. Sebab hakekatnya, bila telah patuh dan mentaati ajaran agama yang menjadi keyakinan hidup, maka yang bersangkutan juga akan menjadi warga negara yang patuh dan taat pula untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya kepada bangsa dan negara. Ajaran tentang kepatuhan atau disiplin hidup ini telah terumuskan dalam Dharma Agama dan Dharma Negara. Untuk melaksanakan Dharma Negara sudah semestinya berpijak pada Dharma Agama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap warga negara termasuk umat Hindu di Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam hukum dan pemerintahan , dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hubungan antara negara dengan warga negara dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Dharma Negara.Artinya “bahwa umat Hindu melalui pendekat Dharma Negara ikut berperan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta memikul tanggung jawab masa depan bangsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45”. Demikian pula pemerintah atau negara hendaknya dapat menegakkan ajaran kepemimpinan, salah satu diantaranya yakni ajaran Astabrata sebagaimana diungkapkan dalam kekawin Ramayana.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Agama Hindu merupakan agama yang mengandung segala aspek kehidupan salah satunya mengajarkan asas kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Hindu, yang diterangkan dalam ajaran Astabrata. Perkataan Astabrata terdiri atas kata “Asta” yang artinya delapan dan “Brata” yang artinya pegangan atau pedoman. Ajaran Astabrata ini terdapat dalam kekawin Ramayana yang diberikan oleh Sang Rama kepada Wibisana di dalam melanjutkan pemerintahan kerajaan Alengka.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dalam slokanya menyebutkan tentang sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjadikan kekuatan bagi umatnya dan menggambarkan tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh segenap pemimpin.Dalam slokanya disebutkan :&lt;br /&gt;“Hyang Indra Yama Surya Chandranila Kuvera Baruna Agni nahan wwalu,&lt;br /&gt;sira ta maka angga sang bhupati matang nira inisti astabrata”.&lt;br /&gt;Ramayana XXV.52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Dewa Indra, Yama, Surya, Chandra, Anila/Bayu, Kuwera, Baruna, dan Agni adalah delapan dewata (sifat dan sikapnya patut ditiru oleh seorang pemimpin agar meresap dalam jiwa dan raganya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASTABRATA&lt;br /&gt;1) Indrabrata, para pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap dewa Indra, dewa hujan yang merupakan sumber kemakmuran, dengan demikian seorang pemimpin hendaknya berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Yamabrata, para pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap seperti dewa Yama, yakni adil dalam menegakkan hukum dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Suryabrata, pemimpin hendaknya mampu memberi penerangan seperti halnya dewa Surya, disamping senantiasa meningkatkan tanggung jawab dan pengabdian seluruh rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Chandrabrata, pemimpin hendaknya mampu memperlihatkan wajah yang tenang, kata-kata yang menyejukan dan mampu menarik simpati seluruh rakyatnya seperti halnya bulan memberikan penerangan dan kesejukan dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Bayubrata, pemimpin selalu mengetahui dan menyelidiki keadaan ataupun keinginan rakyatnya terutama mereka yang miskin dan menderita dan mampu mendengar jerit hati nurani mereka seperti halnya angin yang memberikan kesegaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Kuvera atau Danadhabrata, seperti halnya dewa Kuwera yang mampu mengendalikan uang dan kekayaan , demikian hendaknya seorang pemimpin dapat menggunakan uang dan kekayaan negara untuk meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Varunabrata, artinya sifat dan prilaku seperti dewa Varuna (penguasa samudra raya), pemimpin hendaknya mampu membasmi berbagai penderitaan dan penyakit dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Agnibrata, yakni sifat dan prilaku sebagai dewa api, pemimpin hendaknya memiliki semangat yang berkobar dan berjiwa ksatria yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mensukseskan program kerja serta memiliki kebijaksanaan untuk menatap masa depan rakyatnya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Secara keseluruhan Astabrata memuat faktor-faktor dalam Human Relation untuk mengarahkan seorang pemimpin dalam memandang yang dipimpinnya sebagai manusia budaya. Memberikan kesenangan spiritual dan material yang adil, yang mempunyai inti sari dari keadilan sosial dan ajaran Tat Twam Asi.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Seorang pemimpin hendaknya selalu bersifat dan bersikap seperti apa yang telah diterangkan dalam ajaran Astabrata sehingga tercapainya tujuan hidup yang berupa keseimbangan jasmani dan rohani.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6622810182960825030?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6622810182960825030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/astabrata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6622810182960825030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6622810182960825030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/astabrata.html' title='Astabrata'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2315341806672584110</id><published>2008-09-07T12:30:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T08:11:34.467+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pitra Yadnya'/><title type='text'>Pitra Yadnya Sekala</title><content type='html'>Tidak dpat dipungkiri bahwa tingkat penghayatan dan pengamalan umat terhadap ajaran agama Hindu cenderung lebih berpijak atau lebih menekankan pada aspek atau unsure-unsure yang berhubungan dengan ritual. Artinya asal sudah berkaitan dengan ritual, apakah itu Piodalan, Pawiwahan, Metatah, termasuk Ngaben, seorang umat terutama yang berkemampuan, tidak jarang bisa menghabiskan dana puluhan bahkan sampai ratusan juta rupiah. Mungkin mereka pikir dengan menghabiskan  dana sebanyak itu (dalam ngaben) roh atau atma sang mati akan otomatis mendapat phahala sorga atau moksha. Padahal sesuai sradha Karmaphala penentu perolehan sorga atau neraka termasuk tercapainya moksha bukanlah berasal dari unsure ritual (semata) melainkan yang utama justru dari “karma” kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sarana ritual sesungguhnya hanyalah media pengharapan atau permohonan dan bukan jaminan phala sorga atau moksa. Jika terjebak pada pemahaman begini, tentu yang mendapat sorga atau mencapai moksha pastilah hanya orang-orang kaya saja, sedangkan orang tak mampu tentulah hanya kebagian neraka saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, soal upacara Pitra Yadnya Ngaben yang sampai menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan juta itu boleh-boleh saja sebagai wujud bhakti (terakhir) dari keturunannya dalam menghormati orang tuanya. Tetapi lepas dari itu, sesungguhnya hakikat Pitra Yadnya itu sendiri adalah lebih menekankan pada “penghormatan” dan atau “penghargaan” terhadap orangtua dan atau leluhur secara sekala-niskala (wahya adhyatmika). Maksudnya penghormatan dan atau penghargaan terhadap orang tua tidak saja harus ditunjukkan secara berlebihan pada saat upacara kematian, tetapi yang lebih mulia dan bermanfaat tentunya pada saat masa hidupnya. Perhatian yang tulus, perawatan yang ikhlas, penghargaan dan penghormatan yang tanpa pamrih merupakan wujud-wujud kongkret dari Pitra Yadnya sekala (yang nyata dirasakan). Apalagi didalam kitab Taittriya Upanisad telah disuratkan bahwa Pitra Dewa Bhawa, Matri Dewa Bhawa (ayah-ibu termasuk leluhur adalah perwujudan Dewa dalam keluarga). Maka sepatutnyalah terhadap orang tua terutama di masa hidupnya perlakuan sang anak tidak boleh surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa orangtua yang telah melahirkan, merawat, membingbing, mendidik, dan membesarkan hingga menjadi manusia dewasa patut dibalas (meski tidak diminta) melalui perhatian, perlakuan, penghargaan dan penghormatan yang baik. Dan itu tidak hanya bermanfaat bagi orangtua juga berphahala bagi yang melakukannya. Mari kita lebih mengaktualkan hakikat ritual itu ke dalam perbuatan nyata sehingga lebih berguna dan berphahala sekala-niskala.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2315341806672584110?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2315341806672584110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/pitra-yadnya-sekala.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2315341806672584110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2315341806672584110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/pitra-yadnya-sekala.html' title='Pitra Yadnya Sekala'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3694341316096353835</id><published>2008-09-03T14:07:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:09:20.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Agama dan Adat</title><content type='html'>Bagi masyarakat Hindu di mana pun berada, antara agama dan adapt ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain tidak mudah dipisahkan meski bisa dibedakan. Agama sudah pasti bersumber dari kebenaran ajaran Tuhan yang tersurat dan tersirat di dalam kitab-kitab suci. Sedangkan adat, sebagaimana arti katanya sudah jelas bersumber dari kebiasaan-kebiasaan perilaku manusia yang karena dipandang memilki nilai kebenaran walau tidak mutlak terus dipertahankan. Oleh sebab agama bersumber pada kebenaran ajaran Tuhan, maka ia bersifat sanatana dharma, kebenaran yang kekal abadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang terjadi dan mempengaruhi peradaban manusia tidak bisa mengubah kebenaran agama. Yang bisa dan cenderung mengikuti perubahan hanyalah apabila menyangkut segi-segi material yang mendukung pelaksanaan ajaran agama. Misalnya, seperti yang sudah dilaksanakan di kalangan masyarakat Hindu di Bali terutama yang berhubungan dengan peralatan upakara dan atau upacara yadnya. Contoh : penggunaan pis bolong, karena sudah semakin langka mulai diganti dengan uang kepeng tiruan atau malah dengan uang sah yang berlaku di negeri RI. Esensi benda material yang diganti dengan pengganti tetap memiliki persamaan, setidaknya berfungsi sebagai “sesari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terhadap esensi ajaran agama, di manapun dan kapan pun akan tetap sama atau tidak akan mengalami perubahan lantaran memiliki sumber langsung dari wahyu Tuhan. Sementara itu apa yang dinamakan adat, karena bersumber dari kebiasaan-kebiasaan berperilaku dari manusia yang dipandang mempunyai nilai kebenaran, maka perubahan, penyesuaian atau bahkan penghapusan terhadap sesuatu yang tergolong adat bukanlah tindakan yang tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prakteknya memang terasa begitu sulit memisahkan mana bagian dari agama dan mana pula bagian dari adat. Ilustrasi berikut ini mungkin bisa sedikit memberi petunjuk. Disuatu wilayah di India, karena saking banyaknya jumblah tikus, maka agar pelaksanaan suatu upacara yadnya tidak terganggu, pada setiap acara keagamaan selalu disertai dengan penempatan kucing disisi sesajen yang digelar. Lama kelamaan karena jumblah tikus semakin berkurang, malah tidak lagi mengganggu upacara keagamaan, mestinya penampatan kucing tidak perlu lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi boleh jadi, lantaran penampatan kucing pada setiap upacara yadnya itu sudah dipandang sebagai suatu kebiasaan yang benar maka kendatipun tidak ada seekor tikus pun mengganggu, umat setempat tetap menghadirkan kucing dalam keranjang. Sepertinya kebiasaan itu sudah dijadikan sebagai bagian dari pelaksanaan upacara keagamaan. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah “mengagamakan adat” artinya sesuatu kebiasaan yang kemudian ditempatkan sebagai bagian dari kebenaran agama. Yang benar sepatutnya dilakukan adalah “mengadatkan agama” atau mentradisikan/membiasakan kebenaran ajaran agama itu sebagai pedoman dalam keseharian hidup.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3694341316096353835?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3694341316096353835/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/agama-dan-adat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3694341316096353835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3694341316096353835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/09/agama-dan-adat.html' title='Agama dan Adat'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2285885704727794852</id><published>2008-08-31T11:10:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T08:09:27.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Panca Sembah'/><title type='text'>Panca Sembah Mencakup Semua Objek</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLoakyLwsvI/AAAAAAAAAd8/OmyBRyMy0eE/s1600-h/Palinggih.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLoakyLwsvI/AAAAAAAAAd8/OmyBRyMy0eE/s320/Palinggih.JPG" border="0" alt="Palinggih"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240530335647707890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang unik dari praktek keagamaan umat Hindu adalah adanya ketidak seragaman meskipun untuk satu jenis kegiatan seperti tata cara sembahyang. Dikatakan unik, karena di situlah letaknya “kebebasan” dalam mengekspresikan rasa bhakti melalui sembah dan puja ke pada objek-objek yang disembah atau dipuja. Bias juga dikatakan “kurang pembinaan” karena walaupun sudah cukup lama disebar edarkan buku-buku pedoman Kramaning Sembah oleh PHDI, bentuk-bentuk ketidak seragaman masih terjadi. Contoh : dalam melaksanakan Panca Sembah di pura A, sembah yang dilakukan bisa sampai 7, 9 atau 11 kali, disesuaikan dengan jumblah palinggih. Lalu di pura B sudah menerapkan Panca Sembah kendatipun banyak juga terdapat palinggih. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi dalam hal posisi tinggi rendahnya tangan saat ngaturang sembah sesuai objek sembah bahkan termasuk penggunaan sarana persembahyangan, kapan memakai bunga dan bilamana menggunakan kuwangen. Pemakaian bija juga begitu, dimana saja sepatutnya mengenakan bija, kesemuanya masih serba tidak seragam. Tetapi lepas dari ketidak seragaman itu agama Hindu yang memang bersifat luwes tetap tidak menyalahkan bentuk-bentuk ketidak seragaman itu. Sebab bahasa hati atau bunga hati yang dilandasi oleh niat yang bersih suci, tulus ikhlas dan tanpa pamrih jauh sebih utama dari pada sekedar keseragaman yang bersifat fisik material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan buku pedoman Kramaning Sembah yang diterbitkan oleh PHDI Bali tahun 1989/1990 yang bersumber dari Ketetapan Mahasabha PHDI VI telah dijelaskan perihal C berupa urutan-urutan sembah yang hanya meliputi lima sembah (Panca Sembah) untuk mencakup keseluruhan objek sembah atau yang dipuja, walaupun di dalam sebuah pura ada lebih dari lima palinggih. Princiannya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sembah puyung &lt;br /&gt;2. Menyembah Sang Hyang Widhi sebagai Sanghyang Aditya&lt;br /&gt;3. Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan&lt;br /&gt;4. Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah&lt;br /&gt;5. Sembah Puyung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sembah yang ke- 1, 2, 4, dan 5 bersifat baku, matranya sudah umum dan sama bunyinya dimanapun kita sembahyang. Sedangkan sembah yang ke-3 bersifat situasional artinya harus disesuaikan dengan Ista Dewata yang dipuja, hari atau rerainan apa di pura mana dilakukan persembahyangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi objek yang dipuja dan matra yang digunakan akan terus berubah menyesuaikan dengan hari atau rerainan dan pura yang bersangkutan. Contoh : pada hari Saraswati, yang dipuja Dewi Sarswati dan mantranya saraswati puja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, sikap tangan menyembah Kawitan atau Pitara adalah ujung jari agar di ujung hidung, mantranya : “Om Brahma Wisnu Iswara dewam, jiwatmanam trilokam, sarwa jagat pratistanam, sudha klesa winasanam, Om Guru Paduka Bhyonamah swaha.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2285885704727794852?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2285885704727794852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/panca-sembah-mencakup-semua-objek.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2285885704727794852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2285885704727794852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/panca-sembah-mencakup-semua-objek.html' title='Panca Sembah Mencakup Semua Objek'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLoakyLwsvI/AAAAAAAAAd8/OmyBRyMy0eE/s72-c/Palinggih.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6521084543046618669</id><published>2008-08-28T11:42:00.010+07:00</published><updated>2011-09-19T08:09:02.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Agama Hindu Berkiblat ke India</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLYuZT-esiI/AAAAAAAAAbA/WoNNPgzUDd0/s1600-h/Banten.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLYuZT-esiI/AAAAAAAAAbA/WoNNPgzUDd0/s320/Banten.JPG" border="0" alt="Canang Sari"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239426228886090274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sepakat bahwa agama pada dasarnya “hanya” merupakan “jalan” dalam mencapai Tuhan di mana didalamnya diberikan keleluasaan kepada umatnya untuk mencari dan menemukan jalan sendiri, maka sesungguhnya tidak ada seorang pun dan dengan dalih peraturan manapun untuk berhak “mempermasalahkan” jalan itu, maka tumbuh kembangnya bermacam pusat studi spiritual atau aliran-aliran keagamaan dalam intern suatu agama tidak lain merupakan evolusi rohani atau semacam pendakian spiritual. Ibarat uap air laut, meninggi menggumpal di dalam awan untuk nantinya jatuh menjadi hujan dan kemudian mengalir sesuai dengan alur yang dilalui dan pada akhirnya setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, sampai juga ke “tujuan” laut, samudra luas. Itu berarti kiblat aliran air adalah laut (samudra).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLYuZuYL8GI/AAAAAAAAAbI/32v6oY8OMog/s1600-h/Gedog+Wayang.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLYuZuYL8GI/AAAAAAAAAbI/32v6oY8OMog/s320/Gedog+Wayang.JPG" border="0" alt="Gedog Wayang"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239426235973234786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan agama Hindu, adalah wajar dan benar kalau berkiblat ke India. Karena India atau yang dikenal dengan nama Hindustan adalah tempat asal muasal kelahiran agama Hindu. Tak seorang pun dapat mengungkiri kenyataan histories ini. Termasuk ajaran agama Hindu itu sendiri mutlak harus berkiblat kepada kitab Weda sebagai sumber dari segala sumber agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya sekarang, mungkin yang acapkali dipertanyakan (dipermasalahkan) adalah cara atau praktek suatu aliran keagamaan yang mentah-mentah meniru gaya tradisi atau budaya India, padahal di Bali (Indonesia) sudah mempunyai tradisi atau budaya yang mengakar. Seperti model atau cara berbusana ala India, kekidung dan kekawin diganti dengan nyanyian rohani India, bentuk-bentuk upacara ritual ala Bali dikesampingkan lalu memulai tradisi ritual gaya India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap serba ala India yang berkaitan dengan tradisi atau budaya (unsure penampakan) sebenarnya boleh-boleh saja asal hanya untuk komunitas kelompoknya. Jadi tidak mengarah pada suatu gerakan untuk merevolusi segala tradisi atau budaya Bali menjadi India sentries. Begitu pula agama Hindu tetap memberi tempat yang layak untuk semua tradisi keagamaan yang benar tentunya. Dengan kata lain, jika misalnya seorang umat masuk atau mengikuti suatu kelompok atau aliran spiritual Hindu model India dan berhasil mendapatkan kebahagian batin serta meningkatnya spiritual yang bersangkutan, jangan lantas kacang lupa kulitnya. Apa yang sudah berhasil dicapai terus ditingkatkan dan apa ditinggalkan leluhur atau kawitan jangan dilupakan. Sang Dasaratha menjadi amat bijaksana, tidak saja karena mumpuni di bidang agama, bhaktinya kepada Tuhan, tetapi juga karena tetap “ngaturang sembah” kepada leluhur atau kawitan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6521084543046618669?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6521084543046618669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/agama-hindu-berkiblat-ke-india.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6521084543046618669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6521084543046618669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/agama-hindu-berkiblat-ke-india.html' title='Agama Hindu Berkiblat ke India'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLYuZT-esiI/AAAAAAAAAbA/WoNNPgzUDd0/s72-c/Banten.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3991750279570816388</id><published>2008-08-25T14:59:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T08:08:45.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lima Cara Beryadnya'/><title type='text'>Lima Cara Beryadnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7SgGe_I/AAAAAAAAAaY/zKoIQLibHnc/s1600-h/Sanggah+Kemulan1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7SgGe_I/AAAAAAAAAaY/zKoIQLibHnc/s320/Sanggah+Kemulan1.JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366883396615154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini kebanyakan umat lebih memahami yadnya itu sebagai suatu persembahan yang bersifat material. Misalnya menghaturkan banten, memberikan sumbangan uang, membangun atau memperbaiki pura. Meski di dalam perbuatan itu sudah mengandung segi-segi non material tetapi tetap ada anggapan bahwa apa yang dilakukan itu sebagai wujud yadnya material. Maka tidak jarang umat merasa belum beryadnya kalau belum terbukti telah mempersembahkan sesuatu yang berwujud material. Padahal menurut ajaran yadnya itu sendiri, apapun perbuatan kita yang dilakukan secara tulus iklas dan tanpa pamrih untuk kebahagiaan orang lain atau sesama makhluk itu sudah merupakan yadnya. Artinya jika suatu saat sempat menolong orang walau dengan sepatah kata tetapi bisa membuat orang terselamatkan dari mara bahaya, maka itulah yadnya namanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7pvEleI/AAAAAAAAAag/EiwbrhqjrLo/s1600-h/Sanggah+Kemulan2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7pvEleI/AAAAAAAAAag/EiwbrhqjrLo/s320/Sanggah+Kemulan2.JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366889633420770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7-9BqpI/AAAAAAAAAao/NcBuzZJVi-c/s1600-h/Sanggah+Kemulan3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7-9BqpI/AAAAAAAAAao/NcBuzZJVi-c/s320/Sanggah+Kemulan3.JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366895329094290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7xEc93I/AAAAAAAAAaw/bGc38DbS4gg/s1600-h/Sanggah+Kemulan4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7xEc93I/AAAAAAAAAaw/bGc38DbS4gg/s320/Sanggah+Kemulan4.JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366891602147186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq8tonAxI/AAAAAAAAAa4/assznpfeX8I/s1600-h/Sanggah+Kemulan5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq8tonAxI/AAAAAAAAAa4/assznpfeX8I/s320/Sanggah+Kemulan5.JPG" border="0" alt="Sanggah Kamulan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366907859927826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang cara melaksanakan yadnya, sebenarnyaah ada lima cara melakukan secara garis besarnya, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Drwya Yadnya, artinya beryadnya dengan persembahan benda atau materi baik diwujudkan dalam bentuk banten, dana punia dan yang lainnya. Yadnya yang satu ini dalam kenyataannya dipandang sebagai sutu-satunya cara beryadnya sebagaimana diuraikan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tapa Yadnya, lebih bersifat individual. Karena dalam pelaksanaanya lebih menekankan usaha seseorang  untuk melatih diri guna membangunkan sikap pengendalian diri yang pada akhirnya bertujuan untuk mempersatukan kembali Atma dengan Brahma. Caranya dengan selalu membersih sucikan diri (angeseng malaning sarira), mengatasi suka duka kehidupan, menjauhkan segala macam godaan, mengendalikan nafsu, menenangkan pikiran yang kesemuanya diarahkan menuju persatuan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yoga Yadnya, juga bersifat individual karena berisi usaha dari seseorang untuk menghubungkan atau menyatukan diri dengan Hyang Widhi. Cara yadnya ini memerlukan latihan dan disiplin yang tinggi yaitu dengan menjalankan atau memperaktekkan  ajaran yoga sesuai aturan baik Sadangga yoga maupun Astangga yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Swadhyaya Yoga, merupakan bentuk yadnya dengan cara mengorbankan diri demi kepentingan yang lebih besar, mulia atau utama. Cara yadnya begini relative lebih mudah dari pada cara no. 3 dan 4. sebab dengan melakukan Suci Laksana setiap hari, bertrisandhya tiga kali sehari sudah termasuk Swadhyaya Yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jnana Yadnya, yaitu bentuk yadnya yang berupa persembahan ilmu pengetahuan baik yang bersifat duniawi maupun rohani. Pengamalannya tidak begitu sulit karena hanya dengan mempersembahkan pengetahuan yang dimiliki untuk kesejahteraan dan kebahagiaan  oran lain sudah merupakan yadnya juga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3991750279570816388?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3991750279570816388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/lima-cara-beryadnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3991750279570816388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3991750279570816388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/lima-cara-beryadnya.html' title='Lima Cara Beryadnya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLJq7SgGe_I/AAAAAAAAAaY/zKoIQLibHnc/s72-c/Sanggah+Kemulan1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6553403498024288381</id><published>2008-08-24T08:44:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T08:08:47.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putu Surya Yudistira'/><title type='text'>Putu Surya Yudistira (1 Tahun 2 Bulan)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dehpteI/AAAAAAAAAZw/i8ciX2YgKvE/s1600-h/Surya1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dehpteI/AAAAAAAAAZw/i8ciX2YgKvE/s320/Surya1.JPG" border="0" alt="Putu Surya Yudistira"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237895780251579874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dSmgXoI/AAAAAAAAAZ4/pJSd6xZHzLM/s1600-h/Surya2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dSmgXoI/AAAAAAAAAZ4/pJSd6xZHzLM/s320/Surya2.JPG" border="0" alt="Putu Surya Yudistira"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237895777050713730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-drGUP0I/AAAAAAAAAaA/3AEfS0D7po0/s1600-h/Surya3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-drGUP0I/AAAAAAAAAaA/3AEfS0D7po0/s320/Surya3.JPG" border="0" alt="Putu Surya Yudistira"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237895783626587970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dhb2oBI/AAAAAAAAAaI/boinmEGEYmI/s1600-h/Surya4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dhb2oBI/AAAAAAAAAaI/boinmEGEYmI/s320/Surya4.JPG" border="0" alt="Putu Surya Yudistira"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237895781032566802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dwL_vKI/AAAAAAAAAaQ/n8ZvIpNgp00/s1600-h/Surya5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dwL_vKI/AAAAAAAAAaQ/n8ZvIpNgp00/s320/Surya5.JPG" border="0" alt="Putu Surya Yudistira"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237895784992586914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama             : Putu Surya Yudistira&lt;br /&gt;Tempat Tgl Lahir : Singaraja (Desa Tamblang) 31 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_pub  = 'citakbagus';&lt;/script&gt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6553403498024288381?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6553403498024288381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/putu-surya-yudistira-1-tahun-2-bulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6553403498024288381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6553403498024288381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/putu-surya-yudistira-1-tahun-2-bulan.html' title='Putu Surya Yudistira (1 Tahun 2 Bulan)'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SLC-dehpteI/AAAAAAAAAZw/i8ciX2YgKvE/s72-c/Surya1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2600205037816761108</id><published>2008-08-16T16:48:00.010+07:00</published><updated>2011-09-19T08:07:12.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Galungan'/><title type='text'>Hari Raya Galungan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKalxIZwwkI/AAAAAAAAAZg/ccQtBsricVw/s1600-h/Sanggah.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKalxIZwwkI/AAAAAAAAAZg/ccQtBsricVw/s320/Sanggah.JPG" border="0" alt="Sanggah"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235053880352490050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan hukum Rta (hukum alam) waktu bergerak memutar roda kehidupan bukanlah istimewa. Justru akan menjadi teramat sangat istimewa jika tiba-tiba sang waktu berhenti berputar. Sebab itu pertanda pralaya tiba. Tetapi kita tak pernah tahu kapan dan dengan cara bagaimana perputaran waktu akan berhenti. Hanya Hyang Widhi Sang Perencana Segalanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitupun perihal kedatangan era millennium baru yang dimulai tahuun 2000 yang pada minggu pertamanya justru ditandai dengan peringatan sekaligus perayaan hari suci Galungan semuannya berjalan sesuai kehendak semesta alam. Barangkali yang menjadikan Galungan pada saat itu terasa istimewa lantaran terjadi di saat berlangsungnya pergantian abad menuju millennium baru (ketiga) dimana keadaan dunia baik Bhuwana Agung (alam semesta) maupun Bhuwana Alit (manusia) sedang mengalami krisis di berbagai bidang. Mulai dari krisis ekonomi (krismon), krisis kepercayaan, krisis social, krisis politik, krisis budaya, krisis moral, mental dan spiritual. Keadaan krisis berkepanjangan itu menjadikan umat manusia berada pada situasi “gamang” termasuk kegamangan dalam, menterjemahkan nilai luhur ajaran agama ke dalam perilaku keseharian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKalxIPjmYI/AAAAAAAAAZo/Vv0It1LjsFw/s1600-h/Prada+Bali.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKalxIPjmYI/AAAAAAAAAZo/Vv0It1LjsFw/s320/Prada+Bali.JPG" border="0" alt="Prada Bali"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235053880309684610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia sekarang cenderung menempatkan agama hanya sebatas sebagai suplemen (pelengkap) bukan pondamen (dasar kokoh). Artinya bila keadaan hidupnya normal-normal saja manusia cenderung “melupakan-Nya”. Tetapi tiba-tiba tertimpa sesuatu yang membuatnya berduka, maka sekonyong-konyong nama “Dewa Ratu, Ratu Bhatara, Duh Hyang Widhi” baru akan terucapkan. Padahal menurut Widhi Tattwa dan Atma Tattwa, Hyang Widhi tidak pernah “lepas dan lupa” pada umatnya, sebab Beliau ada dan hadir pada setiap manusia dalam nama Sang Atma/Sang Jati Diri. Hanya lantaran manusia lebih ingat dengan pekerjaan rutin yang menghasilkan uang untuk memenuhi segala keinginan (kama) maka menjadikan manusia serakah (lobha). Keinginan yang dimanjakan untuk menjadi serakah itulah  yang membuat manusia lupa pada hakikat dirinya yang sesungguhnya adalah untuk mengabdi kepada-Nya bukan pada benda-benda material. Akibatnya cahaya diri/pancaran sinar suci Sang Atma menjadi terselubung oleh kabut Awidya – kegelapan. Hidup manusia menjadi seolah-olah seperti “tidak hidup” – mati dalam hidup, akibat ketiadaan “sinar” Sang Atma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dikesempatan Galungan ini, kita patut mengidupkan kembali “Api Sang Atma” agar kehidupan  yang penuh dengan tantangan itu bisa di lalui dengan tetap berada pada perlindungan cahaya-Nya. Panji Galungan yang bermakna menegakkan dharma tetap menyala di dalam hati sanubari kita masing-masing. Galungan kali ini memang tidak sekedar rutinitas ritual tetapi membawa pesan untuk kembali berpijak pada dharma dalam menjalani kehidupan yang dominant diwarnai adharma. Satyam eva jayate.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2600205037816761108?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2600205037816761108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/hari-raya-galungan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2600205037816761108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2600205037816761108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/hari-raya-galungan.html' title='Hari Raya Galungan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKalxIZwwkI/AAAAAAAAAZg/ccQtBsricVw/s72-c/Sanggah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6015747049678310130</id><published>2008-08-14T11:32:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:06:55.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Raga, Rasio dan Rasa Agama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKO2TWMZHNI/AAAAAAAAAY4/4jLaXS0N910/s1600-h/Om.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKO2TWMZHNI/AAAAAAAAAY4/4jLaXS0N910/s320/Om.JPG" border="0" alt="Om"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234227635425975506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kata orang bijaksana bahwa melalui tuntunan agama, kehidupan ini bisa di arahkan untuk mencapai kesejahteraan, kebahagian dan kedamaian. Dengan catatan, jika setiap umat yang mengaku beragama secara sadar dapat mengetahui, menghayati dan kemudian mengamalkan nilai-nilai luhur dari ajaran agama itu. Kata kuncinya adalah “pengamalan” bukan sekedar kata-kata dalam pernyataan. Agama bukanlah semacam ilmu pengetahuan biasa yang cukup hanya di ketahui dengan hafalan. Agama juga bukan sejenis mode yang hanya untuk diperagakan. Singkatnya, agama tidak menekankan penampakan fisik (raga) dan pengetahuan (rasio) semata, tetapi lebih menuntut kearah tumbuh kembangnya emosi (rasa) agama yang penuh penghayatan sehingga pengamalannya pun selaras (sinkron) dengan petunjuk agama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan sekarang di antara factor “Tiga Ra” umat beragama cenderung lebih mengedepankan unsure “Raga” (penampilan/peragaan fisik material), “Rasio” (pengetahuan/teori/hafalan) dari pada “Rasa” agama. Maka jangan heran apalagi keburu berbangga diri kalau hanya melihat : kemegahan bangunan pura, “kegairahan umat pedek tangkil”, kemeriahan/kemegahan upakara banten atau kesemarakan upacara yajna. Semua itu boleh jadi baru sebatas “Raga” (fisik-material).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga jangan terkagum dulu dengan munculnya orang-orang yang begitu pandai berbicara agama, ratusan sloka kitab suci mudah diucapkan, sering diundang berceramah dan selalu hadir disetiap kegiatan diskusi agama. Mungkin saja penampilan tokoh ahli agama ini baru sebatas “Rasio” (teori/hafalan). Kendati tidak bermaksud meragukan kemampuan mereka yang sementara ini lebih menekankan “Raga” dan “Rasio” tetapi paling tidak dapat dikatakan bahwa “Rasa” agama kita masih belum teralisasi dalam kenyataan hidup sehari-hari. Sepertinya antara penampakan perilaku beragama (raga), dan pernyataan melalui pengetahuan agama (rasio) tidak sinkron dengan “Rasa” agama yang dituntut ajaran agama. Contoh kecil, ketika seorang umat melakukan persembahyangan di sebuah pura dengan penampilan busana dan tata rias serta “haturan” bernilai mahal ditambah berlatar belakang pelajar/intelektual, tetapi begitu tahu dompetnya hilang di areal pura langsung misuh dan memedih. Atau pada saat seorang yang dianggap ahli/pakar agama diundang menyampaikan dharmawacana, begitu tidak tahu ada honor atau honornya tidak sesuai harapan kontan protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru contoh kecil. Ketika ada contoh besar seperti kejahatan kian merajalela, korupsi bertambah hebat, kemorosotan moral semakin ngetrend, dan dilakukan oleh orang beragama, maka bukan salahnya ajaran agama tetapi kekeliruan kita yang lebih senang menonjolkan “Raga” dan “Rasio” sehingga ibarat makanan sama sekali tidak ada “rasa”, hambar atau campah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6015747049678310130?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6015747049678310130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/raga-rasio-dan-rasa-agama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6015747049678310130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6015747049678310130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/raga-rasio-dan-rasa-agama.html' title='Raga, Rasio dan Rasa Agama'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKO2TWMZHNI/AAAAAAAAAY4/4jLaXS0N910/s72-c/Om.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4737115367388312529</id><published>2008-08-12T18:21:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:06:39.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>The Religion culture not the Culture Religion</title><content type='html'>As in the case of a cow that was given the green spectacles in order to want to eat hay, such was someone who used the subjective spectacles in considering the practice various other group. Results only took the form of the assessment and or the interpretation that was “way of doing thing”. As cattle wore glasses green was offered hay, as if the grass “green” but like that touched the tongue not be connected canape, insipid. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Against someone who acted as “penilai or penafsir” the teaching and the practice of other religious groups then did not escape from “blunder eyeglasses”. Because denied measured, the space reference, the guide's reference that was used was “holy book other” that was clear different his theology certainly would produce the assessment that not only different but also often wrong, blunder in fact was trapped in the attitude or the insulting action, penodaan or the insult to the other religion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Including towards the assessment of the person who said that the Hindu religion was “culture religion”, that it was considered was produced from being creative, the feeling and the human desire were in the religious time reduced (was made). It was really great that Bin miraculous had humankind that could make some “theory” that could be followed, believed and believed in by hundreds of millions of humankind and has taken place for the period thousands of years. Who gerangan Bin's great human noose miraculous that? Evidently in the Weda book was not it was mentioned what is the name of the humankind. That was stated clearly only a verse sloka that sounded “mantras drstah iti rsih” that meaning that that accepted the revelation was rsi. Rsi-rsi the revelation recipient so that afterwards gathered, assembled, incribe and spread this teaching of the Lord's revelation. So in no way was it was mentioned that rsi that the creator according to the feeling and his human desire. Rsi this in fact indeed was the noose “human so called” with the intensity and the miracle him could catch, assemble and broadcast the Lord's revelation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The matter in paganism the Hindu religion more featured apperance unsure the culture not then gave the meaning that the Hindu religion as the cultural religion. Precisely the Hindu religious teaching showed his characteristics that always “tolerant” with the condition social the local culture that afterwards produced the concept “desa-Kala-patra”, “Negara mawa tata” and “desa mawa cara”. Meaning that the presence of the Hindu religion anywhere not to “kill” unsure local culture but precisely was used to support and support the implementation of the Hindu religious teaching personally. Be the practice various Hindu group so multitudinous anywhere his adherent's group was. every other the form of the practice of the religion not as “culture religion” but only be limited by “religion &lt;br /&gt;culture”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4737115367388312529?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4737115367388312529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/religion-culture-not-culture-religion.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4737115367388312529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4737115367388312529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/religion-culture-not-culture-religion.html' title='The Religion culture not the Culture Religion'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-8014775658407660650</id><published>2008-08-11T17:44:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:06:40.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Agama'/><title type='text'>Budaya Agama bukan Agama Budaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKAZwZeWPUI/AAAAAAAAAYw/EdUQr_7RKvo/s1600-h/Budaya+Agama+bukan+Agama+Budaya.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKAZwZeWPUI/AAAAAAAAAYw/EdUQr_7RKvo/s320/Budaya+Agama+bukan+Agama+Budaya.JPG" border="0" alt="Budaya Agama bukan Agama Budaya"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233211086267104578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya seekor sapi yang diberi kacamata  hijau agar mau memakan rumput kering, begitulah seseorang yang menggunakan kacamata subyektif dalam menilai praktek keberagaman umat lain. Hasilnya hanya berupa penilaian dan atau penafsiran yang bersifat “seolah-olah”. Seperti sapi berkacamata hijau disodori rumput kering, seolah-olah rumput itu “hijau” namun begitu menyentuh lidah tidak mengena diselera, hambar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terhadap seseorang yang bertindak selaku “penilai atau penafsir” ajaran dan praktek umat beragama lainnya pun tak luput dari “kesalahan kacamata”. Karena tolak ukur, acuan pijakan, referensi pedoman yang digunakan adalah “kitab suci lain” yang jelas berbeda theologinya tentu akan menghasilakan penilaian yang tidak saja berbeda tetapi juga sering keliru, salah besar bahkan terjebak ke dalam sikap atau tindakan pelecehan, penodaan atau penghinaan terhadap agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali terhadap penilaian orang yang mengatakan bahwa agama Hindu itu adalah “agama budaya”, yang dianggap dihasilkan dari cipta, rasa dan karsa manusia pada zaman agama itu diturunkan (dibuat). Sungguh hebat bin ajaib ada manusia yang mampu membuat suatu “ajaran” yang dapat diikuti, dipercaya dan diyakini oleh ratusan juta manusia dan sudah berlangsung selama kurun waktu ribuan tahun. Siapakah gerangan sosok manusia super hebat bin ajaib itu? Ternyata di dalam kitab Weda tidak ada disebutkan siapa nama manusia itu. Yang dinyatakan dengan tegas hanyalah sebait sloka yang berbunyi “mantras drstah iti rsih” yang artinya yang menerima wahyu itu adalah rsi. Rsi-rsi penerima wahyu itulah yang kemudian mengumpulkan, menghimpun, menyuratkan dan menyebarkan ajaran wahyu Tuhan tersebut. Jadi sama sekali tidak ada disebutkan bahwa rsi itu pencipta menurut rasa dan karsa kemanusiaannya. Para rsi inilah dalam kenyataannya memang merupakan sosok “manusia bernama” dengan kehebatan dan keajaibannya mampu menangkap, menghimpun dan menyiarkan wahyu Tuhan yang kemudian dikenal sebagai ajaran agama Hindu untuk dipedomani oleh umat pemeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal dalam pengamalam agama Hindu lebih menonjolkan penampakkan unsure budaya tidaklah lantas memberi arti bahwa agama Hindu itu sebagai agama budaya. Justru ajaran agama Hindu memperlihatkan sifatnya yang selalu “toleran” dengan kondisi social budaya setempat yang kemudian melahirkan konsep “desa-kala-ptra”, “Negara mawa tata” dan “desa mawa cara”. Artinya kehadiran agama Hindu dimanapun tidak untuk “mematikan” unsure kebudayaan setempat melainkan justru digunakan untuk mendukung dan menopang pelaksanaan ajaran agama Hindu itu sendiri. Jadilah praktek keberagamaan umat Hindu begitu beraneka ragam di mana pun umat pemeluknya berada. Kesemua bentuk praktek agama itu bukanlah sebagai “agama budaya” melainkan hanya sebatas sebagai “budaya agama”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-8014775658407660650?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/8014775658407660650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/budaya-agama-bukan-agama-budaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8014775658407660650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/8014775658407660650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/budaya-agama-bukan-agama-budaya.html' title='Budaya Agama bukan Agama Budaya'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SKAZwZeWPUI/AAAAAAAAAYw/EdUQr_7RKvo/s72-c/Budaya+Agama+bukan+Agama+Budaya.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4044033338578091635</id><published>2008-08-10T12:45:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:06:25.764+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Filsafat Mana yang Banyak Berpengaruh di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ6A1dR8_eI/AAAAAAAAAYo/wKl4HIU-3dc/s1600-h/Ngeloang+Capah.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ6A1dR8_eI/AAAAAAAAAYo/wKl4HIU-3dc/s320/Ngeloang+Capah.JPG" border="0" alt="Ngeloang Capah"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232761472932445666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sad Darsana berarti enam system filsafat. Filsafat itu sendiri merupakan aspek rasional dari agama. Karenanya filsafat tidak bisa dipisahkan dari agama. Dengan filsafat kita didorong untuk mencari kebenaran melalui pencarian rasional. Filsafat juga menunjukkan jalan untuk mendapatkan pembebasan diri  penderitaan serta memperoleh kekekalan atau kebahagian abadi. Melalui filsafat akan muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang diri, tentang hakikat manusia, alam, penciptaan, kematian dan sebagainya. Dengan banyak bertanya melaui filsafat disertai perenungan yang dalam maka akan terlahir kesadaran akan kebenaran sejati. Maka apa yang disebut sebagai Sad Darsana tidak lain merupakan enam system filsafat India yang bersifat ortodox dan sepenuhnya mempercayai sekaligus mendasarinya pada kebenaran Weda (Astika).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebalikannya adalah system filsafat heterodox yang tidak mempercayai otoritas Weda (Nastika) seperti filsafat Carwaka, Jaina dan Bhuda. Tentang filsafat Sad Darsana sendiri meliputi : Nyaya, Waisesika, Sankhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua aliran filsafat yang terkelompok dalam Sad Darsana ini menyajikan pandangan masing-masing secara berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan. Seseorang bisa saja mencapai melalui yoga misalnya atau dengan cara wedanta, tetapi akhir dari pencariannya adalah mencapai pengetahuan tentang Tuhan. Soal perbedaan metoda dan cara pendekatan yang berbeda-beda pada setiap filsafat itu hanyalah bentuk penyesuaian dengan temperamen kemampuan dan kualitas mental setiap individu. Dan pada dasarnya pula, setiap system filsafat merupakan tahapan atau anak tangga di jalan spiritual. Yang jelas, filsafat yang tergolong ke dalam Sad Darsana mempunyai keterkaitan amat erat dengan Weda, maka tentu dapat dikatakan keenam system filsafat India itu merupakan bentuk praktis dalam upaya umat untuk melakukan pencarian kebenaran dan atau pendakian spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perihal filsafat atau darsana mana yang banyak mempengaruhi Hindu di Indonesia tidaklah bisa di jawab dengan prosentase. Sebab sebagai suatu aliran filsafat yang bisa dengan bebas dipilih dan dijadikan  jalan hidup oleh setiap individu, tertentu setiap orang akan berbeda-beda prosentasenya. Tetapi soal pengaruhnya di Indonesia keseluruhan Sad Darsana diterima oleh umat Hindu dengan tidak lagi memilah-milah pada darsana mana filsafat itu terkelompok.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4044033338578091635?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4044033338578091635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/filsafat-mana-yang-banyak-berpengaruh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4044033338578091635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4044033338578091635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/filsafat-mana-yang-banyak-berpengaruh.html' title='Filsafat Mana yang Banyak Berpengaruh di Indonesia'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ6A1dR8_eI/AAAAAAAAAYo/wKl4HIU-3dc/s72-c/Ngeloang+Capah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2870967901328889511</id><published>2008-08-09T14:48:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T08:01:05.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Miskin Rohani lebih Bahaya Ketimbang Miskin Harta</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ1MdKmhcXI/AAAAAAAAAYg/35J7SdC-QOM/s1600-h/Pergi+ke+Sawah.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ1MdKmhcXI/AAAAAAAAAYg/35J7SdC-QOM/s320/Pergi+ke+Sawah.JPG" border="0" alt="Pergi ke Sawah"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232422406020231538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya miskin keadaannya sama saja yaitu sama-sama kekurangan. Bedanya, kalau miskin materi berhubungan dengan kekurangan hal-hal yang bersifat materi atau kebendaan, misalnya pengasilan (uang) sedikit sampai tak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum, rumah tidak punya, pakaian seadanya. Sedangkan miskin rohani (meski belum tentu miskin materi) yang kekurangan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat non materi atau bukan benda seperti asusila, amoral, tidak pernah angayu bagia atas waranugraha-Nya, tidak mau ngaturang dana punia, tidak berusaha meningkatkan kehidupan spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, walau sebenarnya cukup banyak orang yang miskin materi, tetapi ternyata jauh lebih banyak lagi orang-orang yang miskin rohani. Dan orang-orang yang miskin rohani inilah yang sesungguhnya lebih berbahaya keberadaannya dari pada hanya miskin materi. Dan keadaan akan sangat berbahaya lagi jika terjadi sinergi antara kemiskinan materi dan kemiskinan rohani. Jika sudah pada tingkat sinergi dua kemiskinan, maka runtuhlah harkat, martabat dan derajat kemanusian yang beradab, berbudaya dan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sebatas miskin materi yang disebut “daridra” tetapi rohaninya masih terjaga pada kesadaran sradha dan bhakti, maka meski hidup serba kekurangan, moralitas kemanusiannya dijamin akan tetap terpelihara. Lain halnya dengan miskin rohani yang disebut “dinabuddhi”, kendati mungkin hidupnya serba berkecukupan bahkan mungkin berlebihan tetapi “karma” (keinginan) dan “indria” (nafsu) tak pernah merasa terpuaskan. Misalnya, walaupun ditempat bekerja sudah diberi gaji lebih dari cukup tetapi tetap saja korupsi. Atau meskipun harta bendanya berkelimpahan namun tidak sekalipun pernah digunakan untuk berdana punia. Tidak jarang jua orang-orang yang miskin rohani ini begitu tega merampas hak milik orang lain. Baginya, pemenuhan ego diri sendiri adalah di atas segala-galanya. Maharsi Wararuci dalam kitab Sarasamuscaya mengatakan, orang yang miskin rohani (dinabuddhi) digambarkan sebagai orang mati (walau masih hidup) dan akan mengalami penderitaan lebih dari yang diterima orang melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu akan lebih dan sangat berbahaya lagi jika seseorang mengalami dua kemiskinan sekaligus, sudah miskin materi ternyata rohaninya juga miskin. Orang-orang yang mengalami kemiskinan ganda ini kehidupannya akan lebih banyak diwarnai dengan segala perbuatan yang adharma dengan segala bentuknya. Dan akibatnya tidak saja menyusahkan orang lain tetapi juga menyengsarakan dirinya. Karena itu bagi umat Hindu, meski kemiskinan itu ada dan mungkin saja kita alami, hendaknya tetap tidak sampai terjerebab kedalam kemiskinan rohani (dinabuddhi). Kunci pengentasan kemiskinan apapun ada pada “dharma” yang merupakan pijakan untuk mendapatkan “artha” guna memenuhi “karma” dalam mencapai “jagadhita” (sejahtera lahir) dan “moksa” (sejahtera batin).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2870967901328889511?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2870967901328889511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/miskin-rohani-lebih-bahaya-ketimbang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2870967901328889511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2870967901328889511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/miskin-rohani-lebih-bahaya-ketimbang.html' title='Miskin Rohani lebih Bahaya Ketimbang Miskin Harta'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJ1MdKmhcXI/AAAAAAAAAYg/35J7SdC-QOM/s72-c/Pergi+ke+Sawah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1809665620274585070</id><published>2008-08-08T12:46:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T08:00:41.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Kebutuhan dan Keinginan yang Mana Harus Dipenuhi</title><content type='html'>Kata “kebutuhan” dan “keinginan” sepintas tidak menunjukkan makna yang berbeda karena kedua kata itu sama-sama bersifat “memerlukan sesuatu”. Hanya saja jika dicermati dalam konteks “apa yang diperlukan” itu dapat dijalaskan bahwa ternyata “kebutuhan”  itu lebih menunjuk pada “barang apa yang diperlukan” sedangkan “keinginan” lebih meluas dan melebar sifatnya, bisa memerlukan barang (benda) bisa juga berupa “hasrat”, “kehendak” yang non kebendaan. Konkretnya, suatu yang bersifat “kebutuhan” itu cendrung kebendaan/material. Misalnya perihal kebutuhan dasar manusia yang tidak lain dari makan minum (pangan), pakaian (sandang) dan perumahan (papan). Sementara yang namanya “keinginan” bisa lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena cenderung bersifat kebendaan/meteria, maka “kebutuhan” itu ada dan bisa dibatasi pemenuhannya. Contoh, bila makanan yang disantap sudah membuat kita kenyang, selesailah pemenuhan rasa laparnya, setidaknya untuk saat itu. Sedangkan yang namanya “keinginan” apalagi jika kemauan, kesempatan dan kemampuan memungkinkan maka keinginan itu tak pernah bisa dibatasi pemenuhannya. Singkatnya, “kebutuhan” dapat dibatasi sesuai dengan tingkat kesanggupan seseorang untuk memenuhinya. Sedangkan “keinginan” semakin diikuti kian menjadi-jadi pemenuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bagi umat beragama, yang patut diwaspadai perkembangan kebutuhannya adalah bukan pada “kebutuhan” tetapi pada “keinginan”. Sebab jika keinginan selalu dipenuhi apalagi keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang diluar batas-batas yang sifatnya wajar dan mendasar, maka seperti ucap kata Bhagavadgita II. 62 dan 63 ditegaskan : “dengan memikirkan benda jasmani, maka orang terbelenggu padanya, daripadanya lahir keinginan dan dari keinginan ini timbullah amarah, dari amarah timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan pikiran dan dari kehancuran pikiran ia pun musnah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bermula dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan mendasar berkembang menjadi keinginan yang melebihi kebutuhan itu sendiri. Akhirnya keinginan tidak melahirkan kebutuhan, melainkan menumbuhkan keinginan yang terus menerus mengalir seperti berjuta-juta aliran air sungai yang memenuhi samudra luas namun tak pernah “terpenuhi” atau “kepenuhan”. Filosof benar Mahatma Gandhi pernah berucap, “ Bumi sanggup memenuhi segala kebutuhan manusia tetapi tidak keinginannya”. Dan suratan kitab suci Bhagavadgita II. 71 mengamanatkan : “orang yang membuang semua nafsunya dan melangkah bebas tanpa keinginan, bebas dari perasaan “aku” dan “punyaku” ia mencapai kedamaian”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1809665620274585070?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1809665620274585070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/kebutuhan-dan-keinginan-yang-mana-harus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1809665620274585070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1809665620274585070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/kebutuhan-dan-keinginan-yang-mana-harus.html' title='Kebutuhan dan Keinginan yang Mana Harus Dipenuhi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7203531908260907492</id><published>2008-08-07T19:17:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:00:42.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Hidup Ini Diatur Oleh Hyang Widhi ?</title><content type='html'>Kitab suci Bhagavadgita, XVIII. 61 menyuratkan : “Iswarah sarwabhutanam, hriddese Arjuna tistati, bhramayam sarwabhutani, yantrarudhani mayaya” yang artinya kurang lebih : Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap makhluk, oh Arjuna, mengakibatkan mereka berputar (bergerak) oleh Sang Maya (kekuatan-Nya), ibarat makhluk-makhluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang berputar).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suratan sloka Bhagavadgita ini dengan tegas menyiratkan makna bahwa semua makhluk ciptaan-Nya bergerak atau berputar dengan “diatur” oleh gerakan-Nya. Gerakan-Nya itulah yang menyebabkan dunia dan kehidupan ini terus berputar dan makhluk hidup penghuninya berbuat. Itu artinya tanpa gerakan yang diatur oleh-Nya dunia ini akan berhenti berputar dan makhluk ciptaan-Nya pun berhenti kehidupannya (pralaya). Dengan demikian sesungguhnya tidak salah jika dikatakan bahwa gerak perbuatan manusia adalah gerakan-Nya juga. Sehingga timbul penafsiran, seakan-akan manusia “bergerak tanpa gerakan” atau “berbuat tanpa perbuatan”. Sebab semuanya serba “diatur” dan dikendalikan oleh-Nya. Tak ubahnya seorang dalang, Tuhan telah membuatkan scenario di mana setiap orang atau makhluk hidup lainnya mendapat peran yang berbeda satu sama lain dan wajib dilakoni sesuai aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini berarti juga, setiap gerakan perbuatan yang dilakoni manusia, sebagai apapun sebagai maling, adalah sebuah proses “menjalani” peran diri-Nya. Mengapa harus diberi peran sebagai “maling”, tentunya harus dikaitkan dengan “pengalaman” perbuatan masa lalunya (karma wasana) yang boleh jadi “sangat menguasai” peran itu. Dalam konteks sradha karmaphala yang memberi imbas terhadap peran lanjutan yang akan diterima dalam episode kehidupan mendatang. Yang pasti, peran apapun yang didapat, baik atau buruk kesemuanya harus dikembalikan pada proses “penyadaran diri” untuk terus meningkatkan kedekatan pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penafsir kitab suci Weda khususnya Bhagavadgita, Shri Sadhu T.L. Waswani terhadap bunyi sloka diatas, memberi penjelasan bahwa “sebenarnya semua yang kita perbuat adalah perbuatan atau kehendak Yang Maha Esa itu sendiri yang bersemayam di dalam jiwa kita dan dalam jiwa setiap makhluk lainnya. Tuhanlah yang “membolak-balikkan” kita tanpa kita bisa berdaya atau menentang kehendak-Nya sedikitpun. Yang Maha Esa adalah ibarat dalang pertunjukkan. Yang mengatur segala-galanya baik segi kostum, tata ruang, penampilan dan semua gerak gerik dan dialog kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang demikian adanya tentu kita tak dapat membantah kebenaran bahwa hidup kita adalah “diatur” oleh-Nya dan tentunya kita hanya wajib menjalankan sesuai peran  yang didapat dengan tujuan akhir kembali pada Sang Pengatur itu sendiri.br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7203531908260907492?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7203531908260907492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-diatur-oleh-hyang-widhi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7203531908260907492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7203531908260907492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-diatur-oleh-hyang-widhi.html' title='Hidup Ini Diatur Oleh Hyang Widhi ?'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5946418368739336824</id><published>2008-08-06T12:09:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:02:15.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengaruh Lagu Saat Memuja Tuhan'/><title type='text'>Pengaruh Lagu Saat Memuja Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJkyKtPP_1I/AAAAAAAAAYY/RFJSqpboz14/s1600-h/Canang+Sari.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJkyKtPP_1I/AAAAAAAAAYY/RFJSqpboz14/s320/Canang+Sari.JPG" border="0" alt="Canang Sari"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231267601691180882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut kodratnya manuasia adalah makhluk “bernyanyi”. Sejak zaman purba hingga memasuki millinieum ketiga ini manusia tetap sebagai “penyanyi”. Dan nyanyian bagi manusia merupakan ekpresi curahan hati, cetusan jiwa dan gambaran perasaan. Maka ketika seorang ibu merasa susah menidurkan buah hatinya, spontan dia menyanyikan lagu lembut penuh kasih sayang untuk menidurkannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang senang senang maka nyanyian gembira menjadi judul lagu yang dilantunkan. Begitu pula ketika seseorang memerlukan dorongan semangat dalam perjuangan, maka lagu-lagu mars heroic yang bernuansa perjuangan di kobarkan. Anak-anak muda yang penuh dinamika, gairah hidupnya meledak-ledak, maka lagu-lagu yang beraliran rock yang keras menggelegar yang pilihannya. Tak terkecuali dengan seorang umat hamba Tuhan yang hendak mengekspresikan rasa rindu kepada-Nya akan memilih lagu-lagu rohani sebagai media bhaktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, lagu atau nyanyian dengan tema dan nuansa apapun tetap akan memberi pengaruh terhadap si penyanyi dan juga yang mendengarkannya. Seorang ibu yang sedang melantunkan lagu pengantar tidur anak, bukan hanya sang anak yang bisa tidur, si ibu pun tidak jarang ikut ketiduran. Ketika menonton pertunjukan musik dangdut, tidak hanya si penyanyinya yang bergoyang, penonton dan pendengar pun terbius untuk ikut-ikutan bergoyang. Mendengarkan lagu-lagu rock apalagi, tidak jarang membuat pendengarnya harus berjingkrak-jingkrak mengikuti irama beraliran keras tersebut. Lain lagi bagi kaum berumur yang lebih senang dengan lagu-lagu berirama lembut seperti keroncong dan juga tembang-tembang kenangan untuk bernostalgia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, lagu atau nyanyian dapat memberi pengaruh yang luar biasa bagi yang melagukannya dan juga bagi yang mendengarkannya. Dan apabila lagu dan nyanyian itu berhubungan dengan tema-tema rohani atau bernuansa religius maka perlahan tetapi pasti jika dilakukan terus berulang-ulang akan dapat menumbuh kembangkan rasa kedekatan kepada-Nya yang berarti juga akan dapat meningkatkan  kadar rohani dan spiritualnya. Bagi agama Hindu, kitab suci Weda bagian Sama Weda merupakan kumpulan dari lagu-lagu atau nyanyian pujian  dan pujaan kepada Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan masyarakat Hindu (Bali) melantungkan kidung atau kekawin dalam aktivitas ritualnya merupakan media untuk menciptakan suasana religius baik suasana upacaranya maupun suasana batinnya. Di dalam istilah sansekertanya sebutan untuk menyanyikan lagu atau kidung suci ini disebut kirtanam atau bhajan. Apa pun istilahnya termasuk versi mana pun lagu yang dikumandangkan (Bali atau India) tetap memiliki nilai dan makna yang sama, asalkan dilakukan dengan penuh bhakti. Dan vibrasi atau getaran sukma lagu dilantunkan berulang-ulang itu diyakini akan dapat semakin mendekatkan kita pada-Nya yang berarti pula Tuhan akan selalu dekat (memberi perlindungan) kepada kita. Dan itu bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan tentunya dilakukan dengan penuh rasa bhakti. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5946418368739336824?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5946418368739336824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/pengaruh-lagu-saat-memuja-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5946418368739336824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5946418368739336824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/pengaruh-lagu-saat-memuja-tuhan.html' title='Pengaruh Lagu Saat Memuja Tuhan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/SJkyKtPP_1I/AAAAAAAAAYY/RFJSqpboz14/s72-c/Canang+Sari.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2293682956864797073</id><published>2008-08-05T15:42:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T08:00:17.920+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Tri Guna dan Apa Cirinya Jika Menguasai Pikiran</title><content type='html'>Tri Guna artinya tiga sifat, bakat atau pembawaan yang meliputi : Sattwa (Sattwam), Rajas (Rajah) dan Tamas (Tamah). Sattwa memancarkan sifat tenang, bahagia, tulus, bijaksana, tanpa pamrih. Rajas mewujudkan sifat-sifat gelisah, dinamis, ambisius, mengharap imbalan. Sedangkan Tamas memperlihatkan sifat-sifat pasif, malas, bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga guna itu dalam kenyataannya tidaklah berdiri sendiri melainkan merupakan satu kesatuan yang utuh dimana satu sama lain akan saling mendominasi. Guna mana yang berhasil mendominasi guna lainnya maka begitulah sifat-sifat yang dipancarkannya. Di dalam kitab suci Bhagavadgita, XIV sloka 10, 12 dan 13 berturut-turut digambarkan dominasi dari setiap guna yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Bila) Sattwa mengatasi Rajah dan Tamah, O Arjuna, (Maka) Rajah dan Tamah ada dalam kebaikan sebagaimana juga adanya Tamah pada Sattwa dan Rajah”, “Lobha, giat dalam usaha, gelisah dalam kerja dan nafsu adalah apabila Rajah bertambah kuasa, O Arjuna”, “Kekurang cerahan, tidak aktif, keteledoran dan juga kebingungan, semua ini timbul dari sifat Tamah yang semakin bertambah kuat O Arjuna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, secara lengkap disuratkan perihal pengaruh Tri Guna dengan pancaran sifat yang saling mendominasi. Di mana sesungguhnya pada setiap orang sudah mempunyai bakat bawaan dengan segala potensi sifat-sifatnya. Sekarang tinggal setiap umat beragama untuk mengarahkan potensi Tri Guna itu agar lebih mendominasi oleh sifat Sattwa, meski sifat Rajah dan Tamah tak mungkin dapat dilenyapkan. Setidaknya sifat Sattwa akan menguasai diri, sehingga potensi kemenonjolan sifat Rajah dan Tamas tidak akan nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja karena ini menyangkut sifat, dan sifat itu cenderung bisa berubah-ubah tergantung banyak factor seperti situasi, kondisi, emosi, pribadi, dll, maka perubahan-perubahan yang terjadi haruslah tetap diarahkan pada sifat sattwa. Caranya : sattwa kekuatan, rajah dikendalikan dan tamah ditaklukkan. Menguatkan sattwa antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran akan kesejatian  Sang Diri sebagai insane beragama yang senantiasa berbhakti hendak mencapai-Nya. Lalu mengendalikan Rajah dengan jalan menekan  berbagai kepentingan berlebihan atas dasar prinsip bahwa setiap karma adalah kewajiban. Sedang menaklukkan Tamah dapat dilakukan dengan menguasai pikiran agar terus berkarma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikemukakan di atas memang baru sebatas teori. Prakteknya terpulang kembali pasa kesadaran diri masing-masing. Hendak menampilkan Guna yang manakah diri kita ini?.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2293682956864797073?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2293682956864797073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/tri-guna-dan-apa-cirinya-jika-menguasai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2293682956864797073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2293682956864797073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/tri-guna-dan-apa-cirinya-jika-menguasai.html' title='Tri Guna dan Apa Cirinya Jika Menguasai Pikiran'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-654682041368014106</id><published>2008-08-03T15:48:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T07:58:09.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mantra Saat Memotong Binatang'/><title type='text'>Mantra yang Diucapkan Saat Memotong Binatang</title><content type='html'>Hakikat hidup adalah melangsungkan kehidupan dengan cara saling menghidupkan. Manusia bisa hidup, tumbuh dan berkembang dengan sehat dengan mengkonsumsi makhluk hidup lainnya binatang dan tumbuh-tumbuhan atau salah satu di antarannya. Bagi umat Hindu, mengkonsumsi binatang tentunya dengan terlebih dahulu menyembelih atau memotongnya tidaklah dilarang, kecuali bagi sebagian umat yang telah secara sadar menempuh cara hidup sebagai vegetarian jelas tidak akan melakukannya. Apalagi jika binatang itu diperuntukkan bagi keperluan upacara agama (yajna) selain dibenarkan juga merupakan proses “penyupatan” bagi binatang kurban untuk meningkatkan status kemakhlukannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu digunakan untuk apapun asal sudah sesuai dengan dharma, penyembelihan atau pemotongan binatang dapat dilakukan. Memang dikalangan umat persoalan boleh tidaknya menyembelih binatang masih menjadi perdebatan yang pada prinsipnya melahirkan pro kontra yang sama-sama memiliki dasar pijakan yang benar. Paling tidak praktek penyembelihan untuk konsumsi manusia dan kepentingan yajna masih berlangsung sesuai acuan kitab suci yang telah dijabarkan ke dalam banyak lontar antara lain lontar Widhi Sastra, Yama Tattwa, Lebur Sanga, Bomakertih, Indik Caru. Di dalam kitab Manusmrti V.39 dan 40 juta telah ditegaskan : “Swayambu (Tuhan) telah menciptakan hewan-hewan untuk tujuan upacara-upacara kurban yang telah di atur sedemikian rupa untuk kebaikan seluruh bumi ini, dengan demikian penyembelihan hewan untuk upacara akan lahir dalam tingkatan  yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu bagi kaum vegetarian cukup kuat juga pijakannya untuk tetap kukuh tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup yang memiliki “bayu dan sabda” (binatang/hewan). Tujuannya tidak lain untuk membersih sucikan jasmani dari pengaruh makanan yang bersifat tamasik yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap peningkatan mental-spiritualnya. Dengan cara hidup vegetarian termasuk melakukan upacara yajna tanpa kurban binatang diharapkan konstruksi bhuwana agung dan bhuwana alit yang terbangun adalah atas dasar rasa cinta kasih tanpa pamrih di mana satu sama lain makhluk hidup terjalin siklus kehidupannya secara harmonis dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, apapun posisi kita sebagi pemakan daging atau vegetarian sepatutunya dapat saling menghargai bukan justru saling menyudutkan. Dan bagi umat yang hendak menyembelih binatang mantranya adalah : “ Om pacupacaya wihmahe, ciraccedaya dhimahi, tanno jiwah pracodayat”, artinya “ Ya Tuhan kami menyembelih binatang, memotong kepalanya dengan hati suci, semoga jiwa dan raganya mendapat kemajuan ke tingkat yang lebih tinggi”. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-654682041368014106?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/654682041368014106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/mantra-yang-ucapkan-saat-memotong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/654682041368014106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/654682041368014106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/mantra-yang-ucapkan-saat-memotong.html' title='Mantra yang Diucapkan Saat Memotong Binatang'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4385538596227640206</id><published>2008-08-01T14:31:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T07:55:34.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Om Swastyastu'/><title type='text'>Vijaksara Om Mengakhiri Setiap Mantra</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJK8DcEpdeI/AAAAAAAAAYQ/Wpru1b9Cqw0/s1600-h/Omkara.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJK8DcEpdeI/AAAAAAAAAYQ/Wpru1b9Cqw0/s320/Omkara.JPG" border="0" alt="Omkara"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229448884591883746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya terdiri atas tiga huruf A + U + M yang kemudian bersandhi menjadi OM, Vijaksara Om yang juga disebut Omkara atau Pranava boleh dikatakan sebagai Vijaksara yang gaib yang mewakili Weda dan seluruh alam semesta. Vijaksara OM juga bisa disebut ajaib karena seperti dikatakan dalam Brahmopanisad, hanya dengan melalui pengucapan Om akan mengajarkan seseorang untuk melihat Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam Aitreya Brahmana pun dinyatakan bahwa Vijaksara Om merupakan symbol Brahman yang berwujud maupun yang tidak berwujud.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi disuratkan di dalam Katha Upanisad bahwa : “suku kata ini sesungguhnya mempunyai semangat yang tidak kunjung habis. Dan suku kata (Vijaksara) ini adalah tujuan yang maha tinggi. Dengan mengerti Vijaksara ini apapun yang diinginkan seseorang akan terwujud”. Bahkan dengan bermeditasi pada Om seseorang akan dapat merealisasikan kebenaran Tuhan Yang Maha Esa (Amrtabindu Upanisad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengutip beberapa suratan singkat dari berbagai kitab suci, nyatalah pemahaman kita bahwa Vijaksara Om tidaklah sekedar aksara tanpa makna. Di dalam Vijaksara Om ada sabda sekaligus wujud Brahman Yang Maha Esa. Karenanya Vijaksara Om tidaklah sekedar symbol belaka yang hanya sebatas dihafal dan dihafalkan tanpa penjiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh di dalam Mundaka Upanisad II.2.6. dianjurkan : “bermeditasilah atas Om sebagai atman. Semoga dikau berhasil menyebrang kearah yang lebih jauh dari kegelapan”. Kitab Yajurveda XL.15.17 juga mengingatkan dengan jelas : “Oh jiwa yang aktif, pada saat kematian, ingatlah Omkara, ingatlah Tuhan Yang Mahakuasa yang memberi kehidupan dan keabadian, ingatlah karya dan ajaran-Nya. Sadarilah bahwa atma adalah bersifat kekal abadi dan tidak terikat oleh badan yang pada akhirnya lebur menjadi abu. Oh umat manusia, oleh-Ku, Pelindung Cemerlang, telah ku tutupi wajah-Ku yang abadi. Kekuatan yang menjadikan matahari bersinar di sana adalah Aku membentang di angkasa raya, Om nama-Ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian mulianya makna filosofi dai Vijaksara Om itu, maka tidaklah aneh bila setiap mengawali dan mengakhiri suatu mantram akan selalu diisi dengan pengucapan Omkara yang tidak lain merupakan kepala dari mantram-mantram Weda yang juga adalah wujud alam semesta. Dan yang keluar merupakan intisari dari Yang Maha Abadi, saripati dari kitab suci Veda (S. Sankaracarya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singakat kata, meski Vijaksara Om terbilang pendek tetapi kandungan filososfinya amat dalam dan agung. Karena itu dalam hal pengucapannya pun kita tidak boleh salah apalagi asal-asalan. Vijaksara Om diucapkan dengan “OM” bukan “UM” yang tentunya disertai dengan penjiwaan hati atas dasar sraddha dan bhakti yang tulus dan mantap.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4385538596227640206?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4385538596227640206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/vijaksara-om-mengakhiri-setiap-mantra.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4385538596227640206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4385538596227640206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/08/vijaksara-om-mengakhiri-setiap-mantra.html' title='Vijaksara Om Mengakhiri Setiap Mantra'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJK8DcEpdeI/AAAAAAAAAYQ/Wpru1b9Cqw0/s72-c/Omkara.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2669995664283503229</id><published>2008-07-31T15:50:00.010+07:00</published><updated>2011-09-19T07:55:22.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Om Swastyastu'/><title type='text'>Berapa Kali Mengucapkan “Om Swastyastu“</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJF91JqUn_I/AAAAAAAAAX4/AkQMPlrAAys/s1600-h/Om+Swastyastu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJF91JqUn_I/AAAAAAAAAX4/AkQMPlrAAys/s320/Om+Swastyastu.JPG" border="0" alt="Om Swastyastu"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229098994433826802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Panganjali umat “Om Swastyastu” pada dasarnya merupakan  salam keagamaan yang mengandung tuntunan doa bagi kerahayuan umat. Begitu juga ucapan paramasanti “Om Canti Canti Canti Om” yang senantiasa memancarkan harapan akan pentingnya arti kedamaian itu. Berbeda dengan ucapan salam yang bersifat umum seperti “selamat pagi” atau “selamat malam” yang cenderung lebih bersifat sebagai etiket dalam pergaulan dengan sesama. Sedang ucapan panganjali dan paramasanti selain menunjukkan segi-segi etika juga mengandung nuansa sacral di mana dengan mengucapkan kita sekaligus memanjatkan doa pengharapan agar semuanya selalu dalam keadaan baik atau rahayu serta damai atas lindungan-Nya. Karena begitu tinggi nilai pengucapannya panganjali atau paramasanti itu maka adalah merupakan suatu perbuatan mulia jika pada setiap pertemuan, baik dengan individu lainnya maupun dalam suatu forum yang melibatkan banyak orang agar didahului dengan panganjali dan kemudian diakhiri dengan paramasanti.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja untuk pertemuan antara satu individu lainnya dalam satu kesempatan, cukup dengan mengucapkan sekali saja. Tetapi bila berhubungan dengan suatu pertemuan dalam bentuk forum dharmatula atau dharma wacana misalnya, dimana terdapat banyak pembicara, penceramah dan juga penanya, maka tidaklah keliru bila setiap pembicara, penceramah, atau penanya selalu mengawali pembicaraan dengan panganjali dan kemudian diakhiri dengan paramasanti. Sebab untuk suatu kebaikan, kerahayuan dan keberasilan sesama sangat terpuji sekali kalau kita dapat memanjatkan doa dulu baik pada awal maupun akhir pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, persoalannya bukan “berapa kali seharusnya kita mengucapkannya”. Melainkan “sudah berapa kalikah kita mengucapkannya”. Lagi pula karena ucapan panganjali dan paramasanti itu tergolong doa/mantra maka sesungguhnyalah semakin sering diucapkan (meski dalam hati sekalipun) semakin terasa kedekatan kita untuk berlindung selalu pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi umat Hindu kebanyakan memang terbiasa untuk berucap salam agama belum begitu mentradisi. Tetapi bukan berarti harus ditiadakan kebiasaan yang baik dan membawa kerahayuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tentang penulisan panganjali umat, sebagaimana sudah umum mengetahui adalah “Om Swastyastu”. Penulisan ini sudah sesuai dengan asal katanya yaitu : Su + Asti + Astu, yang setelah terkena hukum sandhi menjadi “Swastyastu” (U + A = W dan I + A = Y). sedangkan untuk penulisan paramasanti memang cukup banyak variasinya. Ada yang menuliskan Shanti, Santhi, Shanthi atau Canti. Dalam pengalihan bahasa dari bahasa sansekerta ke dalam bahasa jawa kuno ditulis “Canti” tetapi bila dialihkan ke dalam Bahasa Indonesia maka menjadi “Santi”. Dan karena penulisan Bahasa Indonesia disesuaikan dengan bunyi maka sering juga ditulis “Santi”. Tetapi jika mengacu pada keputusan Pesamuhan Agung PHDI tentang Tri Sandhya tahun 1990 maka penulisan paramasanti yang benar adalah “Om Santi Santi Santi Om”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2669995664283503229?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2669995664283503229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/berapa-kali-mengucapkan-om-swastyastu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2669995664283503229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2669995664283503229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/berapa-kali-mengucapkan-om-swastyastu.html' title='Berapa Kali Mengucapkan “Om Swastyastu“'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJF91JqUn_I/AAAAAAAAAX4/AkQMPlrAAys/s72-c/Om+Swastyastu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-9166535295385890071</id><published>2008-07-30T14:11:00.012+07:00</published><updated>2011-09-19T07:55:00.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gayatri Mantra'/><title type='text'>Gayatri Mantra, Mantra yang Paling Mulia</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJAVYqcQVkI/AAAAAAAAAXw/dBrBRxAOhko/s1600-h/Gayatri.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJAVYqcQVkI/AAAAAAAAAXw/dBrBRxAOhko/s320/Gayatri.jpg" border="0" alt="Gayatri"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228702680830989890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai umat Hindu yang bhakti, Tri Sandhya yaitu sembahyang sebanyak tiga kali sehari adalah wajib hukumnya untuk di laksanakan. Seperti halnya manusia perlu makan tiga kali sehari untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya agar kuat dan sehat fisiknya, maka begitu pun halnya melaksanakan kewajiban Tri Sandhya adalah juga untuk memenuhi kebutuhan rohani agar kuat dan sehat mental spritualnya. Karenanya, jika untuk urusan makan hampir tidak ada orang yang lupa untuk melakukannya. Padahal hakikat Tri Sandhya itu sungguh teramat dalam kandungan nilai spiritualnya. Sebab dengan hanya melaksanakan kewajiban Tri Sandhya yang dalam sekali kesempatan Cuma memerlukan waktu sekitar empat menit itu kita sudah berbuat rahayu yaitu :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Mendekatkan diri kehadapan Hyang Widhi&lt;br /&gt;2. Memperkuat sradha dan bhakti ke hadapan Hyang Widhi&lt;br /&gt;3. Mengucapkan rasa angayubagia atas asung kerta waranugraha-Nya yang selalu dilimpahkan kepada kita&lt;br /&gt;4. Memohon maaf atas segala kesalahan atau kelalaian yang diperbuat, dipikirkan dan diperkatakan baik yang sengaja maupun tidak disengaja dengan harapan kiranya Tuhan akan senantiasa memberi jalan terang bagi perjalanan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cukup besar sebenarnya kemuliaan yang didapat dari pelaksanaan kewajiban Tri Sandhya. Dan tanpa disadari, jika dihitung secara matematis bila setiap hari dengan rutin kita dapat melakukan Tri Sandhya sebanyak tiga kali sehari, maka kelak perbuatan mulia tersebut akan menjelma menjadi tabungan rohani atau tabungan sorgawi yang berguna untuk semakin meningkatkan kualitas spiritual kita sebagai umat Hindu yang senantiasa berikhtiar mencapai jagadhita (kesejateraan lahit) dan moksha (kebahagian batin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal sebutan bait pertama Tri Sandhya atau Gayatri Mantra sebagai ibu dari segala mantra memenag begitulah adanya. Sebagaimana diketahui Gayatri Mantra dikutip dari kitab suci Reg Weda, Mandala III, sukta 62, mantra 10 tetapi tanpa dilengkapi Omkara atau Pranawa dan Mahawyahrti (Om Bhur Bhuwah Swah). Matra ini memakai Chanda atau irama Gayatri. Gayatri mantra adalah mantra mantra yang paling mulia di anatara mantra-mantra. Ia bersifat universal dan mampu membangkitkan kekuatan spiritual. Pengucapan Gayatri Mantra ini ditujukan kepada Hyang Widhi yang bergelar “Sawita” yang berarti “dia melahirkan segalanya”. Gayatri Mantra juga dipandang sebagai Wedasara yaitu intisari Weda. Maka tak berlebihan jika akhirnya dikatakan bahwa Gayatri Mantra itu adalah ibu dari segala mantra yang sangat dimuliakan. Bahkan dengan hanya mengucapkan Gayatri Mantra sebanyak tiga kali, bait-bait Tri Sandhya berikutnya boleh tidak diucapkan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-9166535295385890071?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/9166535295385890071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/gayatri-mantra-mantra-yang-paling-mulia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9166535295385890071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/9166535295385890071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/gayatri-mantra-mantra-yang-paling-mulia.html' title='Gayatri Mantra, Mantra yang Paling Mulia'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SJAVYqcQVkI/AAAAAAAAAXw/dBrBRxAOhko/s72-c/Gayatri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1624200575336610780</id><published>2008-07-29T11:34:00.008+07:00</published><updated>2011-09-19T07:51:42.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewa Pitara'/><title type='text'>Apa Maksud Ngalinggihang Dewa Pitara</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI6eVrL8YZI/AAAAAAAAAXo/4CLAqnSRv9M/s1600-h/Ukiran+Bali+(Wayang).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI6eVrL8YZI/AAAAAAAAAXo/4CLAqnSRv9M/s320/Ukiran+Bali+(Wayang).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228290312630985106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sastra-sastra agama, Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara disebut dengan istilah Nilapati. Dan di masyarakat sendiri ada istilah lain sebagai padanannya yaitu : Ngaluwurang dan Ngenteg Linggih. Pada zaman Hindu di Jawa, Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara juga ada namun disebut dengan nama Dhinarma yang artinya menstanakan arwah yang telah disucikan ke dalam suatu dharma atau sudharma (candi).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara adalah upacara Atmapratistha yaitu suatu upacara mempratisthakan atma atau ngalinggihang arwah yang telah menjadi Dewa Pitara (tentunya setelah melalui rangkaian upacara Ngaben dan mamukur) pada palinggih kamulan atau kawitan (rong telu) di sanggah atau merajan. Pelaksanaannya, mula-mula sang Dewa Pitara dipratisthakan pada daksina palinggih (karena tidak ada lagi sarinya) dan lanjut daksina palinggih itu dipratisthakan atau dilinggihkan pada palinggih kamulan atau kawitan yang berbentuk rong tiga, susunannya, Sang Dewa Pitara yang lanang (laki) dilinggihkan pada rong palinggih di kanan dan sang Dewa Pitara yang istri (wanita) dilinggihkan pada rong palinggih di kiri (arahnya dilihat dari arah hadap palinggih itu sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, pada jaman Hindu di Jawa, Sanga Dewa Pitara dipratisthakan pada arca perwujudan (arca yang mewujudkan/menggambarkan sang raja ketika masih hidup sesuai dengan sifat-sifatnya dan agama yang dipeluknya) dan arca perwujudan itu lalu dipratisthakan pada suatu candi. Hal seperti ini juga dilaksanakan di Bali tahun 1489. karena itu sampai saat ini banyak terdapat peninggalan arca-arca perwujudan pada beberapa Pura Kuno di Bali, seperti di Pura Bukit Penulisan Kintamani, Pura Penataran Sasih Pejeng. Dalam perkembangan tradisi mengarcakan sang Dewa Pitara di Bali tidak lagi diteruskan. Sebagai pengganti arca perwujudan itu adalah Daksina palinggih. Begitu pun dengan arca untuk Pralingga Bhatara tidak lagi dibuat melainkan diganti dengan Daksina Palinggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi meskipun terjadi perubahan, tepatnya pergantian bentuk dari penggunaan arca perwujudan diganti dengan daksina palinggih, tradisi upacara pratistha atau ngelinggihang baik Atmapratistha maupun Dewapratistha tetap dilaksanakan hingga kini. Karena Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara ini mengandung makna sebagai preses bhakti yang terus menerus tanpa terputuskan dalam rangka sradha dan bhakti para preti sentana kepada para leluhurnya yang berada atau berkedudukan sebagai Dewa Pitara (roh leluhur yang telah suci dan diyakini tinggal di alam Dewa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara merupakan sebagian dari upacara Mamukur, pada kenyataannya tidak, tetapi di lihat dari urut upacara yang harus dilalui dalam upacara Pitra Yajna maka sebenarnyalah upacara Ngalinggihang Dewa Pitara ini merupakan kelanjutan dari upacara Mamukur sekaligus merupakan pertanda bagi preti sentananya bahwa leluhurnya telah suci dan layak disembah setara dengan Dewa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1624200575336610780?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1624200575336610780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/apa-maksud-ngalinggihang-dewa-pitara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1624200575336610780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1624200575336610780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/apa-maksud-ngalinggihang-dewa-pitara.html' title='Apa Maksud Ngalinggihang Dewa Pitara'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI6eVrL8YZI/AAAAAAAAAXo/4CLAqnSRv9M/s72-c/Ukiran+Bali+(Wayang).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1858498032561422695</id><published>2008-07-28T14:13:00.012+07:00</published><updated>2011-09-19T07:51:25.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewa dan Bhatara'/><title type='text'>Perbedaan Tingkatan Dewa dan Bhatara</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI11pOSV1YI/AAAAAAAAAXg/Gs7EmlY3sbI/s1600-h/Naga+Basuki+(Bali).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI11pOSV1YI/AAAAAAAAAXg/Gs7EmlY3sbI/s320/Naga+Basuki+(Bali).jpg" border="0" alt="Naga Basuki"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227964093517124994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemahaman Brahma Widya yaitu ilmu tentang Tuhan dapat diketahui perihal beberapa definisi, di dalam kitab Brahma Sutra I.1.2 misalnya, dengan singkat namun jelas didefinisikan tentang Tuhan itu yaitu : Janmadhyasya yatah, bahwa Tuhan itu adalah dari mana mula (asal) semua ini. Dari bahasa yang  lebih sering kita dengar Tuhan itu tidak lain dari Sang Sangkan Paraning Dumadi – beliau yang menyebabkan segala yang ada dan lahir menjelma. Itu artinya Tuhan adalah pencipta segala yang ada bahkan yang akan ada, termasuk mengembalikan ke alam-Nya kelak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentang Dewa, menurut kitab Regveda X/129 dijelaskan bahwa Dewa itu diciptakan oleh Tuhan setelah menjadikan semua alam semesta beserta isinya. Jadi Dewa itu bukan Tuhan karena Dewa diciptakan oleh Tuhan itu sendiri. Dewa dijadikan atau diciptakan dari “sinar” (dev) dan karenanya menurut sifatnya makhluk Tuhan itu disebut Dewa. Dalam bahasa upadesa, Dewa itu adalah perwujudan sinar suci Hyang Widhi yang memberikan kekuatan suci guna kesempurnaan makhluk-makhluk. Pendeknya, Dewa itu bukan Tuhan dan Tuhan itu pun bukan Dewa. Tuhan adalah pencipta segenap makhluk dan Dewa itu sendiri termasuk salah satu ciptaan-Nya, tentunya dengan status/kedudukan tertinggi di antara semua ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai istilah Bhatara pada hakikatnya terlahir dari sebuah proses penyucian arwah leluhur melalui rangkaian upacara Pitra Yajna. Bermula dari istilah Preta yaitu arwah orang yang baru meninggal dan belum di aben sehingga perwujudannya disebut Bhutacuil dan dianggap masih berada di Bhuta Loka. Setelah di aben preta berubah sebutan menjadi Pitara yang berkeadaan suci dan berada di Bhuwah Loka (alam Pitara). Selanjutnya jika sudah melalui upacara “Mamukur” yaitu upacara peningkatan kesucian arwah, sang Pitara akan menuju ke alam Swah Loka (alam Dewa) dan disebut Bhatara yang setingkat Dewa-dewa. Tapi Bhatara tetaplah Bhatara dan bukan Dewa. Hanya saja karena berfungsi sebagai pembimbing dan pelindung acapkali kedudukan Dewa dan Bhatara dipandang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula sebabnya istilah Dewa dan Bhatara dalam penggunaannya sering disamakan. Maka muncullah istilah padanya seperti : Dewa/Bhatara Brahma, Dewa/Bhatara Wisnu, Dewa/Bhatara Siwa, termasuk Dewa Nawa Sanga (Dewa menurut pengider-ideran) yang juga dipersamakan penyebutannya dengan Bhatara Nawa Sanga. Bahkan tidak jarang untuk menyebut Hyang Widhi pun pada kalangan masyarakat kebanyakan, hanya menyebutnya dengan nama Dewa Ratu/Ratu Bhatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, definisi Bhatara Kawitan yang dimaksud tidak lain dari arwah suci leluhur kita masing-masing yang mempunyai ikatan genealogis langsung. Termasuk bapak ibu, saudara serta kerabat dari garis “purusa” yang sudah tiada dan sudah di aben serta “mamukur”. Sehingga layak dilinggihkan di “Kamulan” untuk disembah sebagai Bhatara-Bhatari Kawitan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1858498032561422695?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1858498032561422695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/perbedaan-tingkatan-dewa-dan-bhatara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1858498032561422695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1858498032561422695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/perbedaan-tingkatan-dewa-dan-bhatara.html' title='Perbedaan Tingkatan Dewa dan Bhatara'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SI11pOSV1YI/AAAAAAAAAXg/Gs7EmlY3sbI/s72-c/Naga+Basuki+(Bali).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2850432079596118234</id><published>2008-07-27T10:53:00.012+07:00</published><updated>2011-09-19T07:51:09.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Upakara Wujud Hyang Widhi</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIvxiJcGRXI/AAAAAAAAAXY/jf-c3RF93qU/s1600-h/Acintya,+Simbol+Hyang+Widhi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIvxiJcGRXI/AAAAAAAAAXY/jf-c3RF93qU/s320/Acintya,+Simbol+Hyang+Widhi.JPG" border="0" alt="Acintya, Simbol Hyang Widhi"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227537361445209458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajaran yajna dalam prakteknya melahirkan upacara dan upakara. Upacara merupakan pelaksanaan yajna itu sendiri. Sedangkan upakara merupakan sarana penunjang/pelengkap dari upacara. Contoh, upacara piodalan Sanghyang Aji Saraswati, sarana pokonya adalah Upakara/Banten Saraswati. Semakin besar tingkatan upacaranya, maka semakin besar/banyak pula upakara atau bantennya. Tetapi ingat, besar kecilnya upakara hanyalah menunjuk kuantitas (jumblah) bukan kualitas (mutu). Dan berapa pun besar tingkatan upacara dengan upakara be bantennya, dilihat dari segi sarana hanya akan terdiri atas tiga jenis, yaitu : mataya, sarana yang berasal dari sesuatu yang lahir sekali langsung menjadi binatang seperti sapi, kerbau, babi, anjing. Selain dari segi asal sarana, upakara juga dapat dibedakan menurut keadaan material yang digunakan yaitu dikenal dengan sebutan : matah-lebeng-nasak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Segala macam dan bentuk upakara itu memang merupakan gambaran atau perwujudan dari Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Di dalam lontar Yajna Prakerti atau Tegesing Arti Banten telah dinyatakan bahwa semua sarana/upakara yang dipakai dalam upacara mengandung arti simbolis. Contoh : Canang genten merupakan upakara yang paling kecil tetapi sudah mengandung inti yang menggambarkan Hyang Widi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Tri Murti. Perinciannya dapat diketahui dengan melihat perlengkapan “porosan” yang terdiri atas : daun sirih (hijau) adalah symbol Wisnu, pinang (merah) symbol Brahma, lalu kapur (putih) merupakan symbol Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar Kusumadewa dicontohkan juga bahwa banten yang terdapat pada : Sanggar Tawang merupakan symbol hulu Hyang Widhi, Sanggar Tutuan merupakan bahu dan tangan Hyang Widhi, Lapan/asagan merupakan badan Hyang Widhi, lalu Caru merupakan perut-Nya, Panggungan adalah kaki-Nya, Paselang adalah tempat-Nya berpijak, sedangkan semua jejahitan yang ada tidak lain merupakan penggambaran kulit-Nya. Boleh jadi karena segala sarana/upakara itu melambangkan perwujudan Hyang Widhi maka setiap umat Hindu yang akan mempersembahkan wajib memenuhi banyak syarat, di antaranya : diperoleh atas dasar dharma, didorong rasa tulus iklas, dipersembahkan dengan pikiran bersih-suci tanpa pamrih.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2850432079596118234?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2850432079596118234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/upakara-wujud-hyang-widhi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2850432079596118234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2850432079596118234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/upakara-wujud-hyang-widhi.html' title='Upakara Wujud Hyang Widhi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIvxiJcGRXI/AAAAAAAAAXY/jf-c3RF93qU/s72-c/Acintya,+Simbol+Hyang+Widhi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-3771022113624593704</id><published>2008-07-26T11:58:00.014+07:00</published><updated>2011-09-19T07:50:56.045+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banten'/><title type='text'>Banten bukan sekedar Materi</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIqvmCwPZkI/AAAAAAAAAXQ/kWtSLp7r5Mw/s1600-h/Canang+Sari.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIqvmCwPZkI/AAAAAAAAAXQ/kWtSLp7r5Mw/s320/Canang+Sari.JPG" border="0" alt="Canang Sari"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227183385625978434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melihat banten atau orang ngaturang banten tanpa disertai dengan pengetahuan dan penghayatan serta keyakinan tentang ajaran yajna, tak ubahnya dengan menyaksikan seseorang memberikan bingkisan kepada orang lain. Titik fokusnya adalah materi/benda. Begitu bingkisan itu diserah-terimakan selesai sudah acara pemberian itu. Cara pandang begini tidak dapat dilakukan pada aktivitas “mebanten”. Meski secara kasat mata, yang nampak hanyalah sesuatu yang bersifat materi/benda seperti unsure daun, bunga, buah, air dan lain-lain tetapi dibalik “banten” itu terkandung makna yang teramat dalam. Paling tidak ada dua unsure yang terkandung di dalam perbuatan “ngaturang banten”, yaitu kualitas dan kuantitas. Yang menjadi landasan pertama dari “mebanten” itu adalah kualitas diri, meliputi : keyakinan, bahwa perbuatan mebanten itu merupakan kewajiban agama yang patut dijalankan. Kalau tidak yakin, kendati bersangkutan orang Hindu, sebaiknya tidak memaksakan diri “ngaturang banten”. Karena hanya dengan keyakinan (sradha) apa yang kita persembahkan sebagai wujud bhakti akan diterima oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain keyakinan, juga disertai dengan kerelaan mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk dipersembahkan secara tulus iklas dengan tanpa berpikir akan mendapatkan pamrih. Unsure kualitas diri (keyakinan, bhakti, pengorbanan, tulus iklas dan tanpa pamrih), ini merupakan bagian yang tidak mudah dilihat oleh seseorang ketika ia melihat umat Hindu “ngaturang banten”. Dan mengapa harus memenuhi unsure kualitas diri dalam “mebanten”? karena itulah yang akan menjadi “bahasa pengantar” terhadap unsure kuantitas (materi, jumlah dan jenis) yang hendak dipersembahkan kepada-Nya. Jadi, sesungguhnya unsure kuantitas (materi/benda) lebih berposisi sebagai symbol nyata dari pengorbanan itu sendiri. Bukakah Hyang Widhi, Ida Bhatara seseorang kasat mata “tidak menikmati” apa yang dipersembahkan? Akhirnya umat yang “ngaturang banten” itu juga yang akan menikmati apa yang tadinya dipersembahkan, sebagai prasadam (symbol waranugraha-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, selain mengandung unsure kualitas dan kuantitas, perbuatan ngaturang banten itu juga memberi efek sugesti dan psikologis yang sangat kuat. Betapa media banten telah mampu memberikan “rasa dekat” dengan-Nya dan perasaan tenang serta damai seperti mudah menyelimuti diri kita seusai “mebanten”. Inilah nilai tertinggi dari “mebanten” yang memang bagi orang awam tak terjangkau oleh pikirannya. Karena itu, bagi orang awam, apalagi yang memang tidak mempunyai keyakinan tentang banten (yajna) boleh saja melihat tetapi untuk menilainya sebaiknya tidak dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-3771022113624593704?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/3771022113624593704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/banten-bukan-sekedar-materi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3771022113624593704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/3771022113624593704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/banten-bukan-sekedar-materi.html' title='Banten bukan sekedar Materi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIqvmCwPZkI/AAAAAAAAAXQ/kWtSLp7r5Mw/s72-c/Canang+Sari.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1913565326157528313</id><published>2008-07-25T15:08:00.010+07:00</published><updated>2011-09-19T07:50:36.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maharesi Penerima Wahyu'/><title type='text'>Peringatan Kelahiran Maharesi Penerima Wahyu</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SImKZk5fAjI/AAAAAAAAAXA/BNbr4L7zaEE/s1600-h/Walmiki.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SImKZk5fAjI/AAAAAAAAAXA/BNbr4L7zaEE/s320/Walmiki.jpg" border="0" alt="Walmiki menulis wiracarita Rayamana"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226861014546317874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, tidak seperti agama-agama lainnya, agama Hindu tidak mengenal hari tertentu untuk memperingati saat kelahiran ataupun kematian tokoh-tokoh sucinya seperti para maharesi. Seperti diketahui, istilah rsi atau maharesi adalah sebutan untuk tokoh suci Hindu yang atas kehendak-Nya mendapat mandate untuk berperan sebagai “perantara” guna menerima dan kemudian menyiarkan, menyebarkan dan mengajarkan ajaran-ajaran-Nya bagi kesempurnaan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Hindu, untuk tokoh-tokoh suci (besar) kelahiran dan kematian tidaklah bersifat fisakal. Ibarat sebatang lilin, kapan lilin itu dibuat bukanlah soal. Yang terpenting adalah sinar, cahaya atau nyala yang dipancarkan untuk memberi penerangan. Begitu menjadi sinar, cahaya atau nyala unsure fisik (materi) yang menyebabkan “terang” tidak dipersoalkan. Apakah sinar, cahaya atau nyala itu berasal dari sebatang lilin, sebuah obor, lampu tempel, neon dan sejenisnya tidak lagi dibicarakan. Begitulah konsep Hindu menempatkan tokoh-tokoh sucinya seperti maharesi. Begitu sabda Tuhan (Daiwi Wak) diterima, tugas atau misi yang wajib diteruskan adalah menerangi seluruh umat (Hindu) oleh sinar-ajaran-Nya agar tidak menjadi umat yang terbelenggu “awidya” kebodohan dan kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di dalam kitab Mundakopanisad III. 2.8 dengan jelas disuratkan : “Bagaimana sungai-sungai mengalir kelautan luas, akan hilang, lenyap nama dan bentuk, demikian pula orang yang telah mencapai pencerahan, terbebas dari nama dan wujud, manunggal dengan Yang Maha Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bagi seorang maharesi, fisik materi hanyalah media/sarana dan namapun hanya sebatas sebutan untuk membedakan diri dari yang lain. Bagaikan aliran sungai dengan bentuk dan penamaan yang berbeda-beda semua akan sirna begitu bermuara dilautan lepas, samudra luas. Semua yang berbeda fisik, berlainan nama menjadi satu sebagai bagian dari lautan atau samudra itu sendiri. Dalam contoh pembanding yang lebih dekat, di dalam dunia karya sastra Hindu dapat dijumpai betapa para pengarang, penyair, pengubah atau pencipta karya seni (sastra) nyaris tidak ada yang mencantumkan sosok diri dan namanya secara tegas. Semuanya membuat gambaran diri dan atau nama dengan memakai “sebutan berkulit” yang harus dikaji dengan cermat untuk mengetahui sosok sang pencipta yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua itu dilakukan semata-mata sebagai sebuah bentuk “bhakti” yang bersangkutan kepada Tuhan yang selanjutnya di abdikan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Tidak ada kamus “menurut” hak cipta bagi mereka. Baginya karyanya adalah karya kita, karya bersama yang dipersembahkan untuk manusia atau Tuhan itu sendiri. Itulah sebabnya, apa yang disebut sebagai hari peringatan kelahiran atau kematian bagi tokoh-tokoh suci Hindu memang tidak lazim. Sebab seorang maharesi ataupun pengarang besar adalah milik-Nya yang karya-karyanya adalah milik kita bersama untuk menerangi “kegelapan hidup”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1913565326157528313?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1913565326157528313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/peringatan-kelahiran-maharesi-penerima.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1913565326157528313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1913565326157528313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/peringatan-kelahiran-maharesi-penerima.html' title='Peringatan Kelahiran Maharesi Penerima Wahyu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SImKZk5fAjI/AAAAAAAAAXA/BNbr4L7zaEE/s72-c/Walmiki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2627312292935099999</id><published>2008-07-20T09:50:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T07:47:15.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ngotonin'/><title type='text'>Ngotonin atau Ultah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIKoW15vIuI/AAAAAAAAAWg/yvZmGAaXBis/s1600-h/3Bulanan+Surya.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIKoW15vIuI/AAAAAAAAAWg/yvZmGAaXBis/s320/3Bulanan+Surya.JPG" border="0" alt="Upacara Tiga bulanan Surya"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224923628083028706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari, pelan tetapi pasti banyak di antara kita yang karena perkembangan zaman acapkali menomerduakan konsep ajaran agama untuk alasan mengikuti fenomena kehidupan manusia modern. Misalnya dalam hal peringatan hari kelahiran, di mana menurut konsep Hindu terutama yang sudah mentradisi di Bali sebagai diperingati melalui upacara yang disebut “ngotonin” yang justru dirayakan setiap “ngenem bulan” (210 hari sekali), bukan setahun sekali seperti acara ulang tahun umumnya. Tetapi karena alasan mengikuti fenomena manusia modern tidak jarang upacara “ngotonin” dikesampingkan sedang acara peringatan hari ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran. Bahkan untuk tetap bisa disebut manusia modern, peringatan hari lain yang diimpor dari dunia barat dengan serta merta diikuti seperti hari kasih sayang yang popular disebut Valentine Day.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sah-sah saja seseorang untuk turut larut dalam peringatan suatu hari tertentu meski secara konseptual tidak berakar dari budaya dan tuntunan ajaran agama kita. Namun sebagai umat yang menyakini bahwa ajaran agama merupakan pijakan pertama dan utama dalam berbuat, maka konsep ajaran (ritual) agama tak boleh dikesampingkan apalagi sampai ditiadakan. Katakanlah seperti hari “otonan”, sebenarnya jauh lebih mulia dilaksanalan dari pada sekedar merayakan hari ulang tahun. Alasannya, upacara “ngotonin” itu melingkupi keseluruhan aspek yang dibutuhkan dalam memperingati hari kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aspek ritual dengan media upakara/banten Ngotonin sebagai pengamalan ajaran yajna dengan makna sebagai ungkapan angayu bagia atas waranugraha-Nya berupa kerahayuan sehingga berkesempatan mendapatkan tambahan umur. Kedua, aspek spiritual dengan media doa, japa, mantra yang mengiringi upacara Ngotonin merupakan nilai tinggi yang didapat bagi seseorang dalam rangka meningkatkan sraddha dan bhaktinya kepada Hyang Widhi, dan Bhatara-Bhatari. Dan ketiga, aspek seremonial berupa kemeriahan atau kesemarakan di mana bersama anggota keluarga bersama-sama menikmati “surudan banten ngotonin” merupakan peristiwa penuh nuansa agamais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan acara peringatan hari ulang tahun, tanpa bermaksud meremehkan, tetapi begitu yang nampak menggejala, umumnya lebih menampakan aspek seremonial saja. Di situ akan ditampilakan acara-acara yang cenderung bersifat hura-hura, makan, minum sepuasnya malah tidak jarang sampai teller. Sedang hakikat peringatan ulang tahunnya terlewati begitu saja saja seiring usainya acara pesta ulang tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tindakan untuk mengutamakan peringatan hari ulang tahun melalui “ngotonin” amat terpuji, meski bukan berarti harus melarang sang anak untuk berulang tahun. Tetapi adalah lebih baik dan benar melaksanakan “ngotonin” dari pada merayakan hari ulang tahun yang notabena bukan kewajiban agama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2627312292935099999?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2627312292935099999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/ngotonin-atau-ultah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2627312292935099999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2627312292935099999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/ngotonin-atau-ultah.html' title='Ngotonin atau Ultah'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SIKoW15vIuI/AAAAAAAAAWg/yvZmGAaXBis/s72-c/3Bulanan+Surya.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1989820990976520572</id><published>2008-07-19T12:16:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T07:48:39.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana Hitam'/><title type='text'>Busana Hitam Tidak Wajib</title><content type='html'>Soal busana hitam yang belakangan menjadi ciri dalam upacara kematian (Pitra Yajna) bukanlah pakaian seragam yang wajib atau harus digunakan. Bahwa soal warna busana terkait dengan kegiatan upacara yajna memang tidak disebutkan. Yang dijelaskan hanya menyangkut soal kelengkapan dan komposisi busana yang tentunya disesuaikan hanya menyangkut soal kelengkapan dan komposisi busana yang tentunya disesuaikan dengan tingkatan “pepayasan”, mulai dari payas alit, madya sampai agung (gede).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perihal berkembangnya pemakaian busana hitam dalam upacara kematian, sebenarnya tumbuh dari kecendrungan umum (universal). Di mana warna hitam sudah lumbrah dihubungkan dengan warna kedukaan atau kesedihan. Sementara dalam pandangan Hindu, warna hitam bukanlah pertanda duka, sedih atau isyarat kematian. Bagi Hindu warna hitam justru berarti kehidupan dan kesuburan. Dewa Wisnu sebagai salah satu manfestasi Tuhan dalam prabhawanya sebagai pemelihara (sthiti) yang memberikan kehidupan dan kesuburan dalam pengider-ideran mengenakan busana warna hitam. Lebih dari itu, seperti halnya kehidupan, kematian dalam pandangan Hindu bukanlah sesuatu yang harus disesali, lalu larut dalam duka dan rasa sedih berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dan kematian merupakan rta – hukum-Nya yang mau tidak mau harus diterima sebagai kehendak Tuhan. Di dalam kitam suci Bhagavadgita, II.11 dan 27 dipaparkan wejangan Sri Kresna kepada Arjuna yang ragu maju ke medan laga Bharatayudha lantaran diketahui akan jatuhnya korban, “Engkau berduka kepada mereka yang tak patut engkau sedihi, namun engkau bicara tentang kata-kata kebijaksanaan. Orang bijaksana tidak akan bersedih baik bagi yang hidup maupun yang mati, sesungguhnya setiap yang lahir kematian adalah pasti dan demikian pula setiap yang mati kelahiran adalah pasti, dan ini tak terelakkan, karena itu tak ada alasan engkau merasa menyesal (berduka/bersedih)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak suratan sloka Bhagavadgita di atas, jelaslah bahwa kematian sesungguhnya merupakan “peristiwa biasa” bagi-Nya, meski bagi kita amat luar biasa dirasakan sebagai suati kehilangan besar. Sejalan dengan pandangan itu, maka sebenarnyalah pertanda duka dengan mengenakan busana hitam, misalnya kematian, tidaklah berdasar. Apa yang menjadi gejala penyeragaman serba hitam dalam busana kematian tidak lebih dari kecendrungan mengikuti mode busana umum. Satu hal lagi, dalam Hindu soal busana bukanlah esensial. Busana justru lebih syarat dengan muatan local. Jadi soal busana terpulang pada cipta, rasa dan karsa budaya setempat, termasuk soal warnanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1989820990976520572?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1989820990976520572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/busana-hitam-tidak-wajib.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1989820990976520572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1989820990976520572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/busana-hitam-tidak-wajib.html' title='Busana Hitam Tidak Wajib'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2115067775065805694</id><published>2008-07-18T11:41:00.009+07:00</published><updated>2011-09-19T07:46:56.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Nyepi'/><title type='text'>Menghidupkan TV saat Nyepi</title><content type='html'>Satu hal nampaknya perlu berulang kali dikatakan bahwa agama Hindu itu bersifat supel, fleksibel dan selalu mendasari pijakan pelaksanaan pada desa-kala-patra dan dresta. Sebab acuan tentang kebenaran menurut agama Hindu tidak saja berpedoman pada kitab suci Weda baik Sruti maupun Smrti tetapi ada juga yang berpijak pada Sila (tingkah laku orang-orang baik/suci), Acara (kebiasaan/tradisi yang benar) dan Atmanastuti (kepuasan batin), begitu di suratkan di dalam kitab Manu Smrti II.6.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian , maka acapkali dijumpai apa yang sudah menjadi ketentuan ajaran, dalam pelaksanaan bisa disesuaikan lagi menurut situasi dan kondisi. Contoh, jika dalam satu desa adat ada karma adat mati, maka odalan di Kahyangan Tiga tidak dapat dilaksanakan. Tetapi karena persiapan upacara dan upakara piodalan sudah berlangsung lama dan tinggal menyelenggarakan saja sementara krama adat itu meninggal tepat sesaat sebelum piodalan dilangsungkan, maka sesuai desa-kala-patra dan dresta, piodalan dapat dilanjutkan sementara terhadap sang mati diperlakukan/dianggap sebagai “orang tidur” dengan membuatkan banten pengalang sasih. Contoh lain, ketika piodalan Saraswati ada ketentuan (brata Saraswati) yang menyarankan tidak diperkenankan membaca dan menulis, sementara dalam pelaksanaannya, sebelum persembahyangan dilakukan ada yang namanya penyampaian Dharma Wacana yang dilakukan dengan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun terhadap pelaksanaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepian, yang tidak semuanya secara saklek bisa dilaksanakan. Ada saja alasan-alasan yang berdifat situasional yang memberi toleransi. Misalnya, Brata Amati Lelungan di mana umat Hindu tidak diperkenankan untuk berpergian, tetap kenyataannya ditoleransi bagi orang-orang termasuk umat Hindu untuk berpergian karena alasan tertentu/khusus, seperti tugas Negara , mengantar orang sakit, keadaan gawat darurat. Di mana Brata Amati Lelanguan yang berarti tidak menghibur diri, seperti tidak nonton TV ternyata dalam prakteknya cukup banyak umat Hindu yang menyempatkan diri menghibur diri menghibur diri dengan nonton acara-acara TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau misalnya menonton TV dengan tayangan untuk 21 tahun keatas, tentu tidak dibenarkan karena ada norma yang dilanggar yaitu memperturutkan nafsu/indria kebirahian. Tetapi seperti halnya toleransi yang diberikan pada kegiatan keagamaan yang lain, maka kegiatan menghidupkan/menghidupkan TV dengan acara yang bernafaskan ajaran agama Hindu dimana pemirsa akan mendapat tontonan sekaligus tuntunan nampaknya bisa ditoleransi. Bukankah tujuan pelaksanaan Nyepi atau kegiatan keagamaan lainnya bertujuan untuk menumbuh kembangkan sekaligus meningkatkan kadar jnana, sradha dan bhakti umat. Bila ini tujuannya maka ajaran agama Hindu yang bersifat supel dan fleksibel dapat dibenarkan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2115067775065805694?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2115067775065805694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/menghidupkan-tv-saat-nyepi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2115067775065805694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2115067775065805694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/menghidupkan-tv-saat-nyepi.html' title='Menghidupkan TV saat Nyepi'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-4346818340805589694</id><published>2008-07-17T13:39:00.007+07:00</published><updated>2011-09-19T07:46:53.382+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya Galungan'/><title type='text'>Kata Galungan dan Kuningan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH7rS2IGn_I/AAAAAAAAAWI/HVxsGz2lu2Q/s1600-h/Galungan+dan+Kuningan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH7rS2IGn_I/AAAAAAAAAWI/HVxsGz2lu2Q/s320/Galungan+dan+Kuningan.jpg" border="0" alt="Galungan dan Kuningan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223871326796029938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena agama Hindu memberi kebebasan umatnya untuk menafsirkan  ajaran-ajaran-Nya yang penuh dengan rahasia sekaligus kaya dengan istilah-istilah berkulit, maka sering kali membuat tafsiran yang tidak jarang keliru. Meski ada pula yang terkadang cocok walau belum tentu benar. Dari segi makna Galungan dan Kuningan, bahwa rerainan gumi itu bertujuan untuk memperoleh galang (terang) dan ning (keheningan) adalah cocok. Hanya jika dikatakan istilah Galungan dan Kuningan berasal dari kata “galang” dang “ning” tidaklah benar. Dalam konteks bahasa Bali, penafsiran demikian sering disebut “arti aud-audan” cocok meski tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kata Galungan itu merupakan istilah tersendiri yang berarti “berperang”. Sedangkan Kuningan, di ambil dari nama wuku. Kalau filosofi Galungan sudah jelas bahwa hari Piodalan Jagat itu merupakan hari kemenangan dharma setelah berperang melawan adharma selama hayat masih dikandung badan. Sedangkan secara ritual, sudah dimulai sejak tiga hari berturut-turut sebelum Galungan. Mulai Redite Pahing Dungulan, Somo Pon Dungulan sampai Anggara Wage Dungulan mulai turun menyerang (menggoda) Sang Kala Tiga : Sang Butha Galungan, Sang Bhyuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak peperangan sekaligus merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma dalam wujud Sanga Kala Tiga itu adalah pada hari Buda Kliwon Wuku Dungulan. Pada hari itu segenap umat Hindu mengahaturkan “mahasuksmaning idep” atas Asung Kertha Waranugraha Hyang Widhi yang telah memberikan  bimbingan atau tuntunan guna mencapai kemenangan dharma. Sebuah kemenangan yang sesungguhnya tidak bersifat fisik, melainkan lebih mengarah pada rohani, mental, moral dan spiritual. Dari kehidupan “gelap”nya selama ini kita jalani, dengan penghayatan tinggi terhadap Galungan untuk seterusnya mengikuti jalan lurus dan terang, berdasarkan ajaran dharma. Di dalam lontar Sundarigama disebutkan  “Bu, Ka, Galungan, nga, patitis ikangajnana sandi, galang apadang, marya kena sarwa byaparaning idep”. Artinya : Buda Kliwon Galungan adalah yang mengarahkan bersatunya pikiran agar menjadi terang dan berkesadaran tinggi, untuk melenyapkan penyebab kekacauan pikiran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-4346818340805589694?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/4346818340805589694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/kata-galungan-dan-kuningan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4346818340805589694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/4346818340805589694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/kata-galungan-dan-kuningan.html' title='Kata Galungan dan Kuningan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH7rS2IGn_I/AAAAAAAAAWI/HVxsGz2lu2Q/s72-c/Galungan+dan+Kuningan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7598801016388023106</id><published>2008-07-16T10:08:00.013+07:00</published><updated>2011-09-19T07:46:41.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pancawalikrama'/><title type='text'>Pancawalikrama atau Pancabalikrama</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH1m_5xbshI/AAAAAAAAAVw/_yg20VXT0LU/s1600-h/Mesegeh.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH1m_5xbshI/AAAAAAAAAVw/_yg20VXT0LU/s320/Mesegeh.JPG" border="0" alt="Mesegeh"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223444390845592082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian umat Hindu yang sudah terlanjur lekat dengan istilah “Pancawalikrama”, upaya untuk mengubahnya dengan alasan mengembalikan ke nama aslinya yaitu “Pancabalikrama” tidak begitu saja di terima. Sebab kedua istilah tersebut tidaklah berbeda arti dan hakikatnya. Istilah Pancawalikrama itu sendiri merupakan perubahan metathesis dari kata Pancabalikrama. Di mana hurup “B” pada kata “Bali” bisa berubah menjadi “W” p ada kata “Wali” lantaran kedua huruf tersebut masih berada dalam satu warga (b, p, m, w).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jadi perubahan istulah atau nama Pancawalikrama yang semula berasal dari kata Pancabalikrama hanyalah menyangkut perubahan tata bahasa yang tidak membawa pada perubahan arti dan hakikatnya. Begitupun kata “karma” yang sebenarnya juga merupakan bentuk perubahan dari kata “karma”. Bahkan di dalam beberapa pustaka suci istilah Pancawalikrama yang tergolong upacara Bhutayajna ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda yaitu : balim haret (Satapatha Brahmana, 11,5,6,1), Balibhaurthah, Balikarmana dan Balikarma (Manawadharmamasastra, III. 70,81,94) yang artinya adalah upacara kurban suci berupa “Bali” (Bhutayajna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, keduanya sama-sama benar. Hanya karena istilah Pancawalikrama sudah lebih memasyarakat maka usaha untuk mengubah atau mengembalikan ke nama aslinya tidaklah semudah mengatakannya. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa jika istilah Pancabalikrama digunakan lagi (meski nama aslinya) dikhawatirkan akan timbul kesan solah-olah upacara besar itu hanya berlingkup Hindu local (Bali). Padahal selama ini perjuangan terus dilakukan untuk menghadirkan Hindu yang mengindonesia dengan harapan agar agama Hindu tidak terus dinilai sebagai agamanya orang Bali (Hindu Bali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari pesoalan perbedaan nama dengan istilah berbeda, upacara Pancawalikrama atau Pancabalikrama mengandung pengertian dan hakikat yang sama yaitu sebagai sebuah upacara yang tergolong Bhutayajna (Balibhuta) yang ditujukan kepada Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sanga Hyang Siwa dengan Catur Saktinya (empat kemahakuasaan) yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wibhu Sakti (Maha Ada)&lt;br /&gt;- Jnana Sakti (Maha Tahu)&lt;br /&gt;- Kriya Sakti (Maha Karya)&lt;br /&gt;- Prabu Sakti (Maha Kuasa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Sakti (empat kemahakuasaan) Hyang Widhi (Siwa) ini berfungsi untuk menciptakan (Utpati), mengatur atau memelihara (Sthiti) dan melebur atau mengembalikan kepada asalnya (Pralina) sehingga proses hukum rta atau kodrati alam dapat berlangsung secara harmonis. Dan secara ritual upaya untuk mengharmoniskan semesta alam ini antara lain dilakukan dengan cara menyelenggarakan upacara Bhutayajna mulai dari tingkatan kanista berupa “mesegeh” sampai “Pancawalikrama” atau “Ekadasarudra” tergantung pada lingkup wilayah (palemahan) dan rentang waktu pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7598801016388023106?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7598801016388023106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/pancawalikrama-atau-pancabalikrama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7598801016388023106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7598801016388023106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/pancawalikrama-atau-pancabalikrama.html' title='Pancawalikrama atau Pancabalikrama'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SH1m_5xbshI/AAAAAAAAAVw/_yg20VXT0LU/s72-c/Mesegeh.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5991345531284156802</id><published>2008-07-15T11:54:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T07:45:00.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makna Sarad'/><title type='text'>Makna Sarad</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHwuqINTosI/AAAAAAAAAVg/ZReVNuOtzis/s1600-h/Sarad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHwuqINTosI/AAAAAAAAAVg/ZReVNuOtzis/s320/Sarad.jpg" border="0" alt="Sarad"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223100969135612610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sarad adalah salah satu jenis upakara besar yang hampir selalu dibuat ketika pelaksanaan yajna dalam tingkatan madya dan lebih-lebih uttama. Kebesaran yajna itu (setidaknya di lihat dari jenis dan tingkatan material) acapkali diwakili oleh keberadaan atau penampilan sarad itu sendiri. Makanya penenempatan sarad itupun akan selalu mengambil lokasi di pusat kegiatan yajna. Perihal makna sarad ini dapat di ulas dari berbagai aspek. Di antaranya aspek arti, seni dan esensi folosofinya. Dari aspek arti kata, sarad mengandung pengertian “sarat” (penuh). Karenanya sarad itu memberi gambaran kongkret tentang isi sepenuhnya dari arti dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya berbagai isi alam tergambar dan atau terwakili melalui sarad ini. Dalam sarad ini, isi alam tidak digambarkan sebenarnya melainkan digambar sedemikian rupa dengan sentuhan seni tingkat tinggi dan menggunakan bahan jajan (tepung beras). Yang digambarkan adalah isi dunia baik dunia bawah, tengah dan dunia atas (bhur, bhuwah dan shah loka). Terbawah misalnya gambaran air dengan binatang dan tumbuhan yang hidup di air, lalu binatang darat, tumbuhan darat (ancak, bingin, gelagah, ambengan, kesuna, dsb). Menyusul wujud manusia yang digambarkan dalam bentuk “cili” (laki-perempuan), lalu binatang yang hidup di udara seperti burung. Juga digambarkan planet seperti matahari, bulan, bintang dll. Gambaran alam atas yang dihuni para dewa dan bidadari pun trwakili dalam wujud sarad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya sarad merupakan gambaran dari keseluruhan isi dunia/bhuwana ini yang kalau dikaitkan dengan aspek seni terutama dalam pewayangan lumbrah disebut “kayonan” (gunungan). Itu pula sebabnya sarad dibuat sedemikian rupa menyerupai wujud gunung besar dan tinggi. Meski sarad dibuat dibuar dari bahan jajan, tetapi kandungan filosofinya luar biasa tingginya. Sarad adalah manifestasi bhakti umat dalam mempersembahkan segenap isi dunia kehadapan Hyang Widhi. Di dalamnya juga terkandung segi “mapenauran rna” yaitu suatu kesadaran diri bahwa apa yang selama ini diambil lalu dinikmati dari alam disimboliskan dikembalikan (dipersembahkan) kembali kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran mempersembahkan kembali apa yang diambil ini merupakan refleksi dari ajaran yajna tingakat tinggi. Di mana sebagaimana ucap kitab Bhagavadgita III. 13 umat di ajarkan untuk “memberi sebelum menikmati”. Boleh jadi landasan ajaran ini pula yang menyebabkan mengapa untuk jenis upakara sarad ini tidak dikenal istilah “ngelungsur/nyurud”. Artinya, begitu sarad dipersembahkan, usai upakara biasanya dibiarkan atau dipindahkan ketempat lain untuk akhirnya hancur lebur sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sarad memang sarat dengan makna yang pada hakikatnya menggambarkan betapa umat Hindu untuk urusan beryajna tidak akan pernah surut menjalankannya. Tentu akan bertambah bijaksana bila aspek ritual yang memang perlu biaya mahal itu dapat diaktualisasikan dalam keseharian hidup dalam bentuk perilaku yang dapat gumaweaken sukanikanang won glen. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5991345531284156802?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5991345531284156802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/makna-sarad.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5991345531284156802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5991345531284156802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/makna-sarad.html' title='Makna Sarad'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHwuqINTosI/AAAAAAAAAVg/ZReVNuOtzis/s72-c/Sarad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5520794599619768002</id><published>2008-07-14T14:04:00.008+07:00</published><updated>2011-09-19T07:44:35.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pratima'/><title type='text'>Haruskah Gunakan Pratima di Sanggah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHr8POVOTqI/AAAAAAAAAVQ/N8kCdyYKwwA/s1600-h/Sanggah+(Merajan)+Kula+Gotra+Pasek+Trunyan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHr8POVOTqI/AAAAAAAAAVQ/N8kCdyYKwwA/s320/Sanggah+(Merajan)+Kula+Gotra+Pasek+Trunyan.JPG" border="0" alt="Sanggah (Merajan), Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222764056364863138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di dalam lontar Siwagama yang menguraikan perihal pendirian pura yang tergolong kawitan termasuk sanggah/merajan tidak ada disebutkan mengaenai persyaratan yang mengharuskan adanya pratima dan prasasti pada bangunan suci keluarga tersebut. Di dalam lontar itu hanya ditegaskan bahwa di setiap pekarangan agar kiranya dapat didirikan palinggih Kamulan dengan rong tiganya yang merupakan sthana sekaligus tempat pemujaan roh suci leluhur yang sudah diyakini berada di alam Dewata (Siddha Dewata), sehingga disebut sebagai Dewa Pitara. Dengan begitu maka keberadaan pratima ataupun prasasti tidak merupakan keharusan. Artinya, bila ingin dibuatkan tidak di larang, jika tanpa pratima dan prasasti pun bukan suatu pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai roh suci leluhur yang sudah berkedudukan setara (bukan sederajat) dengan Dewa sehingga dapat disebut Dewa Pitara maka keturunannya wajib menyembah dan atau memujannya. Hal ini berpijak pada konsep ajaran Pitra Puja yang dilandasi oleh adanya ikatan Pitra Rna. Karena berbhakti kepada leluhur merupakan dharma tertinggi. “Haywa kita pegat akadang purusantha sembahen”, begitu petuah leluhur yang menyiratkan makna untuk tidak memutuskan bhakti dengan menyembah dan atau memuja roh suci leluhur yang sudah berkedudukan sebagai Bhatara-Bhatari, sekaligus sebagai Dewa Pitara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang persamaan dan perbedaan makna antara “menyembah” dengan “memuja” sebenarnya sulit dijelaskan. Dari sudut kamus bahasa pun sulit di bedakan. Karena kedua kata ini lebih banyak menyiratkan persamaannya. Tetapi sebagai perbandingan mungkin bisa dipersamakan dengan kata “tirtha” dan “toya”. Keduannya sama-sama berupa “air” bedanya “tirtha” merupakan air yang telah disucikan, sementara “toya” lebih merupakan wujud benda cair (air biasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun perihal kata “menyembah” dan “memuja”. Keduanya sama-sama merupakan wujud dari perilaku berbhakti, hormat dan atau menjunjung tinggi terhadap sesuatu obyek seperti Bhatara-Bhatari, Dewa atau Tuhan. Maka lahirlah kalimat, ia menyembah dan atau memuja Bhatara-Bhatari, Para Dewa, atau Hyang Widhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roh suci leluhur, meski sudah berkedudukan sebagai Dewa Pitara tetap tidak akan mengambil peran Hyang Widhi sebagai penciptanya. Sebab Dewa Pitara berada dalam posisi sebagai “makhluk ciptaan”. Hanya Hyang Widhilah pencipta segala yang ada dan yang akan ada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5520794599619768002?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5520794599619768002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/haruskah-gunakan-pratima-di-sanggah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5520794599619768002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5520794599619768002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/haruskah-gunakan-pratima-di-sanggah.html' title='Haruskah Gunakan Pratima di Sanggah'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHr8POVOTqI/AAAAAAAAAVQ/N8kCdyYKwwA/s72-c/Sanggah+(Merajan)+Kula+Gotra+Pasek+Trunyan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7072900273366481399</id><published>2008-07-12T15:55:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T07:44:20.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arca'/><title type='text'>Arca sebagai Media Pemujaan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHhx_chj9dI/AAAAAAAAAVA/dBnoCGFlHig/s1600-h/Ganesa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHhx_chj9dI/AAAAAAAAAVA/dBnoCGFlHig/s320/Ganesa.jpg" border="0" alt="Ganesa"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222049102738748882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah disampaikan bahwa nama agama dan kitab suci boleh sama yaitu Hindu dengan kitab Wedanya, tetapi dalam pengamalan ajaran bisa jadi berbeda-beda. Anutan yang dipedomani adalah desa-desa-patra dan dresta. Bagi umat Hindu pengamalan ajaran yang berbeda-beda itu bukanlah suatu kesalahan tetapi merupakan cerminan dari tingkat pemahaman, kemampuan spiritual, derajat bhakti yang berbeda-beda. Yang penting bagi Hindu adalah bukan apa yang nampak berbeda-beda tetapi sejauh mana inti sari agama Hindu telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dapat disaksikan melalui tayangang film-film India di mana tergambar secara visual bahwa umat Hindu di India lebih menonjolkan penggunaan arca sebagai media pemujaan tidak lain merupakan gambaran nyata betapa India kehidupan sekta (aliran) begitu dominant. Dan pada setiap sekta yang disebut juga dengan istilah sampradaya selalu memiliki sekaligus akan memuja Dewa yang diingini (Istadewata) sebagai Dewa Utama. Dewa utama yang ingin di puja inilah yang kemudian ditempatkan di mandira (mandir) sejenis pura di Bali atau bagi keluarga akan ditempatkan di kamar-kamar suci pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat beberapa sekta atau sampradaya yang berpengaruh, Saiva (penyembah Siwa), Vaisnawa (penyembah Wisnu), dan Sakta (penyembah Sakti). Saiva Sampradaya juga memiliki beberapa aliran lagi seperti, Linggayat (pemuja Lingga), Ganapatya (pemuja Ganesa), pemuja Skanda atau Subramanya, dll. Terhadap Dewa Utama (Istadewata) yang dipuja ini oleh setiap sekta atau sampradaya akan dibuatkan patung atau arcanya. Artinya jika sekta itu termasuk Saiva Sampradaya maka yang dibuat dan kemudian ditempatkan di mandira atau kamar suci pemujaannya adalah Arca Dewa Siwa, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan keadaan di Bali, maka nampak sekali perbedaannya. Dimana umat Hindu di Bali (Indonesia) lebih menonjolkan pembangunan pura dengan berbagai pelinggihnya dari pada membuat arca. Dan bahkan pada kenyataan justru lebih komplit. Artinya pura dibangun dengan bermacam jenis dan bentuk palinggihnya, sementara penggunaan arca juga tidak dikesampingkan. Satu lagi yang membedakannya adalah dari segi sifat sisio-religius yang melatar belakangi konsep bhakti antara orang Hindu di Bali dengan di India. Dimana umat Hindu di Bali bhaktinya bermanfaat berjengjang, mulai dari pemujaan di sanggah sampai ke Kahyangan Jagat. Sedang umat Hindu Indian bhaktinya lebih bersifat langsung pada obyek pemujaan./span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7072900273366481399?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7072900273366481399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/arca-sebagai-media-pemujaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7072900273366481399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7072900273366481399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/arca-sebagai-media-pemujaan.html' title='Arca sebagai Media Pemujaan'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHhx_chj9dI/AAAAAAAAAVA/dBnoCGFlHig/s72-c/Ganesa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-7632645556958386928</id><published>2008-07-11T12:59:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T07:41:07.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemedek Penyungsung dan Pengemong'/><title type='text'>Pemedek, Penyungsung dan Pengemong</title><content type='html'>Secara prinsip istilah pemedek, penyungsung dan pengemong sesungguhnya memiliki arti yang tidak jauh berbeda, karena ketiganya sama-sama berkaitan dengan umat dan pura. Umat sebagai hamba Tuhan berkewajiban menjalankan perintahnya dan pura sebagai tempat suci bagi umat Hindu untuk “berhubungan” dengan-Nya melalui persembahyangan ataupun persembahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun memiliki persamaan, ketiga istilah itu dimunculkan karena ada juga perbedaannya. Kata “pemedek” berasal dari kata “pedek” yang berarti orang atau umat yang mendekatkan diri pada Tuhan. Lalu “penyungsung” berasal dari kata “sungsung” yang berarti “jungjung”, “menjungjung” atau “memuliakan”. Sedangkan istilah “pengemong” yang berasal dari kata “emong” mengandung arti “mengayomi atau melindung”. Penjelasan lengkapnya kurang lebih begini, jika seorang atau serombongan umat Hindu datang dan mengadakan kegiatan persembahyangan atau persembahan di sebuah pura atau di beberapa pura dengan status kahyangan umum dan tanpa terikat pada ikatan-ikatan khusus seperti keturunan (kawitan) maka mereka disebut pemedek. Misalnya ketika diadakan upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih, maka seluruh umat Hindu dengan tanpa membedakan asal-usul keturunan (Kawitan) dapat datang “pedek-tangkil” untuk “ngaturang bhakti” pada Hyang Widhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan pengertian penyungsung, maknanya lebih tertuju pada umat Hindu yang secara khusus mempunyai hubungan genealogis (keturunan) dan fungsional sesuai dengan profesinya. Contohnya, umat Hindu (di Bali) yang berasal dari keturunan Arya Kepakisan, maka mereka akan menjadi penyungsung dari Pura Kawitan yang ada di Br. Dukuh, Gelgel-Klungkung. Begitu juga Pura Dalem Peed Nusa Penida misalnya, kendati disungsung umat Hindu secara umum, secara khusus juga menjadi Pura Penyungsungan bagi kelompok umat yang berprofesi sebagai dukun atau balian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Subak pun demikian, hanya disungsung oleh karma/umat Hindu yang berprofesi sebagai petani setempat. Sedangkan yang namanya “pengemong” lebih terkait dengan pihak tertentu yang memberi pengayoman atau perlindungan terhadap keberadaan suatu pura. Dalam konteks pura-pura di Bali, di zaman kerajaan lampau sudah lumrah kerajaan-kerajaan yang berkuasa menjadi pengayom/pelindung satu atau beberapa Pura yang berada di wilayah kerajaannya. Pengayoman atau perlindungan mana diberikan tidak saja secara fisik, financial juga dari segi terselenggaranya kegiatan upacara yajna di pura tersebut. Hal begini sampai sekarang masih diberlakukan untuk pura-pura yang berada di Kompleks Pura Besakih, dimana tiap Kabupaten/Kotamadya di Bali mendapat “jatah” sebagai “pengemong” pura-pura tertentu di Besakih, maka Pemda Bali bertindak selaku Sang Yajamana secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-7632645556958386928?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/7632645556958386928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/pemedek-penyungsung-dan-pengemong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7632645556958386928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/7632645556958386928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/pemedek-penyungsung-dan-pengemong.html' title='Pemedek, Penyungsung dan Pengemong'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-1862492470370609361</id><published>2008-07-10T16:27:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T07:40:19.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sanggah Kamulan'/><title type='text'>Kamulan itu Palinggih Tri Murti ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHXWQVAv5QI/AAAAAAAAAUw/Gv-sRJcscS0/s1600-h/Brahma+Wisnu+Siwa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHXWQVAv5QI/AAAAAAAAAUw/Gv-sRJcscS0/s320/Brahma+Wisnu+Siwa.jpg" border="0" alt="Brahma, Wisnu, Siwa"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221314919012492546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha untuk mewujudkan sikap bhakti kepada leluhur sebagai pengamalan ajaran Pitra Puja, umat Hindu terutama yang tumbuh berkembang di Bali membangun apa yang dimanakan sanggah atau pamerajan. Fungsinya adalah sebagai tempat suci pemujaan roh suci leluhur (Atma Sidha Dewata) bagi keturunannya (preti sentana). Melalui itu dimohon sekaligus diharapkan agar leluhurnya yang sudah berada di alam Dewa dapat senantiasa memberikan kerahayuan kepada semua keturunannya. Karena itu pemujaan kepada roh suci leluhur merupakan kewajiban penting dan mulia bagi umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu bangunan pemujaan roh suci leluhur, sanggah atau pamerajan dicirikan dengan adanya palinggih pokok (utama) yaitu yang disebut dengan Palinggih Kamulan atau Kamimitan di mana bentuk fisiknya memiliki tiga ruangan dalam satu atap (merong telu). Dalam lontar Gong Wesi ditanyakan bahwa fungsi sanggah atau merajan itu adalah sebagai sthana Sang Hyang Atma dengan perincian : pada Kamulan kanan (rong sebelah kanan) sebagai Bapa (Paratma), pada Kamulan kiri (rong sebelah kiri) sebagai Ibu (Siwatma), dan pada Kamulan tengah (rong bagian tengah) wujudnya adalah Sang Atma. Hal senada juga diuraikan di dalam lontar Usana Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Palinggih Kamulan yang merong telu itu dipersamakan dengan Palinggih Tri Murti memang dapat diterima.  Tetapi perlu ditegaskan, bahwa bukan Palinggih Kamulan itu sebagai Palinggih Tri Murti melainkan Dewa Pitara itu yang diidentikkan dengan Sanghyang Tri Murti. Sebab yang disebut dengan Dewa Pitara itu tidak lain roh suci leluhur yang sudah mencapai alamnya Sanghyang moksha di mana pada akhir dari segala tujuan hidup adalah dapat luluh atau bersatunya Pitara/atma dengan Dewa/Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, karena Dewa Pitara itu identik dengan Sanghyang Tri Murti maka Dewa Pitara yang bersthana di Kamulan disebut juga “Bhatara Hyang Guru”. Bhatara Hyang di sini adalah Dewa Pitara itu sendiri, sedang Bhatara Guru adalah Dewa Siwa. Pengidentikan (penyamaan) Dewa Pitara dengan Sanghyang Tri Murti ini dapat dibuktikan melaui Puja Ida Pedanda yang digunakan untuk Kamulan yaitu Guru Stawa atau pada mantra pemujaan di Sanggah/Merajan yang salah satu baitnya berbunyi : “Om Brahma Wisnu Iswara dewam, jiwatmanam trilokanam sarwa jagat pratistanam, sudha klesa winasanam”. Maksudnya : “Om Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang menjiwai tiga alam yang menjadi pangkal segala di alam dunia, yang membinasakan dan menyucikan kotoran”./span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-1862492470370609361?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/1862492470370609361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/kamulan-itu-palinggih-tri-murti.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1862492470370609361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/1862492470370609361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/kamulan-itu-palinggih-tri-murti.html' title='Kamulan itu Palinggih Tri Murti ?'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHXWQVAv5QI/AAAAAAAAAUw/Gv-sRJcscS0/s72-c/Brahma+Wisnu+Siwa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2794652132304696334</id><published>2008-07-08T12:37:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T07:40:07.748+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Menurut Hindu Wanita bisa Jadi Presiden ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHL9rhHeznI/AAAAAAAAAUA/As6EpKtUb2o/s1600-h/Om8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHL9rhHeznI/AAAAAAAAAUA/As6EpKtUb2o/s320/Om8.jpg" border="0" alt="Om"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220513842141777522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajaran agama Hindu menempatkan makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan sebutan “purusa-pradana” sebagai satu kesatuan yang meski berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan. Kodratnya memang lain, status dan fungsinya juga berlainan, tetapi kedudukan wanita dan pria tidak dibedakan dalam “guna” dan “karmanya”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Guna artinya sifat-sifat bawaan yang meliputi “sattwam-rajas-tamas” dengan kecendrungan yang akan menonjol dalam setiap karma atau perbuatannya. Dalam konteks “guna” dan “karma”, bagi agama Hindu laki dan perempuan atau pria dan wanita sama saja. Termasuk dalam kaitannya dengan kepemimpinan, dimana agama Hindu tidak melihat “siapanya” melainkan lebih menekankan “bagaimananya”. Apakah dia itu seorang pria atau wanita, dalam konsep kepemimpinan Hindu tidak menjadi factor utama. Yang diutamakan sekaligus menjadi tuntutan mutlak dari seorang pemimpin itu adalah bagaimana sang pemimpin tersebut dapat menampilkan dan atau mengejawantahkan konsep-konsep kepemimpinan gaya Hindu seperti : ajaran Asta Berata, Asta Dasa, Prateming Prabu termasuk ajaran kitab Kauntilya Sastra yang secara jelas mengemukakakan persyaratan seorang kepala Negara seperti : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abhigamika, mendapat simpati atau legimitasi rakyat.&lt;br /&gt;- Pradnya, arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;- Utsaha, berusaha untuk mensejahterakan rakyat.&lt;br /&gt;- Atma Sampad, bermoral atau budi pekertinya luhur.&lt;br /&gt;- Sakyasamanta, dapat mengontrol/memimpin bawahannya.&lt;br /&gt;- Aksura Parisatka, mampu memimpin sekaligus mengambil sikap tegas namun bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sebagian kecil dari tuntutan utama yang diminta bagi seorang pemimpin, termasuk presiden menurut ajaran agama Hindu. Bagi agama Hindu bobot seorang pemimpin tidak diukur dari jenis kelaminnya melainkan dari performance kepemimpinannya. Apalah artinya dan bagaimanakah jadinya sebuah negeri, bangsa atau Negara yang dalam memilih pemimpinnya lebih mengedepankan ego-gender (kelamin) dari pada kualitas sifat, watak dan moral sang pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanan agama Hindu tidak sedikit muncul sosok pemimpin wanita dalam kerajaan-kerajaan Hindu. Bahkan dalam urusan memimpin upacara agama (yajna) figure pandita wanita (pedande istri) sudah tidak asing lagi. Jelasnya, Hindu memberi jalan lapang bagi seorang wanita untuk tampil sebagai pemimpin dalam bidang apapun asalkan mendapat legitimasi rakyat yang tercemin dari pengakuannya terhadap “guna-karma” sang pemimpin yang berpijak pada konsep kepemimpinan Hindu. Dan untuk itu Hindu sangat menghargai sekaligus menghormati sosok wanita, sebab ucap Manusmrti III.56, Di mana wanita tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berphahala.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2794652132304696334?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2794652132304696334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/menurut-hindu-wanita-bisa-jadi-presiden.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2794652132304696334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2794652132304696334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/menurut-hindu-wanita-bisa-jadi-presiden.html' title='Menurut Hindu Wanita bisa Jadi Presiden ?'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHL9rhHeznI/AAAAAAAAAUA/As6EpKtUb2o/s72-c/Om8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-5897159793182149779</id><published>2008-07-07T14:30:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T07:39:22.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Hindu'/><title type='text'>Meminjam Uang dan Bunganya Menurut Hindu</title><content type='html'>Hidup adalah kerja. Tanpa kerja berarti kita tidak bisa hidup. Dunia ini tercipta, terpelihara dan nantinya akan pralina juga karena proses kerja. Tuhan itu sendiri adalah Sang Maha Karya yang terus menerus menggerakkan hukum kerja. Jika Tuhan tidak bekerja sedetikpun hancurlah dunia. “Dunia ini akan hancur jika aku tidak bekerja, aku jadi pencipta kekacauan ini dan memusnahkan manusia ini semua” (Bhagawadgita, III. 24).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang kerja maka tak lepas dari apa yang namanya pekerjaan. Dan pekerjaan dalam konteks kehidupan selalu berhubungan dengan mata pencaharian hidup. Bahwa untuk bisa melangsungkan hidup dan kehidupannya seseorang mesti mempunyai pekerjaan. Pekerjaan mana bisa dicari dan atau diciptakan sendiri. Prinsipnya apa yang dikerjakan atau menjadi pekerjaannya itu dibenarkan secara hukum baik hukum pemerintah maupun hukum agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut ajaran agama Hindu, perihal pekerjaan dengan cara meminjamkan uang dengan harapan mendapatkan bunga tidaklah dilarang. Melaui kitab suci Manawadharmasastra, X.115 secara tegas dinyatakan : “ada tujuh cara yang sah dalam memperoleh hak milik yaitu pewarisan, perjumpaan atau hadiah persahabatan, pembelian, penaklukan, peminjaman dengan bunga, melakukan pekerjaan dan menerima hadiah dari orang-orang saleh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disuratkan kitab Smrti ini memang masih bersifat harfiah dan belum dijabarkan bagaimana teknis pelaksanaan peminjaman uang dengan bunga itu. Tetapi, karena ajaran agama Hindu selalu berpijak pada dharma maka dalam soal menjalankan pekerjaan dengan cara meminjamkan uang harus tetap berpegang pada prinsip “dharma kepatutan”. Artinya berapa proses layaknya kita menentukan bunga dari uang yang dipinjamkan itu patut mengacu pada hati nurani selain perhitungan ekonomi. Jika misalnya keadaan ekonomi orang yang meminjam uang pada kita termasuk miskin dan itupun ia nekad meminjam lantaran terkena musibah, maka hati nuranilah yang memperitungkan peminjaman uang itu. Yang penting menolong dulu, soal bunga dapat dibicarakan kemudian atas dasar jiwa Tat Twam Asi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bila si peminjam tergolong mampu dan uang yang dipinjam itu dimaksudkan untuk pengembangan usaha, maka perhitungan ekonomi bisa diterapkan dengan tidak lupa mengacu pada ketentuan suku bunga bank pemerintah plus perhitungan resiko yang mungkin terjadi. Maksudnya, karena umunya proses peminjam dilakukan tanpa prosedur administrasi, tidak ada jaminan (borg) hanya berdasar kepercayaan maka boleh saja bunga yang dikenakan relative lebih sedikit. Namun perihal resiko, bank pemerintah relative  terjamin sebab bila terjadi kemacetan bisa dilakukan penyitaan asset jaminan. Sedang peminjam pribadi kalau si peminjam tidak sanggup melunasi, karena tanpa jaminan, maka resiko kerugian tak terelakkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sekali lagi diungkapkan bahwa apapun pekerjaan kita termasuk meminjamkan uang dengan harapan memperoleh bunga sepanjang dibenarkan menurut hukum termasuk hukum agama dapat dilakukan tentunya dengan tidak&lt;br /&gt;mengesampingkan hati nurani./span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-5897159793182149779?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/5897159793182149779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/meminjam-uang-dan-bunganya-menurut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5897159793182149779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/5897159793182149779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/meminjam-uang-dan-bunganya-menurut.html' title='Meminjam Uang dan Bunganya Menurut Hindu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-6338721485038123165</id><published>2008-07-06T11:58:00.004+07:00</published><updated>2011-09-19T07:39:44.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Ripu'/><title type='text'>Narkoba Termasuk Sad Ripu</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHBRxUQTnwI/AAAAAAAAATI/hFnk0GYAlMc/s1600-h/narkoba.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHBRxUQTnwI/AAAAAAAAATI/hFnk0GYAlMc/s320/narkoba.jpg" border="0" alt="Say No To Drugs"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219761875814948610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena termasuk kategori model prilaku manusia modern, penggunaan narkoba (narkotik dan obat-obatan terlarang) kian ngetrend saja. Sebab bagi sebagian orang ada anggapan bahwa untuk bisa disebut sebagai manusia modern salah satu cirinya adalah selalu mengikuti perkembangan zaman. Tak terkecuali perkembangan yang menjerumuskan diri penggunaan narkoba oleh sebagian anak-anak muda. Dan meski sudah diketahui berakibat fatal bahkan bisa menghacurkan fisik dan masa depannya, tetapi tetap saja sebagian generasi harapan bangsa kita tak kuasa untuk menjadi budak dari narkoba. Dalam pandangan Hindu, penggunaan narkoba dapat dimasukkan sebagai bagian dari Sad Ripu yaitu enam musuh dalam diri yang meliputi : &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Karma (hawa nafsu)&lt;br /&gt;- Lobha (tidak pernah puas dengan apa yang ada)&lt;br /&gt;- Krodha (kemarahan)&lt;br /&gt;- Mada (mabuk)&lt;br /&gt;- Moha (kebingungan)&lt;br /&gt;- Matsarya (iri hati/dengki)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapappun dia jika telah mengkonsumsi narkoba apalagi sampai berada pada tingkat ketagihan maka yang bersangkutan boleh dikatakan sudah dikuasai oleh Sad Ripu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengkonsumsi narkoba, berarti si pengguna tidak bisa menahan atau mengendalikan hawa nafsu (kama) untuk menjaga batas-batas wajar dan benar tentang apa yang patut dikonsumsi dan apa pula yang tak pantas dinikmati. Dengan kama yang tidak bisa dikendalikan itu membuat dia tidak pernah merasa puas dengan apa yang bisa dan bisa dinikmati (lobha). Makanan dan minuman yang layak dinikmati dianggap belum cukup jika tanpa mencicipi narkoba. Dan apabila tidak dapat dipenuhi kecanduannya terhadap narkoba, ia bisa marah (krodha) sehingga membuatnya berusaha mendapatkan narkoba dengan cara apa saja. Dan jika sudah didapat, dengan perasaan senang tanpa beban ia akan menikmati narkoba itu sampai mabuk (mada) lalu dihanyutkan alam pikiranya ke suasana ilusi, halusinasi dan mimpi-mimpi yang kosong. Akibat berikutnya menjadikan pengguna narkoba mengalami kebingungan (moha). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya sudah tidak sehat lagi, fisiknya pun dapat menjadi rapuh. Pelan tetapi pasti para pencandu narkoba sedang menyiapkan liang kubur untuk dirinya sendiri. Dan ketika disadari lingkungan sosial dirinya tidak menghendaki keberadaannya, ia akan bersikap benci ataupun irihati kepada sesamanya. Akhirnya si pecandu narkoba benar-benar telah berada pada pelukan Sad Ripu yang sesungguhnya adalah pintu utama untuk menuju ke neraka. Karena itu, kitab suci Bhagavadgita V. 22 mengingatkan : “kenikmatan yang berasal dari hubungan dengan duniawi (termasuk narkoba) hanya merupakan sumber penderitaan belaka, ada awalnya dan ada akhirnya. Seorang budiman ia tidak akan tertarik pada semua itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi generasi muda Hindu tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan untuk terhindar dari jebakan narkoba selain cara meningkatkan sraddha bhakti dan pandai-pandai memilah dan memilih teman dalam pergaulan sehari-hari. Yang pasti menghindar dari narkoba berarti sudah berhasil mengalahkan sebagian Sad Ripu./span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-6338721485038123165?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/6338721485038123165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/narkoba-termasuk-sad-ripu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6338721485038123165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/6338721485038123165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/narkoba-termasuk-sad-ripu.html' title='Narkoba Termasuk Sad Ripu'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_1mPTORJ9bLc/SHBRxUQTnwI/AAAAAAAAATI/hFnk0GYAlMc/s72-c/narkoba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482483321045297514.post-2343133857221500910</id><published>2008-07-05T12:05:00.005+07:00</published><updated>2011-09-19T07:39:15.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pura'/><title type='text'>Apa Boleh Merayakan Tahun Baru di Pura</title><content type='html'>Menurut konsepsinya, pura adalah tempat suci untuk melakukan persembahyangan atau menghaturkan persembahan sebagai wujud bhakti umat kehadapan Hyang Widhi dan juga Bhatara-Bhatari. Dalam perkembangannya, fungsi pura dapat diperluas dengan melihat struktur pura itu sendiri dan kepentingan umat/krama penyungsung. Misalnya, di jaba pura, umat bisa mengadakan kegiatan dharma tula, dharmagita, latihan menari, menabuh, mejejaitan, pesraman, dan lain-lain yang masih sesuai atau berada dalam konteks aktivitas adat, budaya dan agama Hindu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diluar konteks itu, tetap masih bisa menerima atau ditoleransi, sepanjang mempunyai tujuan yang baik dan benar. Termasuk adanya keinginan untuk merayakan malam tahun baru di pura, boleh saja dilakukan, dengan syarat, acara/kegiatan yang diadakan tetap bernuansa religius. Maksudnya tidak seperti perayaan malam tahun baru yang menjadi trend modern, yang cenderung menampilkan bahkan menonjolkan acara hura-hura, glamor: ada pesta, minum-minuman keras sampai mabuk. Membunyikan petasan, bahkan ada yang melakukan seks party. Untuk model perayaan tahun baru begini jelas sangat dilarang di adakan di pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kegiatan yang boleh dilakukan untuk merayakan malam tahun baru di pura antara lain : menggelar acara diskusi keagamaan baik yang bersifat untuk menambah pengetahuan ataupun yang mengajak perenungan. Bisa juga dengan mengadakan “pesantian”, lomba mejejaitan, parade tari wali, dll yang tidak lepas dari nuansa keagamaan. Begitupun ketika menjelang detik-detik pergantian tahun baru tiba, sangat baik diisi dengan meditasi sebagai media intirospeksi (mulat sarira) tentang apa yang sudah dilakukan dan langkah apa yang akan dijalani kedepan untuk memperbaiki segala perbuatan yang tergolong asubhakarma/adharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu perayaan malam tahun baru nampaknya akan jauh lebih bermakna dan menyentuh sampai ke relung imani bahwa pergantian tahun (apapun namnya : masehi dan Caka) pada hakekatnya adalah sebuah momentum untuk selalu “eling” bahwa hidup yang begitu singkat itu patut dimanfaatkan untuk menyempurnakan karma yang asubhakrama/adharma menjadi subhakarma/dharma. Sebab sebaigaimana telah disuratkan di dalam kitab Sarasamuscaya, 2 ditegaskan bahwa : “ dari demikian banyaknya semua makhluk hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat bernuat perbuatan baik-buruk itu, adapun untuk peleburan perbuatan buruk kedalam perbuatan yang baik itulah manfaatnya menjadi manusia./span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482483321045297514-2343133857221500910?l=suryadistira.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suryadistira.blogspot.com/feeds/2343133857221500910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/apa-boleh-merayakan-tahun-baru-di-pura.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2343133857221500910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482483321045297514/posts/default/2343133857221500910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suryadistira.blogspot.com/2008/07/apa-boleh-merayakan-tahun-baru-di-pura.html' title='Apa Boleh Merayakan Tahun Baru di Pura'/><author><name>I Ketut Wasista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02059614929055260838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mPTORJ9bLc/STkGVpI0a7I/AAAAAAAAAoA/IcIUdH7eu88/S220/Chitak.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
